Haruskah Teatrikal Itu Simetris?

Posted on September 16, 2012

0


Repertoar Gandamayu

(mencoba) Meletakan mitologi dalam beragam dimensi

 

Gedung Kesenian Jakarta, 05 Sepetember 2012

Memperkenalkan atau menghadirkan kisah yang bernadi mitologi memang sebuah hal yang berat, terlebih lagi hal itu coba diterapkan dalam lingkup Metropolitan. Entah karena alur cerita yang cenderung membosankan atau mayoritas penonton yang tak akrab dengan mitos sehinga merasa tidak tertarik, tapi yang pasti saya melihat cukup banyak penonton yang bisa pulas ketika adegan Siwa merasuki Sahadewa.

 

Kurang lebih itulah, judul dan paragraf pembuka, yang akan mengisi salah satu rubrik di majalah tempat saya dahulu bekerja. Sebenarnya ini bukan kali pertama saya menulis tentang teater, sebelumnya saya pernah menulis tentang pementasan teater dari naskah legendaris W.S Rendra yang berjudul ‘Mastodon dan Burung Kondor’. Tentunya untuk majalah yang sama.

Tapi yang saya sadari, kondisi saya sekarang tidak terlalu berbeda dari waktu itu. Pengetahuan saya masih belum ada apa-apanya untuk kategorikan mengulas, terlebih lagi mengkritisi. Sebut saja kegiatan ini, mendokumentasikan dengan bahan dasar persepsi.

Dan kali ini saya akan mencoba mendokumentasikan berdasarkan persepsi saya, mengenai apa itu yang disebut teater beserta pendapat awam saya mengenai hal tersebut. Sekali lagi, sebelum saya mulai kegiatan tulis menulis ini, saya masih butuh banyak pelajaran mengenai bidang tersebut sehingga masukan dan sanggahan jelas sangat saya perlukan.

 

(lagi-lagi) Karena Dionysus

 

 

Setelah melihat gambar di atas, ada baiknya anda juga menyimak link berikut ini http://greektheater.pbworks.com/w/page/15675371/The%20Greek%20Theater-%20Nut%20Aishu%20May dari link inilah, akhirnya sub judul itu bisa mencium alasannya, meskipun terkesan sedikit memaksa. Dan inilah yang saya maksud dengan memaksa itu:

Thymele/ Altar: Located in the center of the orchestra a thymele, or altar is a place for sacrifices dedicated to Dionysus in Athens

Maaf, saya tidak bermaksud sok tahu tentang Dionysus, karena saya mengenal kata ini pertama kali dari Jim Morrison. Bukan berarti Jim Morrison yang berkata langsung kepada saya, namun melalui buku ‘No One Here Gets Out Alive’ karya Jerry Hopkins dan Danny Sugerman yang mendokumentasikan sebuah pernyataan bahwa Jim Morrison adalah jelmaan Dionysus, si dewa pesta.

Nah, sampai disini sepertinya harus saya menghentikan cerita tentang Dionysus. Karena cukup banyak hal menarik yang diproduksi oleh putra hasil pernikahan –tidak sah— dari pihak ras dewa yang bernama Zeus dengan seorang wanita dari ras manusia yang bernama, Semele. Setidaknya versi inilah yang saya anggap paling menarik.

Bagi saya, mengamati sosok Dionysus berarti mencoba memikirkan sesuatu yang berada diluar ranah Yunani. Mungkin ini sama asiknya ketika saya memutuskan untuk mempelajari kisah Dattatreya dalam mitologi Hindu. Sebab selain kisah Raja Midas, fase Dionisus yang dikutuk oleh Hera karena rasa cemburu yang luar biasa atas ulah suaminya (Zeus, red) yang berselingkuh, membuat saya bisa memasukkan unsur nalar dalam mitologi Yunani.

Memasukkan nalar dalam sebuah mitologi? Ya! Karena difase itulah Dionysus memulai perjalanannya –sebagai sosok yang dikutuk menjadi gila oleh Hera— ke berbagai penjuru bumi sebelum akhirnya ia tiba di Frigia (Turki) dan disembuhkan oleh Dewi Kibele. Belum lagi kisah, yang bagi saya paling menarik, mengenai Dionysus yang menghabiskan cukup banyak waktu di India untuk mengadopsi pola ritual guna diterapkan di kampung halamannya, Yunani.

Singkatnya dari kisah Dionysus, saya memiliki keyakinan bahwa mitologi Yunani diciptakan oleh manusia. Tidak seperti mitologi Hindu, yang sampai detik ini belum berhasil saya temukan celahnya kalau hal itu juga merupakan buatan manusia.

Dionysus sendiri terkenal cukup banyak memiliki julukan, sebut saja: Akratoforos, Akroreites, Adonios, Aigobolos, Bromios, Dendrites, Eleutherios, Enorkhes, Evius, Liaios dan masih ada beberapa lagi. Namun yang menarik untuk disikapi, Dionysus juga dikenal sebagai dewa teater (bahkan beberapa puisi kuno yang terkenal dipersembahkan baginya). Sehingga tidak heran jika semua pihak yang melibatkan diri dalam ranah kesenian, mulai dari penulis, aktor dan penyanyi, dianggap sebagai pelayannya.

Teater sendiri diyakini berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani; ‘Theatron’ yang berarti tempat untuk menonton, sedangkan ‘Theatron’ sendiri diturunkan dari kata ‘Theaomai’ yang artinya takjub melihat atau memandang.

Theaomai (from tháomai, “to gaze at a spectacle”) – properly, gaze on (contemplate) as a spectator; to observe intently, especially to interpret something (grasp its significance); to see (concentrate on) so as to significantly impact (influence) the viewer. Theaomai is the root of Theatron (“spectacle in a theatre”), the root of the English term, Theater¹.

Istilah tersebut diperkenalkan pada kultus Dionysus, yang awalnya digunakan sebagai ritual upacara pengorbanan domba atau lembu kepada Dionysus dan nyanyian yang digunakan pada masa itu disebut “tragedi”.

Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama atau kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis. Sedang dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.

Jika kita mengacu pada definisi teater dalam arti luas, sebenarnya teater sendiri sangat akrab dalam kehidupan kita bukan? Sekali lagi saya tuliskan, definisi teater dalam arti luas  adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Bukankah kejadian tidak diinginkan seperti kecelakaan, kerusuhan, maling yang dibantai, serta beragam bentuk kekerasan sering menjadi “tontonan” bagi kita?

Maka jika stigma teater adalah tontonan yang diperuntukkan bagi orang dengan waktu dan tingkat berpikir lebih, saya rasa itu tidak benar. Masalah sebenarnya adalah, seberapa ingin kita beranjak menjauh dari stigma tersebut?

 

Budaya Tandingan Dalam Teater

Jika ada yang pernah membaca buku kumpulan drama musik karya Remy Sylado yang berjudul ‘Jalan Tamblong’, maka anda sangat tidak salah. Bahwa sub judul barusan; ‘Budaya Tandingan Dalam Teater’, saya jiplak mentah-mentah dari sebuah judul tulisan pengantar yang dibuat oleh redaksi KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Dalam bab tersebut diceritakan bagaimana kiprah Remy Sylado, si pelopor gerakan puisi mbeling, mementaskan teater terpadu atau yang lebih dipilih untuk disebut sandiwara nyanyi oleh siempunya karya. Singkat cerita, namun pastinya mengacu pada sub judul, Remy Sylado tercatat beberapa kali diinterogasi oleh aparat setelah mementaskan beberapa naskahnya pada tahun 1970’an. Bahkan terancam berkembangkan ke pengadilan.

Mbeling yang diarahkan oleh Remy Sylado melalui teaternya itu adalah perlawanan budaya terhadap dua sisi tatanan yang dianggap mapan, pertama sisi estetis, kedua sisi politis².

Dalam dua sisi itu, drama-drama yang diangkat lewat Dapur Teater 23761, secara garis besar, merupakan bentuk visual dan verbal antara penelanjangan terhadap segala macam kepalsuan moralitas statistik dan penjungkirbalikan logika yang telah diterima baku³.

Sebenarnya saya sudah menemukan gejala budaya tandingan dalam teater ketika saya menonton pementasan ‘Mastodon dan Burung Kondor’ di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada pertengahan bulan Agustus 2011.

Naskah yang dibuat oleh W.S Rendra tersebut, benar-benar telah mengukuhkan bahwa teater itu bukanlah sebuah bentuk tontonan yang diperuntukkan bagi orang dengan waktu dan tingkat berpikir lebih. Karena yang dikomunikasikan oleh W.S Rendra, saya rasa sangat nyata dan terdapat di depan mata. Perkenankan saya mengutip penjelasan yang ,saya rasa, (sangat) tepat dalam mendefinisikan teater tanpa bertele-tele.

Teater sebagai sebuah seni pertunjukan tidak telepas dari aspek tanda dan simbol kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang merupakan bahan bakar penciptaan bagi penulis maupun pekerja seni teater lainnya akan membangun karya seni pertunjukan penuh dengan tanda dan simbol-simbol kehidupan. Tanda dan simbol yang sifatnya universal tersebut oleh banyak ilmuwan diyakini sebagai dasar dari semua komunikasi. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain melalui penggunaan simbil-simbol seperti kata-kata, gambar, angka-angka dan lain-lain.

John Powers, dalam usahanya untuk mengembangkan berbagai macam cabang disiplin komunikasi, menegaskan bahwa yang paling penting dalam komunikasi adalah pesan. Menurut Powers, pesan memiliki tiga unsur yaitu: tanda dan simbol, bahasa, dan wacana.

Teater sebagai sebuah karya seni pertunjukan akan mengangkat pesan tentang kehidupan, tentang norma, tentang kebaikan, keburukan, kejahatan, dan berbagai watak karakter manusia untuk ditampilkan di atas panggung.

Charles Morris, pakar semiotik dalam berbagai tulisannya menunjukkan bahwa seluruh tindakan manusia melibatkan tanda dan makna dalam berbagai macam cara yang menarik perhatian. Setiap ada tindakan orang akan menjadi sadar terhadap tanda, menginterpretasikan tanda dan kemudian memutuskan bagaimana cara meresponnya. Simbol-simbol dari penulis naskah yang dibawakan oleh aktor melalui interpretasi sutradara berfungsi untuk mengkomunikasikan konsep, gagasan umum, pola, atau bentuk.

Oleh Susane Langer, konsep disebut makna yang dipegang bersama antara para komunikator, tetapi masing-masing komunikator juga akan memiliki kesan atau makna pribadi yang mengisi gambaran umum tersebut. Kesan pribadi merupakan konsepsi orang tersebut.

Makna terdiri atas konsepsi pribadi individu dan konsep umum yang dipegang bersama-sama dengan orang-orang lain. Misalnya, karakter tokoh Jumena dalam naskah Sumur Tanpa Dasar karya Arifin C Noor yang menjadi sumber inspirasi penulis dalam penciptaan teater penuh dengan simbol-simbol makna pribadi maupun makna umum. Makna umum dalam naskah tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membacanya, mempelajarinya atau memainkannya.

Makna merupakan kesan yang diakui secara umum. Jumena adalah tokoh yang memiliki watak dasar pendirian yang kuat, pendirian yang kuat inilah yang menjadikan ketidakyakinan Jumena terhadap segala sesuatu meski disisi lain Jumena adalah sosok yang religius. Makna pribadi adalah makna yang dimiliki Arifin C Noor terhadap Jumena dan orang-orang lain yang telah mempelajarinya termasuk penulis.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teater sebagai sebuah seni pertunjukan memiliki unsur penting selain naskah, sutradara, dan aktor berupa aspek tanda dan simbol sebagai pesan yang ingin disampaikan dalam kerangka proses komunikasi⁴.

Jika ingin membahas teater, saya katakan sekali lagi bahwa saya tidak memiliki kemampuan dalam hal tersebut. Karena selain naskah, masih ada beberapa unsur yang berperan vital dalam mendukung suksesnya sebuah teater. Seperti pengahyatan peran, tata cahaya, tata busana, tata rias, musik, tata panggung sampai koreografi.

Dimana semua yang saya sebutkan barusan merupakan unsur teknis yang tidak kalah penting jika dibanding naskah itu sendiri, dan sampai detik ini saya sendiri belum pernah berkecimpung langsung dalam dunia teknis teater profesional. Kecuali jika peran saya dalam drama aladin ketika saya masih SD bisa dimasukkan dalam kategori tersebut. Tapi saya rasa peran saya waktu itu tidak cukup layak diperhitungkan, karena dapat dipastikan saat itu saya tidak mengerti faktor-faktor pendukung itu.

Namun jika dikatakan pengalaman saya nol besar dalam seni peran, saya rasa tidak juga. Terserah jika pernyataan ini dikategorikan sombong, tapi jelas bukan itu maksudnya. Saya pernah terlibat sebagai aktor dalam beberapa judul film independent garapan teman, yang sama-sama amatirnya. Meskipun peran saya di sana tidak terlalu vital (baca: penting), tapi setidaknya saya banyak belajar mengenai dasar pembuatan film. Dan saya pikir perbedaannya adalah dalam film menggunakan teknik sinematografi, sedang dalam teater teknik tersebut merupakan teknik pergantian adegan atau babak. Silahkan dikoreksi jika saya salah.

Pendapat pribadi saya mengenai kritikus yang ideal adalah seseorang yang pernah terlibat (baik sengaja maupun tak sengaja) dalam hal teknis mengenai persoalan yang dikajinya, seperti mendapat dukungan dari Remy Sylado. Hal tersebut bisa ditemukan dalam tulisannya yang akan saya kutip di bawah ini

Untuk itu saya selalu menganggap benar, dan moga-moga saya tidak keliru, bahwa sebuah naskah drama yang enak dimainkan oleh aktor seyogyanya ditulis juga oleh pengarang yang berpengalaman sebagai aktor atau minimal hidup bersama aktor-aktor di teater⁵.

Dalam tulisan kali ini saya tidak akan membahas tentang hal-hal teknis mengenai seni peran atau akting, tapi hal lain yang lebih menggelitik rasa penasaran saya yaitu naskah drama. Masih dalam buku yang sama, Remy Sylado mengungkapkan pendapat seperti ini mengenai naskah drama.

Rasanya saya tidak perlu ‘jual jamu’ di sini, bahwa kekayaan susastra sebagai karya tulis kreatif –yang di dalamnya memerlukan wiyata pelbagai masalah manusia— hanya tertantang dalam ‘kemauan’ untuk kemudian menjadi ‘kemampuan’ pada penulisan naskah drama. Artinya, kemampuan mengejawantahkan imajinasi visual melalui kemampuan imajinasi verbal dalam naskah merupakan tantangan perdana terhadap susatra teater⁶.

Terlepas dari pandangan Reny Sylado –yang terkesan sinis—  mengenai Drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer yang dirasa hanya menjadi bacaan teks yang dikategorikan menarik, tetapi tidak merangsang aktor untuk memperagakannya di atas panggung sebagai akting. Saya sungguh tidak perduli, karena bagi saya semua itu merupakan bahan pelajaran yang bagus.

Pengalaman pertama saya menyaksikan teater dimulai pada kisaran tahun 2006 atau 2007, say lupa pastinya, ketika itu saya menyaksikan sebuah pementasan yang (kalau tidak salah) di sutradarai oleh Agus Noor. Sebenarnya saya datang kesana dengan motivasi ingin melihat akting Butet Kartaredjasa secara langsung. Jadi, sama sekali tidak terbersit niat untuk mengetahui seluk beluk teater, apalagi naskahnya.

Dengan menyaksikan Repertoar Gandamayu kemarin, saya baru menyentuh angka 5 dalam jumlah menyaksikan teater sepanjang hidup ini. Dan pada kali ketiga saya seperti mendapat mojo dari ranah teater, pada kesempatan ketiga itulah saya “dihunus” oleh naskah ‘Mastodon dan Burung Kondor’ karya W.S Rendra. Sebuah pementasan yang sangat membekas bagi saya, sekaligus mengukuhkan niat saya untuk mencoba mengikuti jejaknya.

Setelah “terhunus” tadi, saya mencoba mencari tahu tentang; ‘Apakah naskah drama itu?’. Dan disaat itulah saya kembali mendapat mojo dari buku ‘jalan Tamblong’ karya Remy Sylado. Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah sebenarnya mojo itu?

Sebenarnya tidak ada penjelasan yang pasti mengenai perihal mojo. Tapi bagi beberapa insan musik, khususnya blues, mojo bisa diasosiasikan sebagai chemistry yang memberikan pencerahan bagi orang tersebut tanpa adanya campur tangan dari pihak lain. Sedangkan jika referensi kata mojo adalah lagu L.A Wowan karya The Doors, dimana Jim Morrison berulang kali mengucapkan “Mr. Mojo Risin”, lebih masuk akal jika hal itu ditafsirkan sebagai anagram dari nama Jim Morrison (Mr. Mojo Risin), bukanlah mojo yang saya maksud.

Dan mojo yang saya dapat dari teater (terutama naskahnya) adalah serunya area abu-abu antara fakta dan fiksi, dan pastinya perannya sebagai budaya tandingan. Entah kenapa saya selalu tertarik dengan budaya tandingan.

Dalam ‘Mastodon dan Burung Kondor’ saya menemukan banyak sekali pesan yang ingin disampaikan melalui pementasan tersebut. Bagi saya, naskah ‘Mastodon dan Burung Kondor’ merupakan naskah yang sangat berbahaya jika dihadirkan di tengah-tengah rakyat yang haus akan perbaikan. Sehingga tidak heran jika naskah ini disinyalir sebagai penyebab tercetusnya gerakan mahasiswa yang dikenang sebagai peristiwa MALARI (MAlapetaka Lima belAs januaRI, 1974)

Kemudian 5 buah naskah dalam buku ‘Jalan Tamblong’ karya Remy Sylado, juga memiliki daya kritis yang tak kalah tinggi. Silahkan simak bagaimana cerdasnya sebuah naskah drama sederhana nana kompleks yang berjudul ‘DUA LEKAKI DI JAM DUA’ dan sebuah naskah monolog ‘TAMAN MERDEKA’.

Dalam naskah ‘TAMAN MERDEKA’, Remy Sylado menyoroti permasalahan pelik dalam bernegara dengan topik –yang (mungkin) terkesan absurd— mengenai pemilihan kata ‘Kontol’ yang dianggap tabu untuk menjelaskan alat kelamin laki-laki. Padahal kata ‘Kontol’ sendiri, jelas-jelas terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sehingga kritik yang ingin dilontarkan dalam naskah tersebut adalah untuk apa menggarang istilah lain padahal istilah baru tersebut justru akan menimbulkan kebingungan dalam masyarakat?

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengutip apa yang dijelaskan oleh Savitri Scherer dalam buku Mangir karya Pramoedya Ananta Toer. Dimana ucapan Savitri itu mengingatkan saya pada sebuah adegan di film V for Vendetta yang memiliki konklusi; seorang artis menggunakan kebohongan untuk menngungkapkan kebenaran, sedangkan politisi itu sebaliknya.

Sesungguhnya karya sastra, apakah itu kreasi berbunga dari imajinasi pujangga kraton ataupun penggalian kembali penulis masa kini, episode yang tetap dihidupkan berulang kali dengan bumbu variasi, memang mempunyai suatu ikatan faktual denagn peristiwa sejarah. Masing-masing seolah-olah ingin saling tiru⁷.

Penggambaran berbagai peristiwa tersebut yang bergerak antara realitas sejarah dan fiksi, seolah-olah membuktikan bahwa karya sastra menguntit peristiwa sejarah dengan setia, dan selanjutnya peristiwa sejarah terjadi seolah-olah meniru kembali apa yang dibayangkan oleh para perangkum sastra⁸.

Jadi kesimpulannya, apakah harus teatrikal itu simetris? Jawaban saya; harus! Simetris disini saya maksudkan dengan memberi imbas terhadap kehidupan nyata (minimal wacana), disamping sifatnya yang (mungkin) menghibur. Dari tiga contoh penulis naskah drama yang saya sebutkan di atas, saya pikir mereka memiliki pesan dalam setiap naskahnya entah itu sekadar mengkritik kondisi sosial masyarakat atau bahkan menggugah kesadaran sang penonton untuk melakukan perubahan setelah naskah tersebut usai dipentaskan maupun dibaca.

Masih menurut saya, jika tidak simetris maka tidak perlu heran kalau seni dan budaya hanya akan diletakkan di bawah rubrik hiburan dari sebuah surat kabar. Dan hal ini bukan hanya sebatas kata ‘saja’, tapi saya berani jamin ‘selamanya’. Singkatnya, seni dan budaya tidak akan mendapat perhatian serius jika berulang kali diisi oleh jenis karya yang beranja-anja, seperti yang terdapat pada mayoritas karya sastra di Indonesia. Meskipun dalam logika bisnis selalu bisa diterima dengan alasan mayoritas konsumen di Indonesia gemar beranja-anja. Tapi apakah benar kita hidup hanya untuk beranja-anja saja? Setahu saya, sperma adalah pejuang sejati!

Mengenai persoalan teatrikal, saya pikir itu adalah kemasan bagi orang yang lebih memuja peran visual dalam hidupnya. Jika anda takasing dengan istilah theater of mind, dan anda termasuk orang yang mahir dalam mengelola hal tersebut. Maka anda tidak perlu menunggu diri untuk melibatkan unsur visual guna mendapatkan pesan yang dimaksudkan dalam karya sastra tersebut.

 

——-

Tulisan ini saya tujukan untuk rekan saya @Nedink yang hari ini berulang tahun! Selamat ulang tahun, hati-hati di jalan dan semoga masuk surga.

¹ http://concordances.org/greek/2302.htm

² Redaksi. 2010. Jalan Tamblong: Kumpulan Drama Musik. Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta. Hlm. xvi.

³ ibid

http://pamangsah.blogspot.com/search?q=teater&x=0&y=0

⁵ Sylado, Remy. 2009. Jalan Tamblong: Kumpulan Drama Musik. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta. Hlm. xxiii.

⁶ Sylado, Remy. 2009. Jalan Tamblong: Kumpulan Drama Musik. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta. Hlm. xxii.

⁷ Toer, Pramoedya Ananta. 2000. Mangir. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta. Hlm. xii-xvi.

⁸ Toer, Pramoedya Ananta. 2000. Op.Cit. Hlm. xv.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

16 September 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized