(ber) Kongkalikong Dengan Pemahaman Tentang Hari Kedua Yang Mengecewakan

Posted on September 24, 2012

1


Image

KONGKALIKONG

“Menurutmu, kerenan sing wingi opo saiki? (Menurut kamu, keren yang kemarin atau sekarang?, red)” tanya seorang teman kepada saya

“Wingi (kemarin, red)”

“Aku yo pisan (Aku juga, red)” balasnya sembari tersenyum kecil, seolah-olah menemukan pembenaran

Terlepas dari peran pertanyaan itu, saya sudah memutuskan bahwa pertunjukan yang bertajuk “KONGKALIKONG: Monolog & Music” akan mendapat perhatian dari saya, meskipun saya yakin perhatian dalam bentuk tulisan ini tak luput dari cela, karena inilah kali pertama saya menyaksikan monolog.

Meskipun sebenarnya kita juga sering bermonolog dalam kehidupan sehari-hari, tepatnya beberapa saat sebelum menentukan sebuah keputusan. Sebuah monolog yang menjelma ke dalam istilah lain yang disebut pertimbangan.

Sejauh yang saya tahu, istilah kongkalingkong diidentikkan dengan sebuah perbuatan yang memiliki citra negatif. Penjelasan singkat dari kongkalikong, yang saya pahami, adalah bersekongkol atau berkomplot untuk melakukan sesuatu yang tidak atau kurang baik. Namun persoalannya, baik di sini ditinjau dari pihak mana? Pelaku atau korban? Inilah yang perlu diperkarakan.

Kembali kepada rel monolog kongkalikong, maka saya rasa cukup jelas tentang pihak mana saja yang berkongkalikong disini dan apakah tujuannya? Hal ini bisa didapatkan dari sinopsis yang dibagikan ketika datang menyaksikannya. Dan bagi yang tidak datang dan tidak bisa membaca sinopsinya, maka akan saya kutipkan sinopsis yang terdapat dalam situs majalahsintetik.com

KONGKALIKONG

Kongkalikong adalah sebuah pertunjukan yang mempunyai dua elemen penting, yaitu pertunjukan musik dan penceritaan. Mengambil bentuk fiksi sejarah tentang tiga generasi di sebuah keluarga peranakan, cerita dari Kongkalikong ini akan dinyanyikan oleh satu vokalis yang diiringi 8 orang musisi. Dalam 3 buah monolog yang dilagukan sepanjang 60 menit, Kongkalikong menceritakan perjalanan sebuah keluarga keturunan Tionghoa dari Cina ke pulau Jawa dan akhirnya ke Singapura.

Pertunjukan ini adalah sebuah kolaborasi antara Agnes Christina dan Astu Prasidya, dengan bantuan dari Hibah Seni Yayasan Kelola serta International Collaboration Grant dari National Arts Council Singapore.

Terinspirasi dari proses asimilasi budaya dan bahasa dalam kebudayaan Melayu, Agnes dan Astu berharap dapat mempersembahkan sebuah pertunjukan seni yang menggabungkan musik etnik Jawa dan Cina, menggunakan Bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, dikemas dalam sebuah cerita keluarga peranakan.

Dalam pertunjukan ini, Agnes dan Astu bekerjasama dengan Suhaili Safari, seorang aktor dan vokalis dari Singapura, composer Djoni Sugiarto dan diiringi oleh delapan orang musisi dari kota Malang.

Pertunjukan premiere Kongkalikong akan diadakan di Kota Malang, di Kelenteng Eng An Kiong pada tanggal 21 dan 22 September, pukul 8 malam. Setelah itu, pertunjukkan ini akan dibawa ke Singapura pada tanggal 13 Januari 2013 untuk dipentaskan di The Substation Singapore. Semua pertunjukan diadakan secara gratis; penonton hanya perlu mendaftarkan nama mereka saja sebelum pertunjukan dimulai.

Masih perlu penjelasan siapa saja yang berkongkalikong? Baiklah, jika memang masih membutuhkan penjelasan. Inilah sosok yang berkongkalikong itu; Agnes Christina, Astu Prasidya, Suhaili Safari, Djoni Sugiarto dan delapan orang musisi dari kota Malang. Hal ini tentunya ditambah beberapa nama yang tertera di halaman belakang.

Mungkin saya tidak sepenuhnya benar, tapi saya tidak akan menganggap bahwa monolog yang beretajuk ‘Kongkalikong’ ini adalah sebuah karya yang tidak layak ditampilkan. Jika boleh membekali tulisan kali ini dengan beberapa pengalaman saya sebelumnya dalam menonton teater, maka saya tidak akan sungkan untuk bertepuk tangan setelah durasi 60 menit disajikan.

Menyaksikan pertunjukan ini dua hari berturut-turut, sedikit banyak membuat saya bisa memahami isi dan teknis cerita meskipun tanpa bekal naskah. Kelemahan saya dalam setiap menyaksikan sebuah seni pertunjukan, adalah otak yang langsung memprediksi naskah cerita. Sehingga tak jarang saya memerlukan lebih dari satu kali untuk mendapatkan alur ceritanya dengan (cukup) jelas.

Namun sebelum saya menuliskan beberapa pendapat saya yang berkaitan lekat dengan pertunjukannya, saya akan sedikit menyinggung satu hal yang membuat saya cukup tidak nyaman. Sampai H-1, saya masih mendapatkan info bahwa acara akan digelar di Klenteng Eng An Kiong dan itu jelas membuat otak say merekonstruksi arena pertunjukan. Singkatnya saya bisa membayangkan bahwa visualnya akan terlihat keren.

Terlepas dari kesanggupan memaklumi kendala maupun kemauan menerima penjelasan yang diberikan oleh salah seorang teman selaku pihak penyelenggara acara mengenai alasan pindahnya lokasi pertunjukan di hari pertama, saya tetap menganggap bahwa acara hari pertama gagal. Gagal dari salah satu faktor penting dari sebuah acara, lokasi.

Tapi ada satu hal yang patut dicungi jempol, kesigapan panitia untuk berkoordinasi dalam keadaaan sangat genting. Meskipun saya yakin, kesigapan itu tidak terlepas dari bantuan beberapa pihak yang merelakan waktu dan tenaganya untuk menyulap Joglo UKM UM (Universitas Negeri Malang) menjadi lokasi acara. Sekali lagi, saya salut terhadap kesigapan dan kerjasama semua pihak, demi berlangsungnya acara tersebut.

Selain kegagalan lokasi acara, saya pikir tidak ada yang perlu dikomentari pada hari pertama. Kecuali lokasi acara yang terpisah oleh kolam dan memiliki ketinggian yang cukup tidak nyaman jika disaksikan dari dekat, terlebih lagi memilih posisi duduk.

 

Perubahan yang tidak asik!

Setelah cukup tercengang dengan pertunjukan hari pertama, ekspektasi saya untuk menyaksikan pertunjukan pada hari kedua hanya sebatas ekspresi visual yang kelak disajikan oleh klenteng sebagai lokasi acara. Sisanya, saya anggap sudah cukup terwakili pada hari pertama.

Dari beberapa hal keren yang digelontorkan oleh pertunjukan ini, saya hanya sanggup menyimpulkan beberapa yang disajikan dalam monolog ini. Tentang kritik pemerintah terekam dengan baik dari persoalan kremasi yang ujung-ujungnya minta uang pelicin, dan sebuah  ujaran “manusia berencana pemerintah menentukan.”

Sementara kritik budaya terasa saat Nai Nai (nenek) membalikkan jempolnya ke bawah, ia berekspresi sembari memaparkan sosok wanita dalam budaya cina dalam ritual keturunan. Akting Suhaili Safari dalam memerankan tokoh Siti yang sukses mengucurkan air mata saat khayalan tentang ayah & neneknya hadir dalam mimpi, juga sebuah nilai lebih bagi saya. Suhaili Safari, sukses menangis dua hari berturut-turut dengan derajat kesedihan yang sama, disamping kualitas suaranya yang tidak kalah elok dengan kemempuannya berakting. Salut!

Image

hari pertama (Joglo UKM UM)

Sedangkan beberapa kekurangan, saya rasakan dan temukan dalam beberapa adegan. Ketika hari pertama menyaksikan pertunujkan ini di Joglo UKM UM, saya masih sempat mendengar; “Kenapa kamu harus masuk islam?” Nai Nai (nenek) nenek bertanya kepada mama. Namun pada malam kedua, kata islam mendadak diganti dengan ‘agama lain’.

Selain itu, sejauh yang saya ingat, mama sempat berucap sepoerti ini “Mama sudah harus siap ditinggal oleh kamu untuk keluar negeri, dan rupanya benarkan? Setelah kamu masuk apa itu namanya? GERWANI? …” dan pada malam kedua kata GERWANI berubah jadi Gerakan Wanita.

Apa sebenarnya yang terjadi di sini? Masih adakah oknum yang berpolah sama saat ketika W.S Rendra melaksanakan pementasan, Remy Sylado bersandiwara nyanyi atau Pramoedya menerbitkan buku? Masih adakah pihak yang “menyensor” pertunjukan seni? Entah atas nama apapun itu.

Tapi saya mendapat info dari teman, bahwa ada sebuah koreksi dari seorang penonton di hari pertama yang menyinggung soal sejarah GERWANI dalam naskah. Dan pada hari kedua, kata GERWANI yang terdapat pada sebuah adegan itu diganti oleh Gerakan Wanita. Jelas saya mendapat penjelasan di sini, tapi apa saya puas? Tidak.

Image

Hari kedua (Klenteng Eng An Kiong)

Menurut saya, jika ingin mengoreksi faktor sejarah dalam sebuah karya tentu sah-sah saja. Namun, ada baiknya jika sosok yang mengoreksi itu dihadirkan pada sebelum karya itu dimulai ataupun seusai karya itu rampung. Jika karya tersebut merupakan karya tulis, biasanya koreksi diletakan pada halaman depan. Lantas bagaimana dengan seni pertunjukan?

Menurut saya, dalam seni pertunjukan, hal ini bisa diletakkan pada akhir pertunjukan. Jika tidak bisa menghadirkan sosok yang mengoreksi naskah tersebut, setidaknya ada pernyataan dari sutradara atau penulis naskah mengenai hal yang dikoreksi. Seusai pertunjukan di sini berarti selama pertunjukan itu dimainkan, jika dimainkan selama 7 hari berarti selama itu pula penonton berhak mendapatkan klarifikasi mengenai naskah yang dikoreksi itu.

 

——-

Bebas untuk dikomentari

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

24 September 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized