Fabel harmonis yang mengemas geliat ritus kapitalis

Posted on October 21, 2012

0


Image

Jauh sebelum tanggal 15 oktober 2012, dimana saya bertemu dengan buku ‘THE TRAVELS OF A T-SHIRT IN THE GLOBAL ECONOMY’ karangan Pietra Rivoli –seorang profesor di McDonough School of Business, Georgetown University yang khusyuk berkutat dalam bidang bisnis internasional, keuangan dan isu-isu sosial dalam bisnis— saya sudah memiliki ketertarikan kepada sebuah album dari Pink Floyd yang berjudul Animals.

Namun sebelum tulisan ini mengerucut pada album Animals, perkenankan saya sedikit menyinggung tentang Pink Foyd. Grup band asal Inggris yang saya akrabi pada kisaran tahun 2010. Itu artinya baru sekitar 2 tahun, tergolong baru dalam kategori penggemar.

Pada intinya sejak saya berkenalan dengan Pink Floyd, maka sejak itu pula saya memutuskan untuk menghentikan kegandrungan saya terhadap musik. Kenapa? Alasannya tidak mungkin saya deskripsikan satu persatu di sini, namun kalau ada waktu senggang boleh kita bertukar pendapat.

Jujur saja ketika album Dark Side of the Moon berhasil saya tamatkan, imbasnya ke saya adalah saya berjalan ke belakang dengan perasaan rendah diri. Mungkin pengandaian yang bisa memperjelas generasi ‘ciyus miapah’ adalah sikap yang gak move on.

Berhubung kata ‘rendah diri’ itu memiliki asosiasi dengan citra negatif, maka perlu saya coba untuk memperjelas hal tersebut.

Cerita ini dimulai ketika saya memutuskan untuk mengamati album Dark Side of the Moon, ketika itu saya masih memosisikan diri sebagai seorang musisi ketimbang penikmat musik. Musisi penuh ego dan kebanalan yang aduhai.

Entah bagaimana kronologisnya, karena saya sendiri tidak ingat, yang pasti ego dan kebanalan itu langsung runtuh ketika saya menyimak secara sungguh-sungguh aransemen dan wacana yang disajikan oleh Pink Floyd dalam album Dark Side of the Moon.

Terus terang, sampai tulisan ini selesai dibuat, saya masih minder untuk mengamini pendapat beberapa teman yang pernah mengetahui peran saya sebagai musisi. Karena setelah mengonsumsi album Dark Side of the Moon, saya sangat segan untuk membuat bebunyian yang minim esensi (tidak mampu mengomunikasikan atau mendukung pesan sebuah karya).

Singkatnya, perasaan rendah diri itulah yang kemudian membimbing saya untuk menemukan rekannya yang protagonis yaitu si rendah hati. Rendah diri di sini saya analogikan dengan sikap yang terbentuk karena kealpaan saya untuk mengisi diri dan hari dengan hal yang bermutu.

Dan bicara soal rendah hati, sikap itu mengingatkan saya pada ucapan seorang tokoh utama (Steve Addington) dalam film ‘Surfer, Dude’ yang berujar seperti ini, “Mind open, heart enlarge and soul receptive.”  Tiga kunci yang sepertinya mujarab.

Pernyataan barusan, sama sekali bukan bertujuan untuk memosisikan bahwa saya tergolong orang yang rendah hati. Sama sekali tidak ada maksud. Saya hanya mengungkapkan rasa syukur karena telah diingatkan oleh Pink Floyd, khususnya album Dark Side of the Moon.

Bagi saya Pink Floyd merupakan sebuah sosok yang memberikan keyakinan bahwa saya harus menghentikan kegiatan saya mengamati maupun menggeluti dinamika dunia musik, atau bisa dikatakan setelah fase Pink Floyd saya sudah tidak memiliki antusiasme yang menggebu terhadap dunia musik modern.

Kalau ada yang beropini bahwa saya picik atau terlalu membesar-besarkan Pink Floyd, saya tidak akan menyanggahnya. Tapi perlu diketahui, anggapan tersebut tidak akan melunturkan niat saya pada tujuan utama tulis kali ini, yaitu mengerucutkan sepak terjang Pink Floyd pada album Animals.

Dan bagi para Floydian (sebutan untuk penggemar Pink Floyd, yang diciptakan oleh para penggemar disepakati oleh para penggemar) tulisan kali ini, tentunya akan jauh dari standar layak. Untuk itu, komentar dan kritik adalah hal yang saya harapkan.

 

Animals adalah yang terbaik?

Sub judul yang berbentuk pertanyaan ini jelas memiliki satu jawaban. Dan bagi saya jawaban itu adalah TIDAK! Dan jika muncul pertanyaan lain yang berbentuk seperti ini, “Lantas kenapa saya malah menulis tentang album tersebut?” Jawabannya akan saya berikan setelah empat  paragraf berikut.

Demi menghindari pertanyaan menyebalkan seperti berikut, “Apa album favorit Pink Floyd versi anda?” dan “Apa lagu favorit Pink Floyd versi anda?”. Maka saya akan menunjukkan sikap difensif terlebih dahulu ketimbang pertanyaan itu makin berkembang menjadi lebih biadab.

Album favorit saya adalah Wish You Were Here sedangkan lagu favorit saya Echoes (Album: Meddle).

Bicara soal yang terbaik, terlebih lagi soal selera, tentu saja tidak punya patokan yang harus disepakati bersama. Hal ini murni urusan personal yang menyangkut perkara suka atau tidak suka, dan saya pribadi tidak terlalu suka album-album Pink Floyd setelah era Wish You Were Here. Setelah Wish You Were Here? Ya, termasuk karya monumental mereka berjudul The Wall.

Dan jika ada yang mengaitkan sikap saya ini dengan perseteruan yang melibatkan Basis dan Gitaris band ini, saya sungguh tidak ingin berkomentar banyak. Singkatnya, dengan sadar saya memihak David Gilmour, alasannya tidak akan saya tuliskan disini karena itu hanya akan menimbulkan distorsi.

Namun terlepas dari kesan keberpihakan itu, saya tidak punya alasan untuk tidak meletakkan kekaguman saya kepada Roger Waters, maupun kedua personel lain (Nick Mason & Richard Wright). Dan juga salah kepada seorang mantan personel, yang juga merupakan pendiri Pink Floyd, Syd Barret.

Kembali pada janji saya di awal sub-judul ini dimana saya akan memaparkan alasan saya kenapa saya malah menulis album Animals. Sebuah album yang urutannya berada tepat setelah Wish You Were Here, maka ada baiknya jika saya nyatakan jawaban-jawaban itu dalam sebuah sub-judul yang baru

 

Pink Floyd yang hipokrit

Setelah saya mengonsumsi album Dark Side of the Moon, saya memiliki kebiasaan untuk bertanya ketika telah menamatkan sebuah lagu maupun album, “Buku apa yang dibaca oleh orang ini?”

Berhubung Animals merupakan album yang saya konsumsi setelah Dark Side of The Moon, maka pertanyaan itu otomatis terlontar tanpa perlu distimulus, dan bagusnya lagi pertanyaan tersebut bertemu dengan jodohnya.

Album Animals jelas terinspirasi oleh sebuah novel karya George Orwell yang berjudul Animal Farm. Indikasinya adalah tokoh-tokoh dalam novel Animal Farm sama dengan tokoh yang ada di album Animals. Tokoh itu adalah PigDog dan Sheep.

Selain tokoh, inti cerita yang terdapat dalam novel Animal Farm dan album Animals juga terbilang sama. Tanpa terbersit niatan untuk berceramah tentang substansi album Animals atau novel Animal Farm, maka saya cukup meyertakan gambar di bawah ini. Karena menurut saya, gambar tersebut sudah mewakili pesan dari dua karya itu. Tugas anda selanjutnya adalah mengganti kata Wolves dengan Dogs.

Image

Jika anda masih penasaran dengan album Animals atau novel Animal Farm, silahkan anda masukkan kata kuncinya di google dan rasakan sendiri sensasinya. Intinya saya tidak akan memberikan penafsiran saya jika hal itu masih bisa didapat di songmeanings.net

Berbicara tentang album yang mengompilasikan bebunyian, tentunya hal itu tidak terlepas dari peran aransemen. Dan masih menurut saya, aransemen yang disajikan oleh Pink Floyd dalam album Animals masih mewarisi resep Dark Side of the Moon.

Lima buah lagu yang terdapat disini memiliki aransemen dan konsep yang harmonis dan faktor kesinambungan antar lagu masih menjadi pertimbangan yang mendasari terciptanya album ini.

Mulai dari lagu yang berjudul Pigs on the Wing [Part 1]DogsPigs [Three Different Ones]Sheep, dan berakhir di lagu Pigs on the Wings [Part 2]. Semuanya memiliki kemampuan untuk memberi kita alasan untuk menunda segala bentuk kegiatan kecuali menyimak kelima buah lagu itu.

Jika menilik ke faktor musikalitas, album ini sangatlah sukses merangkum kepiawaian empat orang personel Pink Floyd dalam menunaikan tugasnya disamping mempertontonkan daya imajinasi mereka dalam menerjemahkan kebutuhan audio. Sebuah daya imajinasi yang menurut saya berkembang jauh melampaui standar pengoptimalisasian teknologi dalam ranah musik kala itu.

Sebagai buktinya silahkan simak tiga buah lagu yang terjepit antara Pigs on the Wing [Part 1] dan Pigs on the Wings [Part 2]. Semua kemampuan personel Pink Floyd tergambarkan dengan jelas dalam lagu DogsPigs [Three Different Ones]Sheep.

Jika disuruh memilih apa lagu favorit saya dalam album ini. Maka jawaban saya adalah Sheep, namun percayalah kalau jawaban tersebut akandiikuti umpatan bagi yang memberikan pertanyaan. Dan jika ada yang bertanya “kenapa Sheep?” akan saya coba jelaskan tanpa adanya umpatan.

Saya memilih Sheep, karena saya selalu terkesima dengan permainan tenang nan menghanyutkan ala Richard Wright di awal lagu. Namun kemudian nuansa tenang dan menghanyutkan itu berubah menjadi tergesa dan putus asa ketiga Roger Waters memutuskan untuk mempertemukan pick dengan senar pada bassnya, belum lagi isian gitar David Gilmour yang berkarakter space rock ditambah bebunyian yang dihasilkan dari perangkat drum Nick Mason.

Namun alasan saya sebenarnya untuk menjatuhkan pilihan pada lagu ini terletak pada menit ke 6 detik 27, ketika suara domba perlahan menghilang untuk diganti oleh suara Roger Waters yang telah diolah oleh sebuah mesin yang bernama Vocoder.

Sebenarnya, bukan hanya karakter suara maupun nuansanya saja yang saya suka karena menyerupai suara alien dalam film Forth Kind. Melainkan esensi liriknya pada bagian ini.

Lirik itu mungkin terkesan memarodikan kitab mazmur 23 yang merupakan bagian dari perjanjian lama, namun saya menganggap bahwa ini adalah sebuah satire dalam menghadapi jerat jaring kapitalis.

The Lord is my shepherd, I shall not want

He makes me down to lie

Through pastures green he leadeth me the silent waters by

With bright knives he releaseth my soul

He maketh me to hang on hooks in high places

He converteth me to lamb cutlets

For lo,m he hath great power and great hunger

When cometh the day we lowly ones

Through quiet reflection and great dedication

Master the art of judo

Lo, we shall rise up

And then we’ll make the bugger’s eyes water.

Sebelum menutup tulisan yang saya yakin banyak cela ini, saya sungguh ingin mengutip sebuah pendapat dari seseorang yang mengaku bernama gribblecake dalam songmeanings.net

“I think it’s hypocritical of them to chastise capitalism, while making money (for themselves) while doing it.”

Ya, saya sangat sangat sependapat dengan gribblecake. Hipokrit! Munafik! Dengan sangat sadar saya nyatakan bahwa Pink Floyd merupakan salah satu contoh peliharaan label yang dipercaya oleh pihak label bisa menghasilkan pemasukan yang besar. Ritus kapitalis pun terjadi dalam album Animals, sebuah album yang coba mengkritisi etos kapitalisme.

Meskipun terdengar paradoks, namun bagi saya pribadi, Pink Floyd sudah sangat sukses dalam berjuang sesuai kemampuannya sebagai seorang seniman atau artis yang bertindak lewat karya bukan sensasi. Karena hanya selebritis saja yang kerjaannya mencari sensasi.

Dan bagi saya, karya-karya Pink Floyd selalu sukses memberikan (setidaknya) wacana tentang pencerahan dalam hidup. Jika karya-karya tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai wahyu yang diaransemen oleh manusia dalam rupa lagu.

 

——-

Bebas untuk dikomentari

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

21 Oktober 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized