Thousand years live as a lamb? Better to live one day, as a lion!

Posted on October 29, 2012

0


Image

Entah kenapa akhir-akhir ini saya seperti menggali memori ke masa sebelas atau dua belas tahun silam, dimana saya pertama kali mendengar lagu dari band yang nantinya akan menjadi lebih dari sekadar teman (dimana satu fungsinya adalah menghibur).

Berkenalan dengan lagu tersebut dari salah satu jenis permainan di playstation 1, kala itu playstation generasi pertama masih menjadi kawan sejati saya selepas menjadi jemaat sekte berseragam putih biru. Nama permainannya adalah Tony Hawk Pro Skater 2. Jagoan saya? Chad Muska! Kaos oblong merah, topi merah dibalik, tas ransel, mengenakan celana ¾ dan (kalau saya tidak salah) dia juga memanggul mini compo pada beberapa bagian yang istimewa dalam video game ini.

Andaikan berandal ini hidup di era x-box, pasti pencitraannya akan sangat keren! Bahkan lebih dari itu, saya berani bertaruh apa saja kalau akan banyak sekali wanita yang histeris ketika Chad Muska meluncur di atas papan skateboardnya ketimbang si pemeran spiderman yang terakhir. You know why? Muska is the real badass!

Tapi saya tidak akan bertutur tentang Chad Muska ataupun tokoh berpapan lain dalam Tony Hawk Pro Skater 2, karena setelah melewati fase SMP saya sudah tidak memiliki antusiasme terhadap video game. Dan tidak seperti nasib libido terhadap video game, birahi saya terhadap musik kala itu sedang gencar-gencarnya.

Sebenarnya tidak berselang lama setelah mengetahui judul yang si pemilik lagu, yang artinya masih menggunakan seragam putih biru, saya segera mencari wujud fisiknya di lapak kaset bajakan yang (pada waktu itu) selalu Nampak pada sore hari di pinggiran pasar yang terletak di seberang tempat saya tinggal. Sekarang kaset itu sudah hilang entah kemana.

‘RAGE AGAINST THE MACHINE, THE BATTLE OF LOS ANGELES’ Hanya ada 9 buah kata yang tertera di sampul berwarna dominan putih dan abu-abu dengan gambar (seperti) orang yang sedang mengepalkan tangan kanan ke atas. Pertanyaan yang muncul selanjutnya, “Seperti apa musik dalam kaset ini?”

Gila! Baru kali itu saya benar-benar tersihir dengan kemampuan seseorang untuk merapal lirik dengan kadar amarah dan intelektualitas yang sama-sama besar. Kalau amarah mungkin bisa terasa jika mengamati artikulasinya, namun kenapa saya berani meletakkan kata intelektualitas, sedang umur saya saat itu belum genap empat belas? Singkat saja, karena gara-gara seluruh kata yang terdapat dalam album ini, menilik kamus menjadi salah satu kegemaran saya.

Ritme yang terjalin antara bass dan drum yang berjalan terarah mendampingi amarah sang vokalis, plus bebunyian aneh yang (pada akhirnya saya ketahui bahwa itu) hanya bersumber dari sebuah gitar. Orang gila macam apa lagi yang ada di band ini?

Akhirnya ketika saya bisa sedikit memainkan alat musik, saya membujuk ketiga teman dalam band untuk memainkan lagu favorit saya di album itu ‘Sleep Now In The Fire’. Namun setelah ditinjau ulang berdasarkan kemampuan masing-masing personel, akhirnya kami hanya sanggup membawakan ‘Guerilla Radio’.

Sebenarnya, ketika kami berhasil membawakan lagu ‘Guerilla Radio’ atau sekitar 3 tahun setelah saya mengenal lagunya, Rage Against The Machine sudah memutuskan bubar setelah merilis album Renegades. Itu artinya saya sudah terlambat mengetahui kiprah band itu, konsekuensinya adalah saya harus lekas bergerak untuk mengamatinya melalui beragam media yang sekiranya mendukung.

 

7 tahun tanpa amarah?

Di penghujung pelajaran yang diberikan oleh Rage Against The Machine kepada saya (secara tidak langsung), saya mendengar desas-desus bahwa mereka baru saja melakukan pertunjukan bersama kembali.

Benarkah?

2007, Coachella. Saya mendengar kepastian ini dari seorang teman yang sedang berada di negeri paman sam, sebenarnya teman saya itu berdomisili di Iowa sedangkan Coachella diselenggarakan di California, namun karena teknolgi internet sedang berkembang, akhirnya ia memberikan saya, yang pada saat itu masih berada di Malang, sebuah tautan untuk bebas mengunduh beberapa video Rage Against The Machine live at Coachella 2007 yang terabadikan.

Rasanya? Sangat senang bukan kepalang! Bahkan sampai saat ini saya masih suka berkhayal, ada promotor bernyali dari Indonesia yang membawa band ini ke lokasi konser yang tidak perlu mewah. Cukup lapangan D Senayan saja, namun pihak penyelenggara memberi tahu keempat personelnya, bahwa ada gedung parlemen disebelah utara.

(Masih dalam khayalan) Saya cukup yakin, bahwa sepulang dari acara itu sebagian besar penonton berjalan bersama menuju arah slipi dan berhenti di depan derbang gedung tersebut. Dedung DPR/MPR yang berpagar kokoh, perwujudan wakil rakyat yang tak bisa terjamah bukan? Bahkan oleh penjual minuman botol yang setiap hari mangkal di depan pagar itu sekalipun.

Namun kali ini saya enggan berkoar tentang pemerintahan atau perihal intrik politik lainnya, dan lebih baik kembali ke khitah tulisan ini saja. Pada 2007 mereka tampil di Coachella, itu artinya sekitar 7 tahun mereka tanpa rasa amarah kepada mesin yang selama ini ia lawan. Kalian yakin mereka bisam melewati  7 tahun tanpa amarah? Sedangkan mereka sendiri yang bersabda “Your anger is a gift” dalam lagu ‘Freedom’.

Saya tidak yakin!

Saya tahu bahwa selepas Rage Against The Machine, Tom Morello beserta Tim Commerford dan Brad Wilk membentuk band yang diberi nam Audioslave bersama Chris Cornell (vocal). Tapi kemana Zack De La Rocha? Salah satu vokalis idola saya ini hilang seperti aktivis vokal di era orde baru.

Ada isu yang beredar bahwa Zack ikut berjuang bersama tentara pembebasan Zapatista di belantara meksiko, lebih tepatnya belantara kemiskinan di Chiapas. Namun saya agak sangsi dengan isu tersebut, sebab saya sempat melihat wujudnya yang menjadi kribo di youtube memangku jarana jarocha (serupa ukulele dengan 8 buah senar yang wujudnya jauh lebih sintal dengan suara yang lebih gaduh).

Dalam video itu Zack memang memainkan lagu dengan bahasa spanyol, tapi sama sekali tidak terlihat secuilpun tentara Zapatista di sana. Cukup sudah, isu tersebut gugur! Dan argumen saya mulai tumbuh, Zack masih berekspresi dengan musik. Namun seperti apa lagi bentuknya, saya masih belum mendapat gambaran yang nyata.

Tidak berselang lama, saya mendengar kabar bahwa Tom Morello membuat proyek solo baru yang bernama The Nightwatchman. Tanpa babibu, saya langsung menyimak. Singkat saja, saya tidak terlalu suka! Ini terdengar seperti Bob Dylan versi tanpa rambut yang meronta-ronta dengan gitar akustik dan perangkat efek yang jauh lebih modern. Bagi saya, masih lebih seru menonton Iwan Fals di acara I like Monday kalau hanya begini ceritanya.

Saya memang tidak tertarik dengan The Nightwatchman, tapi saya tetap merasa bahwa Tom Morello adalah sosok yang menarik. Paradoks? Jelas bukan! Alasannya? Tak perlu saya jabarkan, bisa panjang urusannya nanti. Cukup lihat saja tulisan-tulisan di gitarnya: Arm The Homeless, Soul Power, Black Spartacus, Whatever It Takes, Sendero Luminoso dan entah akan ia bubuhkan apalagi.

Tidak lama dari proyek bernama The Nightwatchman itu reda, saya mulai mendengar kabar bahwa Zack juga memiliki proyek baru bernama One Day As A Lion. Selain Zack ada seorang musisi lagi yang terlibat, Jon Theodore, dia seorang drumer.

Sebentar! Jon Theodore? Drumer? Ini artinya The Mars Volta! Dan lagu favorit saya dari The Mars Volta terdapat dalam album Amputechture, dimana Jon Theodore masih menjabat sebagai drumernya. Wow! Ini pasti proyek berbahaya. Segera saja saya mencari tahu seperti apa bentuk One Day As A Lion, dan saya langsung tambatkan hati saya kepada duo pria berpotensi rambut kribo ini.

 

I’m full grown and I’m off to the green zone

Kalau ada yang bertanya kenapa baru saya tuliskan sekarang sedangkan EP One Day As A Lion sudah beredar di tahun 2008? Salah saya? Bukan! Salahkan Tom Morello yang menulis seperti ini  http://www.rollingstone.com/music/news/tom-morello-paul-ryan-is-the-embodiment-of-the-machine-our-music-rages-against-20120816 di majalah Rolling Stone.

Biar saya kutipkan 4 paragraf awal yang saya posisikan sebagai “kesalahan” itu.

Paul Ryan’s love of Rage Against the Machine is amusing, because he is the embodiment of the machine that our music has been raging against for two decades. Charles Manson loved the Beatles but didn’t understand them. Governor Chris Christie loves Bruce Springsteen but doesn’t understand him. And Paul Ryan is clueless about his favorite band, Rage Against the Machine.

Ryan claims that he likes Rage’s sound, but not the lyrics. Well, I don’t care for Paul Ryan’s sound or his lyrics. He can like whatever bands he wants, but his guiding vision of shifting revenue more radically to the one percent is antithetical to the message of Rage.

I wonder what Ryan’s favorite Rage song is? Is it the one where we condemn the genocide of Native Americans? The one lambasting American imperialism? Our cover of “Fuck the Police”? Or is it the one where we call on the people to seize the means of production? So many excellent choices to jam out to at Young Republican meetings!

Don’t mistake me, I clearly see that Ryan has a whole lotta “rage” in him: A rage against women, a rage against immigrants, a rage against workers, a rage against gays, a rage against the poor, a rage against the environment. Basically the only thing he’s not raging against is the privileged elite he’s groveling in front of for campaign contributions.

Kesalahan? Haha, tenang. Bukan harfiah maknanya! Tapi kesalahan ini lebih menjurus pada sebuah sebab, karena Tom Morello telah menggugah amarah saya untuk menjadikannya sebuah anugrah yang memberi kesenangan dalam kegiatan menulis kali ini. Thanks Tom!

Dan selain itu, masih ada bukti seperti apa keparatnya Tom Morello yang secara terang-terangan menyebut Rush Limbaugh dengan kata-kata: Jackass” dalam akun twiternya pada bulan Maret 2012. silahkan baca ini http://www.rollingstone.com/music/news/rage-against-the-machine-to-rush-limbaugh-stop-using-our-music-in-your-right-wing-clown-show-20120309 Haha!

Namun, seperti yang sudah disebutkan tadi, saya tidak akan mengkhususkan tulisan ini untuk Tom Morello ataupun The Nightwatchman. Ini tulisan untuk One Day As A Lion, yang disulut oleh ulah Tom Morello di dunia maya. Terdengar seperti efek domino, atau hanya kebisaan saya mengotak-atik alasan saja? Entah, pokoknya seperti itulah.

Seperti kebiasaan saya, saya tidak akan menjabarkan wujud musiknya dalam rupa aksara. Karena musik adalah rangkaian audio, sedangkan tulisan adalah murni urusan visual. Jadi biar kalian, yang memiliki persepsi serupa dengan saya tentang Rage Against The Machine dan The Mars Volta, yang memutuskan apakah One Day As A Lion ini adalah proyek berbahaya. Karena personelnya merupakan alumnus dua band itu.

Untuk lagunya, bisa didengar melalui youtube ataupun piratebay. Sedangkan liriknya bisa diakses di http://www.metrolyrics.com/one-day-as-a-lion-lyrics.html

Sebelum menutup tulisan kali ini, saya ingin sedikit mengutip lirik lagu dari One Day As A Lion yang berjudul sama ‘One Day As A Lion’ semoga saja suatu hari salah satu diantara kita bisa mengaum ketimbang selalu mengembik berjamaah!

Blood soaked earth that you call home

Close your eyes but don’t sleep we comin’ like peoples army

For the people who can’t eat, who work with no sleep

For the child with no shoes on their feet

A generation who flash heat who role up on the banks for their cash

See, you’re the criminal?

You got the nerve to ask me

Tear mics till my voice get raspy

Faced flame for five centuries and if LA were Baghdad we’d be Iraqi

With our straps in the backseat next to a general tied up with shit in his khakis

Best leave my mic alone, I’m full grown and I’m off to the green zone

After dark my city’s a fuse

One day, I say: today we live as a lion!

 

——-

Tulisan sebelum meninggalkan rumah, bebas untuk dikomentari. Oya, ini rekomendasi saya untuk mendengarkan One Day As A Lion:

  1. Siapkan liriknya (http://www.metrolyrics.com/one-day-as-a-lion-lyrics.html)
  2. Kamus (bila merasa kemampuan berbahasa inggrisnya pas-pasan, seperti saya)
  3. Headset (Agar keasikan anda tak terusik oleh manusia berselera dangdut khitanan).
  4. Let your body rockin!

Lagu perkenalan: ‘Wild International’ http://www.youtube.com/watch?v=6mKtt7F0rPU

Muhammad and Christ would life, would lay your body down to a tune so wild international?
In the desert full of bullets, let your body rot. With my chrome, with my verse, with my body rock

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

29 Oktober 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized