Sesi perbincangan singkat dengan: SERINGAI

Posted on November 8, 2012

0


Image

 

 

Kami adalah orang-orang yang serius terhadap hal bersenang-senangnya dan selalu bersenang-senang dalam keseriusan kami” ~Ricky (Gitar)

 

Tepat pada 2 September 2012, atau satu hari setelah mendapatkan pesan dari seorang teman untuk mewawancarai SERINGAI, saya mencoba hubungi salah seorang personelnya untuk mengonfirmasi kesediannya diwawancarai.

Setelah menyampaikan maksud saya via sms, rupanya Ia tidak keberatan, malah menawarkan wawancara dilakukan setelah mereka usai latihan. Tak butuh banyak pertimbangan, saya langsung meng-IYA-kan.

Hari yang dijanjikan, Selasa  4 September 2012, akhirnya tiba. Namun setelah mengalami beberapa penyesuaian demi kesepakatan wawancara, akhirnya saya beranggapan bahwa wawancara kali ini hanya akan dihadiri oleh satu orang personel saja karena hari itu SERINGAI batal berlatih.

Tak apalah, saya pikir, satu orang pun cukup untuk menjawab beberapa poin pertanyaan yang saya buat ditambah 3 pertanyaan titipan dari teman saya asal Bima, NTB.

Setibanya di lokasi, saya melihat ada seorang personel SERINGAI yang lain. Jujur saja saya tidak merasa heran, karena lokasi wawancara merupakan kantor tempat Khemod (drummer) bekerja. Tak lama berselang, tepatnya setelah Khemod sukses mendoktrin saya lewat 8 menit pertama dari episode 1 serial ‘The News Maker’ dan sedikit mengobral info tentang Tea Party Movement, mendadak dari lorong di sebelah tempat saya menunggu, muncul dua sosok pria menggunakan kemeja kotak-kotak lengan panjang, yang pastinya bukan cagub & cawagub DKI Jakarta, Ricky (Gitaris) dan Arian (Vokalis). Tak lama kemudian menyusul pria yang jauh lebih ramping ketimbang dua sosok sebelumnya, Sammy (Bassist).

“BANGSAT! Kenapa lengkap gini? Sial!” umpat saya dalam hati.

Satu-satunya alasan saya mengumpat adalah karena saya sama sekali tidak membawa memorabilia SERINGAI (terutama CD dan kaset) untuk dilegalisir (baca: dibubuhi tanda tangan). Karena bagi saya, cukup sulit bertemu mereka dalam formasi lengkap dalam sebuah acara diluar manggung.

Bahkan ketika manggung pun terkadang ada salah satu personel yang tidak hadir, antara Sammy atau Khemod atau Ricky. Kalau Arian sepertinya tidak mungkin.

Setelah bersalam-salaman serupa lebaran, tentunya dengan hati cukup kesal namun saya tahan, kemudian Arian memberi saya dua buah benda sembari berkata ringan

“Nih Gung, buat lo satu dan nitip satu lagi buat Samack ya?” sembari menengadahkan tangan kanannya setelah memberi, tanda memungut retribusi.

“Lho, gue ngasih kok minta bayaran ya?” ucapnya lagi, disusul derai tawa

Tentu saja saya juga geli melihat ekspresinya, tapi rupanya benda yang barusan pindah tangan itu lebih menarikperhatian saya. Dan begitu saya perhatikan benda tersebut, seketika itu pula rasa kesal saya hilang! CD Taring deluxe edition?

“Haha! Kalau jodoh emang gak kemana, lumayanlah ada yang bisa dilegalisir.” Pikir saya responsif

Sebentar lagi, akan saya bagikan hasil wawancara dengan SERINGAI yang berhasil terekam selama 57 menit. Meskipun sebenarnya kami berbincang cukup lama setelah saya matikan aplikasi rekaman dalam telepon selular yang menandakan sesi wawancara usai. Mulai dari buku, karakter-karakter penulis, kondisi industri musik, situasi sosial politik sampai dengan membahas ide yang (bagi saya) brilian. Tapi agar sesuai dengan khitahnya, saya putuskan untuk membagikan sesi yang berhasil terekam saja.

Tentunya perbincangan selama itu, tersaji dalam porsi canda dan serius yang tak berbeda dengan konten dalam DVD Generasi Menolak Tua. Karena memang seperti itulah SERINGAI, kesannya saja angker tapi hatinya bintang. Lissoi!

Oh, berhubung keempat personel SERINGAI sangat aktif dalam menyambut setiap pertanyaan yang saya alamatkan (bahkan tak jarang terjadi diskusi tak terencana) dan jawaban-jawaban yang terlontar juga saya rasa teramat sayang untuk disortir, sehingga imbasnya adalah saya menjadi kebingungan dalam menentukan format transkrip wawancara ini.

Akhirnya setelah dipertimbangkan secara personal, saya putuskan –secara personal juga, karena ini adalah blog personal— maka formatnya adalah seperti ini:

 

Pertanyaan akan saya letakkan di tengah dengan underline.

Jawaban dimulai dari sebelah kiri, dan saya akan berikan penjelasan tentang siapakah yang menjawab. 

Saya berharap transkrip mentah ini cukup efektif dalam menghadirkan suasana ketika wawancara dan pastinya tanpa bermaksud membingungkan, meskipun saya yakin bahwa ini sangat tidak terstruktur. Selamat menyimak jawaban dari 4 rocker brengsek ini, semoga berguna.

*****

 

Sebelumnya, gue mau bilang lagu ’Gaza’ itu keren banget!

Arian: Oh, lagu yang gak ada vokalnya itu? (mengangguk dengan akting berbesar hati)

Ricky, Khemod dan Sammy: (tertawa)

 

Kenapa kalian memutuskan untuk membuat lagu minus vocal, maksudnya di dalam itu kan udah dijelaskan juga tapi yang mau gue tahu apa ada alasan lain yang mungkin belum tersampaikan disana? Sekalian ceritain prosesnya juga kalau boleh.

Sammy: Kalau prosesnya sih bikin rame-rame pake gitar kopong (Akustik .red), tapi ide dasarnya dari Arian. Seperti yang tertulis di album, Arian kepengen SERINGAI punya lagu Instrumental. Kalau referensi atau acauannya ke(berpikir) ‘Orion’-nya Metallica deh. Akhirnya kami sepakatin “okay bikin!” tapi kami gak pengen yang terlalu ribet secara technical atau terkesan pamer skill, lebih ke yang komposisi, enak buat didengerin berulang-ulang. Akhirnya kita ngejam

Khemod: (menyela) sebenernya ngejam disitu itu pakai gitar kopong. Jadi kita ada rekaman yang isinya part lagu ‘Gaza’ yang masih pakai gitar kopong

Ricky: Kalau proses ngejamnya sebenernya sama aja kaya bikin lagu biasa, cuma kami gak terlalu mikirin harus ada nyanyian atau part mellody vocal.

Khemod: Dan tidak ada pikiran buat masukin mellody yang “twiueiuwiu” (menirukan suara gitar yang sering dihasilkan shredder) intinya masih liat nantilah. Kami sih mikirnya lagu ini sebagai sebuah komposisi ngalirnya enak. Tidak terlalu repetitif.

Sammy: Selama proses rekaman juga masih banyak perubahan.

Ricky: Iya, karena dari awal kami emang udah ada ide-ide yang dibilang Khemod tadi, dari kenceng terus ke pelan. Transisinya seperti apa, udah ada kerangka lah

Arian: Nah itu dia! Kerangka. Meskipun fill in, juga harus ada kerangkanya. Kaya si Khemod ini kan senengnya menempatkan solo drum yang “dudududududdudum” (menirukan bunyi rentetan drum) pokoknya kaya Genesis gitulah. Nah itu yang harus disesuaikan porsinya. Harus ada yang direct: “Okay, disini lo boleh Mod. Disini jangan.” Jadi daerah-daerah progresifnya Khemod kita tentukan juga.

Sammy: Kalau ide untuk instrumen yang lainnya, udah kita tentuin juga dari awal. Kaya misalnya hammond atau horn.

Ricky: Dan karena tidak ada vokal, jadinya tidak perlu seperti SERINGAI yang biasanya. Agresif! Dalam satu lagu itu kaya nonjok terus. Nah di lagu Gaza ini, semuanya diperhitungkan. Misalnya kaya gue lebih konsentrasi ke bagian mellody, gimana caranya biar bisa nempel kepada orang yang dengerin lagu itu.

 

Tapi sepertinya cukup banyak yang menyandingkan ‘Gaza’ dengan ‘Marijuanaut’?

Khemod: Nah ini, gue sebenernya juga gak ngerti darimana sih kesamaannya? Jauhlah. Dua lagu ini mood-nya beda. Padahal seperti yang dibilang Ricky tadi, dalam lagu ‘Gaza’ kami semua bermain untuk menyesuaikan porsi

Arian: Kalau menurut gue sih Mod, karena lagu ‘Marijuanaut’ belum pernah dilakukan oleh band lokal pada era Serigala Militia dirilis. Dan begitu kita bikin ‘Gaza’ mereke referensinya ke situ.

Sammy: Atau bisa jadi gini Yan, mereka mikir kalau di Serigala Militia ada ‘Marijuanaut’. Di Taring ada ‘Gaza’. Padahal sih formulasi album Serigala Militia, hampir gak ada yang kami ulang di Taring. Dalam artian, benang merah lagu-lagunya tetap SERINGAI tapi gimana caranya bikin karya dengan formulasi yang berbeda. Waktu itu anak-anak sempet bilang, kalau beda total itu gampang tapi untuk beda tapi tetap ada benang merahnya itulah yang susah.

 

Dan untuk berbeda tapi tetap ada benang merahnya itu yang membutuhkan waktu 5 tahun buat rilis?

Ricky, Sammy, Arian, Khemod: (tertawa)

Khemod: Kalau itu mah kaminya aja yang brengsek

 

Buat Khemod, take lagu ‘Gaza’ kan pake drumnya Alm Arry ROXX. Gimana ceritanya bisa menjatuhkan pilihan ke situ?

Khemod: Itu sebenarnya gue yang minta. Jadi gue emang udah beberapa kali main ke tempatnya Jaya (Gitaris ROXX .red), nyoba latihan sama ROXX dan drumnya pake itu. Bahagia rasanya bawain lagu-lagu ROXX pakai dum set drummernya, salah satu mimpi gue juga sebenarnya. Makanya pas waktu itu ada pertanyaan mau take drum lagu ‘Gaza’ dimana, gue langsung bilang: “Jaya!”

 

Ada ritual sebelum menggunakan drum set itu?

Khemod: Disuruh permisi sama Jaya, dia bilang: “Lo permisi dulu Mod, liat kiri-kanan. Atas juga” | “Tai lo, Jay! Anjing.”

Semua: (tertawa)

 

Buat Ricky, lo udah berperan sebagai produser rekaman dalam seluruh album SERINGAI. Bedanya treatment album Taring dengan dua album sebelumnya, apa?

Ricky: Album pertama itu sebenernya gue gak tahu kalau yang gue lakukan adalah tugasnya produser rekaman. Tapi begitu gue tahu kalau itu adalah tugasnya, akhirnya pas di Serigala Militia dan Taring bener-bener gue fokusin dari awal sampai selesai. Kalau di Taring, yang pasti gak lebih santai cuma rekamannya lebih efisien. Karena, jujur, dulu itu (album Serigala Militia) budgetnya lebih okelah dibanding Taring. Jadi album Taring harus efisien namun efektif, misalnya pas mixing itu kita melakukannya bukan di studio yang mahal tapi studio yang sederhana. Tantangannya adalah, gimana caranya harus maksimal. Kalau treatment itu gak terlalu gimana-gimana, soalnya kami juga udah sudah sepakat kalau audio CD merupakan hasil terjemahan ketika SERINGAI bermain live. Jadi ketika mendengarkan album, si pendengar itu sudah terbayang bagaimana bunyinya ketika SERINGAI manggung. Kami pakai alat yang se-real mungkin selama proses rekaman, maksudnya yang kami pakai saat rekaman merupakan alat yang sama saat kami manggung. Kami gak berupaya sedemikan rupa hanya buat ngejar hasil rekaman keren, tapi nyatanya gak bisa kami sajikan ketika manggung. Karena biar orang-orang itu dapet sensasi bahwa SERINGAI itu live band.

 

Sebenarnya di bukunya Wendi (Rolling Stone Musicbiz .red) juga udah dijelasin tentang produser rekaman, tapi gak sedikit juga yang masih salah memaknai. Mungkin bisa lo ulangi?

Ricky: Tugas seorang produser rekaman adalah bagaimana caranya mengeluarkan potensi band itu, dan bisa menerjemahan target band atau membantu band tersebut untuk mencapai tujuannya. Kalau yang membiayai itu eksekutif produser, mungkin cuma masalah istilah aja tapi di sini (Indonesia .red) karena merasa punya andil dalam investasi, makanya dia ikut mengatur dalam proses rekaman dengan alasan kurang jualan atau apa. Sehingga akhirnya seperti fungsinya seperti produser rekaman.

Arian: Tapi kalau di sini (Indonesia .red)  itu eksekutif produser itu biasanya label kan? Maksudnya kalau di luar negeri itu gimana?

Ricky: Label juga sih, tapi biasanya disebut orangnya siapa.

 

Bisa deskripsikan kecintaan kalian terhadap Tifatul Sembiring, sehingga dibuatkan lagu ‘Serenada Membekukan Api’?

Khemod: Sebenarnya bukan masalah Individu sih, tapi kami melihat dia sebagai corong dari ide tersebut. Ide censorship yang kami tidak setuju, itu aja sih sebenernya. Ya, kebetulan aja sekarang individunya dia, kebetulan aja pas kita manggung waktu belum ada lirik jadinya pakai nama dia dan kebetulan aja namanya enak dimainin.

Semua: (tertawa)

Arian: Itu sama aja kaya lo memburu tikus di lumbung padi, tapi dengan cara membakar lumbungnya. Gak efektif! Jadi kalau lo mau melawan pornografi, ya menurut gue dengan pendidikan. Kalau itu kan (censorship .red) lebih kaya ini itu gak dibolehin, sementara kalau isunya pornografi apa sudah berhasil? Apa situs-situs porno sudah sukses di block?

Khemod: Nah, yang jadi masalah adalah mereka mengeluarkan dana yang besar. Uang yang didapat dari si pembayar pajak, yang ujung-ujungnya jadi proyek. Bisa saja dananya dialokasikan ke yang lain kan?

Arian: Iya, kenapa dananya gak buat bikin perpustakaan umum yang bagus yang isinya tentang seks semua? Tapi dengan syarat perpustakaan ini isinya literatur semua, bukan gambar.

Semua: (tertawa)

 

Dari beberapa teman yang sudah mendengarkan Taring, cukup banyak yang berpendapat subtansi album ini lebih bersenang-senang ketimbang album sebelumnya. Apa benar seperti itu, album Taring adalah album bersenang-senang?

Arian: Kalau buat gue, 999 copy deluxe edition yang terjual dalam waktu dua hari itu emang bikin gue senang. Dan dalam kesenangan itu, gue bisa bersenang-senang

Semua: (tertawa)

Ricky: Menurut gue, dari awal SERINGAI terbentuk, kami adalah orang-orang yang serius terhadap hal bersenang-senangnya dan selalu bersenang-senang dalam keseriusan kami (tertawa) Karena kami gak pernah ada formula terlalu serius atau terlalu bersenang-senang, prosentasenya 50-50 lah.

Arian: Kami juga percaya, hal yang serius jika disampaikan dengan cara bersenang-senang diterimanya akan lebih mudah. Dibanding dibawa terlalu serius, tapi malah gak dapet apa-apa. Mungkin saat bersenang-senang mereka gak terlalu mikir, tapi setelah masa bersenang-senang itu selesai mereka baru bisa mikir pesan yang kami sampaikan dalam lagu.

Khemod: Gue gak melihat apa yang kami lakukan di Taring berbeda dengan apa yang kami lakukan saat Serigala Militia, maksudnya kami masih membahas hal yang menurut kami itu menggangu dan hal yang kami suka.

Sammy: Kalau urusan porsi sih, soal yang mana yang lebih banyak itu sih coincidental. Kami gak pernah merencanakan, misalnya, dari 11 lagu di album, 5 lagu serius, 6 lagu senang-senang. Gak pernah begitu.

Khemod: Dan kalau misalnya ternyata lebih banyak lagu serius, artinya kami lagi banyak masalah saat itu.

Semua: (tertawa)

 

Ketika membawakan ulang lagu ‘Lissoi’ apa alasannya benar-benar seperti yang tertera di dalam album, gak ada maksud lain? Soalnya gue pernah baca dari salah satu sumber, entah betul atau tidak, Nahum Situmorang berada di posisi dua setelah W.R Supratman dalam kontes pembuatan lagu kebangsaan

Khemod: Oh gitu? Gue malah baru tau

Arian: Jadi W.R Supratman bikin ‘Indonesia Raya’, dia (Nahum Situmorang .red) bikin ‘Lissoi’?

Semua: (tertawa)

Arian: Kalau gue justru taunya lagunya duluan, terus tanya ke anak-anak : “Mainin yuk, ini lagunya siapa sih?”

Sammy, Ricky, Khemod: Nah iya gitu! (menyepakati)

Khemod: Tapi gue pas SD diajarin lagu itu. Emang lo pada gak diajarin? (bertanya ke yang lain)

Arian dan Sammy: Gak (sembari menggeleng)

Khemod: Gue diajarin

Ricky: Gak ada tuh, gue gak diajarin. Emang iya diajarin?

Khemod: Ada. Diajarin lagi, kan itu lagu daerah.

Ricky: Bukan Lissoi kali ah? (meragukan)

Khemod: Lissoi (menegaskan)

Arian: Bisa jadi sih, soalnya kalau lo buka di youtube, ada kok paduan suara anak-anak bawain lagu Lissoi. (memperagakan koreografi paduan suara sembari bernyanyi Lissoi)

Semua: (tertawa)

Khemod: Tapi emang Lissoi itu kan lagu daerah, jadi mungkin banget kalau diperkenalin ke anak-anak

Saya: Tapi kan temanya?

Khemod: Emang ‘Manuk Dadali’ itu temanya apa? Emangnya kita tau ‘Apuse’ itu konteksnya apa?

Semua: (tertawa)

Arian: Jadi intinya sih, kami gak ada maksud lain, tau itu lagunya Nahum Situmorang juga belakangan.

Ricky: Ya, karena sesuai aja sama SERINGAI. Lagu nongkrong yang bertema minum-minum, lagu daerah mana lagi yang bertema kaya gitu?

Arian: Atau mungkin emang ada lagi lagu daerah yang bertema seperti itu, tapi gak enak jadinya gak hits.

Semua: (tertawa)

 

Kalau lagu ‘Discotheque’, bisa kasih alasan selain lagu itu underrated?

Ricky: Ya memang itu alasan utamanya, ‘Discotheque’ itu lagu enak dari Duo Kribo yang gak terlalu terekspose seperti ‘Neraka Jahanam’.

Arian: SERINGAI juga pernah bawain ‘Neraka Jahanam’ tapi buat dimasukkan kedalam album, udah ada yang melakukannya. ‘Pelacur Tua’ juga udah. Dan lagu ‘Discotheque’ itu stylenya masih cocok sama karakternya SERINGAI.

Ricky: Jadi waktu mengurus lagu ‘Discotheque’, gue berhadapan langsung dengan mas Ian Antono dan Istrinya. Begitu gue sampaikan niat membawakan lagu ini, langsung dapet jawaban yang kaya gini: “Yaudah Rik, bawain aja. Lagu ini gak pernah diapa-apain kok.”

Semua: (tertawa)

Ricky: Gue langsung pikir; “Gila, lagu yang keren dengan lirik seberani itu untuk eranya…” (sejenak terdiam). Atau jangan-jangan, malah karena itu jadinya gak terekspose?

Semua: (tertawa)

Arian: Tapi itu kan bukan lagu buat mengajak orang mengonsumsi narkotik

Khemod: Iya emang bukan, itu malah memotret keadaan di sekitar. Dan itu bukan di Indonesia juga, dalam liriknya kan “Ku tekan tombol musik juke box, mendengarkan musik-musik rock. Disebuah party Rotterdam, discotheque paling menyenangkan. Tercium baunya aroma, asap narkotika dan ganja. Semua remaja berubah, bagaikan boneka”

Arian: Nah, itu cerita Ahmad Albar yang kaget ketika dia melihat kehidupan anak muda Rotterdam

Sammy: Ah, bisa aja si om kaget?

Semua: (tertawa)

Arian: Dia kagetnya karena, ternyata kehidupan di Rotterdam dan Jakarta sama saja.

Semua: Hmmm,ya ya ya

 

Tapi emang benar segampang itu ngurus izinnya?

Ricky: Ya kalau dibandingkan dengan cerita-cerita yang gue dapet dari pengalaman teman yang berusaha membawakan ulang lagu seseorang, menurut gue ini gak terlalu susah. Mungkin karena emang gue udah kenal juga atau apa gue gak ngerti.

Sammy: Dan mungkin karena lagunya yang mau di cover itu (Dicotheque .red)

Ricky: Iya bener! Dari yang gue dapet ketika gue minta izin, itu lagu emang gak pernah diapa-apain dari tahun 70’an dan gak pernah di cover sama orang lain. Sayanglah lagu keren kaya gitu, tapi gak banyak orang yang tahu. Dan menurut gue, Duo kribo itu benar-benar musik rock yang keren di Indonesia, tapi yang banyak terekspose kan Godbless, maksud gue “nakal-nakal”nya Rock itu ada di Duo Kribo. Ahmad Albar disandingin sana Ucok A.K.A, jadinya ya kaya gitu. Dan kalau SERINGAI bawain musik rock 70’an, Duo Kribo adalah formula yang paling pas, masih ada nuansa blues dan bad ass.

 

Gimana dengan band yang membawakan ulang lagu orang, tapi tanpa meminta izin?

Ricky: Nah, ini dia yang jadi masalah. Kalau belum-belum pikirannya ke royalti, emang repot. Pasti mikirnya: “Jelas laku aja belum, kok udah ribet ngurusin kaya begituan?” sebenarnya bukan itu poinnya. Poinnya adalah minta izin! Etika. Masalah royalti toh bisa dinegosiasikan lagi. SERINGAI emang membayar royalti ke pemilik lagu ‘Discotheque’, tapi soal royalti bukan hal yang baku, kesepakatan bersama.

 

Ini ada beberapa titipan pertanyaan dari temen gue di Bima (NTB) yang mengagumi karya kalian. Pertama, kenapa SERINGAI gak membuat lagu yang liriknya bahas inggris?

Arian: Belum tertarik

Sammy: Tapi kenapa tidak sih sebenarnya, tapi emang kami belum tertarik aja sampai  album ini.

Arian: Kalau gue sih udah pernah bikin lirik berbahasa Inggris ketika gue masih di Puppen, tapi sekarang gue ingin menyampaikan pesan yang mudah diterima.Ya, gue bikin dengan bahasa Indonesia. Dan menurut gue, bahasa Indonesia itu gak sesederhana yang dipikirkan. Karena banyak serapan, terus tenses juga gak ada. Jadi ketika gue bikin lirik dalam bahasa Indonesia itu pasti udah hasil edit, gue udah bikin panjang tapi ketika masuk sesi briefing buat recording akhirnya harus dipotong, mungkin sampai setengahnya.

 

Oh ya, gue sempet baca di timeline, kalau gak salah Arian pernah jadi pemateri workshop atau apa gitu yang membahas tentang lirik indonesia? Boleh tau apa yang dibicarakan waktu itu?

Arian: Oh, itu sebenarnya bukan workshop juga sih tapi apa ya (mencari padanan kata yang tepat) cuma ngobrol-ngobrol biasa aja ngebahas tentang lirik lagu yang bahasa Indonesia. Sekarang kalau diperhatiin alasan band yang mau go international terus mencoba pakai lirik bahasa Inggris, gue pikir sampai sekarang belum ada yang berhasil. Main di luar negeri banyak, tapi untuk go international, even Anggun atau Agnes pun belum berhasil. Kalau SERINGAI itu emang fokus di lokal aja. Tapi kalau toh kita main di luar negeri juga gak masalah.

Sammy: Sebenarnya, gue pikir itu nilai positif juga buat SERINGAI. Gue merasa kalau di Indonesia itu ada satu band atau musisi yang bisa mengarang lirik dalam bahasa Indonesia yang bagus, pasti lebih diperhatikan, entah kenapa. Maksudnya lebih stand out, jika dibanding musisi Indonesia yang mengarang lirik dalam bahasa Inggris meskipun itu bagus. Baru aja, gue denger radio ada interviewnya Endah and Rhesa nah yang mewawancara itu Jimi Multhazam terus Endah bilang: “Aduh, gue malu nih main di sini. Soalnya kan Jimi salah satu lyricist idola gue.” Maksud yang gue tangkep adalah, akan lebih ketahuan kalau seseorang bisa bikin lirik bagus jika orang tersebut membuat lirik dalam bahasa Indonesia, menurut gue sih gitu. Dan sampai sekarang, gue belum pernah menemukan di lingkup gue, ada orang yang mengomentari kualitas lirik lagu musisi Indonesia yang dibuat dalam bahasa Inggris.

Arian: Emang band luar negeri kalau bikin lirik bagus, dapat perhatian seperti di Indonesia?

Sammy: Iya sih, kalau di luar negeri mungkin lebih memperhatikan ke tema bukan bahasanya.  Tapi gue pikir kalau di Indonesia, selain tema yang dinilai tidak umum ada lagi poin yang dinilai yaitu mengenai bagaimana caranya musisi itu menyampaikan tema tersebut dengan pemilihan kata dalam bahasa Indonesia.

Ricky: Kalau gue perhatiin dalam majalah musik luar negeri tentang ulasan album, jarang ada yang memuji lirik. Kalaupun ada paling gara-gara unsur puitisnya, tapi keseringan ulasan majalah musik luar negeri itu mengulas musikalitasnya. Nah, kalau di Indonesia unsur komunikatif dari sebuah lirik menjadi poin penting dan SERINGAI bertujuan membuat lirik yang komunikatif tapi juga gak terlalu bikin pengandaian.

Arian: Emang kalau ada beberapa orang yang bilang liriknya SERINGAI itu berat, itu karena lo gak biasa sama istilah-istilah itu, tapi ada juga orang yang berpikir sebaliknya. Gara-gara SERINGAI gue jadi paham makna istilah itu.

Sammy: Dan untuk menyikapi orang yang menilai liriknya SERINGAI berat, kami juga punya cara dengan membuat hook lagu yang gampang. Misalnya hook “Individu Merdeka”, nah meskipun orang gak paham sama isi lagunya tapi dengan hook tersebut orang jadi bisa inget.

Arian: Nah, contoh kasus lagu itu! Buat orang yang terbiasa download, pasti menganggap judulnya adalah ‘Individu Merdeka’ dan begitu dia cari lagu itu pasti komplain: “Kok gue gak nemu lagu itu ya?” Iyalah, judul lagunya bukan itu. Begitu dikasih tau judulnya ‘Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)’, mereka langsung bingung.

Semua: (tertawa)

 

Lanjut ke pertanyaan titipan, kenapa sampai sekarang belum main di radio show? Gak minat atau kenapa?

Ricky: Karena radio show sebentar lagi bubar!

Semua: (tertawa)

Ricky: Ada sih rencana, tapi belum di announce aja. Soalnya nyocokin jadwalnya juga lumayan ribet, pernah ditawarin main. Misalnya main besok tapi dikabarinnya hari ini, ya jelas gak bisalah.

Sammy: Pokoknya kalau dalam 3 minggu ke depan kami gak main, berarti kami gak akan main di radio show.

Arian: Dulu waktu radio show lagi rame, kami pernah sih diajak. Tapi gue pikir, daripada maksain mending rilis album aja dulu.

 

Pertanyaan titipan terakhir, bagaimana pandangan kalian tentang isu konflik sosial politik di Indonesia?

Khemod: Waduh, ini sih obrolannya bisa semalam suntuk. Lebih spesifik, bisa?

Semua: (tertawa)

Khemod: Banyak soalnya, mau yang dari masalah apa? Agama atau apa?

 

Mungkin buat menyederhanakannya gini, ada saran dari kalian untuk coba mendengarkan lagu SERINGAI yang judulnya apa? ‘Skeptikal’ misalnya atau apa?

Khemod: Oh gitu? Kalau gue sih mending dengerin ‘Lagu Lama’. Karena konflik kita (Indonesia .red) dipelihara, dari lagu itu kita mengungkapkan bahwa konflik kita itu masih sama dengan 5 tahun yang lalu.

Arian: Kalau menurut gue, sebuah bangsa yang punya konsep negara, pasti akan membuat konflik untuk tetap membuat negara tersebut berjalan.

Ricky: Kalau buat gue sih, konflik itu hal yang wajar sebenarnya . Yang tidak wajar di Indonesia itu adalah tidak adanya penegakan hukum. Jadi kalau konflik itu, apa aja bisa jadi konflik tergantung manusianya. Nah, ketika tidak ada penegakan hukum yang melindungi manusia-manusia di dalamnya itulah yang membuat konflik menjadi tidak sehat. Sebenarnya di negara-negara eropa dan amerika mereka berkonflik, tapi dalam tataran apa dan ada law enforcement. Misalnya dalam tataran wacana. Nah, kalau di Indonesia? Tatanan  wacana berkonflik, begitu dibawa keranah kehidupan nyata, gak ada yang ngejagain. Akhir-akhirnya berantem! Kalau konflik wacana emang gak ada yang ngelarang tapi kalau udah sampai ke dalam kehidupan nyata dan gak ada law enforcement, ya beginilah.

 

Dan kalau ternyata dalam tiga atau empat tahun mendatang konfliknya masih berulang, kalian akan memilih untuk membuat ‘Lagu Lama (part 2)’ atau membubarkan SERINGAI?

Arian, Ricky, Sammy dan Khemod: (tertawa)

Arian: Mungkin kami bakalan bikin lagu-lagu yang temanya tentang barata yudha, konflik kuno aja deh!

Semua: (tertawa)

Arian: Mungkin alasan Iwan Fals sekarang membuat karya yang lebih ringan karena ia merasa muak karena tidak ada perubahan?

Sammy: Itu yang bikin musisi atau band tidak berbahaya, diangap tidak membawa perubahan

Arian: Ya pada dasarnya musik itu, atau lebih spesifik musisi itu tidak akan menyelamatkan dunia. Cuma kalau menginspirasi pendengar untuk ke arah yang lebih baik, itu bisa. Kalau musisi dianggap sebagai agen pembawa perubahan, buktinya John Lennon aja gagal?

Semua: (tertawa)

 

Ke persoalan merchandise, sejauh yang gue tahu kalau SERINGAI mengeluarkan merchandise seri apapun kemungkinan besar lapaknya pasti rame. Sebenarnya apa sih fungsi merchandise bagai kalian? Untuk menyampaikan pesan tertentu atau emang buat menambah pundi-pundi?

Arian, Khemod, Ricky, Sammy: (tertawa)

Khemod: Kalau ada yang berpendapat SERINGAI udah kaya dari merchandisenya

Sammy: (menyela) kalau kita yang produksi semuanya

Semua: (tertawa)

Sammy: Ya sebenarnya itu pendapatan buat band, bukan pendapatan masing-masing ya. Jadi itu lebih sering buat kepentingan band, misalnya rekaman, launcing atau bikin video klip. Nah dari situ asalnya.

Khemod: Nah, cara survivenya harus begitu. SERINGAI kan self produce, jadi kami harus lebih pandai dalam mencari sumber dana. Dan supaya kami gak perlu melacur untuk mencari sumber dana, mending kami mengusahakan cara lain. Mungkin suatu saat gak perlu lagi pendana musik, ketika sebuah band sudah menjadi sebuah brand, karena itu jelas udah bisa survive.

 

Bagaimana pendapat kalian tentang band yang memproduksi lagu baru dua atau tiga, tapi seri merchandisenya udah lusinan?

Khemod: Itu berarti, mereka modalnya gede.

Semua: (tertawa)

Arian: Sekarang gini, Homicide itu pertamanya mereka sama sekali gak ada rekaman, mereka eksis dari kaos doang. Setelah beberapa lama, barulah muncul album pertamanya Homicide. Jadi buat gue, itu gak masalah juga sih.

Ricky: Mungkin dalam benak si band tersebut tahu bahwa dengan memproduksi merchandise yang banyak, dia bisa mendapatkan modal untuk berkarya?

Arian: Dan sekarang banyak juga orang yang suka sama desainnya, tapi gak suka sama lagunya. Nah, sekarang pertanyaannya adalah: band itu fiktif apa gak? Bolak-balik bikin merchandise, tapi karyanya mana?

Semua: (tertawa)

 

Waktu kalian rilis ‘Tragedi’ yang belum “matang” itu kan respon yang didapat cukup dahsyat, sampai ribuan download dalam beberapa menit pertama. Apa kalian pernah kepikiran bahwa akan mendapat respon seperti itu?

Ricky: Kalau gue sih gak, tapi bukan berarti gue gak pede juga. Kami bisa berpendapat seperti itu melihat di facebook page kami udah ada 200 ribu orang yang bergabung. Dan setelah kami gak merilis apapun selama lima tahun, feeling gue sih bakalan rame kalau kita merilis apapun di dunia maya. (tertawa)

 

Gue juga sempet ngobrol sama Wendi (wartawan majalah Rolling Stone Indonesia .red) beberapa saat setelah bandwith chaos gara-gara single ‘Tragedi’, dan dia bilang SERINGAI itu cerdas dalam mengelola antusiasme penggemar. Padahal setahu gue, High Octane Zine gak jalan, di Twitter juga gak interaktif. Apa sih sebenarnya treatment kalaian dalam mengelola penggemar?

Arian: Gak ada sih sebenarnya, selama ini malah kami biarin aja.

Ricky: Dan kalau pertanyaannya mengarah ke Serigala Militia di tiap daerah, itu juga bukan kita yang menghasut mereka untuk bikin di daerahnya. Benar-benar inisiatif mereka sendiri. Paling setelah itu mereka kasih tau kami, dan mulai kami promosikan di facebook atau twitter.

Sammy: Cuma kami juga gak menjanjikan apa-apa ke mereka, soalnya memang kami gak bisa memberikan apa-apa. Dulu waktu launching Serigala Militia yang di Vicky Sianipar, sempet kami buat Street Team tapi kesininya ya gak ada yang mengelola dengan baik. Karena menurut gue untuk mengelola penggemar itu emang harus ada Person In Charge yang ditugaskan khusus untuk itu, sedangkan di SERINGAI gak ada orangnya. Manajer pun kami tidak ada. Emang booking agent SERINGAI siapa? Mereka nih (menunjuk dua orang personelnya)

Semua: (tertawa)

Sammy: Ya menurut gue sih ini aneh, maksudnya dengan usia SERINGAI yang udah 10 tahun tapi masih seperti ini? Harusnya dengan kondisi kami yang seperti ini, personelnya udah fokus dalam berkarya aja.

 

Nah, itu kenapa? Atau mungkin sebentar lagi akan dibuatkan sistem pengelolannya?

Sammy:  Mungkin aja, tapi untuk sekarang lebih ideal yang seperti ini.

Khemod: Sebenarnya kan manajer itu kaya personel band yang tidak berada di panggung, nah pertanyaannya apa ada yang bisa betah sama kelakuan kami yang terlalu brengsek dan banyak maunya?

Semua: (tertawa)

Ricky: Tapi balik lagi ke pengelolaan fans, gue pikir menarik juga tuh temanya. Kalau menurut gue, sebuah band layak mengelola fans itu kalau band tersebut produktif. Nah SERINGAI itu menyadari jarak dari album kedua dengan yang ketiga aja lima tahun, kalau misalnya kami mengelola fans dalam lima tahun tapi tidak punya karya, itu namanya ngebohongin orang. Jadi kalau pengelolaan fans SERINGAI yang menurut gue ideal adalah dengan cara memberi info yang mengabarkan kalau kami ada perkembangan, dan menurut gue langkah tersebut tidak menghina intelegensia penggemar SERINGAI. Menghina intelegensia itu maksudnya terlalu mengada-ada dalam memberi informasi seolah-olah kami punya sesuatu, padahal gak. Gue sih gak mau seperti itu. Jadi menurut gue cara mengelola fans yang kami lakukan itu sudah ideal dengan kondisi SERINGAI yang seperti itu, rilisnya lama.

 

Tapi kalau menurut kalian, misalnya SERINGAI benar-benar dikelola nih, apa tiap tahun harus rilis album? Soalnya kemarin gue sempet ngobrol sama teman yang profesinya sama seperti kalian, dia ngerasa jenuh ditanyain sama penggemarnya tentang kapan rilis album baru. Terus dia merasa kalau dia ditarget ngerilis album itu malah jadinya album formalitas biar penggemarnya gak rewel.

Ricky:  Nah itu dia yang gue hindari

Arian: (menyela) sebenarnya SERINGAI itu merilis album kalau kami sempat dan mau, soalnya pada sibuk. Kalau kita gak mau mah, gak kita rilis.

Semua: (tertawa)

Khemod: Gue pikir itu juga yang membuat orang banyak berpikir kalau SERINGAI merilis album langsung mengidentikan dengan barang langka. Pokoknya mah kalau SERINGAI rilis, beli aja, soalnya belum tentu dua tahun lagi mereka bikin album

Semua: (tertawa)

Arian: Kalau ditanya mau rilis lebih sering sih iya, dalam artian bisa lebih produktif tanpa mengurangi kualitas materi dan bebas eksplorasi. Karena ketika pertama kali SERINGAI keluar, cukup banyak yang mengidentikan kami dengan genre inilah itulah, ambil contoh aja Stoner. Padahal gak juga. Gue emang suka sama band-band itu, tapi gue gak mau membatasi itu adalah genrenya SERINGAI dan arah eksplorasinya juga.

 

Ok, pertanyaan terakhir. Apa kalian pernah melihat jargon ini di twitter “Ariel bebas, boyband tewas!” bagaimana menurut kalian?

Arian, Sammy, Ricky: Hah? (kebingungan)

Khemod: Kalau gue taunya malah “Dengan bebasnya Ariel, mampus lo boyband boyband. Ariel penyelamat musik Indonesia”

Semua: (tertawa)

Arian: Kalau gue sih lagunya yang diciptain Ariel waktu era Peterpan sih, menurut gue bagus. Terus gue dengerin beberapa musik girlband dan menurut gue juga bagus, maksudnya ini dalam kerangka musik pop tapi gak kampungan. Jadi kalau ada orang yang ngehina-hina boyband, gue kayanya baru tahu sekarang. Gue gak punya tivi sih!

Khemod: (menyela) You’re listening the wrong channel,man!

Arian: Kalau ribut-ributnya soal boyband, dulu ada trio libels kok. Kenapa gak pada ribut?

Khemod: Jadi kalau lo merasa musik di Indonesia itu jelek atau gak bermutu, artinya lo kurang giat mencari musik bagus di Indonesia.

Arian: Kalaulo emang ingin musik musik di Indonesia bagus ya supportlah! Sekarang pada ngomel-ngomel,tapi nonton tv melulu?

Semua: (tertawa)

Arian: Iya lho, apalagi di twiiter tuh! Yang ngomentarin idol rame banget, tapi sambil pegang remote? Lah, lo kan punya pilihan! Tinggal ganti channel, matiin tvnya, cari kegiatan lain kaya baca buku atau apalah?

Sammy: Kalau lo udah bisa komplain bolak-balik soal acara musik, berarti lo udah bisa mencari musik yang lo mau. Kecuali lo orang yang tinggal di hutan mana yang sekampung tv nya cuma satu dan channelnya itu aja dengan sajain musik pagi, mau gak mau lo nontonnya itu. Karena gak punya pilihan!

Semua: (tertawa)

Khemod: Masalahnya orang yang komplain itu adalah orang yang punya pilihan

Arian: Jadi kalau menurut gue, jargon “Ariel bebas, Boyband tewas” itu gak bener. Malah gue pikir, dengan hadirnya boyband itu malah membuat industri musik terus berjalan, setelah fase kemarin dikutuk terpuruk karena melayu. Kalau soal acara musik pagi sih, karena yang ada disana bukan selera gua jadinya gue gak nonton dan itu bentuk pilihan gue.

Khemod: Kalau ngomong industri musik sekarang, dengan banyaknya outlet industri itu jadi malah beragam. Gue aja ngerasa kalau SERINGAI punya jalur industri kami sendiri dengan mail order, merchandise. Justru gue rasa saat ini banyak pilihan industrinya dibandingkan dulu.

Arian: Bener tuh, sekarang gimana caranya orang memasarkan musiknya juga. Dan gue pikir di Industri musik mainstream, cara mereka berjualan adalah dengan cara memajukan sensasionalitasnya ketimbang kualitas musiknya, itu emang selalu ada dimana-mana. Jadi kalau ada yang menggembar-gemborkan jargon tadi, lo aja yang goblok gak pernah cari saluran lain.

Semua: (tertawa)

 

——-

Wawancara ini bisa dijumpai juga di majalah CommonGround edisi (yang baru bisa diterbitkan pada) bulan November. Tentunya dengan format dan foto yang berbeda.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

08 November 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized