Absen [Monolog]

Posted on December 3, 2012

0


DI PENGHUJUNG GANG, SEBUAH LAPAK TERSISIH DARI BEBERAPA LAPAK LAINNYA YANG TAMPAK DOMINAN. DALAM GANG SEPANJANG HAMPIR 400 METER ITU BERJAJAL PULUHAN TOKO OBAT YANG MENJUAL RIBUAN JENIS OBAT DENGAN HARGA MIRING, TENTUNYA DENGAN PENJUAL DAN PEMBELI YANG SAMA-SAMA MIRING DALAM HAL EYEL-EYELAN HARGA.

[Visualisasi ini berupa back drop yang besarnya menyesuaikan tempat pertunjukan. Back drop tersebut berisi lukisan yang menggambarkan suasana gang sebuah pasar, kurang lebih perspektifnya seperti lukisan ‘Skrik’ karya Edvard Munch. Ditambah back sound yang diputar dari perangkat komputer guna menghadirkan nuansa pasar]

BUNG:

[Duduk dibangku yang terbuat dari bambu, disebelah kanan back drop sembari terus merajut janur. Kemudian berhenti untuk minum teh]

Meskipun aku orang jawa, tapi aku tidak suka jika harus melestarikan budaya atau falsafah atau semangat feodal. Dalam pikiranku yang singkat ini, seorang yang sama-sama makan pakai mulut dan berak lewat pantat, kenapa harus dibedakan hanya berdasarkan kasta, hirarki atau apalah itu namanya? Sebuah susunan yang entah bagaimana awal perumusannya! Aku sendiri tak tahu.

Pernah aku membaca di sebuah buku yang mendeskripsikan bagaimana kehidupan seorang prabu di Panjalu. Di dalam Istana, ia duduk di atas kursi persegi. Ketika para pembesar istana masuk untuk menghadapnya, setiap pembesar Istana itu memberi salam hormat sebanyak tiga kali. Dan itu dilakukan dengan cara menyembah, ingat: me-nyem-bah

Belum lagi saat prabu itu keluar istana dengan naik gajah maupun kereta yang dikawal antara 500 sampai  700 orang, rakyat yang melihatnya akan berjongkok sampai gajah atau kereta itu berlalu. Bisa dibayangkan, alangkah sialnya jika ada seorang wanita berumur 70 tahun yang sedang menjemur tempe, kemudian rombongan Raja tersebut lewat?

SEPERTI DITEPUK PUNDAKNYA OLEH SESEORANG DARI SEBELAH KIRI, KEMUDIAN BUNG MENGANGGUK-ANGGUK DENGAN PENUH KESOPANAN.

BUNG:

Oh inggih bu, niki kirang selangkung. Nanti sore saya antarkan ke rumah, setunggal atus toh bu? Inggih bu, sami-sami. ¹

MELANJUTKAN MERAJUT JANUR

BUNG:

Diglosia aku pergunakan untuk menunjukan kesopanan terhadap orang yang usianya lebih tua dariku saja, tidak lebih dan tak ada sangkut pautnya dengan intelektualitas maupun prestise seperti kondisi Jawa di abad ke 8.

Kata-kata yang barusan kuucapkan itu, tidak akan berlaku dalam percakapan dengan orang yang usianya sebaya dan yang lebih muda dariku. Apalagi digunakan dengan maksud menjilat?

[Tertawa kecil]

Eh, terdengar aneh ya kalau orang yang pekerjannya sepertiku ini berkata pernah membaca buku? Asal tau saja, dari buku yang sama, aku mengetahui bahwa Panjalu pada masa pemerintahan Raja Erlangga berbeda dengan Panjalu atau Daha atau Kediri di era sesudah Erlangga.

Dari buku itu aku juga meyakini bahwa ada pembelahan kerajaan setelah Erlangga turun tahta di pertengahan abad 11, menjadi Panjalu dan Janggala. Bahkan sampai ke perihal sungai yang membelah kerajaan Panjalu dan kerajaan Janggala itu adalah sungai Porong, bukan sungai Brantas.

Peristiwa sejarah yang sama sekali tidak pernah didengar dari ocehan guru sejarah kita selama ini kan? Bahkan aku berani bertaruh kalau dalam buku sejarah yang beredar di institusi pendidikan kita, porsi penulisan nama Raja Erlangga yang tertera di dalamnya tak akan lebih dari 1 halaman. Berbeda jauh dengan porsi penulisan Mahapatih Gadjah Mada, meskipun mereka berdua sama-sama tak jelas juntrungannya pada akhir hayat.

Kenapa bisa demikian? Sebab sejarah yang didiktekan di dalam ruangan hanyalah sejarah yang sekiranya bisa menyokong sekaligus melanggengkan siapapun yang berkepentingan. Bagiku sendiri, sejarah bangsa ini masih sangat berserakan di jalanan dan terdapat dalam kitab yang tak akan pernah terpajang di etalase.

Masih terdengar aneh kalau orang sepertiku membaca buku?

[Tertawa agak keras]

Apa kalian sudah pernah mendengar tentang Dattatreya dalam mitologi india? Sosok Dattatreya mengajarkan kita untuk jangan sekali-kali memandang rendah orang lain, karena bisa saja orang yang dipandang rendah itu adalah Sri Guru Datta, guru dari segala guru.

MENYELESAIKAN SEBUAH KETUPAT, KEMUDIAN MEMULAI MENGERJAKAN YANG LAINNYA.

BUNG:

Kalau aku berkata bahwa aku adalah sarjana, apa kalian akan menertawakanku seperti orang-orang dibelakang sana?

[Menunjuk keriuhan yang ada di back ground dengan jempolnya]

Iya betul, sarjana. Sama dengan seorang pernah mengenyam bangku perkuliahan. Bukan hanya pernah, tapi juga tamat. Bahkan IPK ku terbilang cukup memuaskan.

Jika pada umumnya, persyaratan perusahaan yang mencari karyawan dengan pengalaman kerja nihil saat ini adalah IPK minimal 3, maka aku jelas bisa mengelabuhi penyeleksi ditahap pertama. Meninjau hanya lewat deretan angka maupun abjad yang tertera dalam selembar kertas itu? Aku berani jamin, bagian HRD tidak akan sungkan untuk mempersilahkanku masuk keruangannya.

Belum lagi ragam sertifikat yang kemungkinan akan dibawa kedalam rungan itu, untuk hanya sekadar dilirik oleh bagian HRD. Padahal kalau diuji secara teknis, kemampuannya tak jauh beda dengan balita yang belum bisa cebok. Banyak rekan sealmamaterku yang berakhir seperti itu. Tapi aku saja yang enggan.

Aku memilih tukang saja. Pekerjaanku yang pertama setelah tamat dari perguruan tinggi adalah tukang menyetir bus jurusan Jakarta-Cirebon. Supir, driver atau apalah, sesuka orang lain saja menyebutnya apa, namun aku sendiri lebih suka menyebutnya sebagai tukang menyetir.

MENGUSIR LALAT DENGAN HANDUK

BUNG:

7 tahun rute itu aku lewati setiap hari, yang pasti saat itu Tol Cipularang masih belum ada. Mungkin jika dibanding dengan buruh pabrik ban di Cikarang, aku jauh lebih paham tentang seluk beluk ban yang biasanya digunakan oleh bus. Termasuk bagaimana cara mengakalinya jika sudah mulai tipis.

Apalagi hanya perkara daerah mana yang jalannya berlubang bahkan rusak, pokoknya jika penumpang sudah masuk dalam bus yang aku kendarai. Aku jamin kepulasan mereka tak akan terganggu dengan masalah jalan berlubang. Meskipun sesungguhnya jalan yang berlubang bukanlah tanggung jawabku terhadap penumpang, tapi tanggung jawab Dinas Pekerjaan Umum.

Memang sih, buruh-buruh itu terlihat seperti tidak pernah absen dari pekerjaannya. Sama halnya dengan para pegawai instansi toh? Kalau sudah begini keadaannya, apa beda buruh dengan pegawai? Mana yang lebih rendah konotasinya? Buruh atau pegawai? Kenapa bisa begitu? Politikkah, pencitraankah atau bahkan politik pencitraan?

Yang pasti kehidupan mereka itu tidak bisa lepas dari mesin absen! Mesin absen adalah sosok kedua yang bisa menaklukkan mereka, selain perintah langsung dari atasan. Menikam rekan seangkatan, menginjak-injak bawahan. Seperti itulah aturan main mereka, begitu juga dengan kehidupanku selama 7 tahun waktu itu. Bahkan selama 2 tahun lebih sekian bulan, aku harus absen untuk mengamati perkembangan anakku sendiri.

Ikhlas menembus kemacetan di pagi hari, dengan tujuan utama agar tidak telat absen. Toh lumayan, uangnya bisa untuk membeli camilan pengganti sarapan yang selalu terlewatkan? Atau bahkan nominal segitu benar-benar sanggup mengganti momen tak terulang di pagi hari, seperti ngobrol dengan anggota keluarga di rumah atau menyapa tetangga?

MENGAMBIL KETUPAT, MENGITUNGNYA SAMPAI 10 KEMUDIAN DIIKAT. DITERUSKAN SAMPAI 3 IKAT.

BUNG:

Setelah anakku mulai ceriwis bilang “bapak” saat aku berada dirumah, aku merasa bahwa aku harus mencari pekerjaan lain, yang sekiranya bisa mengamati perkembangan anakku. Maka sejak 5 tahun yang lalu aku resmi berhenti dari pekerjaanku sebagai tukang nyetir.

Yang ada dalam pikiranku waktu itu hanyalah: “aku tak ingin absen berada di samping anakku” meskipun kelak tidak akan bisa selamanya aku berada didekatnya. Setidaknya, ketika hendak bertanya ia akan mencariku atau ibunya terlebih dulu sebelum mencari sosok lain di luar keluarga.

MENGAMBIL KETUPAT, MENGITUNGNYA SAMPAI 10 KEMUDIAN DIIKAT. DITERUSKAN SAMPAI 5 IKAT.

BUNG:

Mengajari sebagian pengetahuan yang kumiliki tentang budaya asal orangtuanya, yang keduanya sama-sama berasal dari daerah di Jawa. Bukan hanya budaya dan kesenian, sampai kefalsafahnya juga perlu diajarkan. Seperti pekerjaanku sekarang, tukang ketupat.

Kenapa aku pilih ketupat? Selain alasan waktu yang cukup senggang, ketupat itu mengandung beberapa makna filosofis.

Salah satu masyarakat yang sangat mengenal ketupat adalah masyarakat Jawa. Umumnya, masyarakat jawa menyebut ketupat dengan kupat. Selain sebagai sebuah karya, ketupat merupakan simbol yang memiliki makna filosofi dan pesan mengenai kebaikan.

Dari cerita yang aku dapat, budaya ini mulai terbentuk pada masa penyebaran Islam yang dipimpin oleh Sunan Kalijaga.

Pada masanya, dikenal dengan istilah ‘bakda lebaran’ dan ‘bakda kupat’. Disebut bakda kupat, karena masyarakat Jawa pada saat itu biasanya membuat ketupat dan membagikannya pada masyarakat sekitar lainnya. Sunan Kalijaga yang ingin menyampaikan esensi lebaran, yaitu ‘kembali fitri’, sehingga ia berinisiatif untuk menghidupkan budaya tersebut dalam khazanah keislaman.

Sedangkan untuk makna filosofisnya sendiri, kata ‘kupat’ merupakan sebuah singkatan dari kata laku papat  atau empat perilaku.

Dari bentuk ketupat itu yang terdiri dari empat buah sudut, masing-masing sudut membentuk huruf “L”. Keempat “L” tersebut memiliki makna Lebar, Lebur, Luber, dan Labur. Itulah empat perilaku yang terbentuk dari sudut ketupat.

Disamping itu, ada dua buah makna filosofi yang lain.

Pertama adalah simbol pembungkus nafsu dunia. Sama seperti wujudnya, ketupat merupakan makanan berbahan dasar beras yang dibungkus janur. Beras melambangkan nafsu dunia, sedangkan janur adalah hati nurani. Artinya adalah, nafsu dunia hanya bisa ditaklukan dengan hati nurani.

Kedua adalah mengakui kesalahan. Menurut masyarakat jawa, kupat berarti ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Itu sebabnya kenapa setiap lebaran, pasti ada tradisi meminta maaf. Meskipun seharusya meminta maaf itu tidak perlu menunggu datangnya lebaran.

Sedikit penjelasan makna dari laku papat atau empat perilaku itu tadi adalah

Lebar, dalam bahasa Indonesia bermakna  selesai. Mengapa kita biasa menyebutnya hari Lebaran? Itu karena kita baru saja selesai melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan.

Luber, artinya melimpah. Ini merupakan simbol untuk bersedekah atau membagikan sebagaian harta bagi fakir miskin dengan ikhlas. Paham kan kenapa pada bulan puasa ataupun pada saat lebaran jumlah pengemis menjadi berlipat?

Lebur berarti melebur. Seperti sebatang besi yang ditempa dalam suhu yang sangat panas tentunya ia akan melebur. Begitu juga dengan dosa-dosa di bulan ramadhan, namun dengan syarat saling memaafkan. Tantangannya adalah apakah kita sudah benar-benar sanggup memaafkan?

Labur atau kapur merupakan bahan yang digunakan untuk memberikan warna putih pada dinding. Hal ini merupakan simbol agar manusia selalu menjaga kebersihan lahir dan batin. Meskipun tak jarang seusai solat idul fitri, banyak sendal yang hilang bahkan kendaraan bermotor.

Sementara aku menjual longsong ketupat di pasar, ibunya berdagang makanan di kantin sekolah. Aku rasa pembagian tugas yang adil, pagi sampai siang urusan ibunya sore dan malam gantian aku yang bertugas.

MEMBALAS SAPAAN BEBERAPA ORANG, BACK DROP GANTI SUASANA YANG SUDAH MULAI TERLIHAT SEPI.

[backdrop masih berupa lukisan,cara menggantinya dengan digulung. Back drop masih berupa lukisan, namun dengan suasana yang lebih sepi. Lampu berpendar jingga]

BUNG:

Belum lagi perihal batik, sebuah teknik yang sarat dengan makna filosofis, ketimbang sebuah gerakan gagap sekaligus salah tanggap nasional yang sampai detik ini belum kuketahui siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban perihal idenya menjadikan jumat sebagai harinya.

Apakah ia tahu bahwa isen-isen² dan cecek³ dalam wastra⁴ itu bukan sekadar corak atau motif saja? Tahukah ia bahwa setiap wastra itu memiliki makna yang tingkat relevansinya harus presisi dengan si empunya kelak? Mungkin posisinya nyaris seperti keris di era pra kolonial, sebelum industri akhirnya memanipulasi.

Melalui proses batik, aku belajar mengenali penghayatan soal penulisan. Menurutku, manusia yang mau menulis adalah yang akan sanggup mengenal sejarah. Ini sangat berhubungan dengan aktivitas menulis yang dimulai bersamaan dengan terciptanya aksara, aksara adalah sebuah sarana untuk mengomunikasikan dan mengawetkan informasi kepada siapapun dan sampai kapanpun. Kecuali jika penggiat aksara tersebut musnah.

MEMASUKKAN KETUPAT DALAM KARUNG

BUNG:

Dulu, tepatnya 3 tahun lalu sebelum ibuku meninggal, aku sedang membuat tulisan tentangnya. Namun sampai ia terlanjur pergi, tulisan itu belum sempat aku selesaikan. Berselang dua minggu kemudian, aku langsung menyelesaikannya. Tapi tetap saja, aku tidak pernah bisa memperlihatkan kepada beliau.

Setiap sore, ketika gang ini beranjak sepi, aku selalu menyempatkan menilik tulisanku itu walau hanya sekadar untuk mengganjal rindu yang nyatanya selalu gagal. Setidaknya, aku telah berusaha mengikisnya meski masih terlalu tebal.

MENGELUARKAN KERTAS LAPUK DARI DALAM DOMPETNYA, MENGAMATI DENGAN PERLAHAN SEBELUM MULAI MEMBACANYA DENGAN LIRIH

BUNG:

Inginku tak mengenalmu, ibu.

Bisakah kau ajari aku satu hal lagi saat ini?

Tak kupungkiri, bahwa kau sanggup mengajariku tata cara buang air sampai menyikapi tingkah pasangan hidupku.

Tapi,bisakah engkau mengajariku cara untuk melupakan segala hal tentangmu?

Entah itu ucapan atau tindakan yang pada akhirnya menjadi serangkaian kenangan baik tentangmu.

Bu, aku sudah sangat muak dengan kenangan. Kenangan yang selalu menyelipkan nuansa teriris di tengah gurat senyum raut wajah.

Tolong bu,jangan kau bebani aku tentang segala hal yang tak sanggup aku lewati.

Aku sungguh merasa belum siap untuk benar-benar kehilanganmu, kehilangan sosok dan hanya menyisakan kenangan tentangmu. Hapuslah kenangan itu ibu, aku mohon.

Setiap detil kenangan tentang nada yang kau dendangkan di telingaku, doa yang kau rapalkan di ujung rambutku, belaian yang kau hibahkan disekujur tubuh, maupun kecupan yang kau daratkan di dahiku tanpa henti.

Bu, demi sang maha zat, sungguh aku belum pantas kau banggakan sebagai anakmu.

Meskipun saat kau pergi, aku melihat kau menunjukan ekspresi bahagia. Tapiku yakin, kau bukan bahagia karenaku. Kau bahagia karena engkau sudah memberikan yang terbaik untukku.

Tak usah kau cemaskan tentang kondisiku sekarang, bu. Aku ingin kau benar-benar merasa bahagia, sebahagia engkau saat engkau mengandungku.

Benarkah bahwa engkau benar-benar bahagia saat mengandungku, ibu? Aku mendapat cerita itu dari orang-orang terdekatmu

Aku bersumpah, ibuku yang baik, aku akan selalu mengirimkan doa untukmu. Karena memang hanya itu yang bisa kulakukan. Meskiku sadar kalau ini sungguh tidak ada apa-apanya dengan usaha yang selalu kau berikan untuk anakmu.

Terimakasih telah membuatku merasa nyaman dengan segala kebaikanmu, bahkan saatku masih berada di alam rahim.

Semoga kita bisa berjumpa di alam selanjutnya. Aku sayang kamu, ibuku seorang.

MELIPAT KERTAS DAN MEMASUKKAN KEMBALI KE DALAM DOMPET, KEMUDIAN MENGIKAT KARUNG YANG SUDAH BERISI 100 BUAH KETUPAT.

Bung:

Mungkin sekarang aku bisa mengerti apa yang dirasa dan dipikirkan oleh ibuku saat itu. Mengapa ia mengejar-ngejarku untuk mencari pekerjaan yang layak, ketimbang menjadi tukang nyetir. Ketakutan apa yang ada dalam benaknya saat itu, sepertinya mulai menggelayutiku juga.

Aku hanya takut jika anakku kelak tidak bisa hidup layak, bahkan jika harus hidup terlunta-lunta. Orang tua mana yang sanggup melihat anaknya kesusahan, jika tidak orang tua yang sudah hilang akal sehatnya?

Namun mencampuri bahkan mendesain masa depan seseorang, sekalipun itu adalah anak kandungnya sendiri jelas bukan perbuatan yang tepat. Memang ia adalah anak, namun usianya pasti bertambah setiap harinya dan pada suatu titik ia jelas bukan anak-anak lagi. Ia akan tumbuh dengan dunia dan pemahamannya sendiri, meskipun diiringi dengan progresi zaman yang semakin edan.

Tugas sebagai orang tua sebatas membimbing, memberi pengarahan tentang perbuatan seperti apa yang benar dan mewanti-wanti agar tidak melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Memosisikan diri sebagai teladan akan lebih tepat jika orang tua memberikan contoh, ketimbang hanya sekadar ucapan terlebih lagi usaha untuk mengarahkan dengan dalil masa depan.

SELESAI MENGIKAT KARUNG KEMUDIAN MENUTUP LAPAK, KEMBALI MENYERUPUT TEH UNTUK MENIKMATI LELAH.

BUNG:

Untuk anakku yang pasti meninggalkan fase anak-anak, aku hanya sanggup persembahkan pengetahuan dan wawasanku tentang kehidupan. Mungkin ditambah sedikit cerita tentang apa yang telah dan yang seharusnya kulakukan dalam menyikapi hidup, itupun jika kau bertanya.

Aku ingin kau selalu mempertimbangkan setiap langkah yang kelak kau lakukan, menyesal itu hanyalah untuk mereka yang tidak mengetahui konsekuensinya.

Tapi bolehkah aku sedikit menulis permintaanku untukmu? Permintaan yang kurasa mewakili permintaan ibumu juga.

 

BERANJAK PERGI MENINGGALKAN ARENA PERTUNJUKKAN SAMBIL MEMBAWA KARUNG BERISIKAN KETUPAT

[seiring dengan langkah BUNG meninggalkan arena pertunjukan, back drop berganti putih polos. Setelah back ground penuh berganti, in focus mengisi back ground tersebut, berisi pesan yang dituliskan BUNG untuk anaknya]

Anakku…

ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku.

Suatu ketika aku memecahkan piring atau menumpahkan sup diatas meja, karena penglihatanku berkurang, aku harap kamu tidak memarahiku. Orang tua itu sensitif, selalu merasa bersalah saat kamu berteriak.

Ketika pendengaranku semakin memburuk dan aku tidak bisa mendengar apa ayang kamu katakan,

aku harap kamu tidak memanggilku “Tuli!”. Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menuliskannya. Maaf, anakku… aku semakin tua.

Ketika lututku mulai lemah, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun seperti bagaimana aku selalu membantu kamu saat kamu masih kecil, untuk belajar berjalan. Aku mohon, jangan bosan denganku.

Ketika aku terus mengulangi apa yang ku katakan, seperti kaset rusak, aku harap kamu terus mendengarkan aku. Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku. Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah balon? Kamu mengulangi apa yang kamu mau berulang-ulang sampai kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan.

Maafkan juga bauku, tercium seperti orang yang sudah tua. Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi, tubuhku lemah. Orang tua mudah sakit karena mereka rentan terhadap dingin. Aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu.

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mengejar-ngejar kamu karena kamu tidak ingin mandi, aku harap kamu bisa bersabar denganku ketika aku selalu rewel. Ini semua bagian dari menjadi tua, kamu akan mengerti ketika kamu tua

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa berbicara bahkan untuk beberapa menit. Aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seorang pun untuk diajak bicara. Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaan, bahkan jika kamu tidak tertarik dengan ceritaku aku mohon berikan aku waktu untuk bersamamu

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mendengarkan apapun yang kamu ceritakan tentang mainanmu

Ketika saatnya tiba, dan aku hanya bisa terbaring, sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku. Maaf, kalau aku sengaja mengompol atau membuat berantakan.

Aku harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku, selama beberapa saat terakhir dalam hidupku, aku mungkin tidak akan bertahan lebih lama.

Ketika waktu kematianku datang, aku harap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian dan jangan khawatir, ketika aku bertemu dengan Sang Pencipta, aku akan berbisik pada-Nya untuk selalu memberikan berkah padamu karena kamu mencintai ibu dan ayahmu.

Terima kasih atas segala perhatianmu, nak. Kami mencintaimu dengan kasih yang berlimpah.

 

——-

Ini adalah usaha pertama saya dalam penulisan naskah drama, berbekal ‘mencontek’ dari buku Jalan Tamblong karya Remy Sylado ditambah beberapa naskah drama yang lainnya. Semoga ada yang berkenan memberikan masukan setelah ikhlas meluangkan waktu untuk membaca, karena saya sadar pasti ada kekurangan.

¹ Oh inggih bu, niki kirang selangkung. Nanti sore saya antarkan ke rumah, setunggal atus toh bu? Inggih bu, sami-sami: Oh iya bu, ini kurang dua puluh lima. Nanti sore saya antarkan ke rumah, seratuh (buah) kan bu? Iya bu, sama-sama.

² isen-isen: Ragam hias yang terletak di dalam latar pola batik.

³ cecek: Ragam hias yang berupa titik-titik pada pola batik.

⁴ wastra: kata serapan dari bahasa sansekerta yang artinya sehelai kain yang dibuat secara tradisional dan terutama juga digunakan dalam matra tradisional.

Sejarah mengenai Panjalu dan Janggala, dapat dibaca dalam buku ‘Tafsir Sejarah Nagara Kretagama’ karya Prof. Dr. Slamet Muljana.

Pesan BUNG kepada anaknya yang terpampang lewat in focus di akhir adegan, saya salin dari pesan singkat yang diterima salah seorang teman. Pesan singkat itu dikirim oleh ayahnya beberapa hari sebelum sang ayah meninggal dunia.

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

03 Desember 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized