5 figur favorit dalam karir idaman saya

Posted on December 21, 2012

0


Jika harus mencari sosok untuk dijadikan “tumbal” dari sebuah pertanyaan mengenai kenapa saya masih tertarik dengan bebunyian yang dihasilkan dari perangkat musik ini, itulah tujuan utama saya menulis kali ini.

Namun sebelumnya, saya ingin menulis tentang apa yang sekiranya akan sangat membosankan bagi anda yang enggan atau tidak pernah mencoba ambil peran untuk sebuah kegiatan yang sering dilabeli bermain. Mungkin ini alasannya kenapa bermusik selalu terasa menyenangkan, sebab selalu identik dengan bermain bukan bekerja (terlebih lagi dipaksa bekerja).

Setelah dipikir-pikir, kenapa saya bisa terjebak dalam romantika benda berdawai (yang normalnya) berjumlah 4 buah ini? Sudah nyaris 10 tahun saya mengetahuinya dan bersama, namun saya semakin dibuat tak mengenalnya. Logika sederhananya kan, cinta datang karena terbiasa.

Pertanyaan selanjutnya, apakah durasi (hampir) 10 tahun itu terbilang masih belum tepat untuk dimasukkan dalam kategori terbiasa? Apakah dalam proses menjadi terbiasa itu memang harus semakin membingungkan? Jadi, apakah cinta itu merupakan bentuk akumulasi dari beragam kebingungan? Atau memang dasar saya saja yang bodoh?

Sepertinya hanya pertanyaan terakhir yang menemui jawaban, dan saya kira kalian juga setuju kalau memang saya yang bodoh. Bukan main bodohnya toh, kalau sudah bersama dalam tempo nyaris 1 dasawarsa tapi masih bilang tidak mengenal. Alibi macam apa?

Pertama kali mengakrabinya ketika saya masih mengorbit di dalam kelas 2-2 sebuah SMA Negeri pinggiran Jakarta Timur, berjarak sekitar 3 kilometer saja dari rumah orang tua saya.

Kenapa mengorbit? Karena realitanya adalah saya tidak terlalu suka duduk di bangku yang sudah tertata dalam kelas. Bagi saya, bangku kantin atau kios yang berjarak 20 meter dari gerbang sekolah jauh lebih menarik untuk dijadikan pelabuhan. Alasannya sederhana; peristiwa dalam kelas itu CENDERUNG membosankan.

Namun ceritanya agak berubah ketika setahun kemudian saya mendapat teman sebangku yang dulunya seorang gitaris (cukup) handal, namun beralih profesi menjadi bassis karena gitaris di bandnya saat itu jauh lebih handal ketimbang dia. Sebenarnya nasibnya kasihan, tapi malah itu berkah untuk saya.

Pada waktu kelas 3 SMA di segmen IPS, Eka adalah teman sebangku saya sekaligus seorang motivator bagi saya untuk berusaha menjungkalkannya dalam perihal musik. Soalnya kalau pelajaran saya sudah dapat dipastikan kalah, terlebih lagi akuntansi. Semoga tuhan bisa mengampuni kekhilafan si penemu akuntansi.

Saya sendiri baru bisa dibilang sukses menyetem gitar saat kelas 2 SMA, sedangkan teman saya yang bernama Eka itu sudah bisa melakukannya saat dia kelas 2 SMP. Jelas sudah kalau saya jauh tertinggal. Tapi untuk kasus bass, kami mulai dari tempat dan waktu yang (nyaris) sama.

Saya masih ingat, waktu itu lagu ‘Hysteria’ dari MUSE masih menjadi lagu wajib para bassis yang ingin eksis. Dan brengseknya, Eka sukses memainkannya tanpa cela.

Oya, waktu itu sekolah kami baru saja membeli 1 set peralatan musik lengkap dengan amplifier. Sehingga ketika sesi istirahat, laboratorium Fisika & Kimia menjadi tempat favorit saya yang baru setelah kantin dan kios yang saya ceritakan tadi.

Karena agak sedikit kesal, akhirnya saya coba mengulik lagu ‘Around The World’ dari Red Hot Chili Peppers, dan berhasil!

Oya, pada proses ngulik waktu itu saya dibantu tetangga sebelah rumah bernama Didi. Didi sendiri adalah seorang yang memuja Dream Theater yang terlampau bengis! Jadi RHCP jelas bukan levelnya. Baginya, John Myung cukup bermain 1 tangan saja sedangkan Flea masih butuh tambahan bugil di atas panggung untuk mendapat tepukan tangan yang decibelnya sama.

Entah karena panas atau memang saya saja yang terlalu sensitif, rupanya Eka (seperti) membalas ‘Around The World’ dengan lagu ‘Superfunk’ dari Funky Kopral yang ia mainkan bersama rekan satu bandnya pada saat istirahat.

Tak lama berselang dari kejadian itu, akhirnya saya mengompori gitaris band saya waktu itu untuk mengulik lagu ‘Stay Together’ dari Mr.Big dengan alasan yang saya tutupi kebenarannya. Hasilnya? Lagu itu sukses kami mainkan di ruangan yang sama, kali ini saya tidak mendapat bantuan dari Didi.

Kalau mengenang kejadian itu, saya masih geli. Memang, saya dan Eka tidak secara terang-terangan beradu, buktinya di kelas saja kami masih bahu membahu jikalau ingin melarikan diri dari mata pelajaran ataupun hari tertentu sampai ke urusan membuat keonaran minor.

Tapi kalau situasinya balas-balasan seperti itu, apa analoginya kalau bukan perang dingin? Hahaha, sumpah demi Allah saya masih suka tersenyum kalau mengingatnya.

 

Yang Merubah

Sebenarnya, lagu ‘Soul To Sueeze’ dari RHCP adalah lagu yang benar-benar harus saya tuding sebagai biang keladinya.

Saya pertama kali mengenal RHCP saat masih berseragam putih-merah, juga karena lagu ini. Dan sekitar 5 atau 6 tahun kemudian, lagu ini pula yang menjerumuskan saya pada melankolia sekaligus euphoria nada berfrekuensi rendah.

(Sepertinya) bagi para musisi –khususnya yang hidup di era sebelum 2000’an– tidak akan lengkap jika tidak pernah mengikuti kompetisi musik (yang entah sejak kapan istilah festival menjadi salah tafsir) dengan membawakan lagu dari band-band progresif rock.

Dan seperti yang direncakan, saya memang tidak akan melengkapi tulisan ini dengan cerita semacam itu. Alasannya adalah karena saya tidak pernah mengikuti kompetisi semacam itu.

Terlebih lagi saya jauh lebih tertarik dengan musik Funk, Jazz, Blues, Soul. Setelah saya tamat SMA dan pindah ke Malang untuk (niat awalnya) kuliah, rupanya Funk dan Jazz menjadi jauh lebih akrab ketimbang Rock.

Bahkan untuk Progresif Rock dan Heavy Metal saja, baru saya akrabi ketika detik akhir masa studi saya di kampus yang terletak di kota yang semakin dipadati oleh ruko, cafe dan mall. Malang semakin mengkhawatirkan, bung.

Namun itu bukan berarti saya meninggalkan musik rock dengan begitu saja. Setidaknya Billy Sheehan, Tim Commerford dan Gedy Lee masih menjadi sosok yang terus saya perhatikan gerak-gerik perpindahan jarinya dalam neck sebuah bass.

Cerita ini tiba pada sebuah titik dimana saya merasa bahwa saya butuh pelajaran tambahan. Akhirnya saya pesan kepada kakak, yang pada waktu sedang berada di Jepang, untuk dicarikan DVD Lesson tentang bass.

Entah dapat masukan masukan dari siapa, rupanya kakak saya memberikan 2 buah DVD Lesson dari Hall Leonard + 1 Buah DVD Jaco Pastorius ‘Modern Electric Bass’. Saya ingat, itu tahun 2006.

Dari 3 DVD tersebut, saya lebih tertarik dengan DVD Jaco Pastorius. Siapa sebenarnya orang ini? Saya tertarik dengan sosok yang satu ini karena dari cover DVDnya, orang itu seperti bohemian yang hidupnya minim beban. Don’t judge book by it’s cover benar-benar tak berlaku saat itu.

Perlu saya sampaikan juga, beberapa waktu sebelumnya, Jaco Pastorius adalah rekomendasi utama dari seorang teman yang akhirnya menjadi guru bass saya selama 4 sampai 5 bulan di Malang. Menurutnya sound dan licks yang dihasilkan Jaco Pastorius adalah salah satu penemuan brilian dalam dunia bass.

Ketika anda sudah mulai penasaran dengan nama Jaco Pastorius, itu artinya kita hampir tiba di (nyaris) tepian tulisan ini. Meskipun anda tidak merasa penasaran, saya toh tetap akan melanjutkan menulis mengenai lima orang berikut dengan tingkat sentimen tertentu.

Sekadar berpendapat, kelima orang ini tidak saya nilai berdasarkan kemampuannya semata, namun ada juga poin-poin lain yang akan saya coba jabarkan secara sangat personal. Jadi kalau anda merasa tidak setuju, itu hal sah-sah saja karena selera itu sejatinya tercipta untuk membuat kita (merasa) kaya.

Sedang untuk jumlah yang hanya 5 orang saja, juga tidak ada alasan khusus. Karena saya suka dengan dengan angka 5, itu saja. Simpan saja teori semiotik yang anda pelajari, dan alihkan kepada peran kemeja kotak-kotak dalam sebuah pilkada.

Dan perlu saya ingatkan kembali, dengan menulis ini bukan berarti saya sudah piawai. Sebab seperti yang saya sebutkan tadi, saya sudah nyaris 10 tahun mengetahuinya dan bersama, namun saya semakin dibuat tak mengenalnya. Jadi anggap saja ini adalah kicauan si dungu, sangat dipersilahkan.

 

Leland Sklar

Image

Kalau tidak salah, tahun 2007 adalah saat pertama kali saya mengenalnya. Ketika itu ada seorang senior yang gemar sekali terhadap Toto, dia merekomendasikan konser Toto untuk saya dengarkan. Meskipun kenyataannya sampai detik ini saya sama sekali tidak mendengarkan Toto, kecuali Georgy Porgy, namun satu hal yang tersangkut dalam benak saya tentang Toto adalah Leland ‘Lee’ Sklar.

Meskipun secara peran, Lee tidak lebih dari seorang bassist pengganti selama satu tahun. Namun saya coba mengambil peran Lee di luar Toto. Apa saja? Banyak sekali!

Mungkin jika ada sebuah pakem yang menegaskan bahwa seorang bassist harus “kawin” dengan drummer, kawin disini maksudnya klop, maka Lee adalah seorang penganut aliran poli. Sebab menurut saya, orang ini adalah session player yang laris, disamping Nathan East (dikenal bersama Fourplay) dan Pino Palladino (dikenal bersama John Mayer Trio).

Bekerja sama dengan banyak pihak, dan berbeda karakter jelas sebuah aktifitas yang tidak mudah untuk dilakukan. Untuk urusan pekerjaan yang sudah sistematis seperti di sebuah perusahaan saja masih sering terjadi benturan. Apalagi ini, yang unsur utamanya adalah berkesenian. Dimana ego adalah faktor dominan dari seorang seniman.

Mungkin, inilah seninya menjadi session player. Bernegosiasi dan belajar meredam ego untuk sebuah tujuan bersama. Meskipun tujuannya bisa dipandang secara sinis jika beranjak dari perspektif industri, namun coba ambil dari perspektif dalam proses kreatif. Saya yakin kita perlu banyak belajar tentang bernegosiasi dan meredam ego.

Jika diamati secara sekilas, tidak ada yang istimewa dengan sosok ini kecuali janggutnya yang menyerupai tabib getafix. Namun bagi para bassist, silahkan perhatikan secara saksama mengenai instrumennya. Fret yang tertanam dalam bass bermerk Dingwall itu diletakkan dalam posisi yang tidak mengacu ke standar bass pada umumnya.

Selain itu, dari orang ini saya memetik sebuah pelajaran tentang porsi. Bermain yang baik adalah bermain yang sesuai porsi, atau kebutuhan sebuah lagu akan sebuah komposisi.

 

 Jaco Pastorius

Image

Mungkin saja Jaco Pastorius adalah sosok yang wajib diketahui oleh para penggemar musik Jazz, meskipun kebanyakan hanya berakhir sebatas The Chicken semata (sebuah komposisi ciptaan Jaco yang paling terkenal)

Tanpa bermaksud sok tahu, telebih lagi sok pintar, saya sekadar ingin merekomendasikan sebuah komposisi yang bagi saya mampu menjawab pertanyaan; kenapa Jaco Pastorius itu penting untuk disimak? Silahkan simak komposisi yang berjudul Opus Pocus.

Selain itu, Jaco adalah alasan utama saya kenapa saya mengikhlaskan bass saya yang berwarna hitam untuk saya copot fretnya agar menjadi fretless. Meskipun pada akhirnya, saya baru tahu kalau Jaco juga berbuat hal yang sama terhadap bassnya yang akhirnya menjadi legendaris, sampai-sampai dibuatkan sebuah seri tersendiri oleh Fender.

Disamping alasan utama itu, perihal sound adalah hal yang paling saya “kejar” dari Jaco. Bisa dikatakan menjiplak mentah-mentah. Kenapa? Karena bagi saya, sound yang dihasilkan oleh Jaco adalah sound bass yang paling seksi sebelum Marcus Miller dan Gary Willis. Kembali lagi, ini persoalan selera saja.

Sebenarnya kalau berbicara soal fretless dalam dunia bass, Steve Bailey nampaknya lebih layak untuk dikaji dari sudut pandang teknis. Namun saya lebih  memilih Jaco karena kembali ke persoalan soulful itu tadi. Ditambah nada-nada yang dihasilkan oleh Jaco seringkali tidak terduga.

 

Pra Budi Dharma

Image

Tanpa bermaksud mengesampingkan figur seperti Bondan Prakoso, Yance Manusama, Barry Likumahuwa, Indro Hardjodikoro, bahkan Dony Fattah sekalipun. Perkenankan saya untuk menetapkan pilihan saya kepada Pra Budi Dharma, sebagai satu-satunya bassist dalam negeri yang saya masukkan daftar ini.

Alasannya adalah setiap nada yang dihasilkan oleh Pra seperti memiliki makna yang lebih dari sekadar mendukung lagu, namun menghadirkan nuansa. Ia seperti berkontemplasi sebelum menerapkan sebuah nada.

Bagi saya menghadirkan atau menciptakan nuansa adalah tahapan paling tinggi dalam bermusik, karena hanya sosok yang bermental komposer saja yang dapat melakukan hal ini dengan tepat. Dan Pra Budi Dharma sudah menerapkannya dengan baik, contohnya bisa disimak dalam karya-karya Krakatau.

Jika ada satu kata yang tepat untuk mengaitkan Pra adalah jenius! Bisa anda bayangkan bagaimana menerapkan laras (atau bisa disamakan dengan skala) slendro dalam sebuah instrumen modern? Berdasarkan cerita yang saya dengar (entah benar atau tidak), Pra Budi Dharma sudah mengaplikasikannya dalam sebuah perangkat musik yang diidentikkan dengannya.

Baru-baru ini saya mendapat kesempatan untuk mengenal musik tradisional jawa secara lebih personal, rupanya Jawa sendiri punya skala sendiri yakni pelog dan slendro. Jika yang dikenal oleh musisi kebanyakan adalah skala major atau minor, sejatinya itu adalah sebuah produk import.

Entah alasan apa yang membuat Pra Budi Dharma mengaplikasikan laras slendro dalam bassnya, karena saya sendiri belum pernah bertanya. Namun sekalipun alasannya cukup klise yakni untuk melestarikan budaya lokal, saya tetap akan mengagumi sosok jenius yang saya rasa bisa diganjar kategori zen dalam bidang musik.

 

Ian Peres

Image

Diantara yang lainnya, Ian Peres adalah sosok yang saya kenal paling akhir sekaligus paling cepat saya putuskan untuk dijadikan panutan. Bukan tanpa alasan pastinya.

Setahu saya, Ian baru terlibat 1 album bersama Wolfmother. Dan alasan Andrew Stockdale (frontman Wolfmother) merekrut Ian juga sungguh-sungguh tidak saya ketahui, namun saya meyakini satu hal bahwa Andrew tidak keliru.

Berkesempatan melihat langsung Wolfmother di panggung utama Java Rockin’ Land 2010, jelas membuat saya memilih untuk mengabaikan pekerjaan dan larut dalam jemaah penyembah amplifier. Inilah momen dimana saya menangguhkan bahwa Ian Peres adalah panutan, love at first sight.

Bermain dengan menggunakan Fender Jazz Bass dan berdiri dibalik perangkat efek yang tertata diatas keyboard bermek Korg dan Rhodes, Ian langsung mengingatkan saya pada sosok Gedy Lee (Rush) versi lebih liar dalam berekspresi. Meskipun secara kemampuan bermusik, saya tidak berani menjamin bahwa Ian Peres layak disandingkan dengan Gedy Lee.

Bagi saya, bassist yang menarik untuk dilihat adalah yang sanggup merasakan setiap groove yang tercipta. Singkatnya soulful, persoalan skill bukan segala-galanya bagi saya. Melihat musisi “orgasme” itu jauh lebih menakjubkan ketimbang aksi untuk kemampuan yang berlebihan.

Saya memang menyukai permainan Billy Sheehan (Mr.Big), namun hanya sebatas untuk melatih agar jari tidak terlalu kaku. Perkara soul Billy Sheehan sama sekali bukan panutan saya. Kalau ada yang mau berpendapat ini hanyalah alasan saya karena tidak piawai dalam bermain bass, silahkan.

Disamping itu, Ian Peres juga punya poin tambahan. Selain soulful pada bass, ia juga punya ekspresi yang sama ketika ia memainkan perangkat keyboard yang ada di depannya. Sebenarnya ia ini pemain bass atau keyboard?

Itu persoalan pertamanya. Belum terjawab pertanyaan tadi, sudah muncul kenyataan baru. Rupanya Ia sangat gila dalam berekspresi. Ketika memutuskan untuk memainkan keyboardnya, ia sampai tak segan-segan menaikinya. Maksudnya menaiki disini adalah menginjaknya dengan kaki, kemudian bermain seperti orang kesurupan.

Sepertinya saya memutuskan untuk lebih memilih menghambur-hamburkan kekaguman saya akan sebuah ekspresi orgasme dalam bermusik kepada figur Ian Peres, ketimbang sosok yang dianggap gila selama ini dalam dunia bass yakin Flea (RHCP).

 

Ben Kenney

Image

Menggantikan posisi dan peranan sebuah figur central dalam sebuah band, jelas bukan perkara mudah. Contoh terdekat adalah ketika Once menggantikan Ari Lasso untuk posisi vocal di Dewa, apakah Once sukses? Bagi saya Once sangatlah sukses. Dan begitu pula dengan Ben Kenney.

Meskipun masih banyak orang yang berpendapat bahwa Dewa era Ari Lasso jauh lebih “beradab” ketimbang era Once, saya mengiyakan jika ditinjau dari segi lirik. Namun dari segi musik, Dewa tetap berkarakter. Kalau di luar negeri perdebatan semacam ini datang dari grup band Rock asal Australia AC/DC, era Bon Scott atau Brian Johnson.

Seolah tidak akan bosan saya kembali ingatkan bahwa ini benar-benar menyangkut perkara selera, disamping kebutuhan si band itu sendiri. Perkara kebutuhan band, sangat jelas bahwa hanya band tersebut yang tahu, bahkan serombongan die hard fans pun tidak punya andil disini.

Kembali ke Ben Kenney, memang ia hanyalah seorang bassist bukan figur vokalis yang saya analogikan tadi. Tapi bagi para penggemar Incubus, Dirk Lance adalah sebuah pakem bagaimana Incubus seharusnya berjalan. Dan ketika Ben Kenney masuk, jelas pakem itu berubah sehingga menimbulkan banyak perdebatan.

Satu hal yang saya bisa ambil dari Ben Kenney adalah tidak terpakem untuk menjadi sosok yang digantikan sebelumnya atau kata lainnya berikanlah warnamu. Hal itu bisa terasa dari karya-karya incubus sejak album A crow left to the Murder sampai yang terakhir, silahkan perhatikan warna yang diberikan oleh Ben Kenney terhadap Incubus.

Kembali ke persoalan klasik perkara skill, disini saya tidak akan menutup mata bahwa Dirk Lance jauh lebih jago ketimbang Ben Kenney. Karena Dirk Lance adalah salah satu sosok yang saya rekomendasikan jika ingin belajar teknik slap.Namun bukan berarti Ben Kenney tidak bisa diambil pelajaran.

Licks yang dibuat oleh Ben Kenney adalah salah satu pattern favorit saya. Selama ini bass identik dengan nada-nada rendah, setidaknya itu bagi saya. Tetapi ketika mulai mengenal Ben Kenney, saya menjadi lebih bisa mengoptimalkan bebunyian yang dihasilkan oleh fret 9 ke atas.

——-

Maaf ya kalau terkesan sok tau, padahal karir bermusik aja gak sukses. Dikomentari boleh, dicerca juga silahkan. Terimakasih buat yang sudah meluangkan waktu untuk membaca 🙂

——-

Agung Rahmadsyah

Malang

21 Desember 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized