Naluri Seorang Konservasionis di Medio 1800

Posted on December 26, 2012

0


Andai kata naskah ini sukses menyabet juara 1 atau 2 dalam kompetisi esai mengenang raden saleh, sudah pasti tidak akan saya unggah ke dalam blog ini. Disatu pihak, saya akan merasa (agak) berdosa karena sudah membohongi tujuan utama saya membuat blog ini. Namun dipihak lain, saya akan mendapatkan keuntungan finansial yang sekiranya bisa membawa saya menuju sebelah timur Indonesia demi beberapa cerita.

Tapi paragraf barusan cuma sekadar andai-andai, nyatanya naskah saya dengan judul yang sama persis seperti judul tulisan kali ini hanya masuk ke dalam 10 naskah pilihan. Itupun nomornya termasuk golongan sakaratul maut, 9. Sehingga saya curiga kalau-kalau naskah yang masuk untuk kategori umum, memang hanya berjumlah 10.

Dan berhubung tidak ada tanggung jawab moral terhadap si penggagas lomba, maka saya putuskan untuk menempatkan naskah ini sesuai posisi seharusnya. Di blog gratisan yang sepi pembaca, kecuali kerabat yang sudi membuang-buang waktunya saja disini. Barangkali anda? Maafkan kelancangan saya untuk berkata jujur.

Image

Mengenang Raden Saleh? Apanya?

Sebelum saya memulai memasukkan naskah yang saya ikutkan dalam kompetisi esai tersebut, sudilah kiranya anda sekalian menyimak beberapa foto yang menjadi dasar saya memilih tema tersebut. Meskipun nantinya juga akan ada pernyataan, namun kali ini saya usahakan untuk tidak terlalu mengumbar kata.

Sedikit bercerita tentang kenapa saya akhirnya tertarik untuk mencoba menulis dan mengirimkan naskah yang terlepas dari persoalan ganjaran bagi pemenang semata, sebenarnya hanyalah persoalan rasa penasaran saya akan apa itu konservasi.

Sebenarnya saya datang ke pameran tersebut juga tidak benar-benar niat, andaikan tidak ada diskusi yang digagas oleh National Geographic Indonesia (Selanjutnya ditulis: NGI), pasti saya tidak akan hadir disana bahkan sampai mengikuti kompetisi tersebut. Padahal niat awal saya datang juga hanya sekadar ingin bertegur sapa dengan seorang kawan lama yang saat ini sudah resmi bergabung di NGI, mengikuti diskusi itu nomor selanjutnya.

Namun ketika saya tiba disana itu rupanya teman saya juga (sedang) cukup sibuk, sehingga mau tidak mau saya melarutkan diri untuk mengikuti alur sesi diskusi. Ternyata seru!

Selain ada kontributor NGI yang menulis artikel tentang Raden Saleh, hadir pula seorang akademisi asal Jerman yang sudah meneliti kesenian di Asia Tenggara selama (kalau saya tidak salah ingat) 23 tahun. Dimana spesialisasinya adalah Raden Saleh Syarif Bustaman.

Dari sesi diskusi itu saya mendapatkan info tentang bagaimana peran Raden Saleh dalam usahanya untuk turut mengembangkan arkelogi di Indonesia, menampakkan sisi menolak tunduknya lewat lukisan ‘Penangkapan Pangeran Dipanegara’, tetap berpegang teguh terhadap ajaran agamanya meskipun puluhan tahun berkelana di benua Eropa, melakukan “manuver brilian” untuk menikahi perempuan asal eropa demi alasan yang tidak terpikirkan oleh khalayak, dan yang pasti kontribusinya terhadap perkembangan seni lukis di Indonesia.

Namun ada satu hal yang mengganjal dibenak saya, kenapa keputusan Raden Saleh untuk memelihara bintang (atau bisa disebut membuat kebun binatang) tidak digolongkan sebuah usaha konservasi? Apakah benar-benar murni keluputan atau memang sengaja tidak dimasukkan? Padahal beberapa aspek yang saya sebutkan tadi, dibahas secara terperinci dengan pertimbangan kondisi zaman saat Raden Saleh masih bernafas.

Beberapa lukisan memang membuat saya berdecak kagum, bahkan sampai cukup lama terpaku. Maklumlah saya tidak bisa melukis, bahkan kalau saya sedang berada di Yogyakarta tempat yang harus saya hampiri adalah sebuah lapak lukisan depan sebuah toko deretan mirota batik (Jl.Malioboro).

Disana saya bisa menuntaskan hari, sampai pelukis bernama Toni -yang menurut pengakuannya, tempat dia tinggal adalah di daerah kotagede- menutup lapaknya. Apalagi ini, berhadapan langsung dengan karya-karya maestro seni lukis Indonesia? Rasanya tidak salah kalau merasa betah, sungguh ini bukan sebuah pembelaan wahai bung dan nona.

Selain lukisan ‘Penangkapan Pangeran Dipanegara’, ‘Penunggang Kuda Arab Diterkam Singa’,  ‘Mengintai’, ‘Kincir Air’, ‘Pemandangan Musim Dingin’ ada sebuah lukisan lagi yang akhirnya menginspirasi saya untuk mengarang tulisan yang berdasarkan rasa mengganjal dalam hati saya perihal konservasi tadi.

Judul lukisan tersebut adalah ‘Harimau Sedang Minum’, disatu pihak saya memang merasakan sebuah aura yang sanggup membuat saya untuk merasa lebih dari sekadar terpana. Sedangkan di pihak lain, saya memang jelas-jelas terpaku di depannya.

Bagi saya lukisan itu bagaikan sebuah pesan yang tersembunyi, entah misteri atau teka-teki istilahnya, tapi saya anggap bahwa itulah wujud harimau jawa yang sudah (dianggap) punah.

Biarlah kalau rupanya pendapat saya ini ternyata salah kaprah, setidaknya tindakan saya untuk mencari tahu perihal konservasi yang sudah cukup lama mengganjal dibenak saya tidak akan salah.

Kenapa saya berani berkata demikian?

Sekarang saya hanya ingin bertanya balik, apa yang sekiranya bisa dibanggakan dari sebuah kepunahan? Narasi atau citra kepada generasi selanjutnya? Biar saya jelaskan, baik narasi ataupun citra bahkan narasi dan citra yang dikombinasikan dengan konsep maha megah sekalipun demi sebuah pertunjukkan, sesungguhnya tidak akan bisa mengalahkan nilai yang didapat dari pengalaman sadar seseorang meskipun hanya melibatkan (tak lebih dari) dua buah indra.

Image

sesi diskusi yang diselenggarakan NGI

Image

suasana H-1 penutupan pameran (esoknya saya melihat situasi yang jauh lebih biadab)

Image

‘Hormatilah Tuhan dan Cintailah Manusia’ ~Raden Saleh (Maxen, 1848)

Image

versi bahasa inggris

Image

versi bahasa indonesia

Image

tulisan tangan Raden Saleh

Image

biografi kronologis

Image

terdengar agak sumbang

Image

contoh mengajar gambar untuk sekolah

Image

kincir air/ 1835/ cat minyak diatas papan/ koleksi pribadi

Image

penunggang kuda arab diterkam singa/ 1870/ cat minyak diatas kanvas/ koleksi istana kepresidenan

Image

penangkapan pangeran dipanegara/ 1857/ cat minyak di atas kanvas/ koleksi istana kepresidenan

Image

sketsa lukisan ‘Penangkapan Pangeran Dipanegara’ (coba bandingkan dengan hasilnya)

contoh detail sebuah lukisan karya Raden Saleh (konon memerlukan biaya sampai ratusan juta untuk merawat lukisan yang usianya sudah lebih dari seabad ini)

Naluri Seorang Konservasionis di Medio 1800

Image

harimau sedang minum/ 1863/ cat minyak di atas kanvas/ koleksi istana kepresidenan

 Tampaknya, Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) kini lebih cocok dikategorikan sebagai legenda ketimbang fakta sejarah yang hidup. Hal ini dikarenakan (seolah-olah) binatang itu tidak pernah ada di daerahnya, sehingga cukup tepat jika dijadikan dongeng. Padahal dahulu, harimau Sumatera adalah bagian dari cerita rakyat; sebuah kisah nyata dan benar-benar ada.

Dalam tradisi masyarakat Kerinci, ada kepercayaan tentang manusia harimau yang disebut cindaku. Masyarakat Bengkulu juga percaya adanya manusia harimau yang dinamakan setuo. Sedangkan di Sumatera Barat dan Jambi, harimau disebut datuk atau inyiak belang. Sementara di Batak, harimau disebut dengan opung, sebuah panggilan kehormatan untuk orang yang dituakan.

Berdasarkan catatan World Wide Fund for Nature (WWF) pada 1978, populasi harimau Sumatera berjumlah sekitar seribu ekor. Saat ini, populasi harimau Sumatera diperkirakan kurang dari 400 ekor. Lebih dari setengah dari jumlah tersebut, dapat ditemukan di daerah Bukit Barisan dan Taman Nasional Gunung Leuser.

Pada tanggal 16 juni 2012, tepatnya hari sabtu atau H-1 penutupan pameran, saya memutuskan untuk datang ke pameran lukisan Raden Saleh yang diselenggarakan oleh Goethe Institut dan Kedubes Jerman  di Galeri Nasional.

Sebenarnya niat untuk datang kesana sudah terbersit cukup lama, namun saya rasa hari itu adalah hari yang tepat karena saya berminat untuk mengikuti sesi diskusi tentang Raden Saleh yang diselenggarakan oleh National Geographic Indonesia. Meski sebenarnya saya tahu datang ke sebuah pameran menjelang penutupan adalah sebuah perbuatan yang tergolong ceroboh. Karena selain tergesa-gesa, pengunjung pun dipastikan membludak.

Setibanya di Galeri Nasional sekitar pukul 15:00 WIB, saya langsung mencari tempat yang pas agar bisa khusyuk mendengarkan cerita dari Werner Krauss (peneliti Pusat Seni Asia Tenggara di Passau, Jerman) dan Budi N.D Dharmawan (penulis artikel tentang Raden Saleh di majalah National Geographic Indonesia) yang dipercaya sebagai pembicara dalam sesi diskusi tersebut. Diskusi yang berlangsung selama hampir 2 jam itu tergolong sangat menarik karena mudah dicerna dan pastinya memberikan bekal bagi peserta sebelum memasuki area pameran.

Jika menyebut nama Raden Saleh dan kemudian ada yang mengaitkan dengan sosok Pangeran Dipanegara, sebenarnya hal tersebut bukanlah hal patut dinilai aneh. Sebab salah satu lukisan Raden Saleh yang berjudul “Penangkapan Pangeran Dipanegara” merupakan sebuah maha karya beliau. Lewat lukisan inilah Raden Saleh diyakini menegaskan rasa nasionalisme sekaligus memberi respon perlawanan terhadap lukisan karya Nicolaas Pieneman yang berjudul “Penyerahan Diri Dipanegara”, dimana dalam lukisan Pieneman itu Dipanegara digambarkan sebagai sosok yang tak berdaya sedangkan karya Raden Saleh berekspresi sebaliknya.

Namun kenyataan yang saya dapatkan di lokasi berkata lain, singkatnya lukisan tersebut tidak terlalu menarik perhatian saya. Memang tidak salah, begitu berhadapan langsung dengan sketsa dan hasil akhir maha karya tersebut, saya langsung mengamini bentuk perlawanan tersebut. Tapi rupanya di ruangan itu ada sebuah lukisan yang lebih sukses “menghipnotis” saya untuk berdiri lama, mengulang decak kagum.

Sebagai seorang yang sama sekali buta dalam dunia seni lukis, saya sungguh tak mengerti apa sebenarnya aliran romantisme itu, sebuah aliran yang (konon) dipilih oleh Raden Saleh untuk meluapkan daya imajinya. Tapi begitu berhadapan dengan lukisan yang berjudul ‘Harimau Sedang Minum’ –yang selesai dibuat pada tahun 1863 dengan menggunakan kanvas sebagai medianya dan berbahan baku cat minyak— saya langsung tidak merespon kepusingan tentang definisi aliran tersebut.

Menurut pendapat awam saya, Raden Saleh sukses mendokumentasikan sosok harimau meskipun cuma seekor. Dan saya meyakini kalau harimau yang ada di lukisan itu merupakan harimau jawa (Panthera tigris sondaica), spesies yang diyakini punah (kurang lebih) 100 tahun setelah lukisan tersebut selesai dibuat. Atau dengan istilah lain, menyusul status harimau bali (Panthera tigris balica) yang punah sekitar tahun 1930’an.

Terlepas dari spekulasi tentang keberadaan harimau jawa yang disinyalir masih terdapat di beberapa daerah seperti Taman Nasional Meru Betiri dan pegununguan Muria, bagi saya pemberian judul lukisan itu adalah sebuah pelajaran yang sangat berharga. Karena dari sanalah kita bisa belajar mengenai perbedaan harimau (Panthera tigris) dengan macan (Panthera pardus), dimana saya yakin kesalahan turun temurun bangsa ini dalam mengklasifikasikan suku Felidae itu adalah salah satu hal yang ingin dikoreksi oleh Raden Saleh Syarif Bustaman.

Meskipun pada medio itu pula Raden Saleh mencetak litograf (buku) menggambar anak-anak, yang menjadi cikal bakal pelajaran kesenian di Indonesia. Saya lebih memilih untuk menafsirkan tentang naluri Raden Saleh berkonservasi lewat lukisan yang sekarang sudah menjadi koleksi istana kepresidenan. Sebuah tindakan yang dilakukan oleh seorang manusia Indonesia, jauh sebelum istilah konservasi diperkenalkan ke masyarakat dunia.

——-

Evey Hammond: [reads] Vi Veri Veniversum Vivus Vici.
V: [translates] By the power of truth, I, while living, have conquered the universe.
Evey Hammond: Personal motto?
V: From “Faust”.
Evey Hammond: That’s about trying to cheat the devil, isn’t it?
V: It is.

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

25 Desember 2012

Advertisements
Posted in: Uncategorized