Mencerna keindahan sebagai akibat dari pergumulan yang total terhadap hidup

Posted on January 8, 2013

2


“I think it’s very facile, but a quite clever forgery . The songs are poor in general; the lyrics I can’t quite believe. Gilmour’s lyrics are very third-rate” -Roger Waters

Image

David Gilmour (kiri: circa 1970 – kanan: circa 2000)

Sebenarnya tulisan ini saya persembahkan bagi mereka yang belum mengetahui salah satu pernyataan dari Seno Gumira Ajidarma, berikut ini:

“Pencapain estetik dilahirkan oleh pengalaman yang kongkret. Keindahan dicapai bukan dengan mengotak-atik bahasa, melainkan dari pergumulan yang total terhadap hidup.”

Meskipun sejatinya, saya sendiri belum pernah bertanya tentang apa maksud sebenarnya kepada beliau. Tapi bukankah kita dibebaskan menafsir sekaligus diperkenankan berbeda hasil akhirnya? Dan inilah hasil penafsiran saya, disertai sebuah contoh kasus dari sudut pandang saya tentunya.

Mengacu pada opini Roger Waters tentang album Pink Floyd yang berjudul A Momentary Lapse of Reason (atau dengan kata lain adalah karya Pink Floyd setelah Ia hengkang), saya memang tidak bisa membantahnya dengan alasan apapun.

Bahkan jika dibandingkan dengan karya Pink Floyd sesudahnya, The Division Bell, album A Momentary Lapse of Reason, adalah salah satu album Pink Floyd yang sangat jarang saya dengarkan disamping The Final Cut.

Namun alasan itu jika ditinjau dari segi lirik semata.

Bukankah anatomi lagu masih terdiri dari musik dan lirik? Namun, lirik memang seringkali dianggap sebagai medium untuk menyampaikan atau mengungkapkan sesuatu yang remeh sampai ke dogma berkedok wacana.

Bicara soal lirik, Roger Waters adalah lyricist yang teramat mumpuni. David Gilmour, yang notabene seorang rekan sekaligus seteru dalam tubuh Pink Floyd, pun mengakuinya.

Lewati saja bagian perseteruan ini, saya enggan mengumbar penafsiran saya tentangnya.

Kalau masih perlu bukti bagaimana kualitas lirik yang diciptakan oleh Roger Waters, silahkan simak album Pink Floyd yang berjudul Wish You Were Here.

Seluruh lirik yang terdapat di dalamnya, merupakan hasil pemikiran si bassist jangkung tersebut (setidaknya jika kita mengacu pada credit, karena kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi saat proses produksi)

Ada sebuah pernyataan yang saya suka (berasal entah dari siapa, saya sudah lupa), music is the medium itself. Bagi saya itu berarti memahami terlebih  memaknai setiap lekuk nada dalam porsi yang lebih jauh dari sekadar bunyi belaka.

Inilah yang saya interpretasikan dengan keindahan. Entah pencapaian itu berwujud anugrah atau hasil dari rangkaian usaha, namun itulah yang yang saya terjemahkan mengenai pergumulan yang total terhadap hidup.

 

The “second” Black Strat is the legendary one

Image

Signature series

Sebenarnya David Gilmour adalah salah satu contoh dari sekian ratus figur yang layak menjadi panutan dalam dunia musik. Lantas kenapa saya memilih David Gilmour? Sederhana. Karena saya mengidolakannya, itu saja.

Saya suka mendengar setiap nada yang ia hasilkan dan karakteristik suara yang ia ciptakan. Intinya saya larut disetiap karyanya. Sehingga, jangan heran kalau tulisan ini natinya akan terasa sangat subjektif. Bagi yang membaca sampai disini tapi sudah mulai merasa mual, silahkan sudahi saja.

Meskipun Roger Waters pernah berkata keras perihal kualitas lirik David Gilmour, tapi saya berani bertaruh bahwa siapapun yang mendengarkan lagu ‘Comfortably Numb’ akan merasakan seberapa epik sensasinya.

Mulai dari suara sampai ke pemilihan nada, solo gitar ‘Comfortably Numb’ bukanlah sekadar ekshibisi kemampuan belaka.

Biasanya kalau bicara musisi yang sudah menjadi panutan, tentu tidak lepas dari peralatan yang digunakannya. Entah itu seri tersendiri yang dibuat khusus oleh pabrikan instrumen itu, sampai ke faktor-faktor pendukung seperti  strap dan stik drum.

David Gilmour (mungkin) adalah salah satunya. Ia memiliki sebuah seri tersendiri dari pabrikan GHS untuk senar yang ia gunakan, dan sebuah gitar yang dimasukkan dalam kategori artist dalam fender custom shop.

Tapi sebentar, sepengetahuan saya mengenai fender, artist series dalam custom shop itu berbeda dengan artist series dalam seri katalog fender. Perlu penjelasan lebih detail? Silahkan kunjungi sendiri fender.com dan fender.com/custom-shop

Singkatnya, dalam fender custom shop ada sebuah fase yang harus dilalui oleh para artisnya yaitu memahami secara detil kebutuhannya. Mulai dari kayu sampai faktor elektroniknya, atau bisa dikatakan bergumul dengan instrumennya.

Bergumul, memiliki kata dasar ‘gumul’ yang memiliki arti (kurang lebih) melibatkan diri, memperdalam, mempelajari sebaik-baiknya. Setidaknya itulah yang saya dapatkan dari KBBI.

Sudah membuka fender custom shop? Nah, sekarang coba eksplorasi halaman tersebut, dan saya percaya kalau (sebagian dari) anda akan dibuat geleng-geleng kepala.

Karena disana dijelaskan bahwa instrumen musik yang memiliki senar itu bukan hanya sebatas rangkaian kayu, pickup dan senar. Karena setiap material memiliki karakteristiknya tersendiri, entah itu kayu, senar maupun pickups (yang biasa disebut ‘spul’ oleh kalangan musisi di Indonesia).

Dari halaman tersebut kita, khususnya yang bersedia melihat dari perspektif musisi, akan merasakan bagaimana limbungnya menyandang profesi tersebut.

Sehingga saya merasa heran kalau bertemu dengan orang yang beranggapan bahwa menjadi musisi itu adalah urusan mudah. Terlebih lagi kepada orang yang memiliki angan menjadi musisi tetapi enggan bergumul dengan profesinya tersebut, saya kuadratkan rasa heran saya kepadamu!

Sekarang kita sempitkan profesi yang identik dengan musisi adalah gitaris, dan gitaris itu adalah David Gilmour. Bagi yang merasa keberatan dengan asumsi saya barusan, boleh kok berhenti disini.

Image

Lap Steel Guitar

Dari buku yang berjudul Pink Floyd The Black Strat: A History of David Gilmour’s Black Fender Stratocaster  karangan Phil Taylor, teknisi gitar yang mendampingi David Gilmour sejak medio 1970’an, dapat kita saksikan bagaimana David bergumul dengan gitar kedua yang dibelinya pada tahun 1970 di Manny’s Music.

Image

Image

ImageSebenarnya, jika dikatakan David membeli gitar ini karena keperluan koleksi, saya rasa bukan itu motivasi awalnya. Sebab dari cerita Phil Taylor, David membeli gitar tersebut karena memang sangat butuh. Sebab peralatan band Pink Floyd dicuri pada saat Pink Floyd mengadakan tur ketiga di Amerika Serikat.

Imbasnya? Dua buah buah gitar milik David Gilmour dan dua buah bass milik Roger Waters dinyatakan raib! Salah satu gitar yang raib adalah, The Black Strat dengan neck berbahan kayu rosewood.

Masih bersinggungan dengan perkara koleksi itu tadi. Ketika David diajak bergabung ke Pink Floyd pada tanggal 6 Januari 1968, David hanya memiliki satu buah gitar itupun fender telecaster hadiah ulang tahun ke 21 dari orang tuanya.

Karena David muda sangat termotivasi oleh Hank Marvin, (menurut Wikipedia adalah) orang inggris pertama yang menggunakan fender Stratocaster, maka teman-teman satu bandnya memutuskan untuk membelikan David sebuah gitar fender Stratocaster dengan body berwana putih dan neck yang terbuat dari kayu rosewood untuk digunakan dalam tur kedua Pink Floyd di Amerika Serikat.

The Black Strat pertama yang dibeli David berbahan dasar kayu Rosewood untuk bagian fretboard, sedangkan The Black Strat yang kedua berbahan maple untuk bagian fretboard.

Keduanya tidak memiliki perbedaan yang signifikan kecuali material untuk fretboard nya. Dan The Black Strat yang kedua inilah yang nantinya menjelma sebagai gitar legendaris David Gilmour.

Sebenarnya kalau saya mau membahas tentang The Black Strat, lima puluh halaman pun saya tidak berani menjamin akan usai. Sebab sumbernya sendiri terdiri lebih dari 150 halaman belum lagi ditambah luapan impresi saya yang pastinya tak teratur, sehingga saya pikir tidak manusiawi sekali kalau saya terkesan asik sendiri.

Jadi lebih baik saya lewatkan saja cerita tentang keputusan David Gilmour di tahun 1972 untuk mengganti neck The Black Strat dengan neck gitar pemberian Steve Marriot, menambahkan pickup hambucker di tahun 1973, mengganti pick guard berwarna hitam pada tahun 1974, dan sederet modifikasi lainnya yang diperbuat David Gilmour terhadap The Black Strat.

Image

Pink Floyd live at pompeii 1972

Bahkan sampai “memensiunkan” The Black Strat demi kepentigan Hard Rock café Miami pada tahun 1986, meskipun pada akhirnya David kembali kepincut dengan gitar tersebut setelah sebelas tahun hanya menjadi manekin ala Hard Rock café.

Dari sederet cerita dalam buku tersebut, jelas sekali bahwa David Gilmour bukanlah tipe musisi pesolek yang menyibukkan diri dengan seperti apa wujud instrumennya di hadapan para penonton.

Singkatnya Ia bukan seperti kebanyakan musisi yang entah diternakkan dimana, sehingga membuat dekade ini semakin terasa padat dalam kehampaan karena keserupaan wujud yang tak berkarakter berjumlah sekian ratus.

Perlu bukti? Baiklah, perhatikan foto yang saya ambil dari buku Pink Floyd The Black Strat: A History of David Gilmour’s Black Fender Stratocaster halaman 144, 146 & 147 berikut ini.

Image

halaman 144

Image

halaman 146

Image

halaman 147

Bisa dimengerti kenapa David Gilmour menolak fender untuk membuatkan signature series nya jika hanya untuk alasan replika semata? Itu karena David enggan jika fender tidak terlalu memperhatikan sisi kualitasnya.

Lantas apa standar kualitasnya? Pastinya hanya David Gilmour yang tahu, seorang yang sudah bergumul selama 38 tahun dengan instrumennya itu. Dan ditambah Phil Taylor sebagai teknisi kepercayaan David Gilmour yang mengabdi selama nyaris empat dekade, terhitung ketika fender menyatakan niatnya.

Tentunya ini adalah fase (cukup) berat yang harus dilewati fender sebelum akhirnya mereka mendapat lampu hijau dari David Gilmour pada tahun 2008 untuk menerbitkan serinya dalam catalog fender custom shop yang banderol terendahnya berkisar lima ribu dolar amerika serikat.

 

Dan kesimpulannya?

Hal yang saya pelajari dari David Gilmour, ditambah upaya saya untuk mengaitkan dengan pernyataan Seno Gumira Ajidarma, adalah pergumulan yang total terhadap hidupnya sehingga mencapai keindahan.

David Gilmour adalah seorang gitaris, dan bagi gitaris manapun tentu saja gitar adalah bagian penting dari hidupnya. Dan itu bukan perkara mudah tentunya, apalagi jika disandingkan dengan konteks Indonesia wahai tuan dan puan.

Andaikata saya memiliki kekuatan ajaib seperti pendekar dari MUI, maka saya tdak akan ragu-ragu untuk mengeluarkan fatwa haram untuk mengidolakan gitaris yang tidak menganggap gitar adalah bagian penting dari hidupnya.

Fatwa barusan berlaku juga bagi profesi lainnya, disamping gitaris, yang (pastinya) bergelut di ranah musik! Entah itu drummer, bassist, vocalist ataupun yang lainnya.

Lantas apa yang dimaksud dengan secuplik pernyataan SGA yang berikut:

“bukan dengan mengotak-atik bahasa”

Ini saya tujukan bagi siapa saja yang menganggap dirinya pantas beropini dihadapan khalayak, namun mengatasnamakan (melabelkan) dirinya sebagai pengamat, jurnalis, kritikus atau apapun namanya namun rupanya ia tidak pernah bersinggungan dengan bidang yang ia komentari.

Ini jelas mengacu pada pendapat SGA yang pertama:

“Pencapain estetik dilahirkan oleh pengalaman yang kongkret”

Ada sebuah pertanyaan dari saya, yang nantinya akan berkembang menjadi beberapa pertanyaan setelahnya;

Pengalaman kongkret apa yang membuat anda merasa pantas mendiskreditkan sebuah hal?

Apakah anda sudah merasa kalau anda sanggup menyelenggarakan sebuah perhelatan dengan tata suara dan cahaya yang lebih canggih? Apakah anda merasa sudah lebih layak dipuja ketimbang sosok yang anda hina habis-habisan dalam tulisan atau pernyataan?

Memang tidak ada salahnya kalau tiap orang berpendapat. Dan pastinya tidak ada salahnya juga kalau setiap orang mendapat masukan, kritik bahkan hinaan sekalipun. Namun jika hal itu mereka dapat dari orang yang tidak berdasarkan pengalaman kongkret, apa hal itu dapat digolongkan valid?

Tulisan ini sejatinya saya tujukan untuk pihak yang tidak melakukan apa-apa selain mengotak-atik bahasa yang entah nantinya akan ditransformasikan secara tertulis maupun verbal. Tentunya kemampuan mengotak-atik bahasa itu ditambah bekal referensi personal perkara ideologi, wacana bahkan dogma tertentu.

Mungkin suatu saat saya perlu menulis panduan untuk si pelaku bersikap dan menyikapi, tapi itu nanti saja. Karena saat ini saya hanya merasa muak dengan ulah orang-orang berbekal referensi elitis, namun pada dasarnya Ia tidak memiliki pengalaman kongkret maupun pergumulan yang total terhadap hidup.

Hidup kan berbeda, jadi pengalamannya jelas beda dong! Memang, alasan tersebut sangatlah masuk akal.

Sebagai penulis, pergumulan totalnya adalah menulis. Namun bagi saya, penulis itu bukan hanya seorang yang sanggup menjadikan wacana personal guna mendominasi wacana mayoritas dengan ragam kata yang menimbulkan kesan tertentu.

Kemampuan membaca situasi sekitar jauh lebih diperlukan ketimbang daya tahan untuk duduk berjam-jam tanpa jeda demi menyelami halaman demi halaman dari berpuluh buku teori.

Kemampuan tersebut ditambah dengan kemampuan menerjemahkan hasil “membacanya” itu yang nantinya dielaborasi dengan kebutuhan si penulis. Ia menulis untuk apa? Untuk egosentris atau yang lainnya? Pertanyaan ini jelas hanya si penulis saja yang mampu menjawab.

Kalau memang Ia menulis hanya untuk memuaskan ego trip belaka, ya apa hendak dikata? Itu memang haknya, namun otomatis timbul lagi pertanyaan dalam benak saya; Apakah hanya sampai di sana saja value dia sebagai makhluk yang menulis?

Setidaknya itu yang berlaku bagi saya. Dan jika ada yang berseberangan, dipersilahkan mendebat. Pintu dibuka lebar.

Namun saya membuka sesi debat itu dengan satu syarat, tunjukan dahulu pada saya karya anda diluar kemampuan anda mengotak-atik bahasa entah dalam wujud tulisan dan ucapan. Baik atau buruk karya itu, tak jadi permasalahan utama bagi saya.

Sebab saya berani menjamin kalau pengalaman kongkret dan pergumulan akan membuat anda memiliki sudut pandang lain selain mendiskreditkan suatu hal tertentu dengan dalih terselubung: berlandaskan perspektif selera.

Jika hendak mendiskreditkan musik, tunjukan karya anda yang berkaitan dengan musik. Mendiskreditkan teater, tunjukkan karya anda yang bersinggungan dengan teater. Mendiskreditkan buku, film, lukisan, karya sasatra, fotografi ataupun bentuk kesenian lainnya? Cobalah tunjukkan sedikit karya anda kehadapan saya.

Mendiskreditkan tuhan? Tunjukkan saya satu hal saja kalau anda layak disetarakan.

 

——-

Tulisan pertama di tahun 2013. Aslinya sih udah bahan lama, tapi dipas-pasin awal tahun aja biar jadinya sedikit sentimetil 🙂

Referensi:

http://www.guitarvillage.co.uk/product/9701-1/Fender-Stratocaster-American-Custom-Shop-David-Gilmour-NOS-New-Black-Inc-Case-and-Accessories.aspx

http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=qu9MrAKJWWQ (The Black Strat)

http://www.youtube.com/watch?v=PGwPSPIhohk (echoes; Pompeii)

http://www.youtube.com/watch?v=Thwwd3S9rmA (echoes; remember that night)

http://www.davidgilmour.com/

http://en.wikipedia.org/wiki/David_Gilmour

http://www.youtube.com/watch?v=ruZsw4ss1o4 (Kings of Tone – David Gilmour)

http://www.gilmourish.com/

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

08 Januari 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized