Fakta dan Fiksi, Fiksi dan Fakta. Mana Sebenarnya Yang Hoax?

Posted on January 22, 2013

0


 Rationalist

Ndatan kacaritan kalangwan ikanang ranu” artinya kurang lebih adalah saya tidak akan bercerita tentang keindahan danau-danau itu. Si penulis memperkenalkan diri dengan nama Prapanca, setidaknya ia menginginkan seperti itu, atau dengan kata lain adalah orang yang menuliskan hal tersebut dalam kitab Nagara Kretagama pupuh 22.

Dalam buku yang dibuat oleh P.J Zoetmolder yang berjudul ‘Kalangwan; a survey of old Javanese literature’ kita bisa menemukannya masih tersalin dengan bahasa sansekerta (meskipun dengan alfabet latin), namun jika membuka buku Slamet Muljana yang berjudul ‘Tafsir Sejarah Nagara Kretagama’ niscaya kita akan memamahnya dalam bahasa Indonesia dengan ejaan yang telah disempurnakan.

Beranjak mundur menuju sebuah era dimana Nararya Sanggramawijaya atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Wijaya (Bhre Wijaya) belum memiliki angan untuk mendirikan sebuah daerah yang bernama Majapahit sebagai jawaban atas apa yang dilakukan oleh Jayakatwang terhadap Singhasari, terdapatlah sebuah kakawin yang berjudul Sumanasantaka.

Sumanasa adalah bunga dan antaka berarti mati, terjemahan bebasnya kurang lebih adalah mati oleh bunga sumanasa. Kakawin ini bercerita tentang kelahiran Prabu Dasarata, seorang raja dari kerajaan Ayodya dalam kisah Ramayana. Kakawin yang dibuat berdasarkan kitab Raguwangsa ini ditulis oleh Mpu Manoguna dalam pemerintahan Prabu Warsajaya dimasa kerajaan Kediri.

Dalam buku yang ditulis oleh Slamet Mulyana, kediri atau kadiri adalah sebuah era dimana kesusastraan berkembang dengan subur. Bahkan era setelahnya pun, khususnya Majapahit, tidak dapat menyaingi kegemilangannya dalam hal susastra.

Entah kenapa, belakangan ini saya kembali dibuat sibuk oleh pertanyaan lama ketika saya mulai dijejalkan oleh materi pelajaran sejarah dalam buku diktat saat masa sekolah: “Kenapa hanya majapahit yang terus digembar-gemborkan?”

Padahal jika meninjau perihal peninggalan sejarah, khususnya yang terdokumentasi dalam bentuk tulisan mulai dari prasasti hingga karya sastra, seharusnya mulai dari era Erlangga hingga Jayabhaya yang layak mendapat perhatian serius.

Bukan tanpa alasan tentunya, karena era itu adalah fase emas kesusastraan jawa kuna, bahkan (sepertinya) hingga saat ini malah pihak belanda yang terlihat sibuk mengkaji untuk dijadikan jurnal sebagai sumbangsih dalam lingkup internasional.

Bahkan naskah Nagara Kretagama, yang digadang-gadang sebagai sumber sejarah penting dalam konteks jawa (pada khususnya) dan Indonesia (pada umumnya), malah ditemukan di Puri Cakranegara yang terdapat di Pulau Lombok. Bayangkan terpaut berapa ratus kilometer jika (sebagian dari) kita meyakini bahwa pusat pemerintahan Majapahit terletak di Mojokerto?

Terlepas dari apapun alasan maupun penjelasannya, saya tidak akan membahas perkara Nagara Kretagama, Majapahit terlebih lagi era-era sebelum Majapahit. Saya hanya tergelitik perkara hoax, itu saja.

 

Kehidupan Sastra Dalam Pikiran

Dalam kakawin Sumanasantaka, ada dua bait yang (bagi sebagian orang, termasuk saya) menarik untuk disimak. Bait tersebut nyata sekali mengungkapkan kejelekan-kejelekan yang (mungkin saja) tidak akan terdapat dalam karya sastra dimasanya.

pada marĕk adum unggwan yan wwang śreṣṭi humaliwat/asila-sila ri pinggir ning mārgamalaku sĕrĕh” (Rakyat untuk sementara meninggalkan pekerjaan sementara pawai itu lewat dan minta sedekah berupa sirih, yang menunjukan indikasi adanya kemiskinan)

alumbung alitalit/tĕka ri sapi nikâlit norâkral-kral amĕḍusi” (lumbung-lumbung kecil dan lembu-lembunya sedemikian kurus dibawah ukuran wajar sehingga lebih menyerupai domba-domba)

Bukankah masih lekat dalam telinga kita tentang lirik lagu dari koes plus yang berbunyi seperti ini: “Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” tapi kalau membaca dengan khidmat karya sastra yang dibuat pada abad 12, atau 8 abad sebelum koes plus bernyanyi dengan riang, apa masih bisa kita menyebut kalau tanah kita adalah tanah surga?

Permasalahannya dimulai pada tanggal 20 januari 2013, ketika saya membagikan info ini di facebook.

nenekAtau silahkan klik ini dan untuk lebih jelasnya yang ini juga jangan lupa, agar tidak timpang infonya.

Sebelum saya putuskan untuk menekan tombol share, saya coba mencari info tentang berita tersebut. Apakah ini benar adanya? Setahu saya, dunia media di Indonesia biangnya membesar-besarkan hal yang sejatinya tidak layak mendapat perhatian. Tapi ini malah kebalikannya. Dan inilah yang membuat saya bertanya-tanya.

Kenapa si orang yang membagikan berita ini malah meminta teman-temannya membagikan berita ini ke media massa? Kenapa bukan dia saja yang membagikan? Bukankah nama dan wajah yang terpampang di media massa ada cita-cita luhur sebagian besar warga indonesia, agar obsesinya menjadi selebritas atau politisi bisa berada (sedikit) diatas angin ketimbang kerabatnya?

Setidaknya pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat saya memutuskan untuk menggenapkan kejanggalan perihal kebenaran berita tersebut.

Perihal kebenaran berita? Jadi apa ini hoax? Hmm, bisa dikatakan seperti itu kalau kalian mau. Lantas kalau hoax, kenapa masih saya sebarkan? Hahaha, ini mungkin yang membuat seorang kerabat mengukuhkan pendapat di kolom comment kalau dongeng itu sebaiknya tidak merepresentasikan sebuah citra dari situasi nyata. Jujur, ini agak lucu bagi saya.

Hoax itu (kalau saya tidak salah cerna) definisinya adalah kabar bohong atau kabar yang tidak dapat dipertanggung jawabkan, entah itu dari sudut substansi berita maupun sumbernya. Terlebih dari lagi keduanya, sudah jelas-jelas hoax. Singkat, padat dan mantap!

Tapi tunggu dulu, saya punya klausul dalam perkara ini. Perkara substansi dan sumber berita.

Kembali sejenak ke Prapanca dan Mpu Manoguna. Kondisinya seperti ini, Prapanca adalah nama samaran –bisa disebut fiktif— yang menuturkan kondisi nyata –kemungkinan besar fakta— kerajaan Majapahit lewat karyanya yang berjudul ‘Desa Warnnana’ atau lebih dikenal dengan Nagara Kretagama.

Ssedangkan Mpu Manoguna adalah tokoh nyata –katakanlah fakta— dalam era kerajaan Kadiri yang menuturkan kejadian fiktif –yang sudah jelas-jelas fiks— melalui karyanya dalam kakawin Sumanasantaka.

Sehingga kondisi tersebut bisa dikatakan seperti ini, Nagara Kretagama substansinya benar adanya namun sumbernya tidak bisa dipertanggungjawabkan sedangkan kakawin Sumanasantaka sebaliknya. Singkatnya dalam dua karya tulis itu terdapat sebuah kepincangan, keduanya (bisa dirumuskan sebagai sumber yang) tidak valid. Sampai disini ada yang mau menyebutnya hoax? Silahkan.

Sebut saja saya mengagumi, mengidolakan, menggilai Seno Gumira Ajidarma. Katakan maniak bila anda anggap saya layak menyandangnya, saya tidak akan menulis pleidoi barang sepatah katapun. Dan judul sub-bab ‘Kehidupan sastra dalam pikiran’ memang saya ambil dari buku ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’.

Mungkin saja kita, khususnya anda yang sudah sudi membaca tulisan ini sampai sejauh ini, tidak mengalami era berkuasanya departemen penerangan. Atau bahkan telinga kita asing dengan istilah jurnalisme pancasila, pembredelan, manajemen ketakutan hingga jurnalisme ketakutan? Dan bisa jadi, jurnalis layar plasma yang imut nan menggemaskan itu tak tahu ada kisah seperti itu? Mungkin saja.

Membaca ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’ seakan memberikan sebuah pencerahan bahwa fakta dan fiksi adalah (memang) dua buah kutub yang berseberangan namun rupanya saling bersinggungan bahkan berkesinambungan. Selain sejarah tak tertuturkan tentang dunia pers di era orde baru, tentunya.

Setidaknya itulah efek yang saya dapatkan setelah membaca kata pengantar di edisi kedua yang diberi judul ‘Atas Nama Demokrasi’, sebelum akhirnya melesat mengarungi 14 bab yang mengulas sejarah terciptanya kumpulan cerpen berjudul ‘Saksi Mata’ dan novel ‘Jazz, Parfum dan Insiden’. Dua karya fiksi yang tidak akan bosan-bosannya saya baca ulang.

Kalau diperintahkan untuk memilih sebuah bab guna direkomendasikan kepada orang lain, maka saya pilih bab ‘Jakarta Jakarta & Insiden Dili: Sebuah Konteks Untuk Kumpulan Cerpen Saksi Mata’. Meskipun sebenarnya bab yang berjudul ‘ Dari Sebuah Dokumentasi: Serba-Serbi Fakta Fiksi’, ‘Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca’, ‘Fiksi, Jurnalisme, Sejarah: Sebuah Koreksi Diri (1&2)’ dan ‘Timor Timur Dalam Kisah Prtukangan: Mengolah Fakta Menjadi Fiksi’ sungguh tak kalah menarik.

Disana Seno bercerita tentang nasibnya yang berperan sebagai Redaktur Pelaksana yang memutuskan untuk memuat laporan yang bersumber dari Insiden Dili 12 November 1992, pada majalah Jakarta Jakarta yang terbit pada 23-29 November 1992 atau kurang lebih dua bulan sebelum mereka bertiga dipanggil Pimpinan perusahaan hingga Pusat Penerangan Pertahanan dan Keamanan ABRI di Cilangkap.

Selain itu ia bercerita tentang terciptanya kumpulan cerpen dan novel tersebut, dua buah karya fiksi yang bersumber dari deretan fakta. Untuk lebih jelasnya, silahkan baca sendiri penjelasannya dalam buku ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’.

 

Realitas Tak Lagi Punya Referensi, Kecuali Simulacra Itu Sendiri (boleh didebat)

Sebentar, rasanya seperti tidak adil kalau tidak memberi celah introspeksi bagi saya sendiri dalam tulisan ini. Kalau tadi saya sudah sedikit memaparkan contoh fakta-fakta yang dirangkai menjadi fiksi lewat cerita Seno Gumira Ajidarma, sekarang bagaimana kalau dibalik? Fiksi direka seolah fakta, atau bisa dikatakan membuat berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pendapat kerabat saya itu memang ada benarnya, kalau dongeng –mungkin yang dimaksud fiksi – setidaknya jangan pakai foto –mungkin maksudnya objek— yang menunjukan situasi asli. Karena menurutnya, psikologis orang kan jadinya diarahkan kesana.

Hmm, perkara psikologis ini perkara menarik. Belum lagi dipadu dengan filsafat yang semakin menyerupai ranah permainan nan mengasyikan, tapi tak jarang juga membuat si pemainnya tersesat.

Sehingga bukan hal yang mengherankan kalau Syd Barret sempat mempertanyakan “And what exactly is a dream and what exactly is a joke?” meskipun itu lebih terdengar seperti pernyataan dari makhluk luar angkasa yang menyelinap dalam formasi awal Pink Floyd.

Ada sebuah konsep yang saya suka perihal fakta-fiksi, dan Jean Baudrillard yang membuat saya semakin tergelitik mengutak-atiknya.

Simulacra, seperti itulah sebuah kata yang disebutkan olehnya dan kemudian menggelitik perhatian saya dalam memaknai (atau setidaknya mempertanyakan) semua kejadian baik yang ada dalam teks maupun yang berseliweran disekitar saya.

Penjelasan singkat tentang bisa ditilik lewat si semprul yang serba tahu, wikipedia 1 & wikipedia 2

Atau bila memerlukan penjelasan yang (menjerumus) bisa dipertanggung jawabkan, kalau konsensus valid adalah bersumber dari buku yang berbuku-buku. Ini saya berikan tautannya 1 dan 2

F. Abad Kontemporer = Simulacrum

Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra, didalamnya citra atau penanda suatu peristiwa telah menggantikan pengalaman. Manusia postmodern hidup dalam dunia yang penuh dengan simulasi, tidak ada yang nyata di luar simulasi, tidak ada yang asli yang dapat ditiru. Pada jaman kontemporer nilai guna komoditas dan imperatif produksi digantikan oleh model, kode, simulacra, tontonan, dan hiperrealisme “simulasi”. Pada masyarakat media dan konsumsi, orang terjebak dalam permainan citra, simulacra semakin tidak berhubungan dengan yang di luar, “realitas” eksternal. Manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra yang didalamnya citra atau penanda suatu peristiwa telah menggantikan pengalaman, dan pengetahuan langsung rujukan atau petandanya. Semesta post-Modern cenderung membuat semuanya menjadi simulacrum. Manusia post-modern hidup dalam dunia yang penuh dengan simulasi, tidaka ada yang nyata di luar simulasi, tidak ada yang asli yang dapat ditiru. Dunia abad kontemporer bukan lagi dunia yang “nyata” versus dunia “tiruan” tetapi sebuah dunia yang ditandai dengan kenyataan: “yang ada “ hanya simulasi. (Munir, 2008: 141)

 

“Dalam wacana simulasi, manusia mendiami ruang realitas, dimana perbedaan antara yang nyata dan fantasi, yang asli dan palsu sangat tipis. Dunia-dunia buatan semacam Disneyland, Universal Studio, China Town, Las Vegas atau Beverlly Hills, yang menjadi model realitas-semu Amerika adalah representasi paling tepat untuk menggambarkan keadaan ini. Lewat televisi,film dan iklan, dunia simulasi tampil sempurna.[2] Inilah ruang yang tak lagi peduli dengan kategori-kategori nyata, semu, benar, salah, referensi, representasi, fakta, citra, produksi atau reproduksi  semuanya lebur menjadi satu dalam silang-sengkarut tanda (Baudrillard, 1987: 33).Tidak dapat lagi dikenali mana yang asli, yang real, dan mana yang palsu, yang semu. Semuanya menjadi bagian realitas yang dijalani dan dihidupi masyarakat Barat dewasa ini. Kesatuan inilah yang disebut Baudrillard sebagai simulacra atau simulacrum, sebuah dunia yang terbangun dari sengkarut nilai, fakta, tanda, citra dan kode. Realitas tak lagi punya referensi, kecuali simulacra itu sendiri.

Proses simulasi inilah yang mendorong lahirnya term ‘hiperrealitas’, di mana tidak ada lagi yang lebih realistis sebab yang nyata tidak lagi menjadi rujukan. Baudrillard memandang era simulasi dan hiperrealitas sebagai bagian dari rangkaian fase citraan yang berturut-turut: (1) [citraan] adalah refleksi dasar realitas, (2) Ia menutupi dan menyelewengkan dasar realitas, (3) Ia menutupi ketidakadaan realitas, dan (4) Ia melahirkan ketidakberhubungan pada berbagai realitas apapun; ia adalah kemurnian simulakrum itu sendiri (Ritzer, 2003).”

Bagaimana jika kehidupan kita itu sebenarnya cuma rangkaian kisah fiksi? Kita adalah tayangan reality show –yang jelas sudah ada skenarionya— bagi (entah) makhluk mana yang berada di galaksi mana jua.

Menurut pemahaman saya (yang jelas-jelas tidak berlandaskan intelektualitas) tanpa harus memahami konsepsi simulacra secara holistik, Ahmad Albar sudah mendendangkannya dengan sedih dalam lagu yang berjudul ‘Panggung Sandiwara’.

Jikalau Baudrillard memerlukan beberapa fenomena seperti media kontemporer (tv, film, cetak & internet), penukaran nilai dengan objek, kapitalisme multinasional, urbanisasi-alienasi dan bahasa-ideologi. Si pembuat lagu ‘Panggung Sandiwara’ merekamnya dalam sebuah wujud yang singkat namun mencakup, dunia!

“Dunia ini panggung sandiwara

Cerita yang mudah berubah

Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani

Setiap kita dapat satu peranan

Yang harus kita mainkan

Ada peran wajar ada peran berpura pura”

Lagi-lagi saya hanya bisa mengutip kata-kata Seno Gumira Ajidarma dalam buku ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’ yang menurut saya bisa dijadikan outro tulisan ini “Bagi saya, dalam bentuk fakta maupun fiksi, kebenaran adalah kebenaran –yang getarannya bisa dirasakan setiap orang.”

Saya kembali mengajukan sebuah pertanyaan. Apakah anda merasakan sebuah getaran tentang kebenaran dari cerita hakim marzuki? Kebenaran disini saya coba kaitkan dengan substansi cerita yang berkaitan dengan unsur kemanusiaan.

Terlepas dari apapun sanggahan yang dilontarkan oleh siapapun dalam media apapun, saya tetap menganggap bahwa cerita hakim Marzuki itu mengandung kebenaran. Poin kebenaran yang menekankan bahwa tugas seorang manusia adalah memanusiakan manusia.

Poin itulah yang dijadikan pijakan oleh Eduard Douwes Dekker atau yang memilih disebut Multatuli ketika menulis karya Max Havelaar. Dan kembali digemakan oleh Pramoedya Ananta Toer, hingga akhirnya sayapun turut mendengarnya.

Yang pasti saya tidak akan pernah menyebar info semazhab cuti bersama dari Jokowi ketika Jakarta diterjang banjir dahsyat beberapa waktu lalu. Bahkan untuk sms yang mengatas namakan Rasul saja, saya enggan menyebarkannya (walaupun diberikan keterangan perihal jaminan masuk surga oleh si pengirimnya).  Bukan perkara pulsa tentunya, namun ini menyangkut prinsip. Kecuali kalau saya lagi ingin iseng, itupun saya cuma iseng kebeberapa orang yang saya rasa bisa diajak bergurau.

Nah, sekarang anda mau memutuskan bahwa tulisan ini adalah hoax atau bukan hoax jelas hak prerogatif anda. Yang pasti saya hanya berusaha menerapkan apa yang ditulis oleh Multatuli, baik dalam rupa fakta maupun fiksi.

Semoga saja saya tuhan tidak menilai usaha orang-orang (yang berjuang hingga bergumam tentang kebenaran) sebagai hoax, hanya karena wahananya sudah makin absurd.

 

——-
Silahkan dikomentari, itupun kalau berkenan membaca. Terimakasih 🙂
——-

Agung Rahmadsyah

Malang

22 Januari 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized