Sekadar catatan dari kelompok masyarakat tontonan tentang sebuah ruang alternatif

Posted on January 26, 2013

0


Langsung dibikin esai ya, Gung!

Begitulah celoteh @aparatmati ketika saya berpamitan untuk pulang dari sebuah tempat keriaan dikawasan Gandaria. Saya tahu kalau itu hanya guyon, maka dari itu saya balas dengan tertawa ketika beranjak meninggalkan “tribun belakang” yang disana terdapat @RickySiahaan, @wenzrawk, @david_karto, @woktherock serta beberapa orang yang saya tidak tahu apa akun twitter-nya.

Saya baru saja tiba di stasiun Jatinegara pukul 09:30 itu hari Jumat tanggal 25 Januari 2013, sama halnya dengan menghabiskan waktu (kurang lebih)  18 jam perjalanan di atas kereta api kelas ekonomi dari Malang menuju Jakarta.

Teman-teman saya (khususnya yang di Malang) sering bertanya “Kenapa sih seneng banget naik ekonomi? Kan pegel.”

Memang 18 jam bukan waktu yang sebentar, tapi bagi saya 18 jam juga bukan waktu yang cukup untuk mengamati perilaku mayoritas rakyat Indonesia yang bergumul dalam beberapa beberapa gerbong. Sebab saya (masih) yakin bahwa mayoritas rakyat Indonesia itu masih berserakan di kategori ekonomi ketimbang kelas lain dalam kasta ciptaan departemen maupun instansi di industri perhubungan, baik darat, laut maupun udara.

Katakan saya miskin, silahkan. Terlebih lagi kalau uang sebagai asosiasi dari miskin, saya jelas tak akan membantah. Tapi untung saja sekitar 3 tahun yang lalu, @hotmaroni dan kerabatnya di @floatproject memberikan pencerahan lewat lagu ‘Surrender’ dengan sebuah pepatah yang secara mentah-mentah dikutip dari Italia: “Chi trova un amico trova un Tesoro” (He who finds a friend, finds a treasure). Cihuy, makasih berat Meng! Kapan lagi kita ngopi-ngopi sambil ngelantur perihal kehidupan?

Selain itu waktu sepanjang itu pasti saya gunakan untuk membaca –kalau tidak bisa dikatakan menamatkan –buku, dan perjalanan kemarin saya gunakan untuk buku berjudul ‘Pers Bertanya Bang Ali Menjawab’. Buku itu adalah kumpulan wawancara dengan Ali Sadikin, mantan gubernur Jakarta yang (selayaknya) menjadi blue print untuk calon gubernur Jakarta dari warga Jakarta. Mengenai buku ini, saya berencana menulisnya disesi yang lain.

Tiba di Demajors Gandaria, waktu di jam tangan saya sudah menunjukan pukul 20:20 dan saya terpaksa parkir di depan Circle-K karena wadah parkir untuk motor telah penuh. Sial!

Sekitar 15 menit sebelumnya, ketika saya sedang berada di mesjid daerah pancoran untuk solat isya, rekan @ossidias memberi kabar kalau acara masih belum dimulai. Artinya? Dari info yang saya dapat acara tidak sesuai sesuai jadwal, tapi itu bisa dimaklumi.

Seperti biasa, sebelum acara dimulai saya coba bersosialisasi dengan beberapa teman yang sekiranya saya kenal. Oh, ada yang menarik ketika saya coba menyimpulkan omongan @ossidias & @ramawirawan_ , rupanya mereka adalah korban dari peranan sosial media. Saya yakin kalau saya dan sebagian diantara kalian juga demikian.

@ossidias mengaku baru kali ini bertatap muka dengan @kelakardewa padahal sudah sering berkorespondensi via jejaring sosial, sedangkan @ramawirawan_ mengaku belum pernah melihat wujud @samacksamakk secara langsung.

Dua kasus yang hampir sama kronisnya, tapi tetap bisa dimaklumi. Toh bukannya itu yang dinamakan memanfaatkan teknologi? Meskipun masih terngiang di benak saya apa yang dikatakan oleh (alm.) Julian Sihombing di Galeri Foto Jurnalistik Antara saat sesi diskusi foto jurnalistik tentunya; “Sosial media! Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Dan itulah yang mengukuhkan pendapat saya kalau berinteraksi secara tatap muka, (setidaknya bagi saya) jauh lebih mengasyikkan ketimbang kultwit atau twitwar, apalagi proses berdialektika yang bisa memakan waktu berjam-jam.

Perilaku verbal & non verbal bisa diterjemahkan secara langsung tanpa harus menerka apa makna dibalik serangkaian simbol seperti; titik dua ditambah serangkaian kurung tutup, titik dua ditambah tanda bintang atau titik dua ditambah beberapa tanda kutip ditambah beberapa kurung buka. Belum lagi contoh lainnya yang saya kira anda semua lebih paham ketimbang saya.

Karena sampai sekarang saya tidak mengeri apa makna dari titik dua ditambah huruf S atau titik dua ditambah huruf B. Sudilah kiranya kalian memaafkan ke-katro-an saya yang tergolong akut ini.

 

Citra Yang Berkembang Ke Arah Yang Lebih Kompleks

Kalau tidak salah, waktu menunjukkan pukul 21:00 dan acara baru dimulai. Alasan saya datang ke Demajors Gandaria karena ingin bertemu dengan beberapa teman disamping menonton Zoo pastinya.

Mengutip tweet @wenzrawk, beberapa saat setelah pertunjukan usai: “Abis nonton lagi band eksperimental rock Jogja, @Zoo_Indonesia, satu kata: Sinting!! Nyanyi 35 lagu tanpa minum! \m/”

Memang gila band itu, dan saya sendiri kurang jelas mendengar apakah ia membawakan 25 atau 35 lagu karena setelah 15 menit saya merangsek kebelakang untuk mencari ruang yang sekiranya bisa untuk bergerak. Asal tahu saja; di bagian depan padat, kawan!

Kali ini saya tidak akan menulis apa kelebihan dan kekurangan Zoo ataupun dua band sebelumnya; Spiritualized Mammals & Duck Dive. Karena itu tugas jurnalis musik, dan saya bukan jurnalis musik. Tapi benar kata duo MC geblek besutan Demajors itu; “Malam ini, kita seperti sedang berada di kebun binatang”. Haha!

Terlepas dari pendapat personal saya mengenai Zoo yang lebih cocok mencari gitaris berkarakter seperti Allan Holdsworth atau saxophonis se-genre dengan John Zorn, apabila mereka terbersit keinginan menambah personel dan menjelajahi jalur bebas hambatan bernama math-rock.

Atau kelompok Duck Dive ketika membawa perangkat Moog ke atas panggung yang serta merta mengingatkan saya kepada Klaus Schulze, pentolan dari genre Krautrock (pelabelan oleh media Inggris) yang tergabung dalam Ash Ra Temple dan pernah secara terang-terangan mengobrak-abrik karya monumental Pink Floyd menjadi ‘Dark Side of the Moog’ bersama rekannya Pete Namlook.

Dan Spiritualized Mammals yang punya cara sendiri untuk membuat shock, baik penonton wanita maupun pria. Karena vokalisnya yang berperut buncit itu telanjang bulat dan dengan percaya diri memamerkan tititnya yang sudah tidak bertopi, meskipun besarnya tidak melebihi sekrup.

Perihal musiknya, saya rasa ini serupa The Doors tanpa peran Ray Manzarek sementara peran Robby Kreiger dibagi mejadi dua. Satu gitar elektrik dan satunya lagi lap steel guitar.

Untung saja ada objek yang menyelamatkan mata saya dari sekrup tersebut, lap steel guitar bermerk Ibanez yang dipadu dengan digital reverb stompbox pedal dari pabrikan Behringer. Dan mata saya puas memandanginya, sebab hal itu mengingatkan saya kepada David Gilmour yang sampai detik ini semakin memompa hasrat saya untuk memangku lap steel guitar dan bermain syahdu dengan bottle neck ditangan kiri seperti yang ia peragakan dalam lagu ‘High Hopes’. Argh, keparat kau Gilmour!

Kembali ke temanya, saya hanya ingin menyangkut-pautkan lokasi acara dengan pencitraan dan gaya hidup. Ha! Terdengar nyinyir ya? Ah, biarlah. Kalau asosiasi pencitraan dan gaya hidup itu dirasa nyinyir, ya hentikan saja usaha anda untuk membaca beberapa paragraf selanjutnya. Selesai kan urusannya?

Karena tergelitik dengan coleteh @aparatmati, maka keesokan harinya (Sabtu, 26 Januari 2013) saya langsung membuka buku yang menjadi pedoman kala saya menyusun skripsi, buku itu berjudul ‘Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas Sosial’ terbitan Jalasutra.

Penulisnya? Banyak! Yang pasti tokoh-tokoh sentral dalam cultural studies khususnya di Indonesia. Sebut saja Audifax, Yasraf Amir Piliang, Alfathri Adlin, Bagus Takwin dan sisanya silahkan absen sendiri, yang pasti ada 17 nama didalamnya.

Membuka bab 5 di kategori TEORI, saya menemukan judul yang sekiranya tepat untuk dijadikan sumber pembahasan; ‘Imagologi dan Gaya Hidup’ yang ditulis oleh Yasraf Amir Piliang. Izinkan saya mengutip beberapa bagian yang menjadi landasan ke-iseng-an saya karena tak ada kegiatan di hari Sabtu.

I

Imagologi adalah ilmu tentang citra atau imaji serta peran teknologi pencitraan dalam membentuknya. Imagologi berkaitan dengan perkembangan teknologi pencitraan mutakhir, seperti televise, internet, realitas virtual, dunia objek dan komoditas, yang menciptakan sebuah dunia yang di dalamnya eksistensi setiap orang sangat bergantung pada dunia citraan yang membangunnya.

Eksistensi manusia kini sangat ditentukan oleh eksistensi citra, yang menggiring pada kecenderungan apa yang disebut ontologi citraan. Imagologi adalah penggunaan citra-citra tertentu dalam rangka menciptakan sebuah imaji tentang realitas, yang pada titik tertentu ia dianggap merupakan realitas itu sendiri.

Citra sendiri sebenarnya bukanlah sebuah konsep tunggal untuk menjelaskan sebuah realitas tunggal pula. Sebagai sebuah konsep, citra mempunyai makna yang jamak, dan terkadang mempunyai sifat kontradiktif satu sama lainnya, dan ia juga berbeda dari satu zaman ke zaman berikutnya. Citra adalah sebuah konsep yang mempunyai sejarahnya sendiri, dan dibentuk oleh beragam budaya.

Thomas W.J. Michel misalnya, membedakan beberapa kelas citra berikut ini: (1) citra grafis, (2) citra optikal, (3) citra perceptual, (4) citra mental, dan (5) citra verbal.

(1)    Citra grafis adalah citra yang dibentuk oleh elemen-elemen visual yang kongkret di dalam ruang-waktu (garis, bentuk, bidang, warna, tekstur), seperti gambar, patung, arsitektur.

(2)    Citra optik adalah citra refleksi dari sebuah objek yang kongkret pada sebuah cermin, yang elemen-elemen visualnya tidak menempati ruang-waktu yang kongkret.

(3)    Citra perseptual adalah penampakan visual sebuah objek sebagaimana ia hadir di dalam pikiran seseorang, berupa sense datum.

(4)    Citra mental adalah elemen-elemen visual yang hadir di dalam dunia mental (pikiran), dan belum tentu ada di dalam ruang-waktu yang kongkret, seperti mimpi, memori, ide, fantasi.

(5)    Citra verbal adalah elemen-elemen yang bersifat linguistik yaitu gambaran atau lukisan yang hadir ketika bahasa verbal digunakan, baik dalam bentuk deskripsi maupun metafora.

Imagologi, dalam hal ini, tidak dapat dipisahkan dari pola masyarakat yang telah bertransformasi ke arah apa yang disebut oleh Guy Debord sebagai masyarakat tontonan (society of the spectacle). Masyarakat tontonan adalah masyarakat yang menganggap sentral peran citra dalam membentuk relasi sosialnya ketimbang teks (textual) atau oral.

Oleh sebab itu, masyarakat tontonan sangat menggantungkan diri pada pelbagai aktivitas kepenontonan (spectatorship), seperti; melihat (look), menonton (spectacle), memandang (gaze), mengintip (peep), mengamati (observation) dan menikmati (voyeour).

II

Pierre Bourdieu, di dalam Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, menjelaskan gaya hidup di dalam konteks sosial yang lebih luas. Ia melukiskan gaya hidup sebagai sebuah ruang, atau tepatnya ruang gaya hidup, yang bersifat plural, yang di dalamnya anggota kelompok social membangun semacam kebiasaan sosial mereka.

Bourdieu menempatkan gaya hidup di dalam sebuah rangkaian atau lingkup proses sosial yang lebih panjang atau luas, yang melibatkan: modal, kondisi objektif, habitus, disposisi, praktik, gaya hidup, sistem tanda dan selera.

Gaya hidup merupakan satu konsekuensi logis dari lingkup proses, dan struktur sosial yang panjang tersebut, yang menentukan bentuk dan arahnya.

dada

Bourdieu menggunakan istilah modal (capital) sebagai padanan metafora dari istilah dalam modal ekonomi, yaitu segala sesuatu yang dapat diputar atau dikembangbiakkan dalam rangka mendapatkan keuntungan (ekonomi, sosial, politik, kultural), sehingga ada modal ekonomi (uang, simpanan, aset), modal pendidikan (gelar, penghargaan), modal simbol (prestise, status, otoritas) dan modal kultural (koleksi, objek).

Kondisi objektif sangat ditentukan oleh modal yang dimiliki seseorang, yaitu kondisi keberadaan atau eksistensinya di dalam masyarakat pada umumnya, sebagai relasi dari modal-modal yang dimilikinya.

Habitus adalah prinsip generatif penilaian dan klasifikasi praktik (sosial) secara objektif, yang mampu menghasilkan seperangkat kecenderungan, yang dirumuskan melalui pertemuan kondisi objektif, modal dan sejarah personal yang menhasilkan the sense of place.

Disposisi adalah tatan kecenderungan yang menghasilkan posisi diri. Praktik adalah tindakan sosial yang di dalamnya berlangsung proses reproduksi (atau modifikasi) habitus dan disposisi dalam pelbagai bentuknya.

Gaya hidup adalah produk habitus yang diproduksi secara sistematis melalui skema habitus dan praktik. Sistem tanda adalah sebuah ruang atau dunia tempat gaya hidup itu dipertukarkan, dikirim, dan diterima serta diberi makna secara simbolik.

Selera adalah tingkat sensibilitas seorang individu (atau kelompok) dalam memberikan penilaian dan pemilihan terhadap objek-objek kebudayaan.

Sampai disini poin yang ingin saya singgung bukanlah posisi Demajors sebagai pusat pencitraan, walaupun secara tidak langsung Demajors adalah salah satu lokasi dimana gaya hidup menjadi taruhannya.

Memasuki bangunan Demajors di daerah Gandaria, pertama yang anda lihat pastilah CD yang tersusun dalam beberapa rak. Belum lagi merchandise yang lain berupa T-shirt maupun tote bag. Di dekat area parkir motor, ada 2 buah ruang yang terbuat dari peti kemas tersusun vertikal yang digunakan untuk lokasi siaran radio online.

Meskipun sampai sejauh ini saya belum melihat kehadiran meja bar atau apapun itu namanya yang fungsinya untuk bertransaksi guna menghilangkan dahaga maupun rasa lapar. Rencana ke depannya seperti apa juga saya belum tahu, mau diadakan atau tidak saya benar-benar tidak punya petunjuk.

Dan sekali lagi, tulisan ini bukan untuk meruntuhkan apalagi menjatuhkan. Karena saya jelas tidak punya kapasitas tersebut. Saya menulis dengan memposisikan diri sebagai bagian dari generasi yang tidak pernah merasakan poster, rouge maupun parc. Bbs saja baru saya kangkangi sebanyak tiga kali.

Sehingga kehadiran Demajors Gandaria (sepertinya) bisa menjadi ruang alternatif untuk para generasi yang nasibnya serupa dengan saya. Lantas untuk apa saya menggelontorkan berbagai teori tentang Imagologi, citra dan gaya hidup yang tekesan nyinyir?

Mengutip Cerita Taufiq Rahman dalam bukunya yang berjudul  ‘Lokasi Tidak Ditemukan: Mencari Rock And Roll Sampai 15.000 Kilometer” yang dirangkum dalam sebuah judul ‘(sekalilagi) Tentang Ziarah Ke Makam Punk’.

Di bab tersebut Taufiq bercerita tentang CBGB yang sudah berubah menjadi ‘John Varvatos Boutique, Bowery 315’. Dalam cerita itu hati Taufiq Rahman langsung dibuat ciut ketika membolak balik kaos The Ramones yang dilabeli 200 dolar amerika serikat, padahal menurut legenda, CBGB adalah tempat kumal yang turut membesarkan The Ramones.

Meskipun saya sendiri tidak yakin apakah John Varvatos sempat membuka buku Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste sebelum menyulap CBGB. Namun saya mengingatkan bahwa Pierre Bourdieu punya analisis yang (nampaknya) cocok dijadikan acuan untuk menyikapi (baca: mewaspadai) gejala sosial yang terus bergulir di tengah kita, telebih lagi untuk menyoroti oknum yang tidak memiliki sense untuk membuat, mengelola dan menjaga fungsi sebuah ruang alternatif.

Jadi dalam tulisan kali ini saya hanya ingin mengungkapkan kekaguman saya terhadap tim Demajors yang sudah berusaha membuat tempat keriaan ini menjadi salah satu tempat yang (menurut saya) WAJIB dikunjungi ketika anda berada di Jakarta. Dan tak lupa pihak-pihak yang sudah mendukung dengan setia membayar tiket masuk, ketika lokasi itu disulap menjadi wahana keriaan. Salut saya untuk kalian!

Mengutip mukadimmah lagu ‘Psikedelia Diskodoom’ karya Seringai dalam album Serigala Militia

“Sebuah ode untuk klub-klub kecil, dan promoter kecil yang pernah rutin membuat event music cutting edge dan band-band underrated. Venue-venue menjadi ‘rumah’, dimana kami selalu nyaman untuk datang. Dari era klub kecil seperti bb’s, parc, rouge di Jakarta hingga classic rock dan trl di bandung. Sayangnya, venue-venue ini biasanya tidak bertahan lama, dan tutup. Kami memiliki mimpi untuk memiliki venue yang mampu bertahan lama dan tetap menghasilkan.”

Dan saya yakin bahwa tim Demajors punya sense tentang pentingnya sebuah ruang alternatif sebagai sebuah budaya tanding dari generasi alternatif. Nah, sekarang biarkan saya mengetahui ruang alternatif apa saja yang terdapat di sekitarmu? Saran saya, sebarkan infonya ke siapapun yang memiliki sense tentang ruang alternatif. Semoga saja bisa bermanfaat.

 

——-
Silahkan dikomentari, itupun kalau berkenan membaca. Terimakasih
——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

26 Januari 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized