Mencermati Ali Sadikin lewat buku dan teringat ayah

Posted on February 9, 2013

0


Image

Pada bulan Februari 2013 tanggal 8, secara aturan kalender masehi ayah resmi berusia 69 tahun. 20 tahun yang lalu, saya masih berusia sekitar 5 tahun 5 bulan. Jadi sama halnya ayah sudah berusia 49 tahun ketika saya belum genap berusia 6 tahun, singkatnya saya dan ayah terpaut 43 tahun lebih 7 bulan. Hmm, cukup jauh nampaknya?

Namun saya mohon maaf sebelumnya, tulisan ini (kemungkinan besar) akan terasa sangat membosankan dan tidak ada sangkut pautnya dengan anda. Karena tulisan ini saya dedikasikan untuk ayah yang berulang tahun namun sedang tidak ada di rumah saat ini.

Sebenarnya, keluarga saya bukan tipe keluarga yang suka merayakan sesuatu. Ulang tahun, naik kelas, lulus kuliah paling sekadar mendapat ucapan selamat saja, tak ada kejutan maupun makan-makan. Semuanya lewat begitu saja seperti hari-hari lainnya, dan kami telah terbiasa.

Pernah saya merasa cukup heran ketika salah seorang teman di Hamburg, yang menurut saya menggemari keriaan, berkata kalau saya bukan orang yang membosankan. Lho, bukannya orang yang membaca buku itu adalah golongan orang yang membosankan di masyarakat kita?

Padahal saya terang-terangan berkata kepada dia “Tidak ada rencana, mungkin hanya membaca buku seperi hari-hari biasanya. Terdengar membosankan ya? Ya beginilah, saya memang orang yang membosankan.”, ketika menjawab pertanyan darinya “Apa yang hendak kamu lakukan malam nanti?”. Dia bertanya seperti itu karena saya sedang dalam mode ulang tahun.

Jadi berhubung tidak ada tradisi bersenang-senang dalam keluarga kami, tulisan ini (nampaknya) tidak benar-benar saya dedikasikan untuk ayah, tapi ada beberapa poin yang saya kira bisa dijadikan referensi tentang sejarah Indonesia pada umumnya dan Jakarta khususnya.

***

Pada tulisan yang lalu, saya sempat menyinggung soal buku yang berjudul ‘Pers Bertanya Bang Ali Menjawab’. Buku itu merupakan kumpulan wawancara dengan Ali Sadikin (mantan gubernur DKI Jakarta ,red.) yang dihasilkan dari 26 wawancara dengan media cetak, terhitung mulai tahun 1981 sampai 1995 –meskipun tidak ada satupun hasil wawancara dalam kurun 1982 hingga 1989– dimana Ramadhan K.H berperan sebagai penyuntingnya.

Tapi entah kenapa, setiap kali selesai membaca bab satu untuk menuju bab lainnya saya jadi teringat ayah. Semakin teringat malah.

20 tahun yang lalu, saya memang belum genap berusia 6 tahun tetapi saya merasa kalau otak saya sudah mulai memperlihatkan kinerjanya. Bahkan beberapa momen masih saya ingat sampai detik ini, meski itu terasa agak samar.

Saya masih ingat bagaimana ayah dan ibu sering berseberangan pendapat mengenai Soekarno. Ayah tidak menyukai ide NASAKOM & Demokrasi Terpimpin, karena itulah ia memilih untuk tidak mengidolakannya.

Sementara ibu sebaliknya, ia masih sering terngiang-ngiang semasa ia masih anak-anak, dan sempat bersalaman dengan Bung Karno di Klaten, tepatnya di areal makam Ronggowarsito. Romantisme minim substansi, pikir saya belakangan.

Kalau bicara soal wawasan dalam tatanan dunia sosial, saya lebih menjagokan ayah ketimbang ibu. Alasannya karena saya cukup banyak menerima referensi nama-nama “asing” dari dia, meskipun ujung-ujungnya saya baru tahu kalau sebagian besar diantara mereka juga orang Indonesia. Bagi saya, wawasan ayah itu cukup menyenangkan meskipun saya jarang ngobrol dengannya.

Ketika seorang teman saya di sebuah LSM pada masa kuliah membawakan buku dengan warna sampul dominan biru yang dibagian atasnya tertulis ‘GERPOLEK’, kemudian saya melakukan pengecekan untuk melihat nama si penyusun. Mendadak saya ingat kalau ayah juga suka menyebut nama si penyusunnya. Ya benar, nama Tan Malaka tidak pernah saya jumpai dalam buku diktat sampai saya lulus SMA.

Mundur agak jauh menuju saat dimana sebuah sinetron berjudul ‘Kisah Cinta Antonio Blanco’ disiarkan di (kalau saya tidak salah) AnTV, ayah justru keseringan nyerocos dengan maksud mengoreksi alur ceritanya ketimbang melihatnya dengan pasif. Itu yang terkadang membuat saya sebal sekaligus bangga.

Dan beberapa waktu lalu, ketika Najwa Shihab dalam acaranya menghadirkan sosok Sudomo. Ayah langsung terlihat agak berang dengan jawaban-jawaban yang diberikan Sudomo, mulai dari Edy Tansil hingga kasus Petrus (Penembakan misterius).

Dan setelah melihat responnya kemudian, saya merasa kalau ayah semakin aneh, ngapain juga ngomel sama TV? Iya, saya tahu kalau ayah tidak suka Sudomo. Entah pertimbangannya apa. Tapi saya pikir ngomelin televisi jelas sebuah perbuatan yang tergolong aneh.

Namun itulah ayah, ekspresinya memang sukar diredam. Sesulit untuk tidak sesumbar bahwa ia tidak memilih apapun waktu pemilu 1997, namun membawa saya dengan vespa untuk larut dalam kampanye PPP dengan dalih anti Golkar.

Sosok pegawai negeri nekat, pikir saya setelah tahu konsekuensinya apa jika pegawai negeri tidak memilih Golkar. Namun akhirnya saya mengerti pola pikir ayah, kenapa ia memilih untuk tidak memilih golongan apapun dalam setiap Pemilu. Karena sekarang saya sungguh menyesal bahwa saya turut bersumbangsih menjadikan SBY presiden sampai 2014, maaf mutlak kesalahan saya!

Menurut cerita ibu, ayah juga tergolong sering bertengkar dengan atasan selama ia bekerja di Departemen Kehutanan. Karena (masih menurut ibu) ayah bukan tipe orang yang mudah patuh atau “nurut” dengan segala instruksi atasan.

Dan lamat-lamat saya jadi ingat kalau dulu ibu juga pernah bilang “Mbok ya sabar jadi orang itu, atasan jangan dilawan.” namun ayah merespon dengan nada agak tinggi “Kalau atasan salah, ya salah! Aku gak takut.”

Entah pertimbangannya apa, hanya ayah yang tahu. Terkesan pembangkang mungkin? Entahlah, saya tetap suka adegan itu dari segi manapun. Buat saya, hal itu terasa lebih rock n’ roll ketimbang sesumbar 4 papa yang tergabung dalam the dance company.

Oya, satu hal yang tidak akan saya lupakan. Ayah juga yang memperkenalkan saya kepada Pram, meskipun tidak secara terang-terangan. Ia hanya menggeletakkan buku yang berjudul ‘Bumi Manusia’ dan ‘Anak Semua Bangsa’ cetakan pertama di kamar saya, saat saya masih kuliah semester awal.

Dari cerita yang saya dapat dari keluarga besar (ibu, om dan tante), ayah memang terbilang hobi membaca. Tapi (mungkin) seiring bertambahnya usia, ia semakin tidak pernah terlihat membaca. Malah sekarang kesibukannya hanya menonton TV saja, sambil sesekali ngedumel kalau sudah ketemu tajuk politik. Lucu dan (sekali lagi) menyebalkan.

Tapi sesekali ayah masih suka mengetik dengan menggunakan mesin ketik manual dan seperti yang bisa dibayangkan, gaduhlah rumah kalau ayah sudah memulainya.

Terakhir saya mencoba curi lihat mengenai apa yang ditulis ayah, dan hasil pengintaian saya adalah ayah menyinggung pasal 28 UUD 1945 yang poinnya tentang hak setiap warga negara untuk berkumpul, berserikat dan berpendapat.

Masih banyak sebenarnya nama yang sering disebut-sebut ayah, mulai dari Snouck Hurgronje hingga Bing Slamet. Tapi selain Soekarno, nama Ali Sadikin merupakan salah satu nama yang paling sering disebut ayah dan sekaligus menciptakan kesan bangga dalam metode penyampaiannya.

Suatu kali pernah saya iseng-iseng bertanya, kalau tidak salah itu saat ramai-ramainya Pilkada DKI.

“Ayah pertama kali ke Jakarta, kapan?”

“Tahun 1958.” jawabnya mantap

“Hah? 1958? Umur 14 dong yah?” respon saya

“Iya, waktu itu patung selamat datang juga masih belum ada. Jakarta masih sepi, Senen itu tempatnya bajingan.”

“Lama yah di jakarta?”

“Enggak waktu itu cuma main aja. Terus pas kuliah baru ke Jakarta lagi, udah mulai beres Jakarta. Waktu itu Ali Sadikin gubernurnya.”

“Berarti ayah juga ngerasain PRJ yang pertama?”

“Iya, masih di Monas waktu itu.”

Setidaknya hanya itulah percakapan yang sanggup saya ingat. Dan darisanalah timbul keinginan saya untuk mencari tahu tentang siapa Ali Sadikin, dengan motivasi: “mengapa ayah bisa terlihat bangga saat menceritakannya?” Padahal sepengetahuan saya, ayah tidak pernah bersalaman dengan Bang Ali.

Sehingga bukan tanpa alasan kalau saya “mencurigai” Ali Sadikin ini pasti punya sesuatu yang membuat ayah terkesima. Sebab ayah saya cenderung kolot, Soekarno pun tak bosan-bosannya ia kritik. Lantas kenapa Ali Sadikin bisa membuat luluh?

****

Akhirnya beberapa tahun kemudian saya mendapatkan jawabannya setelah menuntaskan buku kumpulan wawancara yang berjumlah 300 sekian halaman itu. Meskipun ada beberapa poin yang yang tidak menarik, sebab ditanyakan berulang-ulang. Tapi bagi saya buku ini seperti sudah siap menjadi martir jika mengacu pada tahun cetaknya, 1995.

Mengenai keputusannya yang sering dianggap kontroversial oleh media perihal perjudian dan pelacuran yang dilegalkan, saya tidak ambil pusing. Karena saya lebih condong untuk menggolongkan itulah keputusan yang rasional, dan Bang Ali dengan jujur menjawab:

“Kalau umat Islam ikut judi, artinya ke-Islam-an orang itu yang bobrok, bukan Gubernurnya!“

“Ini tanggung jawab saya di akhirat. Saya akan bilang ke Tuhan ada 300 ribu anak yang tidak sekolah dan 3 juta warga yang miskin.“  nah, inilah jawabannya perihal pelegalan pelacuran di Kramat Tunggak.

Sebenarnya banyak yang ingin saya bagikan dari buku tersebut, seperti:

  • Apa sebenarnya Petisi 50 itu,
  • Pencekalan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap tokoh petisi 50,
  • Komite Anti Korupsi,
  • Menyuruh para Ulama naik helicopter karena jalan yang dibangun di Jakarta diambil dari uang pajak judi,
  • Isi pidato Presiden Soeharto 16 Agustus 1967 yang dianggap mengejutkan,
  • Tujuan Orde Baru yang menyimpang dari cita-cita awalnya,
  • Pemusatan kekuasaan pada satu tangan, dimana dulu namanya pemimpin besar revolusi dan dirubah menjadi presiden mandataris MPR,
  • Pancasila yang digunakan sebagai senjata oleh pemerintah,
  • Golkar yang dibentuk oleh ABRI (diantaranya Nasution & Yani),
  • Menakut-nakuti rakyat dengan tuduhan komunis,
  • Hingga konsep menjakartakan orang Jakarta.

Sebenarnya data-data tersebut (sepertinya) berseliweran di internet, Sehingga cuma satu poin yang ingin saya kutip mentah-mentah dari buku tersebut;

“Dulu tidak ada larangan buat Rendra, saya tanggung jawab! Saya tahu, Rendra tak akan mengakibatkan rakyat berontak. Kalau kita sudah berani jadi pemimpin pemerintahan, jangan takut dikritik, dong! Jangan kehormatannya saja, yang jelek pun harus mau terima …”

Dalam wawancara itu bang Ali merasa perlu ada yang mengawasinya juga sebagai gubernur, selain pemerintah pusat, ulama dan media. Atas dasar itulah Bang Ali mendirikan Taman Ismail Marzuki, Institut Kesenian Jakata dan Dewan Kesenian Jakarta sebagai wadah untuk para seniman. Sosok yang dipercaya Bang Ali sebagai pengawas kinerja gubernur.

Sebelum saya semakin melantur dan anda semakin menilai kalau saya mengada-ada, saya pikir akan lebih bijak kalau anda menyaksikan sendiri beberapa video yang menampilkan sosok Ali Sadikin.

Biografi Ali Sadikin ke 1

Biografi Ali Sadikin ke 2

Biografi Ali Sadikin ke 3

Biografi Ali Sadikin ke 4

Episode 62 – Ali Sadikin – part 1

Episode 62 – Ali Sadikin – part 2

Episode 62 – Ali Sadikin – part 3

Episode 62 – Ali Sadikin – part 4

Gubernur Legendaris Ali Sadikin

Ali Sadikin “Bapak Pendiri IKJ”

Selamat ulang tahun yah, semoga tetap sehat dan semakin sabar! Agung gak akan bilang semoga panjang umur, soalnya ayah bukan tipe orang yang suka mendengar omong kosong.

Dan terimakasih sudah berulang kali memperkenalkan sosok yang berprinsip dan berkarakter, meskipun (cenderung) tidak pernah secara langsung.

Ayah memang gak salah kalau mengidolakan Ali Sadikin, sosok yang tegas dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat mayoritas terlepas dari faktor dimana pun ia berdiri, entah itu di dalam maupun di luar sistem.

 

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

09 Februari 2013

Advertisements
Posted in: Agung Rahmadsyah