Id: Serigala, Tingkah: Malu-malu kucing

Posted on February 14, 2013

0


Jika ada beberapa pihak yang mengganggap adegan tembok yang (akhirnya) runtuh dalam film maupun konser visual Pink Floyd yang berjudul The Wall sebagai sebuah kehancuran Super Ego, maka saya nyatakan bahwa Serigala adalah Id yang cocok untuk segenap penggemar Seringai.

Image

font Seringai yang nampak unyu di at america

Homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya), pikiran ini tentu bertolak belakang dengan homo homini socius (manusia adalah rekan bagi sesamanya). Pemikiran yang kedua ini ditaruh untuk mengkritik, mengoreksi, dan memperbaiki sosialitas preman; sosialitas yang saling mengerkah (memakan –red), memangsa, dan saling membenci dalam pemikiran yang pertama.

Pemikiran homo homini socius ini seraya mengingatkan saya pada pendapat seorang teman yang merespon tulisan sejumlah tiga halaman yang saya kirim lewat surat elektronik itu seperti jurnal Driyarkara. Hahaha sial, saya saja baru mengerti dari anda kalau Sekolah Tinggi Filsafat di Jakarta itu bernama Driyarkara.

Tapi memang benar, terkadang saya suka memikirkan sesuatu dengan rumit, dan tak jarang pula saya tidak menyukai cara tersebut. Dan nampaknya kita semua berperilaku seperti itu kan? Dan saya pikir ini erat kaitannya dengan perkara kegemaran kita secara personal saja, sederhana dan normal.

Mungkin anda sangat suka mengotak-atik angka dalam rumus tertentu? Saya tidak. Mungkin anda tidak suka membolak-balik halaman koran setiap hari? Saya suka. Mungkin anda merasa sangat perlu menonton televisi dalam seminggu? Saya merasa tidak memerlukannya. Mungkin anda tidak merasa perlu berfilsafat karena hanya akan menambah beban dalam hidup? Saya malah sebaliknya.

Baiklah, saya hapus kata-kata filsafat jika itu terkesan seperti pagar yang menjulang. Anggap saja saya suka berpikir atau bertanya yang (cenderung) tidak pada tempatnya. Namun menurut logika sederhana versi saya, kalau kita menggemari sebuah hal pasti kita tidak akan merasakan bahwa cara yang kita tempuh itu sebenarnya tergolong rumit bagi orang lain di luar lingkup kita.

Ambil contoh membuat kopi. Ada seorang teman yang memberi tahu saya kalau untuk mendapatkan rasa yang pas, suhu airnya jangan melebihi 90 derajat celcius. Ditambah lagi perbandingan antara kopi dan gula untuk satu cangkir. Terdengar rumit kan? Kenapa tidak langsung beli kopi sachet saja, bukankah itu sudah sesuai takaran untuk satu kali sajian? Tapi itulah yang namanya kegemaran, sensasi dan rasanya jelas beda bagi siapa pun yang menggemarinya.

Nah, sebelum tulisan ini menjelma menjadi hal yang rumit ada baiknya bagi anda (yang tidak menyukai ke-rumit-an) untuk segera mengakhirinya di sini. Intinya saya hanya ingin menulis tentang Seringai, penggemarnya dan sebuah pertunjukan pertama mereka di dalam mall.

 

Entah karena lokasi atau hal lain, (pertunjukan) yang ini kurang seru

Pada hari sabtu, 9 februari 2013, saya harus terburu-buru menuju at America dan meninggalkan seri kedua kuliah umum Filsafat Etika Dari Yunani Hingga Jawa yang dipimpin oleh Franz Magnis Suseno.

Padahal kalau dikaitkan dengan sensasi, sesi kali itu baru berlangsung satu jam dengan penjelasan dari Romo Magnis dan masih tersisa satu jam lagi untuk sesi tanya jawab, temanya juga menarik ‘Etika Deontologis: Immanuel Kant’ yang telah dirangkum dalam makalah sejumlah 4 lembar dengan judul ‘Moralitas dan Otonomi: Immanuel Kant’.

Alasan saya ikhlas meninggalkan sesi tersebut hanya karena ingin menonton Seringai dan enggan terlambat. Tak perlu dibahas Seringai itu apa, cukup katakan kalau saya penggemarnya. Selesai urusan!

Image

di ruang tunggu, sebelum manggung

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke at America, sebelumnya saya sempat ke sana untuk melihat pertunjukan Jogja Hip Hop Foundation dan sebuah diskusi yang entah apa temanya saya sudah lupa. Tapi kemarin, agak membuat saya kehilangan mood untuk merespon Seringai seperti biasanya.

Selain karena faktor pemeriksaan yang (menurut saya) standarnya cenderung berlebihan, hal lain yang menjadi penyebabnya adalah penontonnya juga kurang seru. Setelah mendapatkan gambaran samar Guantanamo, selanjutnya terjebak dalam situasi menyaksikan teater di Taman Ismail Marzuki.

Yang pasti setelah ‘Canis Dirus’, entah saat ‘Amplifier’ atau ‘Dilarang di Bandung’ berkumandang, saya langsung berdiri dari tempat duduk. Namun begitu saya lihat sekeliling dan kawanan Serigala berkostum (nyaris) serupa itu masih nampak santai menyaksikan Seringai dengan pantat yang menempel, rasanya saya ingin meniru sebuah kata yang Arian lakukan berulang-ulang di atas panggung.

Tapi yasudahlah, toh ini bukan tipikal tempat yang biasanya menyuguhkan musik-musik macam Seringai. Bisa saya maklumi. Akhirnya saya memilih untuk berdiri di pojok dekat tirai yang menjadi pintu masuk sembari sesekali bernyanyi, saya merasa sedikit lebih lega ketimbang duduk sambil menghentak-hentakkan kaki.

Bagi yang sudah pernah melihat Seringai manggung, tak usah dibicarakan seperti apa penampilan Seringai. Seperti biasanya, melawak! Tapi kali ini jauh lebih tragis dan saya sepakat dengan apa yang Arian bilang: “Gue di sini kaya lagi stand up comedy, tapi diiringi band.”

Image

penampil aktif. penonton?

Sebuah kekonyolan diperagakan Arian saat ia bercerita pertama kali bertemu Ricky. Dengan logat sundanya, ia benar-benar mirip pemeran kabayan yang tiba di metropolitan. Ditambah lagi saat debat tak jelas dengan Khemod perkara suku sunda kuno yang diperagakan Arian seperti suku Indian. Hahaha, brengsek! (sekali)

Adegan paling lucu adalah ketika Arian berbicara dengan bahasa arab (entah ngawur apa benar) kepada Ricky. Ini mengingatkan saya dengan sebuah adegan di film The Dictator saat Admiral General Aladeen berada di dalam helikopter dan berbincang soal porsche yang diberi nama 911 dengan bahasa arab. Haha, brengsek! (dua kali)

Sebelum Khemod berbisik-bisik kepada Arian untuk mengajak penonton untuk beranjak dari tempat duduknya, yang malah disambut Arian: “Ngapain mod? Biarin aja lagi, orang mereka senengnya gitu”, ada sebuah adegan yang paling oke.

Adalah ketika Arian bilang: “Apa, segitu doang? Lo enak gak ngapa-ngapain. Kaya gini ini ngingetin gue sama yang sering terjadi di twitter. Nge-retweet soal berita menentang pembangunan mall, tapi selesai nge- retweet langsung panik begitu liat ada diskon di zara.” Memang sih disampaikan dengan kemasan guyon, tapi (buat saya) ini serius ngemplang. Hahaha, brengsek! (tiga kali)

Akhirnya, 4 atau 5 lagu terakhir lahan kosong di depan menjadi sebuah ajang unjuk keriuhan. Dari kejadian-kejadian itulah saya mulai menganalisis. Analisis mengada-ada sebenarnya, tapi ini serius. Serius mengada-ada!

 

Wolf Battlefield

Bagi saya, pemilihan hewan sebagai sebuah metafora maupun simbol adalah sebuah hal yang sakral. Kenapa? Sebab saya masih yakin kalau hewan adalah guru terbaik manusia (selain alam dan gelagatnya) yang dicipta oleh Tuhan. Buat yang sekuler, silahkan dipermasalahkan sendiri dengan unsur lain di luar tuhan. Mencret jejaka kosmos mungkin? Silahkan.

Dan serigala adalah salah satu hewan (nyata) yang sakral versi saya, disamping gagak. Mitos mengenai serigala sudah berlangsung selama cerita lisan mulai digulirkan dalam aspek kehidupan manusia, dan itu memiliki sejarahnya sendiri. Siapa diantara kita yang belum pernah mendengar Werewolf (manusia serigala)?

Di yunani, Herodotus mengisahkan dalam karyanya Histories bahwa di Syctia ada sebuah suku yang bernama Neuri dimana setiap tahun orang-orangnya menjelma menjadi serigala untuk beberapa saat sebelum akhirnya berubah lagi menjadi manusia.

Entah dengan alasan apa Herodotus menuliskan kisah ini, tapi saya sejenis tidak menyukainya. Namun berbeda dengan dengan industri film eropa-amerika, justru berangkat dari kisah inilah akhirnya film tentang manusia serigala diproduksi dan dikembangkan.

Pausanias, seharusnya nama inilah yang ditilik untuk sebuah asal muasal lycanthrope (manusia serigala dalam bahasa yunani –red) sebab kisah tentang manusia serigala versi Pausanias tidak hanya berguna sebagai dongeng pengantar tidur ataupun kisah menyeramkan untuk membuat anak menjadi patuh.

Dalam tuturan Pausanias, Lycaon adalah raja dari Arcadia yang dikutuk oleh Zeus menjadi serigala karena ia benar-benar membunuh anaknya yang bernama Nyctimus saat ia diuji oleh Zeus dan bodohnya Lycaon adalah, Nyctimus disajikan dalam rupa hidangan di hadapan bapak dari segala dewa itu.

Jelas saja Zeus mengamuk dengan ulah Lycaon, sang raja Arcadia itu. Setelah ia mengutuk Lycaon menjadi serigala, Zeus juga membunuh ke 49 anak Lycaon dengan petir karena khawatir akan mewarisi sifat dan perbuatan bapaknya. Di akhir cerita akhirnya Zeus menghidupkan lagi Nyctimus. Kisah tentang Lycaon “diaransemen” menjadi nama sebuah kota di Yunani yang bernama Lycosura.

Saya jadi berpikir, mungkin saja istilah homo homini lupus yang diperkenalkan Titus Maccius Plautus ini berasal dari kearifan lokal Yunani kuno? Entahlah.

Baiklah, mungkin ada yang jengah dengan kisah karya ahli ilmu bumi dan penjelajah bernama Pausanias? Entah itu kerena cara saya menyampaikan atau karena menganggap bahwa karya fiksi adalah sekadar fiksi belaka. Sekarang saya punya penawarnya, yakni film dokumenter buatan BBC yang berjudul ‘Wolf Battlefield’.

Film ini sebenarnya juga kisah, bahkan narator berkata bahwa: “Film ini memang dikisahkan, namun kisah ini berdasarkan fakta yang digalang oleh tim BBC” Sekadar informasi, film ini adalah bagian dari seri Wild Battlefield, disamping Polar Bear Battlefield, Lion Battlefield & Shark Battlefield.

Sebuah hal yang saya suka dari Wolf Battlefield adalah kata pembukanya! Biar saya tuliskan apa yang diucapkan oleh narator; “Ini cerita tentang salah satu pemangsa teratas. Bagaimana ia menggunakan stamina, intelegensi, dan kegigihannya untuk hidup. Untuk pertama kali, anda dapat kan sudut pandang luar biasa dari serigala dan dunianya. Anda akan saksikan tekanan dan keberhasilan mereka sebagai tim”

Nah, sudah dapat poinnya? Stamina, intelegensi dan kegigihan. Oh, hampir lupa: tim. Keempat faktor inilah yang membuat serigala menempati posisi teratas dalam kategori pemangsa, dan yang disebutkan terakhir adalah yang terpenting. Sebab stamina, intelegensi dan kegigihan sama dengan sosok serigala itu sendiri. Sekarang tinggal urusan bekerja sebagai tim, serigala sendirian jelas tidak berbahaya bahkan bagi seekor rusa sekalipun.

Berkaitan dengan yang saya lihat kemarin di at America, saya seperti tidak melihat hal tersebut. Baiklah, alasan bersenang-senang bisa dijadikan tameng. Tapi bukannya sebuah pesta tanpa kerja tim, sama halnya dengan masturbasi?

Empat orang yang tergabung dalam band bernama Seringai itu nampak benar-benar seperti stand up comedy, bahkan band-band yang hadir di acara tv pagi mendapat sambutan yang lebih heboh ketimbang mereka, terlepas adanya peran seorang floor director. Tapi orang bodoh mana yang membutuhkan floor director untuk sebuah pertunjukan musik rock?

Saya tidak ingin berkomentar perkara seberapa besar kekaguman mereka terhadap Seringai, sebab indikasi itu jelas. Hampir semua yang datang kesana menggunakan atribut Seringai, entah itu vest, t-shirt, topi atau apapun itu. Mungkin saya tergolong sekelumit orang yang tidak menggunakan atribut bertuliskan SERINGAI.

Saya tidak akan memperkarakan kerja tim seperti apa yang harusnya dilakukan, karena itu jelas pilihan si orang yang bersangkutan. Terasa akan percuma kalau bicara soal tim dengan orang yang individual, lagipula saya tidak mengetahui apa kegiatan mereka di luar. Bisa saja kalau sebagian besar dari mereka bekerja di pusat volkanologi dan mitigasi bencana.

Berkaitan dengan Id dan Superego yang saya sebutkan di paragraf paling atas, pasti ada diantara kalian yang mengaitkan dengan teori tentang komponen pikiran dari Sigmund Freud? Benar. Itu dari beliau, namun saya punya pendapat lain yang tak penting.

Freud mengandaikan bahwa Id adalah lokasi dari dorongan-dorongan dan impulsi-impulsi instingtif kita (dalam psikologi pop kerap disebut inner child.) Id dikendalikan oleh prinsip kenikmatan – ia tak punya pemahaman akan realitas dan tak punya batasan diri. Id semata merupakan kumpulan hasrat-hasrat liar yang tanpa koordinasi dan tak terkontrol.

Selanjutnya Freud menerangkan Ego dan Superego sebagai dua hal yang saling mengendalikan. Ego mencoba mengendalikan Id saat dalam tatanan masyarakat yang realistis, tapi jika manusia menyendiri dan kalut oleh perasaan maka Id yang akan mengunyah Ego. Untuk itulah Superego (seperti) bersekutu dengan Ego diperlukan untuk mengendalikan Id.

Saya tidak akan melanjutkan dengan eksplanasi konsep kepribadian anal, dua strategi utama untuk mengontrol insting dan akhirnya (besar kemungkinan untuk) berujung pada neurosis.

Saya hanya ingin menyimpulkan bahwa Id itu seperti insting dalam dunia diluar manusia, khususnya hewan, dan insting yang kali ini dibahas dari perspektif serigala. Biarkan persoalan manusia diurus oleh psikolog, sosiolog, dokter, maupun antropolog.

Lantas apa sajakah insting serigala? Apapun jawabannya, asalkan itu bisa membuat ia digolongkan sebagai salah satu pemangsa kelas atas. Muda, berbahaya, skeptis, merapatkan barisan, menyerang, pikiran yang terbuka, dan lainnya hingga ke cara bersenang-senang sekalipun.

Sebelum menutup, perkenankan saya memberikan dua kebudayaan kuno yakni celtic dan native america yang mencantumkan serigala dalam siklus zodiak versi mereka. Dan penjelasan tersebut, menurut saya sama sekali tidak mencerminkan sifat buruk atau perilaku destuktif dari serigala.

Pertanyaan bagi para serigala, lagu Seringai apakah yang mencerminkan sebuah tindakan yang destruktif (khususnya bagi diri sendiri)? Apakah ‘Lencana’, ‘Membakar Jakarta’, ‘Mengadili Persepsi (Bermain Tuhan)’, ‘Skeptikal’, ‘Infiltrasi’, ‘Lagu Lama’ atau ‘Mengibarkan Perang’?

Image

handit mi galasmi.. Lissoi

 

——-
Silahkan dikomentari, itupun kalau berkenan membaca. Terimakasih
——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

14 Februari 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized