Ini soal karya dan benar-benar perkara signature

Posted on February 16, 2013

2


Image

“Iya juga sih, jadi emang kaya di musik aja ya? Harus punya signature juga.”

“Nah! Bener!”

Begitulah Oscar Motuloh menghentikan laju pertanyaan sekaligus pernyataan Hotma Roni, pada Jumat sore tanggal 15 Februari 2013. Percakapan itu terjadi di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) daerah Pasar Baru-Jakarta Pusat, tepatnya di depan meja bar neo journalism café saat kami bertiga secara tidak sengaja mengerucutkan topik pembicaran menuju fotografi.

“Sekarang gini” lanjut Oscar seperti tak bisa diselak “Kalau lo moto pemandangan dengan tujuan mau jadi kaya yang di National Geographic, terus ngapain? Orang mereka (National Geographic –red) udah punya fotografer di seluruh dunia, keren-keren lagi. Ya gak?”  Tanya Oscar, dan kami berdua pun cuma mengangguk-angguk.

“Gue sering banget dikasih liat foto sama orang yang habis jalan-jalan kemana, terus dia minta tolong dikurasi. Dari situ gue lihatnya cuma National Geographic, “terus lo-nya dimana?” Gue gak liat lo ada di sana.”

“Dulu waktu 98 (Peristiwa kerusuhan 1998 –red) beberapa mahasiswa yang masuk gedung MPR/DPR ada yang sibuk foto-foto, tapi mereka pingin memperlihatkan fotonya dengan sudut pandang wartawan. Ngapain coba? Orang wartawan jelas udah lebih canggih.”

“Harusnya mereka tuh ngambil (memotret –red) yang gak keambil sama wartawan. Misalnya pas lagi ngapain kek gitu; jogged-joged di atas meja, jemur kolor di meja rapat atau apalah. Kalau mereka ngambil dengan perspektif wartawan, ya jelas gak menariklah.” Oscar berujar, seperti ada sedikit penyesalan sekaligus peringatan dalam nadanya.

“Sebenernya foto dokumenter yang bernilai itu sering tercipta dari momen-momen yang dianggap pelakunya tidak penting. Contohnya drummernya Grateful Dead, dia tuh yang cukup aktif mendokumentasikan. Foto-fotonya si kalau buat mereka itu biasa kali ya? Kaya si ini lagi benerin celana lah, atau si ini lagi nyuntik. Tapi itu kan pemandangan yang gak bisa di dapet sama semua orang. Apalagi buat penggemarnya Grateful Dead, foto-foto itu pasti berharga. Ya gak?”

“Tuh Meng, foto-foto lagi udah!” Sambut saya seperti menyudutkan Hotma Roni untuk memulai kegiatan yang sempat membuat ia meninggalkan musik selama beberapa tahun.

Oya, bagi yang belum tahu siapa itu Oscar Motuloh silahkan klik link berikut ini. Setahu saya dia masih disibukkan dengan kegiatan kurasi foto, khususnya yang akan di pamerkan GFJA. Sambil seringkali memberikan kata pembuka dalam pameran maupun tulisan-tulisan di web GFJA.

Saya tidak akan bercerita tentang siapa itu Oscar Motuloh, yang pasti orang ini adalah salah satu dari 4 orang Indonesia yang membuat saya berpikir berkali-kali sebelum menekan rana di kamera (baik digital maupun analog). Ketiga orang lainnya adalah (alm.) Julian Sihombing, Tantyo Bangun dan Seno Gumira Ajidarma.

Gue pernah ikut worksop lo bang, pas di UNS Solo tahun 2008.” Ujar saya ketika diperkenalkan oleh Hotma Roni kepada Oscar Motuloh.

“Oh, iya! Inget gue. Yang rame-rame di hall itu kan?”

“Iya, waktu itu lo pematerinya bareng Almarhum (Julian Sihombing –red) dan Tantyo Bangun. Gara-gara workshop itu gue jadi mikir tiap mau motret. Apalagi ketambahan baca bukunya Seno (Seno Gumira Ajidarma –red) yang Kisah Mata, gue makin tambah mikir. Akhirnya gue gak motret-motret lagi sampe sekarang.” Seloroh saya sok asik.

“Ah Itu sih, alasan lo aja! Tapi bukunya Seno yang itu (Kisah Mata –red) emang tesis buat kuliah filsafatnya, jadi wajarlah kalau ngehe.” Oscar menutupnya dengan tawa.

Dan kamipun cuma tergelak saja pada akhirnya, meskipun saya mengiyakan dalam hati bahwa itu cuma alasan saja. Padahal aslinya saya sudah (sejenis) malas dengan kegiatan fotografi khususnya yang berlangsung belakangan ini. Dan saya rasa cukup, tidak perlu dibahas di sini karena nanti ada waktunya. Bukan saya yang bicara, tapi (Alm.) Julian Sihombing.

 

(Sejenak) Mengenang Julian Sihombing

Sebenarnya saya datang ke GFJA hanya dengan satu tujuan menonton float. Saya sungguh tidak tahu menahu tentang adanya pameran foto apalagi sesi diskusi, dan saya memutuskan untuk datang lebih “pagi” karena ingin ngobrol-ngobrol dengan personel float.

Kalau dijadikan kata penutup, singkatnya saya merasa kalau hari itu indah, istimewa, atau apalah yang deskripsinya serupa. Tapi saya jadi teringat ucapan salah seorang teman ketika sudah meninggalkan GFJA pukul 23:45 WIB; “Remember, this too will pass.” Entah ia mengutip darimana, tapi saya rasa ada benarnya juga. Apalagi jika teringat kata-kata itu saya telinga saya langsung otomatis mendengungkan nyanyian Roger Waters di lagu ‘Another Brick In The Wall (Part 1)’ yang berbunyi “Leaving just the memories”.

Memasuki pintu masuk GFJA, mata saya langsung ditabrakan dengan foto (Alm.) Julian Sihombing yang sedang tersenyum dengan tangan terbuka lebar. Dengan sigap saya langsung berpikir; “Jangan-jangan pamerannya masih berlangsung?” dan benar saja, ketika menilik sisi kanan dan kiri saya melihat foto-foto yang tidak asing di ingatan saya. Itu karya Julian Sihombing!

Tanpa memedulikan janji saya untuk tiba pukul 4 sore dengan maksud melihat float soundcheck, padahal saya sudah terlambat 15 menit, saya langsung mengitari ruangan tengah lantai 1 GFJA. Tidak bisa dipungkiri, saya sungguh terpana dengan foto-foto yang dipamerkan.

Mengutip ucapan Bontel (personel float) kepada Meng “lo harus liat Meng, fotonya planet-planet!”  Saya mengerti mungkin maksudnya adalah karya Julian Sihombing itu bagus atau bahkan tergolong ajaib, tapi kenapa memilih kata ‘planet-planet’ sih? Hahaha, singit!

Rasanya tidak perlu ditulis secara mendetail, biarkan foto saja yang menjelaskan. Semoga foto yang saya hasilkan ini bisa menjelaskan betapa besarnya kekaguman saya terhadap Julian Sihombing. Sama seperti motivasi Hotma Roni ketika mulai memotret, Ia juga terobsesi dengan karya-karya Almarhum.

Oh iya, ini ada tulisan Oscar Motuloh tentang Julian Sihombing. Silahkan dibaca jika berkenan. Karena saya percaya, jika Julian bukan orang yang hebat maka tidak mungkin ia dibuatkan pameran setelah kepergiannya dan para musisi atas nama Blues 4 Freedom pun saya yakin tidak mungkin mau terlibat dalam proyek JS’s PLAYLIST.

Image

Silahkan baca pernyataan Julian Sihombing pada paragraf 4, baris ke 9-12. kalau belum jelas, biar saya tuliskan lagi:
“Masa motret para koruptor keluar dari pintu belakang mobil mewahnya, para pewarta foto memberondongnya dengan ratusan frame. Mereka mestinya tahu benar mana yang fotografi dan mana yang bikin film.”

Image

Bayang-Bayang

Image

Lemari berisi barang (alm) Julian Sihombing

Image

Salah satu ruang dari lemari tersebut

Image

Sisi sebelah timur dari ruang pameran

Image

silahkan definisikan sendiri

Image

foto ini mengingatkan saya pada sebuah judul album Pink Floyd; Obscured by Clouds

Image

karya (alm) Julian Sihombing yang sempat menggemparkan Indonesia tahun 1998

Image

sedikit penjelasan dari foto sebelumnya

Image

suasana sesi diskusi

Image

JS’s PLAYLIST

 

Nonton float lagi? Ya, ngapung lagi!

Image

jadi kesimpulannya adalah???

Foto di atas adalah foto yang membuat Bontel, Meng dan saya tertawa tanpa aturan saat menunggu soundcheck dilaksanakan. Brengsek banget kan karya kartunis G.M Sudarta? Cadaaaaas!

“Apa album Pink Floyd favorit lo?” Tanya saya ke Bontel ketika minuman pesanan saya tiba.

“Aduh, ape ye?”

“Album lho ini, bukan lagu.” Ucap saya menegaskan pertanyaan

“Mampus lo Tel! Pertanyaannya dia susah-susah emang.“ Sahut Meng seperti menyudutkan sobat karibnya itu.

“Dark Side of The Moon!” Akhirnya Bontel bisa menjawab setelah berpikir beberapa saat.

Sehari sebelum hari jumat, saya terbangun pukul 07:30 dan langsung membuka facebook. Kemudian disana saya melihat float memberikan kabar kalau besok, mereka bermain di GFJA. Tanpa banyak banyak basa-basi saya langung bertanya ke Hotma Roni via sms.

“Bang, besok lo main di antara? Jam brokap?”

“Yoi, jam 9 malem. Datenglah! Gue pengen ngenalin lo ke Bontel, siapa tau jodo.”

Begitulah bunyi pesan singkat yang saya kirim dan saya terima, sebelum akhirnya bertanya soal soundcheck pukul berapa dan lain-lain. Dan darisinilah alasan saya datang lebih pagi bermulai. Saya ingin berbincang dengan Bontel, yang konon masih punya hubungan darah dengan Jaya (Gitaris Roxx -red).

Tapi saya tidak ingin mempersoalkan itu, sebab saya yakin kalau tiap orang itu berbeda. Jadi sepertinya tidak etis kalau dibanding-bandingkan dengan sanak keluarganya. Oh, selain Bontel, saya juga ingin berbincang dengan Remon. Salah seorang personel float era awal, disamping Meng dan Bontel tentunya.

Image

float saat soundcheck. (Kanan ke kiri: David, Bontel, Meng, Remon, Wizra)

Perbincangan kami berkembang secara tidak karuan, maklum karena faktor menunggu dan kedinginan akibat pendingin ruangan yang menurut kami terlalu kejam. Selain Meng, Bontel dan Remon. Ada juga David, Wizra, seorang kawan saya dari Malang dan nyonya Remon (aduh maaf mba, saya serius lupa namanya).

Nampaknya cerita tentang sesi diskusi yang dimulai pukul 19:00 dengan pembicara Riri Riza, Danu Kusworo dan John Suryaatmaja lebih baik dilewatkan saja. Dan bagaimana kalau langsung menuju sesi berikutnya? Showcase float yang mundur sekitar setengah jam dari jadwal yang direncanakan.

Waktu itu tahun 2010, dan tiga orang inilah yang saya lihat di tempat yang sama, GFJA. Saya lupa tepatnya bulan apa, tapi saya ingat kalau saya harus buru-buru menuju GFJA setelah pulang dari liputan. Dan benar saja, penonton membludak.

Maka atas dasar itulah akhirnya pada 15 Februari 2013, saya memutuskan untuk duduk rapi sejak pukul 21:00 dengan pertimbangan enggan terjerembab dalam keadaan yang sama. Karena saya bukan hati, yang setia dengan kecerobohannya untuk disakiti berulang-ulang. Anjiiiing!! Kenapa jadi curcol?

“Lagi! Lagi! Lagi! Lagi!” itulah suara mayoritas yang terdengar ketika float beranjak untuk menyudahi pertunjukannya, sehingga memaksa kelima orang itu untuk memberikan sebuah lagu terkahir. Dan lagu yang dimainkan adalah ‘Stupido Ritmo’, lagu yang sudah dimainkan sebelumnya.

Dari sini saya jadi ingat jawaban Meng ketika saya tanyakan perihal pertunjukan mereka minggu lalu di Red White café daerah Kemang yang terpaksa saya lewatkan karena saya ditempat lain bersama Seringai.

Ada beberapa hal yang menarik untuk saya tuliskan di sini, karena tidak semuanya saya deskripsikan. Akan jadi panjang tentunya, dan membosankan pastinya.

Pertama adalah ketika senar kedua gitar akustik Bontel putus. Seperti sudah kehabisan gaya, Meng berinsiatif untuk memainkan sebuah lagu dari The Beatles yang berjudul ‘Black Bird’. Tentunya hanya beberapa penonton saja yang terlihat khusyuk bernyanyi.

Kedua adalah, ketika Bontel tidak kunjung selesai mengurusi perkara senar gitarnya, Meng memutuskan untuk memainkan sebuah lagu lagi dari The Beatles yang berjudul ‘In My Life’. Lagu ini membumbungkan ingatan saya kepada outro tulisan Oscar Motuloh tentang Julian Sihombing. Agak sentimental jadinya saya pada waktu itu.

Ketiga adalah saat Bontel memainkan intro lagu ‘Wish You Were Here’ nya Pink Floyd, tapi tidak dilanjutkan. Dan ketika saya meminta untuk melanjutkan malah saya disuruh nyanyi oleh Bontel & Meng ke atas panggung. “Gila apa?” pikir saya. Bisa habis saya dirajam, saya masih cukup logis untuk tidak merusak suasana dengan kemampuan saya yang nihil ini.

Ini adalah setlist float di GFJA, 15 Februari 2013. Saya mencatat berdasarkan ingatan saja, karena saya tidak meminta setlist resmi dari mereka. Jadi mohon maaf jika ada kesalahan.

  • 3 Hari Untuk Selamanya
  • Tiap Senja
  • Black Bird (The Beatles Cover)
  • In My Life (The Beatles Cover)
  • No Dreamland
  • Stupido Ritmo
  • Indah Hari Itu
  • Song of Seasons
  • Pulang
  • The Prophecy
  • —istirahat–
  • Ke Sana
  • Too Much This Way
  • I’ll Write Your Name Band’s on the Wall
  • Waltz Musim Pelangi
  • Lucy In The Sky With Diamond (The Beatles Cover)
  • Sementara
  • Surrender
  • Stupido Ritmo (Encore)

Sebenarnya masih ada beberapa hal yang layak dituliskan, ketika sebuah pertunjukan dapat dikategorikan berlangsung dalam konteks manusiawi. Float juga terdengar beberapa kali bermain tidak kompak, bahkan cenderung bercanda. Sering kali malah!

Image

yak, mulai!

Image

Bontel, Meng, Remon.

Contoh lainnya ketika Meng menyebutkan judul lagu ‘Indah Hari Itu’ menjadi ‘Ini Hari Itu’, atau ketika memperkenalkan David dengan menyebutkan instrumen yang dimainkannya adalah gitar lestrik,ingat LESTRIK bukan LISTRIK.

Belum lagi ketika ada penonton yang meminta mereka memainkan lagu ‘Sendiri’ karya Guruh Soekarno Putra yang direspon dengan menyanyi tak jelas “Sendokir… Disokin” hahaha, ngehe!

Dan itulah yang mengingatkan saya dengan pernyataan Meng diawal tulisan tadi, perkara signature. Kesamaan float dan Julian Sihombing (menurut saya) adalah mereka memiliki signature. Sebuah hal yang tidak dimiliki pihak lain meskipun profesi musisi atau pun fotografer atau apapun itu tidak hanya dikuasai oleh satu atau dua orang saja di muka bumi.

Dari sini saya menjadi teringat obrolan saya dengan dua orang yang berbeda, satu dengan Adrian Adioetomo dan satunya lagi dengan Rizaldi Siagian.

Seminggu yang lalu, saya berjumpa dengan Adrian Adioetomo di TVRI. Waktu itu ia sedang tapping untuk acara Still Got The Blues, Adrian adalah musisi yang jelas-jelas memainkan musik blues tapi enggan dikategorikan musisi blues. Namun bukan itu yang ingin saya persoalkan.

Waktu itu saya disuguhi lagu-lagu dari Lana Del Rey, saat saya bertanya “Lo lagi dengerin apa bang?” dia menjawab seperti ini kurang lebih “Lana Del Rey, bagus nih. Gak biasa musiknya, tapi menurut gue masih ada yang kurang dari segi liriknya. Dia masih belum personal, menurut gue sih, kalau dia nulis lirik yang personal bakalan lebih keciri (kelihatan ciri khasnya –red).”

Dan pada hari selasa 12 Februari 2012, ketika saya menemui Rizaldi Siagian untuk menjadi narasumber dalam sebuah tulisan. Rizaldi Siagian salah seorang Etnomusikolog yang menurut saya jenius, ia juga berperan sebagai Project Director konser Megalitikum Kuantum pada tahun 2005.

Dalam pertemuan kali itu, Rizaldi Saiagian juga mengungkapkan hal yang sama dengan Adrian Adioetomo namun dengan cara yang berbeda.

“Kamu ngerasa gak kalau sebenarnya universalitas itu adalah penyeragaman? Kalau gak percaya dengerin aja lagu-lagu yang sekarang hits, rata-rata mengusung tema yang universal. Tema itu apalagi kalau bukan cinta? Hasilnya apa? Terasa seragam atau gak?”

Tiba diakhir tulisan, saya ingin menuliskan ulang apa yang tertera di GFJA tepatnya bagian luarnya sebelah kiri atas dekat pos satpam. Disana ada kutipan yang berbunyi seperti ini:

Melalui karya ini saya mencoba untuk berdialog dengan apresiator tentang kemerdekaan yang di dapat dari hal yang tidak hidup. Karya ini adalah ekstrak-pikiran merdeka ketika kita dapat membunuh waktu & diskriminasi. ~Natasha Gabriella Tontey

Kalau saya boleh menyimpulkan (sekaligus menyarankan), silahkan cermati maksud dari tulisan tersebut. Apakah disana terdapat kata khalyak umum? Kan tidak. Disana cuma terdapat kata ‘apresiator’, dan kalau tidak salah apresiator adalah orang yang mengapresiasi. Entah dengan cara apapun, baik sanjungan hingga cacian saya rasa itu adalah sebuah bentuk apresiasi.

Kemudian kata ‘berdialog’, menurut saya sarat sah berdialog adalah menguasai apa yang sedang dibicarakan. Tidak perlu memiliki pikiran dengan membicarakan tema ini akan mengangkat derajat intelektualitas maupun meningkatkan citra diri dengan maksud terlihat lebih hebat, kalau tidak menguasainya apa bedanya dengan omong kosong?

Rage Against The Machine yang jelas-jelas bicara politik dengan opsi garis keras, juga sebenarnya menguasai apa yang mereka mereka bicarakan. Perlu bukti? Silahkan simak sepak terjang personelnya diluar dunia musik, khususnya Zack De La Rocha dan Tom Morrelo. Lebih  dari musisi, mereka juga aktivis.

Ok, sekarang kita lihat baik-baik tangan kita dan amati dengan saksama sidik jarinya. Apakah polanya dimiliki orang lain di sepanjang gang rumah ataupun komplek tempat tinggal kita? Saya rasa tidak. Maka itulah yang saya definisikan dengan signature. Tiap orang pasti punya ciri khasnya masing-masing.

Sekarang permasalahannya adalah, sampai sejauh mana ia ingin berkarya dengan ekstrak-pikiran merdeka dengan langkah membunuh waktu dan diskriminasi? Waktu dan diskriminasi silahkan diterjemahkan sendiri.

Kalau saya memilih menerjemahkan ‘membunuh waktu’ untuk mewakili niat untuk bergumul dengan apapun yang disebut karya, sedangkan ‘(membunuh) diskriminasi’ adalah keputusan untuk enggan tunduk terhadap konsensus yang bebal.

Image

Meng nyolong start 4 Juli 2011, Bontel & Remon baru 15 Februari 2013. Hehe, makasih ya udah dilegalisir! Baek-baek kalo foto disana, diusir lagi ntar 😀

 

——-
Silahkan dikomentari, itupun kalau berkenan membaca. Terimakasih
——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

16 Februari 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized