Merasakan [lagi] Hiruk Pikuk Sesi Rekaman

Posted on March 14, 2013

0


Image

Pandai Besi usai sesi rekaman di Lokananta. Foto diambil sekitar pukul 6 pagi tanggal 12 Maret 2013, dan tak ada satupun yang layak dikatakan sudah tidur.

Sebelum beranjak lebih jauh, saya perkenankan untuk klik link berikut ini. Karena disana ada puluhan foto karya saya yang sengaja dirubah menjadi hitam putih, tujuannya adalah mempersilahkan orang yang tidak suka membaca agar [semoga] bisa mengerti apa yang terjadi selama tanggal 8-12 Maret 2013. Tepatnya adalah 8 Maret malam hari, hingga pagi hari tanggal 12 Maret.

Sampai sekitar pukul 09:00 WIB pada tanggal 11 Maret 2012, saya sungguh tidak tahu apa fungsinya saya di dalam rombongan ini. Tiga hari sebelumnya, pagi hari tanggal 8 Maret 2013, saya mendapat telepon dari seorang teman dan dia mengajak saya untuk masuk ke dalam rombongan Pandai Besi yang akan berangkat malam harinya menuju Lokananta dengan maksud melaksanakan rekaman materi album.

Terkejut pasti, tapi saya merasakan ada nada terdesak dari teman saya itu karena fotografer yang sudah direncanakan mendadak tidak bisa ikut. Akhirnya dia mengajak saya dengan maksud menggantikan posisi yang ditinggal fotografer aslinya, padahal malam sebelumnya saya mendapat kabar bahwa sudah tidak ada tempat dalam bus ketika teman saya itu menanyakan kepada entah siapa mengenai apakah masih ada tempat untuk saya.

Karena mengingat adanya kebutuhan yang mendesak dan mempertimbangkan itu datang dari salah satu teman saya, maka saya putuskan untuk menyanggupi tawaran tersebut. Meskipun sebenarnya saya tergolong orang yang tidak suka bepergian tanpa rencana jika harus melibatkan atau terlibat dalam sebuah rombongan.

Sebenarnya saya cukup sering bepergian tanpa rencana, namun dengan catatan untuk keperluan personal dan tanpa harus menyita perhatian orang lain. Ada satu pengecualian lagi: pergi berombongan tanpa rencana juga tak jadi soal sebenarnya, asalkan saya punya track record tentang karakter rekan seperjalanan itu.

Saya mengetahui ada sebuah band bernama Efek Rumah Kaca, saya mendengarkan kedua albumnya, dan saya juga menyukai sebagian besar lagunya. Tapi apa lantas saya mengikuti sepak terjangnya? Saya pertegas, tidak.

Bukan saya menganggap bahwa mereka tidak patut disimak, ini kembali ke persoalan selera saja. Dan lagi ini tak ada sangkut pautnya dengan perkara mereka jelek atau bagus, saya cuma tidak terlalu tertarik dengan musik yang mereka bawakan, sekali lagi bukan selera saya.

Jadi ketika sang manajer menganjurkan saya untuk membuka situs efekrumahkaca.net dan melihat tulisan tentang crowd funding Pandai Besi yang sudah termuat, karena menurutnya apa yang saya tanyakan sudah dijelaskan disana, saya langsung jelaskan bahwa saya tidak mengikuti sepak terjang Efek Rumah Kaca secara intensif.

Sehingga alasan itu menjelaskan bahwa saya bukannya malas membaca. Dan kalau diperbolehkan berpendapat, saya tergolong ugal-ugalan untuk urusan membaca tapi dengan satu syarat: hal tersebut harus menarik perhatian saya.

 

Kronologi versi saya

Sampai di hari kedua, dihutung sejak tanggal keberangkatan, saya pikir tidak ada hal yang menarik untuk diceritakan disini. Sebab saya memang merasa demikian, jadi bagaimana kalau saya tuliskan kronologi perjalanan saja? Versi saya tentunya, versi seorang yang tidak mengikuti sepak terjang band bernama Efek Rumah Kaca.

Terdengar aneh kan kalau saya sampai ikut rombongan mereka untuk sesi rekaman di Lokananta sampai selesai? Jangankan anda, sayapun merasa demikian.

Ketika teman saya menelpon untuk yang pertama kali dan menawarkan untuk menjadi fotografer, saya bilang terus terang bahwa saya sudah tidak memiliki kamera DSLR. Kemudian dia menelpon lagi untuk menanyakan contoh foto saya, saya persilahkan untuk membuka akun deviantart milik saya.

Dan ketika percakapan dalam telepon selanjutnya berlangsung, dia berkata bahwa terdapat kamera meskipun bukan DSLR, tapi tidak katanya terlalu jelek. Baiklah, saya ikut! Tapi dengan satu kondisi, tanggal 12 Maret saya harus berpisah dengan rombongan karena saya ada urusan keluarga di Jogja.

Pukul 15:30 WIB saya berangkat menuju meeting point di bilangan Ciputat, saya membutuhkan waktu kurang lebih empat jam untuk mencapai tempat tersebut dengan menggunakan kendaraan umum.

Hari Jumat memang momen paling jahanam menurut kalender macet suku-suku yang mendiami Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, sebenarnya bukan harinya yang biadab tapi entah kenapa saya menaruh curiga kepada ritual manusianya pada hari itu.

Sesampainya tempat yang dimaksud, saya diberikan kamera jenis prosumer bermerek Panasonic dengan Tipe DMC-FZ30. Langkah pertama adalah saya melihat focal length yang dimiliki kamera tersebut, 35-420mm f/2.8-3.5 [ini kalau saya tidak salah ingat, untuk lebih jelasnya bisa cek sendiri di google]. Dan saya bilang kepada teman saya itu, sepertinya kamera ini sudah cukup.

Image

Foto ini untuk para penyembah aliran “no pic = hoax”, Makan tuh pic! Kameranya ada di paling kiri, sebelah saya yang mengenakan t-shirt hitam. Disebelah saya ada Hilmi dan disebelah Hilmi ada Dimas Ario.

Setelah semua terkumpul dan totalnya ada 17 orang ditambah 3 orang awak bus, rombongan pun meninggalkan Jakarta melalui jalan [yang konon] bebas hambatan sekitar pukul 23:00 WIB tanggal 8 Maret 2013, dan tiba di Solo sekitar pukul 20:00 WIB tanggal 9 Maret 2013.

Kurang lebih 21 jam lama perjalanan kali itu. Dan entah macet dimana, sepertinya, selain ketiga orang awak bus, kami semua enggan mengingat terlebih membahasnya. Menjemukan dan pastinya tak akan merubah durasi perjalanan yang sudah kami jalani, buang-buang tenaga saja membahasnya.

Masih teringat apa yang kawan saya katakan beberapa saat sebelum bus tiba di meeting point,

“Ojo dipadakno iki karo turnya Seringai yo!” [Jangan samakan ini (Efek Rumah Kaca ,Red.) dengan turnya Seringai ya!]

Haha, saya tak pernah lagi melakukan aktivitas komparasi dalam hal personal. Bagi saya band itu termasuk hal personal dan perihal komparasi ini sudah sedikit saya singgung pada tulisan sebelum ini, sehingga tak perlu diulang lagi di sini.

Oh, perlu diperhatikan juga saya tidak mengandaikan diri saya pada waktu itu sebagai William Miller yang terjebak di tengah rombongan Stillwater dalam film Almost Famous, sama sekali tidak. Kecuali kalau terjebak di tengah rombongan Pink Floyd, saya akan mati-matian meniru apa yang dilakukan oleh William Miller.

Sepanjang perjalanan berdurasi 21 jam itu, rasanya tidak ada yang perlu dibahas secara mendalam meskipun ada beberapa hal yang perlu dituliskan disini.

Misalkan Angan, anak dari Cholil dan Irma, yang sangat menyukai lagu ‘Hilang’ dari band Rumah Sakit sehingga ia berulang kali menyibukkan diri dengan air drumming. Selera yang sangat bagus untuk anak seusia Angan, dan saya hipotesis saya terlampau besar terhadap peran orang tua.

Ataupun kasus Hans [gitaris Pandai Besi] yang mendapat kejutan dari pihak restoran saat sesi makan siang usai. Padahal kalau dipikir-pikir ulang tahunnya sudah lewat lebih dari satu bulan, lantas kenapa dia masih mendapat kejutan dari restoran di daerah Tegal itu? Haha, entahlah. Yang pasti suasananya menjadi cukup meriah.

Perkara Dimas Ario [Penulis lepas] dan Cholil [Vokalis utama Pandai Besi] yang asik karaokean lagu-lagu Michael Learns To Rock, saya pikir itu tidak terlalu menarik untuk dibahas secara berlebihan karena mengingat mereka besar di jaman tersebut. Kental dengan unsur nostalgia semata, hemat saya.

Sedangkan ketika Abigail [Penyanyi latar Pandai Besi] terlihat bingung dengan beberapa lagu MLTR, bagi saya ini pun normal karena sangat mungkin ketika lagu-lagu tersebut booming, dia masih sangat kecil.

Sementara sebagian besar dari kami terlihat asik bernyanyi sendiri ketika lagu-lagu seperti ‘The Actor’, ‘Sleeping Child’ maupun ‘Wild Women’ berkumandang, usia sangat kentara di sesi ini. Setidaknya pemandangan itu saya lihat dari wajah dan saya kenali dari suara Asra [keyboardist Pandai Besi], Akbar [Drummer Pandai Besi], Rossi [Sound man] Poppie [Bassist Pandai Besi], dan Irma [Penyanyi latar Pandai Besi].

Untuk manusia-manusia yang berada dibagian depan seperti Aco [Teknisi], Hans, Yurai [Manajer], Mayo-Dana-Eza-Sesa [Tim dokumentasi gundala picture]. Saya tidak terlalu paham, karena saya juga asik sendiri. Dika [Saxophone & Flute Pandai Besi] memang sengaja tidak dibahas, karena dia baru bergabung ke dalam rombongan keesokan harinya.

Ah, hampir lupa! Malam hari tanggal 10 Maret, saya mendapat cerita seru dari Aco yakni pengalaman dia menonton konser Metallica tahun 1993 di Stadion Lebak Bulus. Setelah ia menamatkan cerita, serta merta saya panggil dia dengan “Bang”, mengingat kredibilitasnya sebagai saksi hidup sebuah konser legendaris di Indonesia. Tapi, dia malah jadi keki. Aneh!

 

Akbar yang merubah paradigma 

Minggu, 10 Maret 2013, sesi rekaman dimulai. Waktu itu pukul 12:00, dan berakhir sekitar pukul 24:00. Itupun terpotong dengan dua kali istirahat makan, beberapa puluh menit awal yang digunakan sebagai sesi gladi resik.

Oh, ada yang perlu diperhatikan di sini. Kesembilan buah lagu yang di rekam, semuanya dimainkan berulang kali dengan dua maksud. Untuk memperbanyak stok audio dan video agar bisa enak memilah dan memilihnya, sedangkan tuuannya ahnya satu mendapatkan yang terbaik.

Jadi saya beripikir, andaikan tidak ada pertimbangan untuk kedua faktor tersebut, rasanya live recording Pandai Besi at Lokananta akan berlangsung lebih cepat.

Saya berani menjamin kalau satu shift [istilah dalam recording session, pada umumnya sama dengan 6 jam, Red.] untuk sembilan buah lagu sekaligus stoknya, saya rasa lebih dari cukup.

Lagu-lagunya memang karya Efek Rumah Kaca yang diaransemen ulang versi Pandai Besi. Terasa menjadi lebih harmonis, menurut saya. Untuk penjelasan tentang lagu-lagu apa saja itu, bisa dilihat di sini.

Pada tanggal 11 Maret 2013, di sela-sela sesi overdub [proses rekaman ulang yang dilakukan ketika sudah memiliki track yang telah direkam sebelumnya, tujuannya supaya hasilnya lebih bagus, Red.] saya sempat sejenak bertanya-tanya kepada beberapa orang seperti Yurai dan Akbar. Perkara sesi rekaman ini dan hal-hal disamping itu.

Entah siapa nama sebenarnya, Yuri atau Yurie, tapi saya lebih suka memanggilnya Yurai. Selain ikut arus, sepertinya itu paling pas. Saya bertanya kepada dia tentang apa alasan Pandai Besi memilih rekaman di Lokananta. Apakah ada pikiran semacam menyemarakkan gerakan save lokananta atau apa?

Dengan sigap Yurai menjawab,

“Gak ada pertimbangan seperti itu, muluk-muluk banget kayanya. Milih Lokananta sih karena faktor sejarahnya aja, dan menurut beberapa teman, akustik ruangannya juga bagus. Yaudah, kenapa enggak dicoba?”

Saya sendiripun tergolong orang yang suka pergi ke museum dengan alasan untuk menambah pengetahuan, bukannya larut dalam dramatika nostalgia tak berperi. Jadi ketika memasuki museum di Lokananta sikap saya sama seperti biasanya, tak merasa ada sesuatu yang pantas didramatisir dalam sebuah hasrat picisan.

[Sangat mungkin] kalau sikap saya ini ada korelasinya dengan apa yang ditulis oleh Susan Sontag dalam bukunya ‘On Photography’, meskipun Ia bicara soal fotografi tapi Ia mempengaruhi saya tentang apa yang disebut peninggalan [baik berupa barang maupun kenangan] dalam lingkup penafsiran personal.

Di dalam buku tersenut, Susan Sontag menulis;

Keberadaan sebuah foto tidak ditentukan oleh apa atau siapa obyeknya, melainkan oleh bagaimana subyek yang memandang kemudian mendapat dari dan memberi makna kepada foto tersebut. Dengan kata lain, sebuah foto ada dalam pembermaknaan subyek atau bisa disebut sebagai kesadaran seseorang.

Terlebih lagi dia [Susan Sontag, Red.] mengutip percakapan dari kisah “Mrs. McGinty’s Dead” karya Agatha Christie. Nah, [mungkin] jahatnya saya adalah saya memilih kesadaran bahwa saya menerapkan sikap itu pada segala hal yang memiliki fungsi serupa artefak.

Peran artefak bagi saya tidak lebih sebagai penanda. Terasa kalau konsep Semiotika Saussure juga berperan cukup krusial disini? Hmm, mungkin saja memang ada korelasinya antara Penanda-Petanda & Obyek[tif]-Subyek[tif]. Bukankah hal di dunia ini saling memengaruhi?

Jadi ketika saya melihat piringan hitam yang diletakkan begitu saja tanpa divisi perawatan yang mumpuni, saya memilih tidak mengabadikannya dalam foto ataupun merekamnya dalam sebuah tulisan khusus. Toh bangsa kita adalah bangsa latah sekaligus pelupa, jadi niat saya kandas dalam kata ‘percuma’. Alasan yang sangat pragmatis toh?

Namun, perbincangan singkat saya dengan Akbar seakan merubah pandangan saya mengenai definisi ‘percuma’ dan konsep pragmatis, khususnya yang berkaitan dengan sebuah karya seni.

Pada mulanya saya bertanya kenapa memilih live recording? Karena menurut saya itu kan menyusahkan diri sendiri, khususnya dalam sesi pra dan pasca produksi.

Saya pernah merekam sebuah lagu dengan cara live recording sekaligus terlibat sebagai pihak yang menyelenggarakan album kompilasi sekolah kami, waktu itu saya kelas 3 SMA.

Jadi saya bisa memahami sekaligus kembali merasakan seperti apa ribetnya, namun sebuah pertanyaan saya tujukan untuk Akbar: apakah alasan yang mendasari Pandai Besi memilih jalur live recording karena biayanya lebih murah ketimbang recording per track?

Akbar tidak merinci perkara biaya saat pertanyaan itu saya lontarkan, dia malah menjelaskan panjang lebar tentang maksud dari live recording dan kegunaannya.

“Intinya sih mendapatkan feel dan emotion dari lagu-lagu itu. Biasanya nih, yang temponya pasti naik itu drum. Dan itu sebabnya kami gak memilih menggunakan metronome. Biar natural, setiap lagu punya emosi yang proporsional. Lagian kami ngonsepnya juga udah lumayan lama, kayanya chemistrynya udah dapet juga.”

“Kalau misalnya ada yang pakai metronome kaya ada yang ngeganjel gitu, kan kasian kalau ada personil lain yang mau lepas tapi keganjel. Apalagi yang gak akrab sama metronome? Bisa kaku malahan, gak enak jadinya.” Ucap Akbar saat dia diposisikan menjadi satu-satunya orang yang tidak disibukan secara teknis karena tidak melakukan overdub ataupun kesibukan bersifat teknis lainnya, perkara mengoreksi materi itu sudah menjadi kewajiban personil.

Image

Personil Pandai Besi di dalam Studio Lokananta, di tengah sesi live recording.

“Yang bisa dipelajari dari sini [live recording, Red.] adalah kegunaan mempelajari teknik bermusik dan hal-hal yang menunjang dalam bermusik. Mungkin kalau di luar negeri, gak usah pakai metronome temponya gak bakalan berubah meskipun live recording. Tapi kalau di Indonesia kan budayanya bukan kuping metronome, bisa main gitar langsung hajar manggung dan bikin lagu. Nah begitu kena metronome, kelabakan!”

“Dari sini kita baru bisa koreksi tentang teknik yang udah kita terapkan. Biasanya kaya baru nyadar kalau ada bagian yang terlewat selama proses kita bermusik. Misalnya gue nih, kejawab kenapa kok gak bisa main ini, karena gue gak paham ini. Itu semua kekoreksi kalau kita paham teknis.”

Dan ketika jawaban menjerumus ke pembahasan hal-hal teknis, saya langsung bertanya;

“Jadi lo emang mempelajari teknik bermusik ketimbang etos ‘hajar bleh’? Atau lo emang anak les-lesan [istilah yang dipakai untuk mendefiniskan orang yang mempelajari musik secara formal, bukan berbekal bakat dan otodidak semata, Red.]?”

Alasan saya bertanya seperti ini terbentuk ketika tanggal 10 Maret 2013, saya lupa saat itu Pandai Besi sedang take lagu apa, tapi ada hal yang saya ingat dari Akbar. Dia mempertontonkan birama yang [menurut saya] jelas tidak akrab dalam musik pop maupun variannya. Menurut saya, birama yang dimainkan oleh Akbar hanya akrab di jenis musik progressive rock, math rock, art rock, jazz fusion, free jazz, ataupun avant garde.

Saya bukan drummer, tapi saya sedikit mengerti ketukan-ketukan apa saja yang menjadi trademark jenis musik tertentu. Setelah mendapat jawaban yang terasa diplomatis, saya langsung memburu dengan pertanyaan yang sekiranya bisa melegakan dahaga keingintahuan saya.

“Sebelum sama ERK [Efek Rumah Kaca, Red.], lo sempet punya band?”

“Iya, dulu gue main musik-musik yang akrab di telinga pengunjung café.”

“Lo main lagu rock atau jazz?

“Dulu band gue emang mainin musik rock, terus karena gue main di café-café akhirnya gue pelajarin semua genre. Dan jazz itu salah satunya.”

Akhirnya terjawab sudah semuanya, kemudian Akbar melanjutkan bercerita tentang pengalaman dan perjalanan dia bermain drum sampai memutuskan untuk berguru pada salah seorang drummer yang membuat ia menunda perkenalan selama dua tahun karena terkena sindrom mendadak gagap ketika berhadapan dengan idola.

Ketika Akbar mengakhiri ceritanya itu, saya menyadari bahwa tidak ada salahnya mempelajari hal-hal yang [mungkin] tidak ada manfaatnya dalam waktu dekat, namun siapa yang bisa menjamin hidup akan sesuai dengan etos pragmatis?

Mungkin pada tahun 1999, Akbar sama sekali tidak berpikir bahwa 13 tahun kemudian teknik-teknik yang dia pelajari selama berguru dengan Rudi Subekti [kalau saya tidak salah ingat namanya] akan terpakai saat dia menggarap materi Pandai Besi? Atau jangan-jangan malah sudah diterapkan jauh sebelum ia tergabung dalam ERK?

Dan seirama dengan Akbar, saya juga tidak berpikir bahwa tulisan ini akan berguna bagi apapun dihari ini. Karena saya hanya menulis untuk kebutuhan, kebutuhan yang skalanya pasti berbeda-beda dari orang yang satu ke orang yang lain.

Dan apakah mungkin motivasi yang dimiliki Akbar sama dengan yang dimiliki oleh Herka Yanis Pangaribowo? Salah seorang teman saya, yang terus merekam jejak Lokananta melalui kameranya.

Herka, atau yang akrab dipanggil Panjul oleh beberapa temannya, adalah salah seorang fotografer lepas yang membuat photo story tentang Lokananta dan sempat dimuat di beberapa media, salah satunya bisa dilihat di situs ini.

Ketika saya bertanya tentang tujuan dia terus membuat photo story, dia berkata bahwa dia ingin Lokananta tetap bercerita meskipun geliatnya hanya terekam lewat foto-fotonya. Mungkin suatu ketika ada manfaatnya, ujarnya menutup pembicaraan.

Usai dia bicara seperti itu, seketika itu juga saya menjadi tidak enak hati karena memutuskan menelpon dia ketika Pandai Besi sudah merampungkan sesi rekamannya.

Pertimbangannya saya tidak menghubungi Panjul pada tanggal 10 Maret 2013 adalah saya tidak ingin menggangu kepentingan khalayak hanya karena karena memberatkan kepentingan pribadi. Namun ketika dia menjelaskan tentang misi dalam photo story Lokananta, saya justru merasa bersalah.

Saya cuma bisa berharap agar Herka tidak menghantam kata ‘percuma’ dalam merekam jejak Lokananta, dan tidak tertular konsep pragmatis dalam logika Homo Jakartensis [istilah untuk menyebut masyarakat Jakarta yang saya kutip mentah-mentah dari apa yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam buku kumpulan Esai berjudul ‘Kentut Kosmopolitan’, Red.]

Urusan portofolio Herka, saya hanya bisa merekomendasikannya lewat sini, jika ingin mengetahuinya lebih lanjut, coba saja ketik ‘Herka Yanis Pangaribowo’ di google. Dan jangan heran jika banyak tautan ke situs antarafoto.com karena ia memang mengontribusikan beberapa karyanya ke salah divisi visual kantor berita nasional.

Sekadar memberitahukan saja, jika ada yang berniat mengabadikan karya musikalnya di Lokananta saya rekomendasikan Herka agar dipertimbangkan sebagai tim dokumentasi yang bisa merangkap L.O karena ia juga sudah cukup akrab dengan kota SOLO.

 

——-
Silahkan dikomentari, itupun kalau berkenan membaca. Terimakasih
——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

14 Maret 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized