Memilih untuk tidak merayakan 40 tahun Dark Side of the Moon guna mengenang keputusan Pink Floyd 45 tahun silam

Posted on April 3, 2013

5


Image

Pink+Floyd

Sebelum melangkah jauh meninggalkan bulan Maret 2013, saya nyatakan bahwa tulisan ini akan disesuaikan dengan judulnya. Meskipun pada akhirnya nanti, saya tidak bisa menjamin perihal konsistensinya. Karena saya selalu beranggapan bahwa konsistensi hanya mengacu pada apa yang disebut kehendak.

Katakanlah tulisan ini adalah sebuah sikap dari saya guna menolak perayaan 40 tahun Dark Side of the Moon, saya pasti tidak akan menolak. Meskipun konon Dark Side of the Moon adalah prasasti termegah dari band asal London, Pink Floyd.

Kenapa menolak? Alasannya saya jelaskan nanti, sekarang silahkan jawab pertanyaan saya: kenapa kalian [yang tergolong larut dalam euphoria ulang tahun Dark Side of the Moon ke 40 ,Red.], tidak juga merayakan 30 tahun The Final Cut? Padahal kalau diamati, Dark Side of the Moon dan The Final Cut sama-sama dibuat dengan formula yang sama untuk dikategorikan ke dalam album tematik.

Baiklah, karena ini sifatnya satu arah. Maka saya lebih berambisi untuk menepati janji ketimbang menanti jawaban yang tak dapat dipastikan kedatangannya. Singkatnya akan saya jelaskan alasan kenapa saya memilih menolak merayakan 40 tahun Dark Side of the Moon.

Pertama, saya tidak akan dan tidak dapat menolak anggapan bahwa Dark Side of the Moon itu album yang dahsyat. Hanya dengan melihat covernya saja, saya yakin sebagian besar dari kita akan terhipnotis. Bisa jadi tren illuminati di kalangan seniman dimulai disini? Ah, tapi saya malas melakukan riset tentang illuminati jadi anggap saja ini adalah spekulasi sontoloyo.

Tapi ada sebuah fakta yang menarik tentang cover album! Siapa yang menyangka bahwa Storm Thorgerson berpendapat bahwa cover album Dark Side of the Moon bukanlah karya favoritnya?

Selain itu, Storm secara terang-terangan berkata  sepeti ini “It changed their lives drastically, but not mine so much.” ketika disinggung soal imbas dari sisi finansial. Info lengkapnya bisa dilihat disini.

Kedua, Dark Side of the Moon merupakan karya eksperimental pertama Pink Floyd untuk membuat album tematik. Lantas apakah sudah bisa dikatakan matang? Saya memilih untuk berpendapat belum, namun untuk dimasukan kategori sebuah karya yang istimewa tentu sangat bisa.

Bagi yang sudah melihat serial dokumenter classic album tentang pembuatan Dark Side of the Moon, saya jamin akan menemukan beragam “keberuntungan” Pink Floyd ketika merekam materi album tersebut. Contoh nyatanya adalah ketika meminta Clare Torry untuk mengisi lagu The Great Gig in the Sky dengan serangkaian jeritan, dimana ide tersebut benar-benar diluar dugaan.

Ini sama halnya dengan intro lagu Time yang penuh dengan ambience dari beragam wujud benda yang disepakati untuk dinamakan jam, ide ini datangnya dari Alan Parsons. Masih kurang? Silahkan simak pendapat Nick Mason, khususnya 21 kata terakhir

“I think that when it was finished, everyone thought it was the best thing we’d ever done to date, and everyone was very pleased with it, but there’s no way that anyone felt it was five times as good as Meddle, or eight times as good as Atom Heart Mother, or the sort of figures that it has in fact sold. It was not only about being a good album but also about being in the right place at the right time.”

Ketiga, silahkan anda teliti pendapat dari dua punggawa Pink Floyd tentang album ini. Dimana kedua orang tersebut,akhirnya secara terang-terangan berseteru di album The Wall.

Richard Wright:

“It felt like the whole band were working together. It was a creative time. We were all very open.”

Roger Waters:

“It’s changed me in many ways, because it’s brought in a lot of money, and one feels very secure when you can sell an album for two years. But it hasn’t changed my attitude to music. Even though it was so successful, it was made in the same way as all our other albums, and the only criterion we have about releasing music is whether we like it or not. It was not a deliberate attempt to make a commercial album. It just happened that way. We knew it had a lot more melody than previous Floyd albums, and there was a concept that ran all through it. The music was easier to absorb and having girls singing away added a commercial touch that none of our records had.”

Yang satu berbicara tentang kebebasan dalam segi kreatif, yang satu bicara soal realita mengenai imbas yang didapat dari komersialisasi sebuah hasil seni.

Kali ini saya lebih condong ke Roger Waters, karena pendapatnya yang menjerumus kesebuah sikap “.. and the only criterion we have about releasing music is whether we like it or not. It was not a deliberate attempt to make a commercial album.”

Saya rasa sudah cukup untuk menjelaskan alasan mengenai kenapa saya memilih untuk menolak merayakan 40 tahun Dark Side of the Moon. Sekarang saatnya menuju pembahasan selanjutnya, atau bisa juga dikatakan membahas seseorang yang merumuskan untuk “memutilasi” PINK dari Pink Anderson dan FLOYD dari Floyd Council.

Pink Anderson & Floyd Council merupakan dua musisi yang berpijak pada aliran Piedmont Blues, sebuah alunan yang saya rekomendasikan untuk menikmati sore dengan segelas kopi. Jauh sekali dengan bebunyian yang dihasilkan oleh keempat remaja asal Inggris pertengahan tahun 60’an yang bergabung dengan nama Pink Floyd.

Ada sebuah deskripsi yang saya imani mengenai musik Pink Floyd; “You don’t need drugs to enjoy Pink Floyd, but you need Pink Floyd to enjoy your drugs.” Saya bukan pemabuk yang taat, tapi saya tidak pernah lupa bagaimana rasanya diobang-ambing oleh Atom Heart Mother ketika saya menjelma serupa batu.

 

Roger Keith Barrett

Image

Psychedelic Renegades

“Roger was never mentally ill. He was assessed by quite a few psychiatrists over the years and they always said he’s unusual but there is no illness. There was no cure because there was no illness. He never fitted into the norm but that’s what made him so special.” ~Rosemary

Saya menganggap siapapun yang sudah membaca sampai di sini, sudah mengerti apa itu Pink Floyd. Pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah: Siapa diantara kita yang masih beranggapan bahwa, sebut saja, Syd Barret itu gila? Atau memiliki pendapat bahwa Syd menjadi tidak waras akibat efek LSD yang dikonsumsinya secara “ugal-ugalan”? Mungkin juga belum dirasa cukup bahwa pendapat dari Rosemary, adik dari Roger Keith Barrett, dapat difungsikan sebagai eksplanasi?

Biar saya tulis ulang tentang apa yang dialami Michael Foucault mengenai pengalamannya dengan lysergic acid diethylamide, sebuah racikan dari kimiawan asal Swiss bernama Albert Hoffman. Semoga saja bisa juga menjadi gambaran ringkas mengenai apa yang dialami oleh Roger Keith Barrett.

Bagi penggemar teori maupun pemikiran tokoh-tokoh intelektual Eropa & Amerika, nama Michael Foucault sudah pasti menjadi santapan yang rasanya tidak asing. Saya bukan penggemar teori maupun pemikiran tersebut, tapi kalau ada yang menarik apa salahnya dipelajari? Jadi fungsi cerita berikut, bukan untuk eksibisi.

Sebelum pengalamannya dengan LSD, Foucault telah bekerja keras melakukan riset tentang sejarah seksualitas dirinya sendiri. Ia merencanakan melakukan pendekatan sama dengan pendekatannya dalam menyusun karyanya tentang kegilaan dan masalah lainnya.

Tetapi setelah berhadapan dengan pengalaman luar biasanya dengan LSD, Ia secara total merombak proyek risetnya itu. Di antara perubahannya yang mendasar adalah proyek risetnya itu menjadi lebih memusatkan perhatian pada kedirian. Inilah barangkali yang dimaksud dengan focus baru, ketika saat kecanduan LSD ia berbicara tentang “pulang kembali” (ke diri) lagi.

Dalam hal ini, saya menekankan apa yang ditulis oleh Foucault tentang “pulang kembali” (ke diri) lagi. Seperti yang telah kita ketahui, Syd Barrett adalah orang yang berperan penting dalam terbentuknya Pink Floyd sekaligus menjadi orang yang paling meresahkan Roger Waters, Richard Wright dan Nick Mason pada tahun 1967.

Saat itu Pink Floyd baru saja menandatangani kontrak mereka dengan EMI, tepatnya untuk album perdana The Piper at the Gates of Dawn tak jauh setelah itu Barrett mulai berulah dimana alasan dari ulahnya tersebut tidak ada yang bisa memahami selain dia. Lantas apalagi yang bisa disalahkan selain LSD yang Syd konsumsi sejak awal tahun 1967?

Nick Mason bercerita seperti ini:

“I found [Barrett] in the dressing room and he was so … gone. Roger Waters and I got him on his feet, [and] we got him out to the stage … The band started to play and Syd just stood there. He had his guitar around his neck and his arms just hanging down.”

Dan kejadian seperti yang diceritakan oleh Nick Mason tidak hanya dialami sekali atau dua kali, bahkan untuk kepergian pertama Pink Floyd ke Amerika, Syd Barrett membuat ulah yang [disinyalir] mengancam perkembangan industri hiburan, khususnya seni musik dan seni pertunjukan.

Sikapnya yang dinilai tidak kooperatif itu dibuktikan dengan mengutuk pembawa acara American Bandstand, saat Syd mengajukan pertanyaan namun tidak mendapat jawaban. Bukti ini semakin berat ketika Syd memilih untuk tidak membuka mulutnya ketika Pink Floyd diwajibkan untuk melaksanakan prosesi lip sync saat lagu See Emily Play dikumandangkan di televisi. Syd Barrett terasa jauh lebih brengsek ketimbang Jim Morrison saat berulah di Ed Sullivan Show, ya kan?

Image

wish you were here

Setelah sepakat untuk mengundurkan diri, akhirnya pada tanggal 6 April 1968 Pink Floyd mengumumkan bahwa Syd Barrett resmi hengkang. Hal ini berlangsung kurang lebih 45 tahun silam, sehingga tidak heran jika membuat nama Syd Barrett menjadi tidak menarik untuk diamati. Terlebih lagi jika dibandingkan album-album Pink Floyd berikutnya, jelas nama Syd Barrett tidak akan terdengar lagi.

Namun siapa sangka bahwa tingkat pertemanan yang kental antara duo Roger, Waters dan Barrett, membuat Pink Floyd memutuskan untuk memilih tema tentang alienasi sekaligus kealpaan yang dibalut dengan kata-kata puitis dan alunan nada yang dinamis pada musim dingin hingga panas tahun 1975 di Inggris. Album itu berjudul Wish You Were Here.

Judul lagu Shine On You Crazy Diamond karya Pink Floyd, nampaknya “mencontek” formula yang sama dengan Lucy In The Sky With Diamond milik The Beatles. Guna mengungkapkan cerita tentang lagu tersebut, silahkan ambil huruf pertama dari kata-kata yang membentuk judul, kemudian tafsirkan sendiri.

Image

sebuah contoh alegori yang sempurna dalam Shine On You Crazy Diamond

Kalau menuruti konsensus, Pink Floyd bercerita tentang SYD di lagu Shine On  You Crazy Diamond, sementara The Beatles bernyanyi soal LSD dalam lagu Lucy In The Sky With Diamond.

SYD? Iya betul, siapa lagi selain Syd Barrett? Untuk mendengar lagunya silahkan klik ini, tapi lirik baru bisa dinyanyikan pada menit ke 8 detik ke 43 karena sebelumnya hanya ada alunan nada. Jadi ini seperti peringatan keras, dimana lagu tersebut bisa menjadi [sangat] membosankan ataupun [sangat] menyenangkan.

 

Coba memahami ulah Barrett lewat “doktrin” Jung

Image

Shine On!

“In all chaos there is a cosmos, in all disorder a secret order.”  -Carl Jung

Baru-baru ini saya mendapatkan “pencerahan” bahwa Nikola Tesla ternyata jauh lebih beradab sekaligus rock n’ roll ketimbang Thomas Alfa Edison, namun agak jauh sebelum “pencerahan” tersebut, pandangan saya tentang Sigmund Freud sudah bergeser. Barangkali itu bisa disebut sebuah “pencerahan” juga?

Bukan karena saya sudah mengerti apa yang diajarkan Freud, tapi bagi saya apa yang dijabarkan Carl Gustav Jung terasa lebih menarik untuk digunakan sebagai kendaraan pembedah struktur kepribadian yang tidak mengesampingkan aspek-aspek non duniawi.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Carl Gustav Jung adalah murid Sigmund Freud, Freud sendiri adalah penggagas psikoanalisa yang merupakan seorang Jerman keturunan Yahudi. Meskipun mengutip beberapa pendapat gurunya, Jung tidak sepenuhnya sependapat dengan Freud karena gurunya tersebut terlalu menekankan pada seksualitas dan berorientasi terhadap materialistis dan biologis dalam menjelaskan teori-teorinya.

“Doktrin” yang terkenal dari Jung adalah psikologi analitis (analytical psychology), dimana hal ini sangat dipengaruhi oleh mitos, mistisisme, metafisika, dan pengalaman religius. Carl Jung percaya bahwa hal ini dapat memberikan keterangan yang memuaskan atas sifat spiritual manusia, sedangkan teori-teori Freud hanya berkecimpung dengan hal-hal yang sifatnya keduniaan semata.

Id, ego, dan superego, adalah istilah-istilah yang tak pernah dipakai oleh Jung. Sebagai gantinya, ia menggunakan istilah conciousness (kesadaran), personal unconciousness (ketidaksadaran pribadi), dan collective unconciousness (ketidaksadaran kolektif).

Conciousness dan personal unconciousness [mungkin] dapat disandingkan dengan id dan ego, tetapi terdapat perbedaan yang sangat besar antara superego-nya Freud dengan collective unconsciousness-nya Jung.

Jung percaya bahwa collective unconsciousness adalah wilayah kekuatan jiwa (psyche) yang paling luas dan dalam, dimana ia mengatur akar dari empat fungsi psikologis, yaitu sensasi, intuisi, pikiran, dan perasaan. Selain itu, ketidak sadaran kolektif juga mengandung warisan memori-memori rasial, leluhur dan historis.

Atau secara singkat bisa dikatakan sepert ini: Bagi Freud, hanya ada pengulangan yang tak habis-habisnya atas tema-tema insting sampai ajal menjelang. Namun bagi Jung, ada perkembangan yang konstan dan sering kali kreatif, pencarian ke arah keparipurnaan dan kepenuhan, serta kerinduan untuk lahir kembali.

Sebenarnya masih tersisa cukup banyak yang belum dijabarkan tentang ide-ide Jung, dan memang sengaja tak saya sertakan agar tidak terkesan menceramahi. Archetype, Autonomus Complex, Persona, Anima & Animus, Bayang-bayang, Diri, Sinkronisitas, Hereditas hingga ke Sublimasi dan regresi dimana itu semua merupakan beberapa konsep yang [seharusnya] dipahami untuk memahami kepribadian seseorang.

Judul album The Piper at the Gates of Dawn jelas-jelas diambil dari sebuah bab dari buku karya Kenneth Grahame yang dipublikasikan tahun 1908 dengan judul The Wind in the Willows, buku ini merupakan salah satu buku favorit Syd Barrett.

Tapi jangan dikira bahwa buku ini adalah semacam buku filsafat atau pemikiran tokoh-tokoh akademis, buku ini hanya berisi cerita yang dikhususkan untuk anak-anak. Dimana cerita di dalamnya mengandung beberapa unsur seperti mistisisme, petualangan, moralitas, persahabatan dan alam. Hal yang sangat biasa kan?

Bahkan jika ada yang bertanya, seperti apakah lirik lagu ciptaan Barrett atau mungkin Pink Floyd era Syd? Saya akan menjawab dengan jujur bahwa lirik lagu ciptaan Barrett tidak akan akan mampu menyaingi Waters, namun siapa yang sanggup menyelami pribadi seseorang? Dan Barrett adalah tipikal orang yang teramat diri sendiri dalam berkarya, buktikan saja dengan menyimak lagu-lagu ciptaannya.

Pernah mendengar cerita kalau ada sebuah lagu Pink Floyd yang sampai detik ini tidak terselesaikan, judulnya Have You Got It  Yet?. Barrett masih ada kala itu dan Gilmour baru saja bergabung di Pink Floyd, berarti itu sekitar awal tahun 1968 karna Gilmour bergabung di Pink Floyd pada bulan Januari 1968 dan Barrett hengkang di bulan April tahun yang sama.

Menurut legenda, Roger Waters sampai harus meletakkan bassnya dan meninggalkan ruangan latihan karena ulah Barret yang selalu merubah melodi dan struktur lagu Have You Got It Yet? Sehingga tidak memungkinkan anggota Pink Floyd yang lain untuk mengikutinya. “A real act of mad genius”, kenang Waters tentang Barrett saat ia terlibat di dalam sesi tersebut.

Nampaknya saya belum bertemu teori yang cocok untuk membedah Barrett, selain ide-ide dari Jung tentang struktur kepribadian. Dan semoga saja cerita dari Rosemary tentang kakaknya Roger yang saya kutip pada akhir tulisan ini bisa menjelaskan kenapa Roger menolak melayani jurnalis dan fans setelah ia hengkang dari Pink Floyd untuk memilih hidup tenang sembari melanjutkan kegemarannya melukis dan sesekali bersepeda menuju toko terdekat untuk membeli kebutuhan sehari-hari ataupun sekadar duduk-duduk di taman daerah kota kelahirannya, Cambridge.

Roger Keith Barrett memutuskan hidup melajang dan tingal bersama ibunya hingga ia wafat di usia 60 tahun pada tanggal 7 bulan Juli tahun 2006, atau 15 tahun setelah ibunya meninggal pada tahun 1991.

Satu hal yang saya yakini adalah saya tidak yakin kalau Barrett berulah sedemikian rupa karena dampak LSD, mungkin LSD bisa menjadi pemicunya namun untuk perkembangannya Barrett sendirilah yang mengontrolnya. Dan nampaknya tidak ada yang bisa memahaminya karena ia memang tidak membagikannya untuk setiap orang. So, Have You Got It Yet?

Barrett lived in the semi with his mother until her death in 1991 and then remained there alone. “So much of his life was boringly normal,” said Rosemary. “He looked after himself and the house and garden. He went shopping for basics on his bike — always passing the time of day with the local shopkeepers — and he went to DIY stores like B&Q for wood, which he brought home to make things for the house and garden.

“Actually, he was a hopeless handyman, he was always laughing at his attempts, but he enjoyed it. Then there was his cooking. Like everyone who lives on their own, he sometimes found that boring but he became good at curries.

“Wheer was working he liked to listen to jazz tapes. Thelonious Monk, Django Reinhardt, Charlie Parker and Miles Davis were his favourites — he always found something new in them — but apart from the early Rolling Stones, he’d lost interest in pop music a long time ago.

“As for a television or radio, he didn’t feel the need to own one because he didn’t want to waste any energy concentrating on it. It’s not that he couldn’t apply his mind. He read very deeply about the history of art and actually wrote an unpublished book about it, which I’m too sad to read at the moment. But he found his own mind so absorbing that he didn’t want to be distracted.

“He did have leisure interests. He took up photography, and sometimes we went to the seaside together. Quite often he took the train on his own to London to look at the major art collections — and he loved flowers. He made regular trips to the Botanic Gardens and to the dahlias at Anglesey Abbey, near Lode. But of course, his passion was his painting.

“Roger worked in a variety of styles — though he admired no one after the impressionists — and you could say he came up with his own type of conceptual art. He would photograph a particular flower and paint a large canvas from the photograph. Then he would make a photographic record of the picture before destroying the canvas. In a way, that was very typical of his approach to life. Once something was over, it was over. He felt no need to revisit it.

“That’s why he avoided contact with journalists and fans. He simply couldn’t understand the interest in something that had happened so long ago and he wasn’t willing to interrupt his own musings for their sake. After a while he and I stopped discussing the times he was bothered. We both knew what we thought and we simply had nothing more to add. It became easiest to pretend those incidents never happened and just blank them out.

“Roger may have been a bit selfish — or rather self-absorbed — but when people called him a recluse they were really only projecting their own disappointment. He knew what they wanted but he wasn’t willing to give it to them.

“Roger was unique; they didn’t have the vocabulary to describe him and so they pigeonholed him. If only they had seen him with children. His nieces and nephews, the kids in the road — he would have them in stitches. He could talk at length and he played with words in a way that children instinctively appreciated, even if it sometimes threw adults.”

He was quite a sharp dresser, too. “He didn’t follow fashion — he just bought what he liked for himself — but he liked to look presentable. His clothes were always clean and pressed. In fact, if he had an obsession, it was with that.”

Barrett suffered from stomach ulcers for 30 years — which he managed by drinking milk — and also developed diabetes. “But he simply refused to admit it to himself. For days at a time he wouldn’t take his pills — which, being a nurse, could have worried me. But to be honest, it can’t have been very severe because he never showed any ill effects.”

What he did show, she said, was love: “I gave it to him and he gave it to me. He was incredibly supportive when our mother died. And in the past week I’ve been surprised to learn how popular he was with the local tradesmen. He was simply a very lovable person.

“He showed his personality in lots of different ways — which some outsiders found confusing — but underneath he was solid as a rock. It may have been a responsibility to look out for him, but it was never a burden.”

Image

“A lot of people want to make films and do photography and things, but I’m quite happy doing what I’m doing.” – Syd Barrett

Sumber:

 

——-
Silahkan dikomentari, itupun kalau berkenan membaca. Terimakasih
——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

03 April 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized