PELI* … (lekas kau akhiri dengan K atau R)

Posted on August 16, 2013

0


“Buat apa kau membaca dan menulis? Tak ada guna itu! Paling yang menganggap kau ada, hanya orang-orang yang perutnya kenyang dan masih bisa berpikir.” 

Sementara di lapangan itu, masih dibuat batas yang jelas antara sesama pria dan wanita untuk memisahkan sebuah umat yang kiblatnya cuma satu. Selamat! Mereka baru saja main gila dengan tuhannya, tuhan mereka.

“Buat apa kau membaca dan menulis? Tak ada guna itu! Paling yang menganggap kau ada, hanya orang-orang yang perutnya kenyang dan masih bisa berpikir.”

Dan di arena yang lain, para spesies purba yang didaulat mewakili rakyatnya itu tetap beranak pinak dengan logika purba yang melesat pesat ke arah prasejarah. Mereka kencing dan berak sembarangan, disela kepala makhluk yang selalu berharap. Berharap akan datangnya kabar yang mengiming-imingi kelahiran dewa penyelamat. Dewa yang nantinya menyerah digerus sistem dan siklus. Sekali lagi, selamat!

“Buat apa kau membaca dan menulis? Tak ada guna itu! Paling yang menganggap kau ada, hanya orang-orang yang perutnya kenyang dan masih bisa berpikir.”

Buktinya sebagian kita masih tabu mengucapkan dengan jelas kata yang jelas-jelas tertulis di kamus tebal itu. Sementara kontol sukses disosialisasikan dengan anu, istilah anarki dipaksa kawin dengan definisi fasis, dan selebritas masih diwartakan oleh para pesolek sebagai selebritis. Semua mengangguk, yang kritis pun berlalu. Siapa tersisa? Komunitas kera untuk dijadikan komoditi, ya kan?

“Buat apa kau membaca dan menulis? Tak ada guna itu! Paling yang menganggap kau ada, hanya orang-orang yang perutnya kenyang dan masih bisa berpikir.”

Memangnya kamu sudah kenyang dengan apa yang barusan kalian makan? Dapat darimana uangnya? Hasil dari menyengsarakan makhluk hidup lain tidak? Baguslah kalau kalian menjawab “Kenyang. Kerja. Tidak”. Hahaha tak usah perkarakan halal, karena moral sejatinya berkaitan dengan masalah terganggu atau tidaknya hak hidup makhluk lain dengan ulah kita. Sampai disitu saja kewajibanmu menjaga, selebihnya biar tuhan yang atur. Jangan sok suci!

“Buat apa kau membaca dan menulis? Tak ada guna itu! Paling yang menganggap kau ada, hanya orang-orang yang perutnya kenyang dan masih bisa berpikir.”

Apalagi yang hendak kalian cela disela waktu istirahat makan siang yang dijadwalkan oleh instansi? Uring-uringan dalam jejaring sosial dengan metode MEMBESARKAN SEMUA HURUF? Mengecam dengan menyertakan tanda # # # atau malah terlibat demonstrasi tak jelas maksudnya, kecuali satu; berharap bisa terdengar lantas berimbas tenar.  Apa? Kritis katamu? Haha, dungu! Hanya berteriak-teriak serupa selebrasi, apa yang hendak kau tuju? Apa kau lupa bahwa kalian hidup di negeri para pelupa? Nurani tak berbunyi disini!

“Buat apa kau membaca dan menulis? Tak ada guna itu! Paling yang menganggap kau ada, hanya orang-orang yang perutnya kenyang dan masih bisa berpikir.”

Ya, buat apa kalian membuang waktu untuk membaca terlebih menulis? Memang negara ini sudah merdeka? Bangsat! Pemuda terjajah macam kalian masih sempat-sempatnya menjadi beradab? Di depan gerbang perdagangan bebas jelas tak ada waktu untuk berkontemplasi, bodoh sekali! Cepat daftar kelas keheningan didalam mall untuk meningkatkan kadar spiritualitas hewani, hapus segera kenangan akan bahasa ibu dan ganti dengan bahasa pemograman.

“Buat apa kau membaca dan menulis? Tak ada guna itu! Paling yang menganggap kau ada, hanya orang-orang yang perutnya kenyang dan masih bisa berpikir.”

………………… Ah entah! Kalian memang dungu dan keras kepala. Memang apa susahnya patuh?

Hmmm….. Ibu, bersediakah kau dengarkan sejenak pikiran anakmu yang dungu ini? Pernahkah kau dengar bahwa tak jarang orang lapar berbuat jauh lebih manusiawi ketimbang orang yang kenyang? Dan kami, segelintir dari jutaan anakmu yang kelaparan ini akan selalu berpikir tentang maksud dan esensi kehadiran kami. Istirahatlah Bu, mungkin kita bisa berbincang lagi saat usiamu genap 70 atau bahkan 100? Kini usiamu menginjak 68 dan nafasmu sangat tersengal, rehatlah sejenak dan aku mohon kau sematkan doa tentang kesuksesan untuk setiap aksi kolektif anak-anakmu yang kelaparan namun masih memiliki jiwa manusia.

——-

zar_la_sa

Indonesia

Agustus 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized