Membual Tentang Alasan Alpa Dalam Konser Terbesar

Posted on August 28, 2013

0


Image

“Halo.”

“Hei, halo! Kenapa?”

“Jadi mau nonton Metallica gak?”

“Hmm… (beripikir sejenak) Gak deh.”

“Oh, yaudah kalau gitu. bla-bla-bla”

“bla-bla-bla-bla-bla”

“bla-bla-bla-bla-bla”

Pembicaraan tersebut berlangsung hari Jumat (23 Agustus 2013) sekitar pukul 3 sore, dan ketika saya merespon pertanyaan teman mengenai minat saya untuk menonton Metallica, saya langsung teringat dengan pertanyaan sekaligus pendapat Wendi Putranto di twitter beberapa hari setelah Metallica dipastikan kembali konser di Indonesia.

“Kenapa lo gak mau nonton boy? Ntar nyesel lho.”

Jawaban saya adalah “Gak ah, gue mau jadi sufi. Kalau lewat fase ini berarti satu halangan sudah gue lewatin.”

Sufi? Ya, Sufi! Anda pikir saya bercanda? Memang bercanda! Jawaban ini saya berikan kepada sekitar 4 atau 5 orang teman yang substansi pertanyaannya sama, dan responnya sudah bisa diperkirakan: tidak ada yang menggubris.

Saya sendiripun memang asal bicara saja, jadi tidak usah dibahas lagi soal sufi. Mari menuju ke poin pembualan selanjutnya!

*****

Apa yang ditulis oleh akun @doniiblis patut mendapatkan respon yang positif, khususnya bagi para penggemar musik, spesifiknya lagi: metal. Namun tidak perlu ditanggapi serius pastinya, karena tiap orang punya impresi dan pengalaman tersendiri terhadap apapun yang menjadi favoritnya.

Entah apa yang dialami oleh @doniiblis dan puluhan ribu penonton yang memadati stadion Gelora Bung Karno, saya tidak tahu pasti karena saya tidak berada disana. Tapi satu hal yang seharusnya dirasakan adalah takjub, terlepas dari faktor seberapa dalam menggeluti dengan Metallica.

Alasan saya mengharuskan takjub adalah karena keesokan harinya teman sekantor saya yang tidak ada “potongan metal” berhasil dicuci otaknya oleh kualitas manajemen pertunjukan yang ditampilkan oleh Metallica, mulai dari repertoar lagu hingga hal krusial yang menunjang sebuah pertunjukan musik.

Sudahlah, tidak ada habisnya jika kita membahas konser Metallica di Jakarta, konser yang konon kabarnya menjadi konser terbesar sepanjang 68 tahun Indonesia merdeka. Dan saya pikir akan terkesan teramat membual jika saya menulis tentang konser Metallica, meskipun sejatinya tulisan ini akan berubah menjadi bualan absurd tentang industri musik dari sudut pandang saya.

*****

Senin pagi sebelum berangkat menuju kantor saya mengirimkan sebuah sms ke Arian untuk sekadar mengucapkan selamat sembari mengonfirmasi kebenaran  twit dia mengenai wartawan televisi yang bertanya Seringai menjadi band pengiring pengiring Metallica, karena menurut saya pribadi itu adalah sejenis pertanyaan yang terlampau tolol.

Dan Arian menjawab dengan singkat; “haha. iya gung, bego ya. nuhuuun!” bahkan dalam sms selanjutnya ia menambahkan ada wartawan yang bertanya sekaligus merubah nama Seringai menjadi Serunai. Hahaha! Sumpah, tawa saya langsung berceceran di kamar ketika sms tersebut saya baca.

Mundur sejenak, berselang beberapa jam sebelum pintu gerbang lokasi pertunjukan dibuka, saya sempatkan untuk bertemu dengan dua orang teman demi keperluan transaksi disebuah mall kawasan bekasi. Agak lama saya menunggu ditempat yang disepakati, kemudian dua orang teman saya datang dengan mengenakan T-shirt hitam dan mereka tampak tak rapi.

Tanpa banyak basa-basi, saya langsung memulai percakapan dengan sebuah basa-basi sebelum menuju inti transaksi.

“Lo pada mau berangkat jam berapa?”

“Bentar lagi palingan, nunggu temen juga nih.”

“Gue denger openingnya Seringai ya?” Tanya saya (basa-basi lagi ditambah ekspresi pura-pura bodoh)

“Iya nih, aneh! Katanya gak ada band pembuka tapi kok …… bla-bla-bla”

“Ah, tapi masih mending deh Seringai soalnya mereka kan …. Bla-bla-bla” Sahut teman yang satunya

Sesekali saya mengangguk-angguk sembari menyaksikan mereka beradu argumen agar terkesan mengamati, padahal yang sesungguhnya saya nikmati adalah kentang goreng dan segelas minuman bersoda. Saya pribadi tidak terlalu suka melihat orang beradu argumen, terlebih lagi jika adu disiarkan di televisi.

Kembali ke persoalan Seringai, saya sungguh tidak tahu menahu perkara siapa yang semestinya “bertanggung jawab” atas terlibatnya biduan wanita bernama Raisa untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ataupun Kehadiran Eben (Burgerkill), Adjie (Down For Life) dan Tepi (Dead Squad) dalam sesi tersebut.

Terserah kalian suka atau tidak, Seringai adalah salah satu band yang saya idolakan. Mungkin setara dengan kekaguman saya terhadap Melancholic Bitch atau Komunal atau White Shoes And The Couples Company atau Kayon atau Adrian Adioetomo atau Navicula atau Tani Maju atau bahkan The Flowers. Ya, nama-nama yang baru saja saya sebutkan adalah asli buatan Indonesia.

Sekarang pertanyaannya adalah apakah konser Metallica yang barusan berlangsung dan meninggalkan kesan mendalam itu memiliki imbas terhadap industri musik di Indonesia? Apakah ada hal yang bisa dijadikan pelajaran? Atau konser tersebut hanya membekas sebatas euphoria dan nostalgianya saja?

Saya sama sekali tidak menyesalkan jika konser kemarin memang benar menyisakan euphoria dan nostalgia saja, buat apa? Toh imbas positifnya ke industri musik juga tidak ada jika saya menyesal. Harapan yang saya sampaikan via twitter beberapa jam sesudah konser tersebut berlangsung juga akan terasa nista jika saya hanya bisa menyesal.

*****

Seingat saya, ada sebuah grup band dari korea yang sempat beberapa kali melangsungkan pertunjukan di Jakarta. Dan konon kabarnya tiketnya terjual habis, terlepas dari benar atau tidaknya berita tersebut, saya hanya bisa berkata: “Hebat!”

Kenapa hebat? Karena mereka sukses berkomunikasi. Berkomunikasi? Memangnya ada proses penyampaian pesan? Pesan yang mana? Tentunya bukan definisi pesan seperti yang dimaksud oleh Jokowi, seperti yang sempat ia sampaikan kepada saya di Rumah Dinas Loji Gandrung pada bulan Februari tahun 2012.

Bagi  saya musik rock itu semangat, kedua mendobrak dan yang ketiga liriknya berisi kritik yang pedas, asal melihatnya dengan benar. Jadi saya suka musik rock karena disana ada pesan-pesan yang memberikan semangat untuk mendobrak. Coba bayangin kalau saya senengnya musik mellow? (Tertawa)

Untuk siapapun yang berkecimpung dalam musik, khususnya Rock, Metal ataupun variannya. Tiga hal yang disebutkan Jokowi itu pasti tidak bisa dibantah. Tapi apakah setiap orang bisa mencerna setiap pesan yang dibalut oleh musik penuh distorsi dan suara yang serak? Jangankan mencerna, untuk menyelesaikan intro saja sudah terlihat nelangsa.

Dan siapa yang bisa membantah bahwa musik bernuansa korea sedang mewabah? Para pria dari beragam golongan, mulai dariyang tanggung-semi tanggung-menjadi tanggungan, mendadak akan berubah beringas jika sudah dihadapkan dengan remaja wanita yang berperawakan Korean pop entah KW berapa. Inilah yang saya maksud sukses berkomunikasi, paham maksudnya?

Jika ada yang bertanya apakah saya sedang mengomparasikan musik rock atau metal dengan musik korea, jawaban saya adalah tidak. Biar mati dihantam oleh seluruh wangsa Rakshasa yang bermukim di Alengka, saya tidak bermaksud melakukan tindakan sepicik itu.

Lantas untuk apa saya mempermasalahkan (jika tidak bisa dikatakan mengambil contoh) dua kubu tersebut? Sederhana saja. Jawabannya adalah perkara kesempatan. Lebih tepatnya adalah kesempatan untuk membuktikan kualitas.

Kali ini jari telunjuk saya mengarah tepat ke media-media yang berenang diarus utama, khususnya televisi dan radio di Indonesia, jika bicara soal kesempatan untuk membuktikan kualitas dalam ranah musik. Tentu saja maksud saya menunjuk bukan untuk bermanis-manis, tapi lebih bersikap seperti menghardik.

Kenapa media cetak tidak termasuk dalam “daftar tunjuk” saya? Karena saya masih belum percaya dengan kemampuan membaca bangsa yang mayoritas masyarakatnya adalah tipikal masyarakat tontonan (spectacle society), sehingga televisi dan radio adalah corong utama dari masyarakat tontonan. Disanalah segala informasi bisa disulap untuk sebuah kepentingan yang entah apa tujuannya selain menguasai.

Sebagai contoh untuk menyikapi TV, sekarang peraturan baru dirumah yang barusan saya buat adalah TV tidak boleh menyala diatas pukul 10 malam, kecuali jumat-sabtu-minggu. Kenapa? Karena kamar saya dekat dengan lokasi TV dan suara yang dihasilkan oleh TV sangatlah menggangu, apalagi Ayah dan Ibu  sukanya menyetel siaran TV Nasional.

Meskipun siaran TV itu skalanya nasional, namun bagi saya memiliki kadar dan “radiasi” yang sama mengganggunya seperti ketika saya melihat kiriman chart radio dari beberapa daerah sebulan setelah saya duduk di ruangan kantor.

*****

Bicara soal radio, saya sempat sejenak mewawancarai Sammy Bramantyo (Bassist Seringai yang juga merangkap penyiar radio swasta di Jakarta) untuk keperluan penulisan artikel yang pada akhirnya saya putuskan untuk tidak melanjutkan karena saya berasumsi bahwa tulisan itu tidak akan menggeser apapun.

Saya sungguh lupa mengenai tanggal, bulan dan harinya, yang pasti pertemuan itu berlangsung beberapa saat setelah Sammy sukses memboyong amplifier berwarna Orange masuk kedalam technical riders-nya.

YAng saya ingat perbincangan itu berlangsung disebuah tempat kawasan Kemang Selatan, dalam ruangan tersebut juga ada Arian dan Gofar. Oh, saya ingat sekarang! Itu adalah malam dimana keesokan harinya Mike Muir “diculik” ke Lawless.

Inti dari perbincangan kami seputar radio yang berlangsung nyaris dua jam, memiliki kesimpulan bahwa tidak adanya kesempatan bagi musisi atau band yang (katakanlah) “aneh” untuk diperkenalkan kepada khalayak. Andaipun ada porsinya pasti tidak seberapa. Hal ini tentu berbeda dengan era awal 2000’an dimana musik-musik “aneh” sedang berjaya.

Oh, sebelum pembicaraan dimulai, saya terlebih dahulu mengaku kepada Sammy bahwa saya bukanlah pendengar radio yang baik sejak tahun 2006. Jadi saya memohon maaf atas kealpaan saya karena tidak menganggap radio dalam kehidupan saya selama 7 tahun.

Ketika perbincangan masuk ke ranah situasi radio di awal era 2000’an, rupanya hal tersebut tidak terlepas dari faktor tren dan bisnis. Singkatnya industri. Dan sekarang apakah industrinya benar-benar sedang seperti ini? Seperti apa yang dinyanyikan oleh Jogja Hiphop Foundation dalam lagu Jula-Juli Lolipop.

“Seni saiki nuruti pasar sing mlaku, dadi bakulan asal tau sama tau” (Seni sekarang menuruti kemauan pasar, jadi jualan asal tau sama tau)

Jika bicara soal Industri, saya pikir tidak akan ada jalan keluarnya. Karena akan ada satu pihak yang akan dirugikan jika pihak yang satunya merasa mendapat untung. Sekarang pertanyaannya adalah pihak mana yang yang mau merasa dirugikan?

Meskipun sebenarnya kami sangat sanggup membantah pertanyaan di atas sekaligus memaparkan bukti bahwa Metallica atau Morrisey (mengambil contoh band dari ranah luar musik keras) bisa berjualan tanpa melulu mengikuti faktor tren dan bisnis, dan yang lebih penting tak ada yang merasa dirugikan. Tak perlu kami catut nama Omar Rodriguez Lopez, Trent Reznor, Bjork, John Frusciante hingga Syd Barrett, untuk dijadikan contoh karena itu jelas diluar kemampuan manusia biasa.

Namun (bagi saya) kondisi musik di Indonesia, tak jauh dengan apa yang terjadi dalam indusri farmasi multinasional. Sejenak kita tinggalkan industri musik yang (menurut saya) cakupannya masih kecil di Indonesia, dalam industri farmasi permasalahan nikotin dan thc masih santer diributkan (dan direbutkan) oleh para juragan.

Dalam logika ekonomi (atau katakan ranah yang sangat sering menggunakan logika tersebut: pemasaran) permintaan adalah dewa. Atau masih pantaskah jika saya berkata bahwa rating adalah segalanya dalam industri hiburan (khususnya tanah air)?

Berlandaskan dengan azas segalanya adalah seluruhnya , maka beragam cara tentu akan dilaksanakan bukan? Termasuk upaya pembanalan melalui beragam kanal yang tersedia, darat-laut-udara. Ideologi bila perlu!

*****

Sebelum menutup tulisan yang semakin absurd ini, saya ingin membagikan kutipan dari Salvador Allende yang berbunyi: “To be young and not revolutionary is a biological contradiction”, namun sepertinya dalam video berikut ini diaransemen”menjadi milik Che Guevara yang berbunyi Being young and not revolutionary, is a genetic contradiction”.

Saya pikir tak ada gunanya meributkan siapa yang lebih dahulu mengucapkan apakah Salvador Allende atau Ernesto Guevara, karena jika diamati video yang baru saya bagikan, Zack De La Rocha meracau dengan lantang  dalam lagu Know Your Enemy

I’m a brother with a furious mind, Action must be taken. We don’t need the key, We’ll break in. Something must be done About vengeance, a badge and a gun. ‘Cause I’ll rip the mike, rip the stage, rip the system, I was born to rage against ’em

Dan untuk perkara ini (dunia musik Indonesia dan industrinya), membawa unsur pembalasan dendam hingga senjata seperti yang disarankan oleh Zack tidak perlu diterjemahkan secara harfiah. Namun untuk perkara merenggut corong, panggung dan sistem ada baiknya segera dicanangkan.

Bukankah sebagian besar dari kita, pikirannya sudah dibuat geram dengan corong, panggung dan sistem yang tampak didepan mata? Jawabannya hanya dua, antara “ya” atau “tidak”. Dan itu terserah jelas anda maupun skena musik anda.

Sesuai dengan harapan yang saya sampaikan dalam twitter beberapa jam setelah konser kedua Metallica di Jakarta usai. “alhamdulillah kl yg ntn metallica senang. smoga imbasnya ke industri musik bs bagus. bukan soal genre,tp soal kualitas & kesempatan” 🙂

"God save the scene!"

“God save the scene!” Attention: this picture is pure fiction

 

—–

Agung Rahmadsyah

Bekasi

28 Agustus 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized