MEMOAR JOGEDER AMATIR

Posted on August 29, 2013

0


Image

diambil dari akun twitter @Tanimajus

Hari Rabu 28 Agustus 2013, entah ada angin apa mendadak dua orang teman kantor yang mengendalikan radio tanpa gelombang mengisi playlist siaran siang harinya dengan lagu-lagu dangdut. Mungkin lebih tepatnya orkes musik dangdut humor seperti apa yang disajikan oleh OM PSP (Orkes Moral Pancaran Sinar Petromax), PMR (Pengantar Minum Racun) maupun PHB (pemuda Harapan Bangsa).

Saya dan beberapa orang yang sedang ngobrol-ngobrol di bawah jelas terdistraksi, terlebih saya. Jika ada lagu bermain, saya segera bertanya: “Ini lagu siapa?” selang saat kemudian saya beranjak lagi dari tempat duduk untuk sekadar melongok ke atas dan bertanya: “Kalau yang ini (lagu) siapa?”

Puncaknya adalah ketika saya sampai dirumah, saya langsung mengarahkan pikiran saya ke sebuah band yang berasal Malang bernama Tani Maju.

Yang lekat dalam kepala saya ketika nama Tani Maju disebut adalah pendapat dari salah satu personelnya, seperti yang akan saya tulis pada paragraf setelah ini.

“Juancok! Isin aku dideloki Norman. Talah gitarku gak nyetem pisan!” (Juancok! Malu saya dilihat Norman. Udah gitu, gitar saya gak tuning) ujar gitaris Tani Maju sembari kehabisan ide untuk bergerak normal, ketika mengetahui kehadiran Norman di samping panggung.

Kalau saya tidak ingat, kejadian itu berlangsung sekitar tahun 2007. Saya lupa pastinya, tapi yang masih saya ingat kejadian itu berlangsung di sebuah acara launching album pertama C-4 di lapangan Politeknik Malang.

Waktu itu saya diperbantukan untuk sesi dokumentasi. Kerjaannya? Ya gitulah, bantu-bantu dokumentasi pokoknya. Berbekal sebuah handycam, saya berada di sela panggung dengan barikade penonton. Dan seperti yang bisa ditebak saya mendapat banyak teriakan dari penonton karena kehadiran saya menjadi penghalang, haha.

Oya, sebelum menuju ke inti masalah, ada baiknya saya ulas sedikit siapa Norman yang membuat gitaris dari band idola saya merasa malu yang teramat sangat.

Norman Duarte Tole adalah satu-satunya gitaris tercepat yang pernah saya kenal di Malang. Kenapa saya berani berkata satu-satunya? Karena pergaulan saya yang tidak luas, sehingga saya tidak bisa menyebutkan nama lainnya. Mungkin banyak gitaris lain yang lebih cepat, tapi saya saja yang tidak tahu. Mohon maaf.

Meskipun Norman sudah identik dengan Ngalam (istilah walikan untuk menyebut Malang), tapi perawakannya yang identik dengan Surya Paloh tidak bisa mengecoh persepsi kita bahwa ia melewati masa puber di bagian timur Indonesia.

Ia memiliki sebuah band bernama C4 (konon kabarnya barusan bubar, entah benar atau tidak) dan Ia juga terlibat dalam proyek Arema Voice dan entah proyek apalagi. Proyek dia yang terakhir (sekaligus menjadi hutang baginya kepada saya) adalah album solonya yang terbaru.

Sejauh pengetahuan saya, gitaris idola Norman adalah Dimebag Darell, Richie Kotzen dan Nuno Bettencourt. Tapi nama-nama seperti Alan Holdsworth, Tom Morello, Jimi Hendrix, John Frusciante, Jonny Greenwood juga termasuk sih. Ah entahlah, coba tanya saja sendiri, ini akun twitternya: @normadman Oya, dia juga seorang penulis cerita fiksi yang mahir!

Sudah, sampai di sini saja soal Norman. Sekarang mari menuju ke inti permasalahan, yang mana inti permasalahannya adalah saya tidak mengetahui jumlah dan nama personel (salah satu) band idola saya. Kecuali penabuh jimbe, Sri. Itupun saya “terpaksa” tahu akibat keseriusannya untuk melulu bertindak gila tiap kali didaulat sebagai MC disebuah acara.

Lantas kenapa saya berani-beraninya mengaku jogeder sementara menyebutkan jumlah dan nama personal saja tak mampu? Alasannya ada dua, karena Tani Maju adalah band yang pertama kali saya nikmati ketika berada di malang dan satu lagi adalah karena Tani Maju menjadi semacam panacea ketika saya merasa jengah dengan hiruk pikuk dunia musik (khususnya ketika saya berada di kota Malang).

*****

Tak lama berselang setelah saya melihat Tani Maju di gedung Samantha Krida, saya langsung memutuskan bahwa ini adalah band yang harus saya beri label “Saya fans mereka!”. Lagu-lagunya tentu saya tidak mengerti, karena saya mulai fasih berbahasa jawa (dialek jawa timur, khususnya) pada tahun 2006. Sedangkan pertama kali saya menonton Tani Maju tahun 2005.

Jadi aspek apa lagi kalau bukan nada yang mempersatukan kami?

Namun seiring dengan mulai lancarnya saya berbicara dengan menggunakan bahasa jawa, saya makin asik dengan dunia saya. Nongkrong disana-sini, kenalan dengan orang ini-itu, membentuk band, bertukar referensi, dan entah hal apa lagi yang saya lakukan saat saya merasa bahwa tembok ruang kuliah itu pucat dan menjenuhkan.

Berkutat dengan dunia musik (so called: scene) di kota Malang adalah salah satu kegiatan yang saya jalani selanjutnya, mulai dari hanya sekadar bercanda, mendapat cerita yang kebenarannya belum tentu dapat dipertanggung jawabkan, hingga membuat acara kecil-kecilam menjadi menunya.

Tapi sejauh itu pula saya tidak terpikir untuk menyantap menu yang disajikan oleh Tani Maju, mungkin saya yang luput atau Tani Maju yang tidak pernah beredar lagi waktu itu? Atau bahkan saya merasa kebutuhan saya akan bebunyian tidak bisa dipenuhi oleh Tani Maju?

*****

Entah apa kabar kondisi musik kota Malang sekarang, saya semakin tidak paham. Bahkan seorang bandmate yang saat masih berada di Malang (dan sempat saya interogasi beberapa waktu lalu) memberi jawaban yang pada intinya memiliki kesamaan dengan saya.

Bagi saya, dunia hiburan berputar sangat cepat mengikuti laju yang sesuai masanya (baca: tren). Jika sudah tidak pada masanya, bersiaplah tersisih. Mungkin ada beberapa orang yang masih setia namun saya jamin tidak banyak, karena pada akhirnya itu jelas cuma nostalgia belaka.

Seperti apa yang selayaknya dilakukan jika bernostalgia melalui medium musik, cukuplah mendengar lagu-lagu karya mereka seperti “Salam Tani Maju”, “Pemabuk”, “Masihkah Kau Ingat”, “Artis Top Daerah”, “Metal”, “Cita-Cita”, dan “Casthole”.

Benar sekali bahwa motivasi saya kali ini hanya sebatas nostalgia belaka berlandaskan kesenangan semata, tidak lebih. Meskipun kalau saya berkehendak untuk membedah lirik ataupun musik, saya berani jamin akan terasa cukup menarik 🙂

Jika ada kesempatan untuk bertandang ke Malang, saya pastikan untuk coba mencari keberadaan personel Tani Maju dengan maksud dan tujuan berkenalan. Semacam sebuah gerakan mengulurkan tangan kanan kemudian saya menyebutkan nama, selanjutnya mau berkembang menjadi apa biar obrolan saja yang menentukan konstruksinya.

Gembira ria kita bersama menjunjung tinggi perdamaian. Kita ini masyarakat biasa,belum tentu jadi.. artis top ibukota. Syalalalala Syalalalala “  ~Tani Maju (judul lagu: Salam Tani Maju)

 

Sekadar berbagi kesenangan dalam format video:

Beberapa video live perform Tani Maju

Casthole

Salam Tani Maju

Biografi singkat Tani Maju

 

—–

Agung Rahmadsyah

Bekasi

29 Agustus 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized