Kalau gak kreatif, gak usah bermusik

Posted on October 15, 2013

1


Sebenarnya judul di atas bukan ditujukan bagi siapapun yang memiliki hobi bermain musik, lagian siapa juga yang berhak melarang kesenangan seseorang selama itu tidak merugikan hak orang lain?

Dalam kasus musisi yang rajin mengarsipkan karyanya sejak era myspace hingga soundcloud, manusia-manusia itu jelas berhak bermain-main dengan nada atau mengorganisir bunyi yang sedemikian rupa sehingga bisa disebut lagu. Terlepas itu memainkan ulang karya orang lain ataupun karyanya sendiri, memiliki lirik atau tidak, terkonsep atau amburadul, bukan hal yang pantas dipersoalkan.

Yang jadi persoalan adalah ketika hobi bermotif senang-senang itu sudah bertemu dengan sebuah perspektif baru yang diberi label industri, sejauh yang saya tahu jalannya cuma ada dua: tetap pada jalur bersenang-senang atau menyikapi insiden pertemuan itu dengan cukup serius.

Dalam kata pembuka buku Music Biz yang ditulis oleh Wendi Putranto, industri musik seperti terdeskripsikan dengan sepenggal lirik lagu berjudul Welcome To The Jungle karya Guns N Roses.

“You know where you are? You’re in the jungle Baby, you’re gonna die!”

Sebenarnya jika sudah membaca sekaligus mencoba memahami dan menjalani apa yang tertulis dalam buku karangan Wendi Putranto yang memiliki tagline Manual Cerdas Menguasi Bisnis Musik, sungguh anda tidak perlu lagi membaca tulisan ini. Tulisan yang jauh dari kategori bernas karena hanya berisi racauan dari pikiran yang bersumber pada rutinitas.

Menuju ke pertanyaan dasar untuk para musisi mengenai siapa yang tidak ingin memiliki penghasilan (baca: uang) dari musik, jika memang musik adalah bagian yang mengambil porsi cukup besar dalam hidupnya? Tidak peduli ada pengalaman tersembunyi ataupun obsesi terpendam macam apa antara dia dengan musik, saya berani yakin kalau itu adalah mimpi basahnya.

Namun kondisi di Indonesia bisa dikatakan sangat absurd, sampai detik ini seorang tidak bisa menjadi kaya dengan musik bisa dibuktikan hanya mitos dan musik bukanlah pegangan untuk bertahan hidup pun juga bukan mitos belaka. Lantas yang manakah realitanya? Jawaban yang sanggup saya berikan hanyalah: realita itu jelas bukanlah mitos.

Kembali ke akar permasalahan: bertemu dengan perspektif bernama industri dalam konteks musik. Kondisi ini (setidaknya menurut saya) membutuhkan tindakan yang tepat guna apalagi kita berada di Indonesia yang sekali lagi saya katakan dengan jelas ABSURD.

Jangankan soal musik, soal pantai-gunung-hutan-sawah saja yang bisa kita injak-injak sesuka hati karena memiliki kaitan yang lekat secara ragawi dengan negeri ini dari segi geografi dan kultural masih belum tertata apalagi soal musik yang tidak bisa diraba?

Musik adalah bagian dari sebuah aspek kehidupan yang berkaitan erat dengan kreativitas, dan mulai dari sini saya akan merancang racauan saya.

*****

Kreatif. Entah kenapa, beberapa bulan terakhir ini saya semakin yakin kalau kata tersebut hanyalah sebuah jargon primer yang kosong atau doktrin dalam upaya pencucian otak masyarakat yang melulu digembar-gemborkan oleh sebuah kementerian yang (entah dengan sengaja atau tidak) meletakkan kata pariwisata dan ekonomi pada posisi sebelum kreatif.

Dari urutannya saja sudah bisa ditebak aspek apa yang dilindungi, coba anda silahkan ganti kata ekonomi dengan politik atau agama atau hukum, sudah terasa berbeda kan kepentingannya? Saya berburuk sangka? Memang! Setelah mendengar cerita teman yang nyaris menjadi tumbal di sebuah desa di tanah jawa, saya berpendapat lebih baik preventif ketimbang terjebak!

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ekonomi, politik, agama bahkan hukum sekalipun. Tapi (lagi-lagi menurut saya) permasalahannya adalah etika. Mengutip Albert Camus (biar tekesan intelek, padahal berceceran di situs-situs penyedia jasa quote untuk memotivasi diri sendiri yang entah berhasil atau tidak) “A man without ethics is a wild beast loosed upon this world.”

Saya tidak tahu menahu tentang prosentase yang didapat oleh penduduk lokal yang daerahnya masuk dalam denah destinasi wisata nusantara, tapi saya yakin bahwa para investor akan jauh lebih besar prosentasenya. Dari mana sajakah para Investor itu berasal? Kalau sektor pajak dijadikan senjata pamungkas berpedoman kesejahteraan rakyat, siapa yang sudi percaya setelah kasus BLSM yang ber-genre random itu?

Barangkali ada yang bisa jelaskan pada saya secara terus terang mengenai apa yang terjadi di bali selatan, selain kerakusan bermodus pengembangan pariwisata? Dan saya juga tidak habis pikir kenapa pula puncak acara Sail Komodo yang seharusnya diadakan tanggal 9 september harus diundur lima hari dengan alasan tanggal 9 September adalah hari ulang tahun seseorang.

Jika alasannya memang murni persiapan kenapa pula harus diumumkan lewat situs kementerian yang lainnya bahwa tanggal itu bertepatan dengan hari ulang tahun (sebut saja) SUSI? Jika benar SUSI sudah berniat hadir, seharusnya ulang tahun bukan jadi penghalang karena (sejauh yang saya tahu) ulang tahun jelas bukan kategori FORCE MAJEURE. Silahkan dikoreksi jika salah.

Image

Bagi saya contoh di atas sudah mengindikasikan kepentingan kami berada di atas kepentingan kita dan inilah yang masih menjadi pokok kecurigaan saya terhadap kementerian tersebut. “Istilah saya kongkalikong!” Ujar SUSI, seperti yang sering terlihat cuplikan adegannya di layar televisi.

*****

Saya pikir cukup sudah saya melantur soal pariwisata sebanyak beberapa alinea, sekarang kembali menuju musik dan kreativitas. Mengacu pada racauan saya yang tercipta akibat rutinitas, dunia musik di Indonesia sejujurnya sungguh sangat kreatif.

Buktinya saya masih menemukan nama-nama seperti Djaduk Feriyanto, Ferinandus Lah, Viky Sianipar, Gustu Brahmanta, dan Wukir Suryadi. Sangat mungkin masih banyak lagi nama-nama lainnya, ini hanya perkara keterbatasan saya dalam referensi saja.

Djaduk hingga Wukir adalah nama-nama yang terlampau kreatif, saking kreatifnya mayoritas media massa di Indonesia yang sibuk dengan urusan dinastinya masing-masing tidak sanggup merekam jejaknya. Jangankan membuat esai atau kritik, cukup membuat reportase berlandaskan rumus sederhana jurnalistik 5W+1H saya curiga mayoritas itu tidak mampu terlepas apapun alasannya.

Karena saya merasa mampu, lebih baik saya menulis saja. Toh di Indonesia juga tidak banyak yang bisa membaca kan? Kalau memang benar banyak yang bisa membaca, saya yakin sekali pintu yang ada di toko waralaba “maret & mart” akan terbuka sesuai dengan petunjuk yang tertera di atas gagangnya, tempat sampah akan penuh sesuai dengan spesifikasinya dan situasi industri musik Indonesia akan jauh lebih keren!

Situasi industri musik di Indonesia akan jauh lebih keren? Kok bisa? Dua buku ini jawabannya

Image

Bukannya mau promosi buku teman, tapi jikalau sudah membaca dua buku tersebut niscaya anda yang ingin berkarir sebagai musisi tidak akan mengalami kebutaan baik secara visual dan mental tentang industri musik.

Akan saya coba menuliskan poin-poin apa saja yang dibahas dalam kedua buku tersebut dan saya pikir berguna untuk dicari tahu sekaligus dipahami kemudian dieksekusi:

Indie Label:

Idhar menjelaskan dengan ringkas disertai gambaran mengenai langkah-langkah teknisnya. Seperti; perbedaan major label & indie label, manajemen label rekaman, proses produksi atau merekam materi lagu, pendistribusian, dan promosi.

Music Biz:

Yang dipaparkan disini terasa jauh lebih kompleks secara wawasan, dalam bukunya Wendi menjelaskan tentang manajemen band, entertainment lawyer, produser, hak cipta, performing rights, penerbit musik, pembajakan, hingga ke perkara Ring Back Tone dan lampiran tentang UU Hak Cipta.

Rasanya tak ada yang sanggup saya tambahkan atau koreksi, mengingat kredibilitas saya yang bukan siapa-siapa. Namun karena saya sudah lancang berkata “KALAU GAK KREATIF, GAK USAH BERMUSIK” dalam judul tulisan ini, maka saya akan coba meracau tentang sebuah aspek yakni promosi.

Kenapa cuma promosi? Karena cara-cara mengenai bagaimana membuat lagu, mengaransemen lagu, merekam lagu, mengedit lagu, hingga mencetaknya kedalam sebuah media baik kaset, CD, ataupun Vinyl tidak harus dijelaskan karena itu jelas tergantung kondisi band atau musisinya masing-masing. Singkatnya itu adalah proses yang harus dijalani setiap musisi dan tidak ada rumusan bakunya.

Alasan lainnya, promosi ini berkaitan dengan dua jalan yang saya sebutkan tadi: tetap pada jalur bersenang-senang atau menyikapi insiden pertemuan itu dengan cukup serius. Ditambah lagi kedua jalur itu rupanya tidak mudah.

Menurut saya, kalau ingin sekadar bersenang-senang ya tidak usah capek-capek promosi, menjalani proses kreatifnya saja sudah bikin lelah kan? Namun persoalannya adalah jika proyek bersenang-senang itu mendapat respon pihak ketiga dan tiba-tiba anda merasa ingin mencoba serius karena rupanya mendatangkan kesenangan dalam bentuk lain (bagi enggan menyebut uang) maka promosi adalah jalannya.

*****

Bagi saya, suara pedagang obat di pasar tradisional yang menggunakan pengeras suara murahan hingga khutbah di beragam tempat ibadah yang megah, saya anggap itu adalah contoh nyata dari kegiatan yang bernama promosi. Nah, kalau urusan promosi dalam musik apa dong?

Mungkin orang yang pertama kali saya temui untuk “konsultasi” perkara promosi adalah vokalis band dimana posisi saya adalah penggemar beliau dari beragam perspektif: kreatifitas, kemampuan menulis (baik prosa (baca: lirik lagu) maupun bentuk lain diluar prosa), hingga pemikirannya. Mungkin saya termasuk penggemar yang kurang ajar karena request sesi konsultasi disela kesibukan beliau, semoga beliau bisa memaafkan hobi khilaf saya.

Pertanyaan pertama yang saya lontarkan adalah “Seringai pas rilis TARING (nama album ketiga .RED) kemarin promosi gak, Yan?” dan Arian menjawab singkat “Ngak tuh”.

“Nah lho! Kalau gak promosi, gimana penjualan album TARING bisa sampai menembus angka dua puluh lima ribu kopi ditambah merilis vinyl 7“ sejumlah 300 kopi dan ludes pula?” Itu pertanyaan di kepala saya. Klenik? Saya rasa bukan.

Bagi saya yang awam dengan jenis musik yang mengeksploitasi distorsi hampir sepanjang lagu, Seringai adalah contoh bagaimana seharusnya musisi berpromosi. Apalagi mereka-mereka yang masih sibuk melabelkan dirinya sebagai musisi Independent.

Sebenarnya acuannya tidak harus ke band yang lupa mematikan pedal efek distorsi apalagi sampai spesifik menyebut nama band, tapi saya belum mampu menemukan nama lain yang mandiri seperti Seringai. Perlu bukti? 11 tahun berjalan tanpa manajer dan masih bisa bertahan, masih kurang mandiri apa? Hehe.

Perkara optimalisasi sosial media juga tidak perlu dijelaskan lagi. Sekarang ini cukup banyak pihak yang coba belagak ganjen di twitter, akun twitter band pun juga berulah sedemikian rupa. Dalihnya sih komunikasi dan bersikap ramah, tapi sebenarnya saya suka geli dengan pihak-pihak yang sering ngomong “demi memperlancar komunikasi” itu apakah paham definisi sederhana komunikasi?

Twitter adalah sebuah media yang kemungkinannya sangat besar bagi sebuah pesan terdistorsi dengan baik apalagi faktor prosesnya yang tidak berjalan mulus, sehingga komunikan pun banyak yang tidak sanggup menangkap maksud komunikator.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cerdasnya orang yang mampu menyampaikan pesan dalam 140 karakter saja? Sedangkan sampai disini jumlah karakter yang terhitung tanpa spasi saja sudah menunjukkan angka (nyaris) 10.000 dan saya masih belum merasa pesan ini tersampaikan.

Perkara twitter juga sempat saya singgung waktu itu; “Akun twitter Seringai tuh sombong bener ya? Ngetwit semaunya aja dan sepertinya sangat jarang gue lihat merespon mention.”

Dibuka dengan sedikit tawa, kemudian Arian menjawab “Kalau itu sih emang gak ada yang ngurusin, adminnya pada sibuk sendiri-sendiri. Lagian kalau di luar negeri juga jarang atau mungkin gak ada band yang merespon mention penggemarnya lewat akun official bandnya.”

Wah, ini bener juga. Saya bolak balik mention ke @pinkfloyd dan @milesdavis juga tidak pernah dapat balasan. Eh, sebentar deh! Bukannya Pink Floyd dan Miles Davis sudah tidak eksis di industri musik, lantas untuk apa mereka masih eksis disana? Aduh! Sosial media memang membingungkan. Kita pindah ke media massa saja yuk! Media massa dan sekilas tetek bengeknya.

*****

Mengucap media massa mungkin sebagian besar dari kita langsung akan menunjuk ke Koran, ya kan? Tidak salah memang, tapi saya ingin memulai dari televisi. Bagi yang sudah menonton film karya Ucu Agustin berjudul Di Balik Frekuensi, saya yakin pandangan anda tentang kondisi media massa (khususnya televisi) sudah berubah menjadi lebih sinis.

Dari 9 stasiun televisi swasta nasional, ternyata kepemilikannya cuma terkonsentrasi pada 4 orang: Hary Tanoe soedibjo (MNC TV, GLOBAL TV, RCTI), Eddy Kusnadi (SCTV & Indosiar), Chairil Tanjung (Trans TV & Trans Corp), Aburizal Bakrie (ANTV & TV One) dan Surya Paloh (Metro TV). Mohon dikoreksi jika saya salah.

Sekarang kita kembali pada urusan musik, stasiun televisi mana saja yang memiliki program musik? Nampaknya lebih dari setengah dari jumlah stasiun televisi yang saya tulis di atas berlomba-lomba menyajikan menu musik pada pagi hari yang perihal target penontonnya masih menjadi keheranan bagi saya.

Tapi “ya sudahlah, ya?!” rumor soal penonton bayaran hingga band yang harus membayar untuk bermain di program-program musik pagi, bukan hal yang patut kita herankan lagi karena mungkin sebagian dari kita sudah biasa mendengarnya, dan bagi yang belum terbiasa maka biasakanlah. Niscaya jika kita semua sudah tidak heran, pihak televisilah yang akan terheran-heran menyaksikan umatnya mendadak hilang karena tidak ada imam yang bersedia bangun pagi untuk sekadar mangap-mangap.

Setelah televisi, saya ingin menempatkan radio. Kenapa radio? Karena Video Killed The Radio Star adalah sejenis jargon yang membangkitkan semangat primordial masyarakat 90’an karena merasa wahana bersenang-senangnya mendapatkan ancaman dari televisi. Kenapa jadi melantur gini? Ah, dari awal saya memang sudah melantur.

Soal radio ini bisa dianalogikan dari sebuah film Indonesia yang berjudul Berbagi Suami, tinggal ganti saja kata suami dengan frekuensi. Lagi-lagi frekuensi? Haha! Sekarang siapa yang bisa menghitung berapa jumlah stasiun radio di kota tempat anda tinggal? Cukup radio yang menunggangi gelombang FM saja. Kalau di Jakarta, mungkin mencapai angka 100.

Bermodal kata network beberapa radio itu bisa bertahan hidup, cukup bayar sekian maka produk anda akan dipromosikan (baca: diiklankan) pada jaringan kami yang terdapat di lokasi ini, ini dan ini. Ada yang menarik disini, segala hal yang sudah bercumbu dengan kata industri pasti hasilnya akan menjadi produk. Feses luwak yang secara imajinasi menjijikkan pun sangat layak disebut produk apalagi musik yang bisa dinikmati dari sisi objek dan subjek?

Beralih ke media massa yang sarat akan alfabet (koran, majalah, tabloid, bulletin, hingga bentuk lain yang cerdas menyikapi perkembangan zaman), kondisinya tidak jauh berbeda dengan dinasti network yang sudah saya sebutkan tadi. Bedanya mungkin cuma labelnya saja yang diganti dengan istilah grup. Anu grup, palelo grup, toet-toet grup, dan entah grup apalagi, saya tidak hafal.

Yang patut diingat, media massa tidak berhak disalahkan. Alasannya sudah jelas, di dalam industri faktor bisnis dan ekonomi yang jadi pertimbangan utama. Dan satu lagi yang patut diingat, mereka juga cerdas mencari celah untuk menanggulangi persoalan perut pegawai mereka yang mungkin berjumlah ratusan, wahai bung dan nona. Marketing division, we do salute you!

*****

Sedari tadi sepertinya saya melulu mengecam media ya? Gak juga ah, buktinya saya membela posisi mereka yang cerdas menyikapi aspek bisnis dan persoalan ekonomi sehingga mereka bisa bertahan sampai detik ini.

Eh, hampir lupa ada tulisan pulen tentang media nih Ketika Media Massa Berpolitik (duh, kenapa jadi ketularan gerombolan CSDS, ikut-ikutan ngomong “pulen”? #huft)

Kembali lagi ke persoalan promosi, hal ini pun tidak luput dari apa yang sedari tadi saya tuliskan: Kreatifitas. Karena jika hanya mengandalkan media massa sebagai mind set promosi, kemungkinannya cuma dua gagal atau gagal sekali.

Kenapa bisa gagal atau gagal sekali? Karena untuk menakar keberhasilan di negeri ini bukan diukur dari kualitas melainkan pada sensasionalitisasi, semakin anda kosong dan nyaring maka semakin tenarlah anda karena akan banyak media massa yang mengulas.

Apa buktinya? Sumpah saya gak bohong kok, demi tuhaaaaaaaaan!!!! (tak berapa lama kemudian, si pengucap “demi tuhaaaaaaaaan!!!!” sudah keliatan nyanyi-nyanyi di acara talkshow TV swasta yang dipandu oleh pesulap yang mungkin sudah menjadi tokoh diet nasional di kalangan manusia gengges)

Lantas harusnya seperti apa?

Mengutip apa yang diucapkan oleh Joker (yang lagi-lagi bisa disimak dalam berpuluh-puluh situs penyedia jasa quote) “If you’re good at something, never do it for free”. Maka sekarang saya akan berikan pandangan ngawur saya secara cuma-cuma karena saya tak piawai dalam bidang promosi, apalagi dibidang musik! Buktinya sudah jelas; saya tidak punya band.

Dalam kasus beberapa musisi atau orkes musik yang saya tahu, promosi mereka tidak hanya terfokus pada gerilya media massa. Media massa bukan fokus mereka, karena mereka mandiri dan menggaet banyak penggemar bukan  karena media massa. Justru yang utama adalah aktivitasnya atau bisa disebut juga produktivitas. Karena pada kenyataannya sangat jarang media massa yang menyimak karya mereka, apalagi pergerakan mereka. Gak usah ngarep banyak!

Menurut saya, aktivitas atau produktivitas utama seorang musisi akan diperhatikan jika ia atau mereka sedang berada di panggung. Apa sajakah yang mereka persembahkan atau tunjukan kepada khalayak? Cukup karya saja atau perlu apalagi? Ini jelas pekerjaan rumah para seniman untuk mencari tahu, bukan penggemar apalagi awak media massa.

*****

Sampai detik ini saya masih tidak habis pikir apa yang ada di kepala seorang John Frusciante Josh Klinghoffer ketika mereka memainkan sebuah aransemen berjudul Communique (dari album Sphere In The Heart of Silence) yang terdokumentasikan di channel youtube FruscianteWorld berikut ini

John Frusciante yang mengenakan kaos oblong berwarna putih beserta kupluk berwarna jingga, duduk seenaknya menghadap kotak berisi tombol-tombol yang entah kegunaannya untuk apa. Bagusnya lagi posisi duduknya 100 % membelakangi penonton dengan lagak seperti pengunjung warteg yang kekenyangan.

Josh Klinghoffer pun tak kalah cuek, bermain keyboard sambil bernyanyi semaunya sampai akhirnya ia pun terduduk di lantai yang sama dengan John Frusciante. Dari awal hingga akhir, sama sekali tidak berhadap-hadapan. Perfect! Such a nice entertainment!

Dugaan saya adalah itu cara mereka mempersembahkan sebuah pertunjukan kepada penggemarnya. Atau bisa saja kan mereka sedang mempromosikan bahwa mereka adalah figur musisi yang cuek?

Tapi apakah contoh di atas cocok diterapkan disegala situasi? Sepertinya tidak, khususnya di Indonesia yang masih butuh dan akan selalu butuh kibul-kibul (istilah yang dipakai Seno Gumira Ajidarma untuk pengganti kata basa-basi .RED) karena sudah menjadi kebiasaan yang tak jarang justru bikin mual karena takarannya lebay.

Sebagai penutup tulisan yang sangat berpotensi tambah ngawur apabila diteruskan, lebih baik saya segera berikan poin-poinnya saja. Poin-poin yang menurut saya bisa dilakukan sebagai upaya promosi ketika berada di panggung (mungkin juga hingga ke bawah panggung) dan silahkan saja jika ada yang menganggap ini sebagai gimmick

  1. Bercengkerama (Ini jelas membutuhkan jam terbang dari praktek lapangan dalam konteks bersosialisasi, meskipun hasilnya tidak melulu harus nampak cool karena justru yang natural yang akan meninggalkan kesan.  YANG PERLU DIINGAT: Jangan membicarakan sesuatu yang tidak patut dibicarakan, karena ini panggung bukan mimbar propaganda berlabel agama. Bercandapun ada batasnya, kalau mau becanda gak ada batasnya mending pindah ke panggung fesbuker!)
  2. Ajak teman (Selain menunjukkan bahwa anda punya teman, bisa saja teman yang anda bawa punya pengikut yang lebih banyak ketimbang anda. Dan ini sangat bisa menjadi gimmick yang menarik! YANG PERLU DIINGAT: Kalau ke atas panggung cukup bawa beberapa saja yang menurut anda relevan, jangan mentang-mentang merasa banyak teman terus rombongan majelis fasis yang hobi konvoi diajak naik juga. Ambruk nanti panggungnya!)
  3. Berterima kasih ke penyelenggara acara (Siapa sih yang gak suka diucapkan terima kasih? Cobalah: setelah anda ditampar orang terus ucapkan terima kasih, saya yakin yang nampar pasti dia terkejut dan sungkan padahal seharusnya orang itu gak layak diucapkan terima kasih. Apalagi pihak yang merasa layak untuk anda ucapkan terima kasih. YANG PERLU DIINGAT: Gak usah sering-sering nyebut apalagi sampai memuji layaknya berhala, emang situ lagi nulis advertorial?)
  4. Memperhatikan band lain yang sudah atau akan berbagi panggung (Hampir sama seperti nomor 3, intinya juga mengucapkan terima kasih tapi ini konteksnya lebih seperti hablumminannas atau hubungan kepada sesama manusia. YANG PERLU DIINGAT: Usahakan untuk sejenak melihat penampilan band-band yang bermain sebelum anda, atau jika anda tidak tampil sebagai headliner cukup saja bilang “selamat menikmati pengisi acara selanjutnya”. Urusan di bawah panggung saya gak mau ikut campur.)
  5. Kampanye (Bedakan dengan definisini menjijikkan kampanye dalam kamus yang sering digunakan oleh parpol! YANG PERLU DIINGAT: Gak usah kampanye soal lingkungan hidup kalau emang gak ngerti, malah ketauan goblok nanti! Mending kampanye tentang sendiri, misalnya yang menyangkut sosial media, karya terbaru anda yang non-musikal (merchandise atau sejenisnya), jadwal manggung terdekat, atau hingga ke rencana bubar juga tak masalah. )

Jika ada yang berpendapat saya cuma bisa nulis doang, memang iya! Makanya aktif dan kreatif dikitlah, kalau udah tau jalan utama macet total cari jalan alternatif supaya bisa sampai tujuan, biar saya gak ngecap situ bisanya cuma ngeluh doang. Katanya independent?

 

—–

Agung Rahmadsyah

Bekasi

15 Oktober 2013

Advertisements
Posted in: Uncategorized