Sesi perbincangan singkat dengan: matajiwa

Posted on March 12, 2014

0


Image

“Inspirasi kami adalah seniman-seniman tradisonal yang mirisnya sekarang mulai gak ditengok, padahal mereka itu deket banget sama kita.”

Minggu (19 Januari 2014) saya berjanji bertemu dengan teman dalam sebuah ajang reguler berjudul Super Bad. Tujuan saya malam itu hanya ada dua: mengkonfirmasi jadwal wawancara dengan matajiwa sekaligus melihat kembali polah mereka di atas panggung. Salah satu hal yang saya suka dari matajiwa adalah aksi panggung mereka yang tergolong asik sendiri tanpa harus dingin terhadap penontonnya, termasuk langka jika bicara dunia hiburan di Indonesia, setidaknya bagi saya yang pengetahuan tentang musiknya terhenti dijari tengah.

Menuju tanggal 21 Januari 2014 atau hari dimana matajiwa menyepakati jadwal wawancara, saya melihat duo tersebut sudah duduk semeja dengan 3 orang, sedang melakukan wawancara juga. Sebelum saya merapat ke meja sebelah barat, karena alasan tidak mau menggangu dan menemani kawan yang duduk sendiri berteman secangkir kopi dan 3 lembar tempe mendoan, saya menyempatkan diri mengambil satu botol bir ukuran kecil di lemari pendingin, tentunya atas seizin “penunggu” coffeewar [sebuah café di bilangan Kemang Timur –Red.]

Sekadar menginfokan, matajiwa adalah band dengan format duo yang beranggotakan Anda Perdana (Gitar, Vocal) dan Reza Achman (Drumcussion) yang saat itu masih terbilang baru meluncurkan album part 1.

Bicara sedikit mengenai motivasi, mewawancarai matajiwa adalah karena faktor saya merasa suka dan cocok dengan karya mereka. Itu saja sih, hehe. Kronologisnya barangkali seperti ini;

  1. Membeli album matajiwa Part 1 di Tokove, beberapa hari setelah tiba di Jakarta.
  2. Menghubungi teman yang menjabat sebagai editor di sebuah instansi media (yang berasal dari negara pemasok kebudayaan global bertajuk Rock N’ Roll) untuk bertanya apakah matajiwa sudah diwawancara, apabila belum saya dengan suka rela menawarkan diri untuk jadi pewawancara.
  3. Mendapat jawaban sesuai ekspektasi, dipersilahkan mewawancarai matajiwa. Terimakasih tuhan yang tak bertuan, situ memang maha kece berat!

Sesi wawancara ditambah foto hanya memakan waktu tak lebih dari 3 jam, namun sesi setelahnya yang tergolong berat. Baik secara konten obrolan, khususnya soal beban berat yang tersisa di kepala keesokkan harinya.

Mulai obrolan tentang media massa arus utama di Indonesia yang harus segera dieliminasi karena hanya membawa energi negatif hingga masalah penjiwaan dalam bermusik berdasarkan apa yang dialami oleh Anda & Reza, dan sudah pasti ada sesi off the record yang tak bisa dipaparkan disini.

Minuman alkohol lokal pun mulai menemani obrolan dan sesi gitar kopong malam itu, bahkan ketika menjelang pukul 11 malam secara mendadak terbitlah Bontel [Gitaris Float -Red.] & Bharata [Perkusionis Bonita & the Hus BAND –Red.] yang keluar dari pintu belakang sebuah mobil. Mau tidak mau, sesi itu berlanjut hingga “intro” adzan subuh terdengar sayup ditelinga.

Hingga tulisan ini selesai dibuat, matajiwa masih harus istirahat sejenak karena musibah yang dialami Anda. Namun seminggu yang lalu saya menjadi saksi (di twitter) bahwa Anda telah memangku gitar dan kembali bernyanyi, sehingga saya bisa memprediksi bahwa matajiwa akan kembali berbuat “onar” dalam waktu dekat. Bagi yang belum pernah mendengar seperti apa karya matajiwa, silahkan unduh disini dan bersiaplah untuk terpikat atau minggat, pilihannya memang hanya dua.

Setelah dipertimbangkan secara personal, saya putuskan –secara personal juga, karena ini adalah blog personal— maka formatnya adalah seperti ini:

Pertanyaan atau pernyataan dari saya, akan diletakkan di tengah dengan underline.

Jawaban dimulai dari sebelah kiri, dan saya akan berikan penjelasan tentang siapakah yang menjawab.

***

Momen apa yang lo dapat ketika lo membuat lagu ‘Inti’?

Anda: Itu sebenarnya penggambaran dari sebuah penilaian baik dan buruk, pro dan kontra, atau apapun yang berlawanan. Kebiasaan manusia kan pada umumnya menghakimi, jadi dilagu itu poinnya adalah gak perlu mendiskriminasi seseorang selama orang itu gak bikin susah orang lain.

 

Dan kenapa lo analogikan lagu Inti dengan matahari?

Anda: Sebenarnya judul awalnya mau dibikin Inti Raymi, tapi kemudian kami putuskan untuk menjadikan ‘Inti’ saja karena mengingat matahari yang sebagai inti alam raya kita. Dia [matahari –Red.] gak pernah punya niat untuk niat mendiskriminasi atau membuat salah satu pihak merasa susah ataupun senang, karena semua udah ada jatahnya masing-masing. Misalnya kita di Indonesia sedang menikmati matahari di pinggir pantai sementara diwaktu yang sama ada orang di gurun yang sedang tersesat dan hampir mati, atau disebuah siang saat diluar rumah terjadi pembunuhan sementara orang yang di dalam rumah sedang pesta, padahal kan matahari ya cuma dia aja.

 

Apa itu Inti Raymi?

Anda: Inti Raymi itu sebuah pesta yang menjadi tradisi suku Inca. Dulu di matajiwa ada Carlos yang asalnya dari colombia, waktu kita ngejam untuk lagu Inti terus dia cerita kalau di negaranya ada festival itu.

 

Nah, sekarang si Carlos itu kemana? Dulu gue juga sempet liat lo pas bertiga, kenapa sekarang malah jadi berdua?

Reza: Emang sebenarnya kita berdua, terus ketemu Carlos itu terus kita minta bantuan ke dia buat ngisi-ngisi aja. Akhirnya karena Carlos terlihat cukup kewalahan membagi waktu, yaudah kami lanjut sesuai konsep awal aja.

Anda: Tau tuh, Carlos kayanya lagi serius banget menyelesaikan kuliah IT-nya. Susah man! [Tertawa]

 

Kalau lo berdua, gimana ketemunya?

Reza: Kami emang teman lama, tapi cuma sebatas gitu-gitu aja kenalnya. Habis itu gue cabut ke Australia tahun 1994 dan baru balik ke Indonesia tahun 2006, nah di tahun 2009 atau 2010 gue ketemu sama Anda langsung aja gue ajakin jamming. Gila kenal dari kapan tau, tapi gue gak pernah main musik bareng!

Anda: Kalau gue sih tau kalau Reza itu emang drummer, ngikutin gue … [Tertawa]

Reza: [Tertawa] Ya gitulah. Terus gue emang lagi cari partner untuk ekspresiin keinginan gue di musik, karena beberapa kali gue nyoba jamming sama orang tapi gak ada yang nyambung. Makanya gue coba ngajakin dia waktu pertama kali ketemu. Tapi setelah itu sempet gak ketemu lagi, sampai akhirnya ada gig di wedding yang mempertemukan kami lagi.

Terus waktu Anda “ngamen” di café gue diajakin, nah makin kerasa tuh chemistrynya di sana. Sampai akhirnya pas Anda diundang sama sebuah kampus di Bandung, terus gue gabung sama dia karena mau nyoba drumcussion. Pecahlah disitu!

Anda: Gak pakai latian itu. “Lagu ini ye? Lagu ini ye?” hajar aja pokoknya. Gue sama Reza sama sekali gak liatin yang nonton, gara-gara asik sendiri di panggung. Tiba-tiba pas kelar responnya juga gak kalah seru, kaget juga gue pas liat ke arah penonton. Anjir! [Tertawa]

Reza: Iya, mungkin karena kita keseruan sendiri penontonnya juga kena. Heboh gitu penontonnya. Terus gue sama Anda “Anjing! Ini dia nih!” dari situ kami mutusin untuk jalan berdua. Sampai akhirnya ketemu Rizma (saat ini menjabat manajer matajiwa –Red.) yang waktu itu cerita mau bikin kompilasi tapi ada masalah gara-gara satu band mengundurkan diri, terus Anda nawarin “Kenapa gak band gue aja?” begitu ditanya balik “Nama bandnya apa?” Anda jawab “Belum ada” [Tertawa].

Yaudah dari situ langsung aja gue dan Anda ngejam pol-polan bikin dua lagu dalam dua hari, salah satunya Mata jiwa.

Image

Reza

Image

Anda

Jadi matajiwa itu musik duluan, baru jadi nama band?

Reza: Iya.

Anda: Eh, nama dulu!

Reza: Musik duluan.

Anda: Ah, masa sih?

Reza: Iya, kan kita basicnya jamming buat proyek kompilasi piringan hitam. Nah selagi proses bikin lagu ‘Mata jiwa’, baru nyari nama band.

Anda: Oh, iya iya! [Tertawa]

Siapa yang menemukan nama matajiwa?

Anda: Reza.

Reza: Pertama gue ketemunya Jiwa, terus gue agak gak yakin karena gue pernah liat di facebook ada band yang namanya Jiwa. Meskipun ada yang ngasih info ke gue kalau bandnya udah gak jalan, tapi kami gak mau ceroboh aja. Terus ditambahin aja mata di depannya, biar enak dan selesailah. Kalau cuma Jiwa kesannya kaya gentayangan gitu [Tertawa]

Makna dari matajiwa itu apa?

Anda: Lebih ke menggunakan perasaan aja sebenarnya. Sebenarnya sih kalau mau dilengkapi jadinya mata kuping jiwa [Tertawa] tapi kan gak asik banget ya kedengarnnya? Jadi maksudnya biar lebih merasakan, jangan dilihat dari mata aja.

Reza: Bener, lebih ke sense sih pada akhirnya. Karena kami merasa dunia maya itu membuat orang kehilangan kedekatan sama alam, sedangkan untuk mendekati alam orang lebih butuh perasaan. Kaya jaman dulu orang itu sebelum dan setelah mengambil hasil bumi pasti menghormati dan itu yang bikin mereka bersatu banget sama alam. Kalau sekarang kan lebih visual aja, contoh instagram deh, misalkan ada foto yang seharusnya bisa dimaknai lebih dalam lagi tapi terhenti di batas “Oh, keren ya” udah gitu aja.

Nah Gue sama Anda berharap lebih bisa deket atau bahkan bersatu dengan alam, maksudnya lebih bisa menggunakan rasa khususnya di dalam musik. Dan bisa dibilang proses kita membuat musik itu emang benar-benar menggunakan rasa, baru dipoles secara teknik bermusik, ketemu reff, chorus dan lainnya. Kalau ngak dipoles bisa lama tuh satu lagu. [Tertawa]

Dalam lirik lagu mata jiwa, ada unsur bahasa lain selain Indonesia. Bisa dijelaskan artinya?

Anda: Intinya semua arti di lagu itu adalah mata jiwa. Disana kami pakai 5 bahasa, ada Perancis, Portugis, Spanyol, Italia, dan Indonesia.

Reza: Lagu ini wacananya lebih condong ke musik sih, bukan lirik seperti di lagu Inti.

Apa yang yang bikin lo yakin atau percaya diri untuk bermusik seperti ini? Kalau bicara dari sudut pandang Industri musik di Indonesia, jelas ini band gak bakalan dilirik sama pasar mayoritas.

Reza: Karena gue puas. Waktu selesai bikin lagu matajiwa terus gue tanya “Kita bikin apa sih ini, Bang?” dan Anda juga gak bisa jawab [tertawa]. Sempet kepikiran juga apakah orang bakalan nangkep atau ngak, tapi akhirnya cuek ajalah yang penting kami senang.

Idealis?

Reza: Bukan juga sih. Ini [matajiwa –Red.] tuh benar-benar jadi rumah, jadi gue sama Anda bisa mencurahkannya semuanya di sini. Dan kami berdua emang nemuin apa yang dicari, soal eksplorasi dalam bermusik.

Anda: Bener banget tuh! Pas begitu gue denger dari dia lagi pengen eksplorasi drumcussion itu tadi, gue langsung “yaudah hajar, terserah lo mau diapain” ini lebih mutualisme sih. Reza mau eksplor, gue juga mau eksplor. Nyambunglah jadinya!

Image

Konsep bermusik Matajiwa itu atas usul siapa?

Anda: Gak ada konsep, kosong aja. Pokoknya Reza mau pakai drumcussion, gue pakai gitar akustik. Begitu berhadapan terus bingung “Ini kita mau ngapain nih, Za?” [Tertawa.] Kalau misalnya drum sama gitar listrik mungkin gue masih ada gambaran, nah ini?

Terus pas mau rekaman, sama Firzi [produser –Red.] disaranin mending dicari dulu referensinya. Pas dicari referensi untuk sound juga gak ketemu. “Ngentot!” Akhirnya udahlah sok tau aja [Tertawa]. Mumpung belum ada, kami sok tau duluan, soal jadinya seperti apa ya seperti yang didenger di album yang beredar itu. Mungkin kalau untuk gitar masih ada, tapi kalau untuk setting drummnya dia gue pribadi sih belum pernah nemuin.

Reza: Ternyata ribet [Tertawa]

Anda: Iya man, asli ribet. Pertama kali sih mikirnya “Ah, cuma berdua ini” Eh, ternyata ribet. Di dua alat musik ini makan waktu banget buat ngulik, satu shift abis cuma buat nyari sound doang men, “Anjing! Kenapa susah gini ya? Maksudnya bikin berdua kan biar lebih gampang.” [Tertawa]

Kenapa lo memutuskan pakai gitar akustik, Nda?

Anda: Karena gak ada amplifier, lagian matajiwa latiannya gak pernah di studio [Tertawa]

[Tertawa] bisa bisa. Kalau lo Za, proses menemukan settingan drum seperti itu gimana?

Reza: Gara-gara Sawung Jabo sih sebenernya. Waktu pas gue di Australia dan bertepatan dengan masa krismon [Krisis moneter –Red.] di Indonesia, ada dua cyclist cewek Australia yang mau keliling Australia ngumpulin funding untuk Indonesia. Untuk pelepasannya di Sydney itu mereka cari artis dari Indonesia, dipanggil lah Sawung Jabo. Mas Jabo cari pemain, diajaklah Deva Permana, teman gue belajar di Australian Institute of Music.

Singkat ceritanya, gue ikutan juga karena Deva ngajak gue. Pas latihan pertama di rumahnya Sawung Jabo gue nggak bawa drums, tapi malah ditawarin Taganing [alat musik tradisional Batak Toba –Red.] dan macem-macem. Besoknya gue bawa drum set deh, tapi mas Jabo bilang; “Udah gak usah pakai kick, kaya kemarin aja biar beda!” Setelah dimainin, memang perlu penyesuaian lagi karena feeling-nya lain. Cukup lama juga tuh, ngehe! [tertawa] Tapi dari sanalah gue mulai asik ngulik beat & rhytym musik tradisional di Indonesia, sampai akhirnya gue juga makin asik jalanin grup musik namanya Genggong.

Instrumen musik tradisonal di Indonesia kan banyak tuh yang unsur perkusinya, lo sendiri lebih fokus ke daerah mana?

Reza: Banyuwangi dan Sunda sih kalau gue, itu aja udah banyak banget men patternnya. Gue aja baru tahu kalau harus pahamin kethuk [alat musik tradisonal Banyuwangi –Red.] baru belajar kendang, terus yang lainnya.

Belajar kethuk aja susah man, udah gitu kebut pula! [Tertawa] Apalagi kalau ada gongnya. Gue pernah tuh udah mulai lancar terus nyoba pakai gong, begitu ada bunyi gong masuk otak gue jadi kaya kebalik gitu. Ngaco semua jadinya [Tertawa]

Apa semenjak itu lo jadi gak menemukan kenikmatan bermain drum dengan set yang pada umumnya?

Reza: Oh tetep, cuma beda feeling aja.

Anda: Menurut gue pola pikirnya pasti akan beda, ketika dihadapkan sama drum set biasa, Reza pasti akan jadi drummer. Soalnya sebelum ada matajiwa, kan gue lagi bikin album solo yang kedua dan dia yang jadi drummernya. Jadi emang lain kalau dia main drum dengan set normal dan drumcussion ini, kebetulan pas di salah satu materi album kedua gue Reza juga main drumcussion dan emang kerasa banget bedanya.

Reza: Oh iya! Ada tuh satu lagu yang digabungin, jadi drum set biasa terus ada perkusinya juga. Abis tuh channel sama gue [Tertawa]

Image

Kalau disuruh mendefinisikan genre dalam bermusik, matajiwa mau menyebutnya apa?

Anda: Experience, expression, experiment.

Reza: Soalnya 3 elemen itu selalu ada. Experience itu dari kami dan penonton, expression itu ya apa yang kita bikin, experiment-nya adalah kita selalu bereksperimen di setiap panggung.

Anda: Iya, gak mungkin harus selalu sama apa yang ada di CD dan live. Anjing, bosen banget men kalau harus main mirip, bisa gila lo [Tertawa]

Reza: Contohnya kalau misalkan Anda masih mau lanjut, gue tahan dulu. Begitu juga sebaliknya, kalau gue masih asik main-main di Intro giliran Anda yang nahan.

Anda: Mumpung cuma berdua, ye kan? [Tertawa]

Reza: Yoi! Tapi pernah juga soalnya waktu jamming sama siapa gitu, pas lagi mau eksperimen itu jadi kaget. Biasa cuma berdua, begitu ketambahan jadi “Eh eh, gimana nih?” gitulah [Tertawa]

Di cover belakang, kalian emang sengaja salah nulis judul Gili Reggea atau buat ngetes ketelitian?

Anda: Gak sengaja itu, gara-gara ngebut pengen rilis buru-buru. Begitu dicek … “Ngetoooooot!” [Tertawa]

Reza: Sempet sih kami mikir gitu “Eh, bilang aja sengaja” tapi gak lucu.

Anda: Iye, jangan! Norak, norak! [Tertawa]

Di album part 1 ini gue merasa kalian ingin meminimalisir unsur-unsur elektronik, apakah itu ada kaitannya dengan apa yang diobrolin Reza soal mendekatkan diri kepada alam itu?

Anda: Gak juga sih, mungkin karena di part 1 materinya yang masuk sebagian besar seperti itu. Tapi untuk yang part 2 akan ada unsur elektroniknya, sampling dan segala macamnya.

Oh, gue pikir karena sempat menyinggung faktor alam itu tadi makanya lo memilih instrumen yang close with nature?

Anda: Sekarang gini, kalau kita ngomongin nature di abad yang segini. Alat-alat elektronik juga naturenya abad ini. Kami sih gak menutup kemungkinan akan menggunakan instrumen apapun selama itu mendukung konsep bermusik matajiwa, dibikin balance aja antara yang organik dengan elektronik. Kalau dua-duanya dapet kan asik man? [Tertawa]

Di lagu The Journey, gue mendengar seperti Alan’s Psychedelic Breakfast nya Pink Floyd. Apakah kalian emang membawa nuansa psychedelic juga dilagu itu?

Anda: Kalau gue pribadi sih emang doyan sama psychedelic, tapi di lagu itu kami ingin mengaudiokan 4 elemen [Angin, Bumi, Air, Api –Red.] yang keseringan kita amati secara visual. Apinya dari bunyi korek kayu yang terbakar, Buminya suara orang jalan, Airnya suara kopi diaduk, Anginnya suara orang menghembuskan rokok.

Pada waktu itu masukannya pada gak masuk akal [Tertawa] sampai akhirnya dipilihlah itu biar gampang dicernanya sebagai sebuah cerita, sempet ribet juga tuh pas prosesnya.

Reza: Kalau diranah musik tradisional, 4 elemen itu harus ada. Coba aja lo perhatiin alat musiknya, itu gue taunya dari (alm.) Inisisri [salah satunya dikenal sebagai drummer kantata takwa –Red.] Legend tuh orang!

Kenapa lo mempercayakan Firzi sebagai produser?

Anda: Karena gue sering ngobrol sehingga sedikit banyak gue tau pola pikirnya dia, itu yang sangat gue pertimbangkan. Selain itu dia tau cara merekam, karakter kita berdua, dan dia bisa mempertanggung jawabkan dari apa yang kita mau. Makanya butuh waktu pas rekaman karena dia perfeksionis, misalkan dia terganggu banget sama ketidak perfeksionisan gue begitu juga sebaliknya [tertawa] tapi justru itu yang malah ngisi. Intinya harus jaga gawang masing-masing sih.

Reza: Yang terpenting lagi, ada satu visi yang nyambung juga sama kita. Sebelumnya gue pernah bilang ke Anda “Gue pengen banget punya album yang eksplorasi sound, gak masalah deh gak laku.” Nah ternyata Firzi juga punya keinginan yang hampir serupa soal eksplorasi sound. Kami mau meninggalkan karya pas mati nanti.

Anda: Pada dasarnya kami berdua adalah orang yang banyak maunya, tapi Firzi juga bisa ngeladenin. Bahkan ngelebihin ekspektasi kami berdua [tertawa].

Reza: Makanya lama rekamannya. Sampai sound yang menurut kami udah enak, masih diulik terus sama dia. Misalkan beli microphone yang cocok buat Anda, komposisi dirubah-rubah, macem macem deh cuma buat ngejar kualitas sound dan mengakomodir keinginan kami.

Ada part 1 dan akan menyusul part 2, kenapa gak dijadiin double album aja?

Anda: Karena double album udah biasa man! [Tertawa] nah ini dicicil satu persatu, untuk part 2 akan segera dirilis. Dimana kedua album itu bisa disambung, gak dari musik aja tapi artwork juga.

[Tertawa] Tai banget.. Tapi omong-omong, nyicil album itu idenya siapa?

Anda: Kolektif sih, termasuk yang bikin artwork juga. Di front cover part 1, nanti bisa digabung sama album yang part 2 untuk jadi artwork yang penuh. Nah, untuk album yang terpisah dua ini akan dicetak terbatas buat barang koleksi. Nah selanjutnya, mungkin akan dicetak juga yang double album tapi lo gak akan dapat artwork yang diedisi terbatas itu tadi.

Reza: Jadi bisa dibilang ini adalah limited edition, habis itu udah gak ada lagi.

Image

Tadi kalian sempat bilang bahwa gak mempertimbangkan album ini bakalan laku atau ngak, apa alasannya? Merasa jengah dengan kondisi musik sekarang atau sudah kelebihan duit?

Anda: Widih, asik juga tuh! Kalau kelebihan duit mah “Lo mau minum apa man? Pesen aja biar gue yang bayar” [tertawa] Kalau ini sih lebih ke pencurahan kreativitas dan …. “buka-bukaan aja nih ya?” industrinya udah ngak bener! Misalnya dari kesalahan pendefinisian peran produser di industri musik Indonesia yang terus berlanjut. Kalau dulu yang gue alamin, produser itu calo, perantara label sama artis aja. “Produser apaan? Ikut campur di proses kreatif aja ngak, ngembat jatah doang.” Dan terakhir malah produser itu dipikir yang ngebiayain rekaman. Ngaco man!

Tapi untungnya generasi yang sekarang udah mulai open mind and heart, untuk menerima segala sesuatu yang tidak biasa atau seperti yang ada di mainstream. Dan juga gue sama Reza gak paham juga apa yang dimaksud dengan musik jualan, “Jualan itu kaya apa sih?” karena itu udah dirusak.

Kaya misalnya banyak yang tanya ke gue “Lo ngapain, Nda?” terus gue jawab “Hah? Ya begini deh.” Atau “Kemana aja sih lo, gak pernah masuk TV?” gue jawab aja “Masuk TV sekarang bayar man! Dulu mah gue masuk TV dibayar.” Terus disangkanya gue gak berbuat apa-apa gitu karena gak nongol di TV?

Dan itu udah tertanam di pikiran masyarakat, kalau lo mau masuk TV musiknya harus begini. Berarti kalau lo udah masuk TV, lo sudah melakukan sesuatu dengan hidup lo tapi diluar itu lo dianggap gak ngapa-ngapain. Sayangnya lagi yang merusak justru industri itu juga, orang-orang di dalamnya. Bukannya anti sih, cuma cara kerjanya yang gak pas sama kita.

Sekarang gini aja deh, musik di Indonesia itu gak kalah sama siapa-siapa man! Kemarin gue habis ngobrol sama Iman (Iman Fattah –Red.) dia kan habis balik dari Amerika tuh, terus kemarin gue tanyain “Lo disana nonton siapa aja?” dia jawab “Sound Garden, bla bla bla, terus sisanya gue nonton band-band lokal daerah situ” Gue tanyain lagi, “Wih, kaya apa tuh musiknya?” jawabannya simple aja “Musik kita mah gak kalah, Nda.”

Dan gue yakin lo sendiri juga bisa liat beberapa contohnya, ambil deh White Shoes & The Couples Company, Pandai Besi, Zeke, The SIGIT, Tika, Payung Teduh, dan lainnya. Itu sih gak kalah, cuma industrinya aja. Dan kita yang berusaha untuk hidup sendiri gak ada dukungan apapun, misalkan White Shoes yang udah main kemana-mana. Ada gitu TV yang ekspose? Bukannya ngeluh nih ya, cuma kasian aja masyarakat dikasi infonya gak berimbang.

Reza: Sekarang gini, kalau lo berkarya dengan jujur terus lo merasa enjoy banget dengan karya lo, gak mungkin lo gak ngerasain energi itu kecuali kita nipu diri kita sendiri. Gue sih mikirnya itu aja. Makanya gue bilang ke Anda “Gak apa-apa Bang, yang penting kita berdua pecah!” paling konsekuensinya cuma dua; orang yang nonton kita seneng atau gak seneng, itu doang.

Anda: Nah itu! Kami cuma pengen bagi kesenangan aja dan mudah-mudahan lo seneng, kalau emang gak seneng ya “Sorry, besok gak usah liat lagi daripada menggangu lo. Udah ngebuang duit lo, ngebuang waktu lo juga” kalau senang ya silahkan besok-besok liat lagi [Tertawa]

Reza: Kebetulan saudara gue kan juga ada yang kerja di branding consultant, terus kami meeting deh soal ini. Dan itu membuka wawasan kita banget, dia gak mengarahkan kita “Kalau lo mau laku harus begini begini.” dia malah bilang “Semua itu bisa dijual, apapun itu bisa dijual. Tinggal tergantung gimana lo mengemas dan memasarkannya” Yaudah, akhirnya kami main sesukanya aja. Lagian kaya orang goblok aja kalau kita main tapi gak suka [Tertawa]

Anda: Iya, ngapain? Dan masalahnya kami gak mau ada di satu genre tertentu karena doyannya macem-macem. Jadi daripada mati berdiri karena bosen [tertawa] karena dari gue pribadi gak terlalu memikirkan soal “Nanti orang nanggepinnya gimana ya?” malah lebih ke “Biar kita gak bosen, gimana ya, Za”. Intinya jangan mati angin [Tertawa]

Di konser dongkal dangkil, gimana kalian memikirkan sebuah pertunjukan yang seperti itu?

Reza: Kurang lebih sama dengan proses bikin matajiwa, ngalir aja gitu. Udah kita susun garis besarnya tapi gak detail. Karena pas desain panggungnya udah jadi kita berdua itu yang “Anjing!” [tertawa]

Anda: Iya man! Kita aja amaze, karena emang gak nyangka bakalan kaya gitu. Karena persiapannya itu cuma dua minggu, modal nekat aja. Makanya matajiwa dan Rizma taruh kepala istilahnya, goblok ya goblok sekalian tapi kalau emang bagus yaudah.

Reza: Gue juga gak tau gimana bentuknya kita di panggung. Udah gak kepikiran apa-apa juga [tertawa]

Anda: Ditambah lagi GR [Gladi resik -Red.] penuhnya pun gak penuh, baru 3 lagu udah distop [tertawa].

Termasuk dengan kolaboratornya?

Anda: Iya, karena kami sama sekali gak mengarahkan cuma ngasih pattern aja dikit. Contohnya pas Bonita, gue minta dia nyanyi duluan terus dia nanya “Maksudnya?” gue jawab “Ya cara lo aja, apa kek” [tertawa] soalnya pas latian sama pertunjukan beda. Amin Kamil, sampai GR puisinya blum jadi [tertawa] Modelnya yang emang doyan ngejam semua. Pada dasarnya mereka semua ngasih ide, gue sama Reza sih tinggal mangap aja terus nelen [tertawa]

 

Bicara soal ngejam itu tadi, apakah kalian termasuk yang mementingkan skill terlebih dahulu baru otak-atik instrumen atau malah sebaliknya?

Reza: Kalau bicara skill, gue sih gak memaksakan ataupun mengurangi, berangkatnya dari skill yang gue punya dulu. Palingan sih ya soal lancar atau gak lancar aja, harus ngulik sebentar. Dan soal otak-atik sih karena kebutuhan “Gue butuh sound yang kaya gini makanya gue pake ini”

Anda: Pertanyaan bagus nih. Gue sendiri sangat terbatas dalam bermain gitar, gak jago. Peran gitar di matajiwa itu membangun mood, penggunaan effect itu berdasarkan keperluan aja. Dan seperti yang dibilang Reza tadi, tinggal mikirin cara penyampaiannya mau bagaimana. Oh satu lagi, pola pikirnya dalam penggunaan instrument itu juga mempengaruhi. Seperti yang gue bilang tadi, Reza kalau udah ketemu drum set yang standart pasti dia jadi drummer, gue pun kalau ketemu gitar listrik mungkin akan sok-sokan tapping walaupun gue gak bisa [tertawa]

 

Bisa jelasin soal artwork booklet CD matajiwa part 1, soal dua wajah dan ornamennya yang menjerumus etnik kontemporer apakah ini pendeskripsian matajiwa?

Anda: Wah, gue sih gak bisa ngoceh banyak nih karena ini yang bikin bukan kami. Tapi gue coba terjemahin aja nih ya. Soal dua wajah itu menggambarkan kami berdua dan ornamennya itu melukiskan subliminal bahwa kita itu orang Indonesia meskipun matajiwa bertemunya juga karena musik rock yang notabene bukan musik asli sini. Dan kalau diperhatiin disana ada candi, gunungan tapi dengan cara menerjemahkan yang baru.

Reza: Karena kami juga bukan band tradisional, mungkin ada feeling nya aja. Soal musik tradisional nih, gue punya cerita pas waktu habis balik dari Australia. Begitu gue balik dari sana, gue sempet pergi bareng temen gue naik mobil, di tengah jalan gue mainan suling, terus temen gue komentar “Lo apaan sih? Norak banget” Habis itu gue mikir, “Mungkin sebagian orang pada waktu itu mengganggap kalau alat musik tradisi itu norak, tapi ini kan alat musik punya kita yang orang lain gak punya” Yasudahlah gue gak mau debat panjang, jadinya gue cuekin aja.

Berdasarkan apa yang gue liat waktu masih diluar negeri, ada banyak band dari Indonesia yang nyoba gabungin musik atau alat tradisi. Kalau nyambungin antara musik luar dan Indonesia, beat dasarnya itu masih western. Entah itu lo ambil swing, blues atau apapun itu tapi porsinya gedean musik westernnya, instrument tradisinya jadi pelengkap. Di luar negeri itu justru kebalik, kalau mainin musik tradisi justru beat dasarnya yang tradisional baru ketambahan isntrumen yang western entah itu terompet atau apalah.

Nah matajiwa ada arah kesana, meskipun kiblat musik tetep western tapi ada usaha bikin unsur tradisinya jadi beat atau rhytym dasarnya. Cari yang gak biasa didenger orang aja, dan di Indonesia itu banyak banget! Ibaratnya kalau lo mau ngenalin makanan Indonesia, ambil contoh nasi goreng nih, gak mungkin kan lo kasih yang pedes? Bisa kapok duluan mereka. Kasih aja yang gak pedes, ntar kalau mereka doyan baru deh dikasih tau bahwa masih ada yang pedes. Paham kan?

 

Iya iya, paham. Terus?

Reza: Balik lagi yang sempet lo tanyain soal skill itu tadi, sebenernya bahaya juga kalau lo terlalu jago. Menurut gue kalau lo nguber skill terus tapi gak pakai jiwa, lo bakalan kosong. Gue belajar ini dari mas Jabo dan gue liat langsung, dia tuh main gitar gak yang jago-jago amat tapi begitu dia metik satu senar itu udah kaya mengerahkan energi dia kesana, dan yang denger atau ngeliat bakalan ngerasain. Musik tradisi itu yang bermain jiwa dan energi lo.

Itu dia yang gue sama Anda mau ulik, soulnya yang mau kami pelajari. Pernah ada pemain kendang dari Banyuwangi main ke Australia, terus gue sempet minta ajarin buat main kendang. Bunyinya tuh yang aneh deh, ada 4 pattern yang waktu itu dia ajarin. Pas gue coba, susahnya ampun! Terus dia bilang masih ada lagi yang lain, dan waktu dia kasih liat ke gue “buset!” [tertawa] Akhirnya gue tanya “Itu caranya gimana mas?” dia cuma jawab “Wah gak tau, saya juga 10 tahun baru bisa” [tertawa]

 

Anjing, 10 tahun baru dapet? Manunggaling dong?

Anda: [tertawa] Yoi! Manunggaling [dari kata Manunggal yang berarti menjadi satu dalam sikap dan tingkah laku –Red.]

Reza:  Itu dia man, musik tradisi itu ngomong masalah dedikasi. Orang-orang itu gokil man! Belum lagi yang ritualnya kaya semedi atau apalah. Makanya gue sama Anda gak berani bilang kalau matajiwa itu musik tradisi, karena dedikasinya belum sampe segitu.

Anda: matajiwa mah kalau buat orang-orang kaya gitu dianggapnya pop cemen! [tertawa]

Reza: Lo kalau ada waktu… Emm, udah pernah baca bukunya (almh.) Mimi Rasinah yang penari itu?

 

Wah, belum. Gimana tuh, Za?

Reza: Lo kalau nemu bukunya, mending lo beli deh. Lo baca deh biar tau gimana prosesnya dia sampai jadi penari. Bapaknya kan dalang, prosesnya udah kaya gitulah kurang lebih. 2 hari berdiri di kali supaya kalau ngantuk terus nyebur dan pasti bangun, terus selama beberapa hari cuma minum air di loteng dan disana dia ketemu aneh-aneh deh tuh ….

Anda: Serius lo?

Reza: Iya bang, itu yang dia lakuin sebelum dia belajar nari. Bahkan dia pertama kali nari aja, topengnya minjem. Prosesnya itu yang bikin gue salut, kalau gak niat kan gak bakalan dilakuin? Gue sempet nonton dia nari, asli man gue nangis. Waktu itu tahun 2000’an di Japan Foundation daerah Sudirman gitu deh, padahal dia udah tua 70 atau 80 tahun dan waktu itu dia lagi sakit.

Pas dia manggung dong, kan ganti topeng laki tuh. Udah kaya laki yang nari, energinya itu… Ah, gokil man!

Sayangnya orang-orang kaya gitu udah pada ilang. Waktu kemarin gue ke Jogja buat pesen topeng, gue tanya “kenapa pembuat topengnya udah mulai dikit?” terus dijawab “masalahnya yang hidupin [penari –Red.] topengnya udah hampir gak ada lagi” akhirnya pembuat topengnya gak bikin lagi atau kalau yang masih bikin tujuannya buat dijual ke turis, suvenir.

Dan gue pernah keliling di Indramayu, sanggar seni tari itu udah pada ilang dan berubah jadi apa hayo?

Anda & saya: Apaan?

Reza: Organ tunggal!

Anda: Aduuuh..

Reza: Asli man, anak kecil minatnya udah kesana. Dan mau tau gara-garanya mereka tutup apa? Mereka bilang anggarannya dipotongin sama pemerintah. Coba lo bayangin manggung bisa 6 jam, dibayarnya 30 ribu [rupiah –Red.] per orang, dia naik truck. Sinting kan?

Sama gue juga pernah ikutan temen-temen buat riset Sape [instrumen musik berdawai khas Kalimantan –Red.] tahun-tahun awal Inul ngetren deh tuh dangsut model begituan berserakan. Ditahun itu anak-anak mudanya udah mulai kesana juga arahnya, gimana sekarang?

Itu dia salah satu alasannya gue sama Anda bikin matajiwa, karena kami punya proyek kesana. Inspirasi kami adalah seniman-seniman tradisonal yang mirisnya sekarang mulai gak ditengok, padahal mereka itu deket banget sama kita.

Image

—–

Wawancara ini bisa dijumpai di rollingstone.co.id Tentunya dengan format dan foto yang berbeda.

—–

Agung Rahmadsyah

Bekasi

12 Maret 2014

Advertisements
Posted in: Agung Rahmadsyah