2 tahun dan 2 bulan dalam April 2014

Posted on April 8, 2014

0


Kalau saya pribadi sudah cukup percaya diri bahwa di tahun 2014 saya tidak akan memilih siapapun dari partai apapun. Alasannya? Karena pilihan saya adalah memilih untuk tidak memilih, katakan saja itu golput atau apapun mereka menyebutnya, yang perlu anda ketahui mengenai alasan saya tidak memilih adalah karena saya malas untuk membuat salah satu jari tangan saya menjadi kotor selama beberapa hari akibat tinta berwarna ungu.

Jari kotor akibat tinta? Alasan yang sepele dan dangkal! Bagi anda mungkin iya, tapi bagi saya tidak. Karena menolak jari dikotori oleh tinta di TPS [Tempat Pemungutan Suara -Red.] sangat erat kaitannya dengan apa yang disebut sikap dan menurut saya sikap hanya bisa didefinisikan dengan formula berikut, sikap = pengalaman + pengetahuan + niat + aksi. Rumit? Memang iya! Itulah proses sampai bisa bersikap.

Jadwal terdekat untuk membuat jari kita menjadi kotor adalah 9 April 2014 dimana saya menolak turut serta, kalaupun toh nanti ada yang melihat saya berseliweran di area TPS bisa dipastikan saya tidak akan menyumbangkan suara saya. Saya berseliweran karena alasan bosan dirumah, itupun dengan catatan tidak ada aktivitas yang membuat saya tersangkut di kamar.

Meskipun sempat terbersit niat untuk sedikit membuat onar dengan kertas suara, tapi sekali lagi: saya malas membuat jari saya kotor, terlebih lagi tanggal 9 April 2014 itu menjadi penanda 2 bulan yang istimewa bagi saya dan sehari sebelumnya yakni tanggal 8 April adalah tanggal dimana saya resmi meluapkan hal yang kelak menjadi kelupaan saya di wordpress selama 2 tahun. Jadi makin malaslah saya untuk terlibat kegiatan yang menyembah azas politik praktis, karena saya pribadi penganut aliran penikmat proses.

Sebenarnya tujuan saya menulis kali ini tidak ingin berpanjang lebar tentang alasan saya untuk tidak memilih, saya hanya ingin membagikan tiga hal yang sudah mewakili frekuensi berpikir saya mengenai alasan tersebut.

Pertama adalah lagu Eyo Yak E (akan saya bagikan tautan untuk mendengarkan lagunya ditambah lirik dan terjemahan bebas versi saya), kedua adalah tulisan dari Seno Gumira Ajidarma yang berjudul Berpolitik dan Tidak Berpolitik (akan saya bagikan tautan untuk membaca ditambah beberapa paragraf yang menurut saya penting), dan yang ketiga adalah tulisan dari Radhar Panca Dahana yang berjudul Dramaturgi Pemilu (akan saya bagikan tautan untuk membaca ditambah beberapa paragraf yang menurut saya penting).

Selain 3 hal tersebut ada sebuah tulisan lagi dari Robin Malau yang juga menarik, khususnya jika dibenturkan dengan konteks anak muda dan hak pilih. Mantan rocker idola saya ini (meskipun belum pernah bertatap muka secara langsung) menjabarkan alasan dia abstain dengan sangat sederhana namun menohok dan tepat sasaran. Ini dia bacaan yang saya maksud; Mengapa Saya Abstain 

Sebelum menutup tulisan ini dengan tiga hal yang saya janjikan untuk dibagikan, saya ingin kembali memperkuat kesepakatan saya dengan apa yang ditulis oleh Robin Malau di paragraf terakhir:

Jika Anda memilih untuk memilih dan mencoba mempertahankan orang yang Anda pilih selama periode berkuasa, silahkan. Tapi saya lebih memilih untuk memperbaiki lingkungan saya bersama sahabat-sahabat saya. Buat saya, hasilnya lebih nyata.

Siapa yang mau memilih dan siapa yang tidak, bukan jadi soal karena (saya mengidamkan) kita tidak jadi musuh hanya karena silang pendapat, contohlah Soekarno-Hatta yang seringkali silang pendapat namun tetap karib. Hak pilih menjadi hak asasi setiap warga negara, terlepas dia mau menggunakannya atau tidak, tak usah diprovokasi. Yang terpenting adalah bagaimana berbuat sesuatu yang berguna bagi lingkungan sekitar dan semoga semua hal positif bisa menyebar dengan cara yang natural, sebatas itu saja cita-cita saya.

 

  • Orkes Sinten Remen – Eyo Yak E

Tautan:

https://soundcloud.com/agungboy/orkes-sinten-remen-eyo-yak-e

Lirik:

e.. e.. e.. e.. e iyo yak eee (e.. e.. e.. e.. e barangkali memang iya)

kuwi kae jebulane padha wae (itu ternyata semuanya sama saja)

e.. e.. e.. e.. e iyo yak eee (e.. e.. e.. e.. e barangkali memang iya)

abang – biru – kuning – ijo sing mbedakke mung warnane (merah – biru – kuning – hijau yang membedakan hanya warnanya)

 

e.. e.. e.. e.. e iyo yak eee (e.. e.. e.. e.. e barangkali memang iya)

yen wis nyekel panguwasa banjur lali mring janjine (kalau sudah memegang kekuasaan kemudian lupa terhadap janjinya)

tembe mburine wong cilik disepelekke (dan pada akhirnya rakyat kecil dikucilkan)

 

swarane ra digape, sajak ora mirengake (suaranya tidak diperhatikan, karena memang tidak mendengarkan)

wit mbiyen nganti seprene, po pancen budheg kupinge (dari dulu hingga sekarang, memang kupingnya budek)

 

e.. e.. e.. e.. e iyo yak eee (e.. e.. e.. e.. e barangkali memang iya)

e.. e.. e.. e.. e iyo yak eee (e.. e.. e.. e.. e barangkali memang iya)

njur kepriye? (terus bagaimana)

 

Dialog 1:

Wis sesuk piye iki? Arep dha milih ora? Milih sopo? (sudah, besok bagaimana ini? Mau pada milih tidak? Milih siapa?

Iki jelas ora? (ini jelas tidak?)

Sesuk rasah milih wae (besok tidak usah milih saja)

 

Dialog 2:

Haa, jingkrik! Padha melu aku ora?  (haduh! mau pada ikut aku tidak?)

Padha milih ora? (pada milih tidak?)

Sesuk rasah milih wae (besok tidak usah milih saja)

 

Mlih ra penak!  (Milih tidak enak!)

Ra penak, kek’i kucing (kalau gak enak, kasih kucing)

 

  • Seno Gumira Ajidarma – Berpolitik dan Tidak Berpolitik (Tempo, Minggu 23 Maret 2014)

Tautan:

http://duniasukab.com/2014/03/24/berpolitik-dan-tidak-berpolitik/

Kutipan:

Konferensi yang merupakan reaksi terhadap Konferensi Seni dan Sastra Revolusioner (KSSR) pada Agustus 1964 itu berakhir dengan pembentukan organisasi Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia (PKPI), dan bagi Wiratmo artinya telah berpolitik. Padahal, menurut Wiratmo, menandatangani Manifes bukanlah berpolitik, melainkan: “… menerima fait accompli bahwa mereka terlibat dalam politik.” (Soekito, 8/5/1972: 6). Jadi, terlibat dalam politik itu bukan berpolitik dan bukan pula tidak berpolitik.

Wiratmo menjelaskan dengan perumpamaan teater. Dalam apa yang disebutnya peristiwa teater, terdapat pentas tempat para pemain drama memainkan peran dalam lakon yang mereka bawakan. Menghadap pentas adalah publik. Pertunjukan akan berlangsung bukan hanya karena ada pemeran yang bermain, tapi juga kalau publiknya terlibat.

Pemain drama dibandingkan dengan orang yang berpolitik, keduanya bersandiwara: pemeran orang dungu tidaklah dungu, orang politik yang berkhianat tidaklah berkhianat, seperti Soekarno-Hatta bekerja sama dengan Jepang bukanlah pengkhianatan-itu menjalankan suatu peran. Posisi publik di depan pentas tidak seperti itu, tetapi mereka tetap terlibat, jadi publik dalam politik bukan tidak berpolitik, melainkan terlibat dalam politik.

Seorang pemain drama dan orang yang berpolitik harus bersedia dikecam dan dicela sebagai konsekuensi peran apa pun yang dimainkannya. Sedangkan orang yang hanya terlibat dalam politik, menurut Wiratmo, “… mempunyai hak-hak yang lebih besar, namun mempunyai kesediaan untuk meriskir (mengambil risiko-sga) bahaya, seolah-olah setiap saat ia sudah bersedia-sedia untuk dibawa ke hadapan suatu regu penembak untuk dihukum mati.”

Maka orang yang sadar maupun tak sadar terlibat dalam politik, jika (1) menolak posisi tidak berpolitik, sama dengan publik yang naik ke atas panggung untuk merusak tontonan; dan jika (2) menolak posisi terlibat dalam politik, sama dengan publik yang tertidur saat peristiwa teater terjadi. Penanda tangan Manifes, dalam penandatanganannya itu, menurut definisi Wiratmo: terlibat dalam politik, tetapi tidak berpolitik.

Mengacu kepada klasifikasi pertama, saya menganggap para penanda tangan-yang disebut Wiratmo sebagai Manifestan-dapat digolongkan sebagai “berpolitik dengan cara tidak berpolitik”. Jadi, “tidak berpolitik”-nya Wiratmo adalah peran politik juga, tetapi bukan di panggung, melainkan bagian dari publik, yang tidak tertidur-dan tentu tidak pula naik ke atas panggung. Artinya, tidak bermain dan tidak pula mengganggu permainan.

 

  • Radhar Panca Dahana – Dramaturgi Pemilu (Kompas, Kamis 3 April 2014)

Tautan:

http://nasional.kompas.com/read/2014/04/03/1022133/Dramaturgi.Pemilu

Kutipan:

Tampaknya kita harus berani untuk memulai dengan sedikit hal baik dan benar demi memperbaiki semua itu. Memperbaiki cara kita memproses atau menyeleksi pemimpin yang kita inginkan. Saya kira hal pertama dari itu adalah kejujuran. Semua orang memang berhak merasa dan bernafsu menjadi pemimpin. Namun, setidaknya ia harus jujur kepada publik, kepada dirinya sendiri, kepada apa yang pernah dilakukannya.

Bertanyalah kepada diri sendiri, misalnya, apakah dalam sekujur hidupnya ia pernah melakukan sesuatu yang baik dan benar untuk tingkatan publik di mana ia ingin jadi pemimpinnya. Seberapa besar atau tinggi hasil kerja atau prestasinya itu. Dan jujurlah menilai diri sendiri. Apabila memang tidak sepadan, kenapa harus ngotot dan nekat? Apalagi ternyata justru banyak tindakan yang destruktif bahkan negatif pernah ia lakukan dulu, secara etis dan moralistis pantaskah Anda mengajukan diri? Tidakkah Anda merasa malu pada waktu (sejarah), keluarga, diri sendiri, Tuhan, atau sejawat yang tak bisa kita tipu? Atau Anda sudah tak punya malu, bahkan pada malu itu sendiri?

Berilah publik informasi yang akurat dengan penuh keberanian sehingga media massa dapat menjadi mata dan hati nurani publik, bukan justru menjadi senjata pengelabu kesadaran dan kebeningan hati masyarakat yang gelisah ini.

Jangan sampai pengorbanan besar rakyat harus diberikan pada sesuatu yang justru mengkhianati pengorbanan itu. Dari segi finansial, berhitunglah betapa luar biasa pengorbanan itu. Menurut LPEM FE UI, biaya yang dikeluarkan caleg mulai dari tingkat lokal hingga pusat berkisar Rp 320 juta-Rp 9 miliar, hingga rata-rata didapat Rp 1,18 miliar per caleg. Apabila Ketua Komisi Pemilihan Umum menyatakan jumlah caleg nasional 200.000 orang, Anda bisa memperkirakan sendiri total uang yang rakyat kita keluarkan untuk pertunjukan dengan dramaturgi yang menggelikan di atas. Tidak kurang dari Rp 227 triliun.

Ditambah dengan biaya pemilu dari APBN yang meningkat dua kali lipat, sumbangan-sumbangan yang didapat partai sebagaimana mereka laporkan, dana-dana lembaga publik, swasta, negeri hingga perorangan yang terlibat, kita semua akan tercengang. Bahwa total semua itu sebanding dengan membuat 5.675 kilometer rel kereta api ganda (cukup untuk seluruh Sumatera) atau 3.200 kilometer jalan tol (sama dengan target 25 tahun kita) atau sebanding dengan menggratiskan biaya kuliah seluruh mahasiswa Indonesia selama 32 tahun berdasarkan hitungan Mendikbud RI.

 

Agung Rahmadsyah
Bekasi
08 April 2014

Advertisements
Posted in: Agung Rahmadsyah