Playlist Nggrantes

Posted on October 7, 2014

1


Mendadak saja @biyubatu menyambut twit saya tentang lagu berjudul “Love Hurts” yang dimainkan ulang oleh Keith Richards dan Norah Jones. Twit saya waktu itu kurang lebih berisi ucapan terima kasih untuk Keith Richards yang telah bernyanyi dengan penuh penjiwaan sehngga makna lagu tersebut tersampaikan dengan baik, setidaknya bagi saya.

Entah dilandasi faktor apa sehingga kawan saya itu merespon ucapan terima kasih saya itu dengan segera, bahkan meminta dibuatkan playlist! Barangkali saja ia merasa ada korelasi antara sejarah hidupnya dengan lagu yang dibuat oleh Nazareth tersebut, sungguh saya tiada mengerti ada apa antara Gede dengan lagu “Love Hurts” karya Nazareth.

Jika diperkenankan, saya ingin menjelaskan sedikit asal mula kenapa saya ngetwit seperti itu, meskipun keseringan saya ngetwit tanpa pemahaman layaknya filsuf atau motivator, namun twit kali itu bisa dibilang berbeda jika ditinjau dari segi motivasi dan kesadarannya.

Saya direkomendasikan lagu ini oleh seorang teman yang sering dipanggil Bontel, waktu itu saya sengaja mengunjunginya untuk menuntut tanggung jawab atas sensasi mabok yang ia ciptakan dalam bentuk audio, khususnya pada 3 buah lagu pertama dalam album float yang terbaru.

Entah seperti apa kronologisnya karena saya sendiri tidak ingat, tiba-tiba saja di tengah percakapan kami yang makin tak tentu arah Bontel berkata seperti ini:

“Lo harus dengerin love hurts, tapi yang versi Keith Richards sama Norah Jones. Cari aja di youtube, ada kok. Keith Richards sih gak merdu, tapi itu sih yang nyanyi nyawa semua!”

“Maksud lo?” saya bertanya

“Lo liat aja dulu, ntar juga paham. Norah Jones jadi culun gitu, begitu dirangkul sama Keith Richards baru dia beres.”

Nah, saya simpulkan dari sinilah persoalan dimulai. Karena saya merasakan penjiwaan dalam lagu daur ulang tersebut, sehingga saya ngetwit dan kemudian @biyubatu menyahut sembari meminta playlist dengan tema nggrantes. Sebenarnya jika saya tidak mengindahkan atau setidaknya tidak menyanggupi permintaan Gede, sungguh mati saya tidak akan berhadapan dengan permasalahan yang saya ciptakan sendiri ini. Sungguh laknat!

***

Ditinjau dari segi manapun, saya tergolong tidak akrab dengan pemuda yang sedang menempuh studi doktoral bidang politik di Chicago – Amerika Serikat. Lha wong saya saja baru bertemu dua kali, pertama di Jogja kedua di Jakarta itupun tidak sempat ngobrol panjang dan masih saling sapa dengan awalan “bung.” Ketok kaku nemen, jancuk!

Lantas apa yang membuat saya harus melunasi “hutang” ini kepada Gede? Sesungguhnya selain saya merasa ini adalah janji ada sebuah hal lagi yang menggelitik keingintahuan saya, hal itu adalah kata nggrantes.

Apapula itu nggrantes? Bagi yang tinggal di daerah Jawa Tengah, barangkali sudah tidak asing dengan kata-kata ini. Jika disederhanakan, nggrantes memilii makna yang mirip dengan ngenes (mengenaskan). Silahkan dikoreksi jika saya salah.

Barangkali ini (seperti) 11-12 dengan sebuah kata yang sempat populer beberapa tahun silam yaitu galau. Tapi saya semacam tidak setuju kalau galau adalah representatif ideal dari nggrantes, karena nggrantes itu memiliki makna yang lebih mendalam lagi untuk hanyut dalam keadaan yang tergolong tidak cerah atau setidaknya merasakan sebuah sensasi emosional tertentu yang terkesan mendung.

Saya bertemu dengan sebuah tulisan yang (menurut saya) bagus ketika saya sedang berupaya mencari analogi yang sekiranya bisa menjelaskan secara mudah kepada siapapun yang tidak akrab dengan penggunaan istilah nggrantes dalam kehidupannya, tulisan tersebut berjudul “jangan kau tanya arti puisiku Mario”

Agar tidak membuang waktu untuk menemukan perumpamaan yang tepat dari kata nggrantes, berikut saya lampirkan poin pentingnya:

La Seis Cuerdas atau The Six Strings dari Federico Garcia Lorca:

The guitar

makes dream weeps

the sobbing of lost

souls

escapes through its round

mouth.

Hati saya tergerak oleh khayalan tentang anak-anak muda yang mengambil gitar lalu mendendangkankan sepatah-dua patah lagu cinta yang mendayu-dayu. Mereka ini lagi nggrantes, kalau orang Jawa bilang. Dan itu benar, saya sendiri merasakan pengalaman ketika cinta ditolak lalu tergesa mengambil gitar dan menyanyikan lagu-lagu cengeng. Jiwa saya yang hilang terisak-isak lewat mulut bundar si gitar bersenar enam.

Sampai disini sudah mengerti nggrantes? Coba simak baik-baik paragraf di atas, khususnya pada poin bahwa si penulis mengiyakan kalau ia pernah merasakan hal yang sama ketika ia ditolak cintanya dan menyanyikan lagu-lagu sendu dengan gitar. Nah, kurang lebih inilah maknanya nggrantes!

***

Alasan saya memilih lagu daur ulang dalam playlist ini karena saya berlandaskan pada perasaan saya pribadi. Menurut saya, semua yang memaikan lagu daur ulang tersebut sudah bisa merasakan makna lagunya sehingga dengan lantang ia menyampaikan dengan metode mereka sendiri, terlepas dari nada yang terasa lemah gemulai, mengawang lesu atau gagah perkasa.

Saya sadar bahwa akan ada yang melenceng dari playlist ini (setidaknya terkesan melenceng) karena asosiasi nggrantes harusnya dibalut suasana kelam, tapi dalam playlist yang saya susun ini justru ada beberapa nomor yang (ketika anda menyimak dengan baik) rasanya seperti anda sedang berjalan santai tanpa alas kaki menyusuri pantai disore hari, tiba-tiba menginjak puntung sigaret kretek tangan yang baranya masih belum padam. Kesal dan ingin mengumpat bukan jika hal itu terjadi pada anda?

Sebelum saya membagikannya, saya ingin mengucapkan maaf apabila mengecewakan rekan @biyubatu karena saya tidak sanggup menepati janji menuntaskan playlist ini pada penghujung bulan September.

Dan saya berdoa semoga Gede sukses mengejar mba-mba latino dalam bus jurusan Kansas-Chicago untuk sejurus kemudian menjadikan sang target sebagai pelabuhan hatinya, meskipun suatu hari nanti Gede harus minggat (lagi) dari Amerika untuk sejurus kemudian tergesa membikin playlist nggrantes versi dia guna mengobati perasaannya sendiri dalam sebuah jurus penangkal patah arang yang kelak ia ciptakan kemudian.

Sebagai penutup, perkenankan saya mengutip apa yang ditwit oleh @biyubatu pada tanggal 3 Oktober 2014:

“para pemuda lajang jangan suka mengeluh. nasibmu belum tentu lebih buruk dari nasib negerimu”

Sungguh nasihat yang naskleng sekali, pak Gede. Salam naskleng!

  1. Fiona Apple – Across the Universe (The Beatles cover)
  2. Keith Richards & Norah Jones – Love Hurts (Nazareth cover)
  3. Johnny Cash – Hurt (Nine Inch Nails cover)
  4. Jack Johnson & Ben Harper – High Tide or Low Tide (Bob Marley cover)
  5. Alison Moyet – Je Crois Entendre Encore (Georges Bizet cover)
  6. Jimi Hendrix – Star Spangled Banner (John Stamford Smith cover)
  7. Anda Perdana – Padhang Bulan (Franky Sahilatua cover)
  8. John Frusciante – For Emily, Whenever I May Find Her (Simon And Garfunkel cover)
  9. Rage Against The Machine – Kick Out The Jam (MC 5 cover)
  10. Frau – Sepasang Kekasih Yang Petama Bercinta Diluar Angkasa (Melancholic Bitch cover)
  11. The Monophones – Nanar (Naif cover) lagu dimulai pada 46:30
  12. Sore – Pergi Tanpa Pesan (Iskandar cover)
  13. Duran Duran – Femme Fatale (The Velvet Underground & Nico cover)
  14. David Bowie – See Emily Play (Pink Floyd cover)
  15. Tears For Fears – Ashes To Ashes (David Bowie cover)
  16. Easy Star All Star – No Surprises (Radiohead cover)
  17. Marcus Miller – Teen Town (Weather Report cover)
  18. Patti Smith – Until The End Of The World (U2 cover)
  19. Jane’s Addiction – Sympathy for the Devil (The Rolling Stones cover)
  20. Melissa Etheridge & Joss Stone – Piece Of My Heart (Janis Joplin cover)
  21. Janis Joplin – To Love Somebody (Bee Gees cover)
  22. Tame Impala – Stranger In Moscow (Michael Jackson cover)
  23. John Paul Jones, Paul Gilbert, Nuno Bettencourt, Steve Hackett, Pat Mastelotto & Mike Szuter – Nobody’s Fault But Mine (Led Zeppelin cover)
  24. Ray Charles with BB King – Sinner’s Prayer (Lowell Fulson cover)
  25. Divinefire – Show Must Go On (Queen cover)
  26. Eddie Vedder – Society (Jerry Hannan cover)

Agung Rahmadsyah
Bekasi
07 Oktober 2014

Advertisements
Posted in: Uncategorized