Plumeria

Posted on December 7, 2014

0


img1417881193619

”Apakah tempat ini memang hanya penuh dengan terburu dan cemburu?”

Mendadak pertanyaan itu menyeruak diantara deru klakson yang sibuk mencari celah dalam derasnya hujan. Meski suara tersebut nampak tak berdaya menghadapi gemuruh suara air yang turun, tapi para pengendara seolah tak punya jera. Terus saja mereka memijit tombol dengan penuh nafsu dan nafsu.

Halim tetap seperti biasa, tidak punya tujuan lain kecuali kamarnya. Perjalanan ke rumahnya pun tidak melewati genitnya lampu dekorasi kafe-kafe di ‘Ta_kar_ja’ atau pemandangan yang eksotis di ‘Dung_ban’, hanya melulu pancaran lampu neon murahan dari kios parfum isi ulang yang cahayanya menjijikkan ditambah alunan musik populer murahan dengan lirik yang juga tak kalah murahan dari kios penjual pulsa.

Ooooo… Jangan jauh dariku, kumohon

Aku tak dapat hidup tanpamu…. Kasihku

Apa jadinya hari esok bila dirimu tiada

Lebih baik kutamatkan saja hidup ini….

Bulan ini, sudah keempat kalinya Halim dijebak banjir. Ya, dijebak. Istilah ini menunjukkan bahwa banjirlah yang menjadi pelaku kejahatan, dan itu memang benar. Bagi sebagian besar penduduk kota ini, hujan adalah sumber masalah yang selalu hadir di penghujung tahun. Selain kepadatan lalu lintas yang sudah terjadwal dan tindak kriminal dari pelaku kejatan hingga oknum aparat, kini mereka harus melahap datangnya banjir.

“Bangke! Pake hujan lagi! Padahal kita udah dandan keren gini.”

“Tau nih! Keburu mulai deh. Lo juga sih gak bawa jas hujan!”

“Eh, kok jadi gue yang salah?”

“Ya jelaslah, kan lo yang ngajakin naik motor padahal gue udah mau naik taksi.”

“Terus kenapa lo mau naik motor bareng gue?”

“Kan lo yang maksa, lagian lumayan ngirit ongkos.”

Halim yang berdiri tidak jauh dari pasangan itu masih memandangi puluhan mobil yang merayap perlahan untuk bergantian masuk ke terowongan yang separuh bagiannya dipenuhi pengendara motor yang tidak bawa jas hujan, termasuk dirinya.

Beberapa tahun silam Halim juga terjebak hujan, sama persis seperti hari itu. Namun waktu itu dia tidak sendirian untuk menunggu reda, ada wanita yang menjadi kawan dan mereka tidak berada di terowongan padat kendaraan. Mereka berdua ada di teras toserba untuk menunggu hujan sembari membeli minuman yang hangat. Disela percakapan mereka mendadak sang wanita berseloroh

“Aku suka kota ini ketika malam dan disaat hujan. Nampaknya aku akan merindukannya.”

Rabu itu pukul 2 dini hari dan gerimis baru saja usai, binar cahaya lampu jalanan membias di kubangan beberapa ruas jalan itu nampak seperti bilur atau ruam. Halim menoleh sedikit ke arah kanan dan dilihatnya sekilas wajah wanita itu diiringi mata yang mengisyaratkan sebuah rasa antusias entah terhadap apa.

*****

Tak lama setelah menutup pintu kamar, tiba-tiba saja telepon genggam Halim berbunyi. Ada pesan masuk rupanya. Halim yang baru saja mencopot baju setelah menyeduh kopi kemudian beranjak menuju kasur untuk tidur-tiduran sembari menekan tuts telepon genggam dengan maksud menanggalkan kata sandinya.

“Kamu lagi apa?”

Hanya itu saja yang tertulis dilayar telepon genggam Halim, tidak lebih. Namun Halim yang tadinya sangat mengantuk mendadak merasa nafasnya terasa berat ditambah ruangan yang sempit nan kumal itu menjadi semerbak, wangi kamboja putih menyeruak.

Ia tahu betul bahwa aroma itu tidak ada, hanya kenangan saja yang membawa aroma itu menyesaki ruangan yang sempit nan kumal itu. Sembari menarik nafas untuk coba menenangkan pikiran, Halim kemudian mengajukan sebuah pertanyaan yang memang dialamatkan untuk tidak mendapat jawaban.

“Terbuat dari apakah kenangan?”¹

Agak lumayan lama, tepatnya setelah ia puas bermain dengan pertanyaan itu, barulah Halim menekan-nekan tombol di telpon genggamnya guna membalas pesan singkat yang dibacanya 15 menit lalu.

“Baru sampai kamar. Kenapa?” seperti itulah balasan Halim, tak kalah singkat.

Tak sampai dua menit, telepon genggam itu kembali bunyi. Sebuah pesan baru masuk.

“Ganggu gak kalo aku nelpon?”

“Enggak. Telpon aja” balas Halim yang juga seketika.

Tak lama berselang, berderinglah telepon genggam milik Halim. Bunyinya tidak indah karena speakernya sudah pecah.

“Halo?”

“Ya! Halo” suara wanita itu terdengar nyaring di dalam headset.

“Apa kabar kamu?” sambung wanita itu dengan segera.

“Baik kok, kamu?”

“Hmmm, ya lumayanlah.”

“Ada apa?”

“Ih, kenapa kayak buru-buru sih?” gerutu sang wanita

“Buru-buru gimana?”

“Ya kamu kenapa gak tanya dulu kenapa aku bilang lumayan pas kamu tanya kabar?”

“Hah? Buat apa?” Halim sedikit kebingungan

“Ya biar kamu tahu dong kenapa aku bilang lumayan”

“Oh, oke. Kenapa lumayan?”

“Ih, kepaksa! Males jawab ah!” jawab wanita itu dengan cepat

“Lah? Terserah deh!” respon Halim juga tak kalah cepat

“Heh! Kok ngambek?”

Mereka larut dalam percakapan yang diiringi gerimis yang menerpa kota tempat Halim bermukim dan kota tempat wanita itu bermukim. Suka ataupun tidak suka, jaraklah yang membuat mereka hanya bisa bertukar kabar lewat telepon. Mulai dari pertama mereka kenal sampai detik dimana percakapan itu berlangsung 3 tahun kemudian.

“Kamu masih inget email yang kamu kirim terakhir?”

“Ke email yang mana?”

“Sebuah ilusi kebersamaan” hadang wanita itu dengan menyebutkan subject emailnya.

“Oh iya, masih. Kenapa?” jawab Halim

“Aku barusan forward ke kamu”

“Ngapain di forward lagi?”

“Jaga-jaga kalau kamu lupa. Kan kamu orangnya pelupa!”

“(tertawa renyah) Sialan! Aku lupa kalau menurutku hal itu gak penting, sengaja ngelupain. Oke deh nanti aku cek. Udah kan, gak ada yang diobrolin lagi?”

“Gak ada, makasih ya!”

“Siap, sama-sama. Bye!”

“Eh, kok bye? Biasanya kamu bilang see ya.”

“Oh iya, see ya!”

“Huh dasar! Bye!”

Sudah tidak ada suara apapun ditelepon itu, karena wanita itu barusan saja menutupnya. Halim meneguk kopi arabika yang sudah dingin karena ditingggal ngobrol nyaris satu jam. Tak lama setelah ia meminum kopi dan memakai kaos singlet, ia membuka laptop dengan maksud melanjutkan pekerjaannya namun ia sempatkan mengecek akun surelnya dan Halim menemukan sebuah email baru, email yang sama yang dia kirim ke wanita itu 3 tahun silam.

from:     Kamboja Putih <frangi5951@koflok.com>

to:          Halim Abdullah <Halim.Abdullah@koflok.com>

date:     Fri, Feb 09, 2018 at 21:34 PM

subject: Fwd: sebuah ilusi kebersamaan

———- Forwarded message ———-

From: Halim Abdullah <Halim.Abdullah@koflok.com>

Date: 2014-12-13 15:47 GMT+07:00

Subject: sebuah ilusi kebersamaan

To: frangi5951@koflok.com

Aku rasa kamu sudah tahu kalau aku suka bunga dan enggan memetiknya, begitupula dengan konsep memelihara binatang. Jadi bisa kau nalar sendiri sejak kapan aku suka melihat burung berada dalam sangkar? Aku tak pernah suka.

Dan aku juga tahu kalau kau sebenarnya lebih merasa nyaman disana, itu sebabnya kubiarkan kamu kesana. Barangkali di kota ini hanya ada aku yang kamu kenal baik, tapi bukankah kamu sendiri yang berkata diiringi rasa ragu yang terbersit

“Aku belum terlalu mengenalmu.”

Nb:

Selamat menempuh hidup baru dan jaga dirimu baik-baik. Adik dan mama juga dijagain. Makasih sudah berbagi cerita dan aku harap semoga kamu sukses, terus semangat buat mewujudkan cita-cita kamu. Oh, silahkan hubungi kapan pun kamu mau, selama aku bisa respon pasti direspon. See ya!

*****

Catatan:

1. Dikutip dari sebuah cerpen milik Seno Gumira Ajidarma berjudul “Kyoto Monogatari” (2002), silahkan klik ini bila ingin membacanya.

—–

zar_la_sa

Indonesia

Desember 2014

Advertisements
Posted in: zar_la_sa