Bagaimana Agung Menulis?

Posted on February 17, 2015

3


Hahaha, nampaknya ini judul yang narsis? Tenang bukan itu tujuan akhirnya, justru ini dibuat untuk meredam kegemaran salah seorang anggota dewan syura laskar kufaku cabang Malang yang sering dipanggil (mas) Samack dalam membully seseorang, dalam hal ini saya.

Judul tulisan ini adalah hasil jiplakan dari tweet (mas) Samack yang ditujukan ke saya dan (mas) Ardi Wilda.

Selain meredam hobi kawan saya yang (menurut Napoleon Bonaparte) kadar mudharatnya jauh lebih berat, saya juga ingin menambah daftar berbagi dan berharap semoga lewat tulisan ini saya bisa menjadi bahan bully kelas wahid dan bisa menyabet peringkat satu di wahana trending topic mengungguli tagar #SaveKFK atau isu kisruh murahan ala pemerintah.

Kisah ini dimulai saat saya mengomentari tulisan (mas) Ardi Wilda mengenai ‘dapur’ dia saat menulis, yang di retweet oleh (mas) Samack. Tulisannya bisa dilihat di tautan berikut, http://ardiwilda.com/2015/02/15/bagaimana-kita-menulis/ Menurut saya tulisan ini menarik.

Demi tuhan yang maha kece cetar membahana badai syalala oo ya ohya bongkar, saya tidak pernah melakukan satupun yang dilakukan oleh (mas) Ardi Wilda selain mencatat bagian yang penting atau menarik pada sebuah kertas.

Sudah sebatas itu saja jika (memang ada yang) ingin tahu bagaimana saya menulis. Tapi kalau misalnya gak ada juga gak masalah, lha wong jenenge wae cerito. Dirungokno sukur, ra dirongokno yo sukurin! Ra dipekso, sing penting hepi sedoyo. (Namanya juga cerita. Didengerin sukur, gak didengerin ya sukurin. Gak dipaksa, yang penting semua hepi.)

Oh, sebelum menuju ‘ritual apa saja yang saya lakukan sebelum menulis’, ada baiknya menyimak cerita (mas) Fakhri Zakaria yang juga salah satu anggota dewan syura laskar kufaku sektor Bogor melalui tautan berikut, http://masjaki.com/2015/02/16/kenapa-bukan-indie/

Poin penting dari tulisan (mas) Fakhri Zakaria yang juga berkaitan dengan saya adalah riset. Meskipun riset saya hanya sebatas klik wikipedia via google chrome kemudian comot sana comot sini biar terkesan intelek, setidaknya saya masih ada usaha cek kethok mbois (biar kelihatan keren). Iya kan? Hahaha. Ampun masjaki, ampun!

Ya, sejujurnya saya tidak punya ritual khusus dalam menulis. Mencatat bagian yang menarik dan melakukan riset adalah hal yang sangat biasa. Sedangkan membaca sudah menjadi hal yang pasti dilakukan oleh seseorang yang punya kegemaran menulis. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang konsumtif sebelum menjadi makhluk yang produktif.

Perkara mau jadi produktif atau terus mengonsumsi adalah hak prerogatif kita, sama halnya dengan kasus presiden untuk menunjuk Calon Kapolri dan membuat warga negara menjadi (mendadak) pengamat politik di institusi negara bernama sosial media. Halah, kok saya jadi sok-sokan ngerti politik gini? Kontol!

Saya punya moto personal (yang terdengar bodoh) dalam berkarya, apapun itu bentuknya, “Terus mau berak apaan kalau gak makan apa-apa?”

Nah, sudah sekian saja. Sisanya ya tinggal ditulis saja, tulis apapun yang melintas di kepala. Gak ada tuh ritual-ritualan, emang kita dukun cabul? Maaf-maaf ya. Kalau uneg-uneg sudah tumpah semua, barulah susun menyusun menjadi perkara berikutnya.

Silahkan coba lihat tulisan (mas) Fakhri Zakharia dan (mas) Ardi Wilda untuk detail susun menyusun, membuat sebuah alur atau entah apapun itu julukan untuk terlihat rapi dan enak dibaca.

Kalau saya sih menyusun berdasarkan selera saya saja, kalau saya sudah merasa enak dan sreg ya langsung saya publikasikan. Ada satu hal yang saya usahakan untuk coba terus terapkan dalam setiap mempublikasikan karya yakni menerima segala masukan, baik itu konstruktif maupun destruktif.

Prinsip ini saya dapatkan sekitar 9 tahun yang lalu melalui seorang teman yang saya anggap sebagai salah satu ‘guru’ fotografi, ia berkata kurang lebih seperti ini;

“Nek kon wis wani pameran, iku artine kon wis wani dinyek. Nek gak kepengen dinyek, yo gak usah lapo-lapo.” (kalau kamu sudah berani pameran, itu artinya kamu sudah berani dihina. Kalau gak mau dihina, mending gak usah ngapa-ngapain)

Saya sama sekali tidak memiliki latar belakang pendidikan menulis baik formal maupun informal. Namun itu bukan menjadi alasan untuk tidak mempelajari teknik menulis, karena menurut saya teknik adalah hal yang penting namun tidak harus dipusingkan.

Metode saya mempelajari teknik adalah meniru (baca: mempelajari) karya orang yang dianggap menarik, kemudian disesuaikan dengan kemampuan saya. Perlu diingat, menarik ini sifatnya sangat subjektif dan berdasarkan selera semata. Mungkin sisi buruknya adalah referensi saya tidak luas, namun saya merasa cukup bahagia karena merasa jarang mengalami kebingungan dalam menentukan kiblat.

NB:

* Jika jenuh nulis dalam keadaan sadar atau sober, boleh lho istirahat sebentar buat bakar ganja. Saya gak menyarankan yang lebih dari itu, alkohol pun tidak. Kenapa ganja? Karena hal itu akan membuat siapapun yang memiliki mental mind open, heart enlarge & soul receptive (saya berani jamin) akan menjadi lebih peka dan detail terhadap apapun yang ada disekitarnya. Sekitar kita yang seakan bergerak sangat terburu dan tanpa gairah, pucat dan beku. Eh, tapi fase ini bukan hal yang fardhu ain juga kok. Kalau gak nyimeng mungkin bisa nyirih atau mainan valas, intinya adalah ambil jarak sejenak dengan karya dan biarkan sekitar kita mengisi ‘kita’. Paham maksudnya? Saya juga gak paham, tenang Anda tidak sendiri.

* Perkara menulis fiksi, itu jelas perkara referensi dan sejauh mana kemauan untuk mengasah kemampuan berimajinasi sekaligus menerima saran. Saya pernah menulis beberapa cerita pendek dan sebuah naskah monolog, dimana itu semua bukan ranah saya. Hasilnya? Hancur! Sudah bisa dibayangkan. Kemudian saya meminta masukan kepada teman yang menurut saya sudah lebih mahir menulis karya fiksi ketimbang saya, dan masukannya benar-benar saya pertimbangkan untuk sarana belajar meskipun bikin hati sakit. Tujuannya sederhana saja, biar saya berasa makin mirip Seno Gumira Ajidarma. Meskipun saya tahu itu cuma imajinasi, impian bodoh! Tapi bagi saya terus merasa bodoh bukanlah hal yang bodoh malah tak jarang menyenangkan, sungguh saya tidak bohong.

* Ada yang memperhatikan apa saja yang saya beri efek bold dalam tulisan ini? Sebenarnya, hal-hal itulah yang saya lakukan. Baik, saya akan ulangi lagi namun harap urutkan sendiri ya? Soalnya prioritas tiap orang itu berbeda, dan saya ogah intervensi.

  • mencatat bagian yang penting atau menarik pada sebuah kertas
  • riset
  • membaca
  • tulis apapun yang melintas di kepala
  • menyusun berdarkan selera
  • menerima segala masukan, baik itu konstruktif maupun destruktif
  • mempelajari teknik menulis
  • meniru (baca: mempelajari) karya orang yang dianggap menarik
  • ambil jarak sejenak dengan karya
  • meminta masukan kepada teman yang sudah lebih mahir

– – –

Agung Rahmadsyah

Bekasi

17 Februari 2015

Advertisements
Posted in: Agung Rahmadsyah