Menulis? Untuk apa & siapa? (tentang luapkan lupa)

untuk apa (untuk siapa) cahaya natal?

untuk apa (untuk siapa) petasan tahun baru?

untuk apa (untuk siapa) takbir Ramadan?

untuk apa? untuk siapa?

Bagi yang pernah mendengar bait tersebut, pasti (sebagian besar) akan langsung terasosiasi dengan Gatholoco. Atau bahkan langsung teringat nama Hersri Setiawan? Tidak ada yang salah memang, Hersri Setiawan adalah si pencipta teks sedangkan Gatholoco adalah salah satu dari sembilan nama yang berkontribusi dalam album hiphopdiningrat, sebuah album dimana nyaris keseluruhan lagunya memang mengolah puisi untuk dipadu dengan cara mereka bermusik.

Jika ada yang belum pernah mendengar seperti apa lagunya, silahkan klik www.hiphopdiningrat.com kemudian cari kolom ‘CHART’. Lagu ini bisa ditemukan dalam nomor urut 6 dan silahkan cerna pertanyaan itu dalam rupa lain, kali ini saya ingin mempermasalahkan menulis.

Kenapa menulis? Karena cuma hal inilah yang saya bisa, itupun hanya sedikit bisa. Ke-bisa-an saya lainnya adalah bergurau di dunia maya dan bicara melantur di alam nyata, tentunya disamping makan, tidur dan urusan buang hajat (kalau untuk tiga hal ini saya terbilang cukup mahir).

Belum lama ini saya sempat bermain mengunjungi kantor teman saya di kawasan Menteng, gedung apa saya tidak paham. Yang pasti teman saya ini adalah editor sebuah majalah musik, meskipun saya baru mengetahui bahwa jabatannya sudah bukan reporter ketika kami memasuki sesi akhir obrolan tak berarti malam itu.

Disela obrolannya itu, tiba-tiba dia mengajukan sebuah pernyataan yang terdengar seperti pertanyaan “Kadang gue suka tanya: Ngapain sih gue nulis detail kaya gitu? Emang ada yang baca gitu? Paling dua sampai tiga orang”  nada yang terucap saat itu nyaris serupa dengan apa yang pernah saya tanyakan ke diri saya sendiri, substansi pertanyaannya pun sama.

 

SGA menjawab, namun kemudian bertanya

Bicara soal menulis, Seno Gumira Ajidarma juga pernah bertanya-jawab sendirian soal ini melalui tulisannya yang terangkum dalam sebuah buku berjudul KETIKA JURNALISME DIBUNGKAM SASTRA HARUS BICARA.

Sejauh pengelihatan saya, ada tiga bab yang ia persembahkan untuk sebuah persoalan menulis yakni: Jalan Seorang Penulis, Penulis Dalam Masyarakat Tidak Membaca dan Pertanyaan Seorang Penulis. Boleh saya coba paparkan sedikit di sini, satu persatu?

Dalam bab yang diberi judul JALAN SEORANG PENULIS, SGA menuliskan pandangannya dengan sajian aroma perenungan (katakan filosofis jika anda menginginkannya). Ada beberapa poin yang bisa saya pahami dari tulisan SGA tentang penulis, yakni:

  • Menulis adalah momentum dimana memonetum itu bukanlah wahyu, melainkan didapat dengan cara belajar. Dan belajar menulis adalah belajar menangkap momen-momen kehidupan dengan penghayatan.
  • Setia kepada realitas sungai kehidupan yang menghanyutkan si penulis itu, sehingga si penulis itu akan menuliskan apapun yang menyentuhnya.
  • Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh orang yang lain entah dimana.

Beranjak menuju bab selanjutnya PENULIS DITENGAH MASYARAKAT TIDAK MEMBACA, rupanya SGA malah memiliki memiliki pertanyaan yang lebih pelik ketimbang teman saya dan saya.

Dalam bab itu SGA bergaya seperti menuliskan naskah pidato ketika ia menerima penghargaan SEA Write Award, entah ini benar-benar terjadi atau tidak saya tidak peduli. Saya hanya peduli pada substansinya saja, karena bagi saya dalam dunia ini fakta sangat mungkin direka sehingga menjadi sejurus dengan fiksi dan fiksi sangat bisa menjadi rangsangan untuk membuat sebuah fakta.

SGA merasa perlu untuk berpikir ketika menerima penghargaan tersebut, karena ia sendiri tidak yakin bahwa tulisannya dibaca orang. Belum lagi ia menambahkan kondisi negerinya yang resminya sudah bebas buta huruf namun bisa dipastikan bahwa masyarakatnya belum membaca secara benar, yakni membaca untuk memberi makna dan meningkatkan nilai kehidupannya.

Masih dalam bab yang sama, SGA menambahkan paparan kondisi yang cukup mencerminkan kondisi masyarakatnya;

Masyarakat kami adalah masyarakat yang membaca hanya untuk mencari alamat, membaca untuk mengetahui harga-harga, membaca untuk melihat lowongan pekerjaan, membaca untuk menengok hasil pertandingan sepak bola, membaca karena ingin tahu berapa persen discount obral di pusat perbelanjaan, dan akhirnya membaca subtitle opera sabun di televisi untuk mendapatkan sekadar hiburan. Sementara itu, bagi lingkaran intelektual di negeri kami, apa yang disebut puisi, cerita pendek atau novel, barangkali hanya dianggap mainan remaja saja.

Dalam masyarakat semacam itu, apakah seorang penulis masih ada gunanya? Apalagi seorang penulis dengan gagasan-gagasan kecil seperti saya.

Diakhir trilogi yang dikaitkan dengan kata penulis, SGA bertanya lebih kritis lagi. Namun perspektif yang dipakainya benar-benar menempatkan ia sebagai sorang penulis yang benar-benar harus bertanya dengan benar tentang pertanyannya. Pertanyaan pamungkasnya adalah;

Bagaimana caranya seorang penulis bisa menyentuh hati nurani setiap orang, yang bila diajak, bicara tentang soal-soal seperti ini mengaku takut, tidak mau ikut-ikutan, hanya ingin hidup selamat dan tenteram, sambil bersyukur bahwa nasib yang begitu malang, begitu hina, dan begitu terlecehkan, sampai sekarang (“untunglah”) tidak pernah –dan jangan sampai— dialaminya.

Tugas penulis adalah menulis, tapi apakah itu cukup?

Lagipula, bagaimana kalau ia sendiri takut?

Sampai di sini saya merasa agak yakin bahwa siapapun yang memiliki pertanyaan serupa dengan teman saya ataupun saya akan merasa makin gamang dengan tiga jawaban yang diberikan oleh SGA tadi. Singkatnya saya hanya ingin bertanya, untuk apa menjawab jika diikuti pertanyaan yang lebih tidak bisa dijawab? Ingin memupuskan harapan? Sungguh keji.

 

SGA menjawabnya lagi…

Seperti yang sempat saya singgung sedikit perkara fakta & fiksi, dari sebuah cerita berjudul Khayalan Dari Tepi Kolam Renang  yang bernanung dalam sebuah buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma; MATINYA SEORANG PENARI TELANJANG, rasanya saya menemukan jawaban yang tepat untuk mengakhiri rangkain pertanyaan SGA yang saya paparkan sebelumnya.

Cerita ini kutulis untukmu, ketika kamu mungkin sedang mengaduk secangkir kopi entah di mana, ketika kamu mungkin sedang duduk sendiri menatap ke luar jendela dan melihat langit begitu cerah dan tiba-tiba merasa bahagia. Aku berbicara kepadamu, hai kamu, ketika jalanan mulai kembali gila dan ribuan kampung yang berserakan kotor hidup kembali bangkit dari mimpi malamnya yang mungkin indah, tapi juga mungkin sekali lebih buruk dari hidup itu sendiri. Cerita ini kutulis untukmu kalau kamu mau tahu, kamu mungkin tidak terlalu mengerti, tapi itu tidak begitu penting, aku hanya ingin bicara padamu, tidak lebih dari itu, dan toh aku tidak terlalu pasti siapakah kamu yang kumaksud. Kamu mungkin hanya bayang-bayang anganku. Mungkin aku sedang berbicara pada diriku sendiri. Siapa tahu.

Tanpa berusaha memisahkan antara tulisan fakta dan fiksi, saya coba menjawab bahwa sebaiknya saya menulis untuk berbicara dengan diri sendiri.  Sebuah jawaban yang menjawab dua buah pertanyaan, apa dan siapa. Menulis untuk apa? Untuk berbicara! Menulis untuk siapa? Untuk diri sendiri!

Jelas terasa tidak ada maksud filosofis dalam pernyataan di atas, namun jika menyimak paragraf sebelumnya ,jelas akan terasa beda asupan filsafatnya. Namun untuk diketahui bahwa sesungguhnya saya hanya sekadar comot saja, agar terlihat sedikit berilmu demi meningkatkan gengsi. Bahkan sedari tadi saya sungguh tiada mengerti arti dari substansi.

Merasa percuma menyimak tulisan saya sedari tadi? Bukankah tadi saya sudah mengingatkan bahwa salah satu ke-bisa-an saya adalah bergurau di dunia maya? Jadi silahkan saja anggap bahwa ini adalah sebuah gurauan, entah itu berarti atau tidak bukan saya yang memutuskan.

 

Tentang lupakan lupa (terima kasih, Valerie)

Pernah seorang teman bertanya kenapa blog ini dinamakan luapkan lupa. Sebenarnya saya sangat ingin menjawab “Terserah saya dong mau menamakan apa! Kenapa anda yang rewel? Mau saya namain anyaman kontol, juga gak ada urusannya dengan pendapatan anda kan?”

Tapi saya sudah terlanjur memutuskan untuk selektif terhadap perang yang akan saya lakukan, dan tipe pertanyaan formalitas macam itu ada baiknya tidak dijawab dengan aroma pertempuran. Kecuali kalau kadar memuakkannya sudah melebihi batas kesabaran.

Nama luapkan lupa adalah nama kedua yang saya masukkan dalam akun wordpress, sebelum nama luapkan lupa saya pernah membuat nama peretas senja. Namun karena saya merasa tidak suka dengan badai tren puisi 140 karakter yang membuat senja jadi terasa murah, akhirnya saya memutuskan untuk untuk menamatkan riwayat akun tersebut.

Jika ada yang mengamati tulisan kecil di bawah Luapkan lupa yang berbunyi “luapkan saja sebelum melupa atau terlupa, mungkin suatu ketika ada manfaatnya”  ide ini saya dapatkan setelah saya menonton film karena merasa buntu ketika saya memikirkan nama lain untuk blog saya. Saat itu saya usai menonton V for Vendetta, entah yang keberapa kalinya. Selain faktor cerita, harus diakui bahwa Natalie Portman memang berperan besar untuk menihilkan rasa bosan saya terhadap film tersebut.

Jika anda pernah melihat film tersebut ataupun membaca novel grafisnya, niscaya akan menemukan adegan dimana Evey Hammond dipenjara oleh seorang yang tidak dikenal. Menjelang akhir adegan nelangsa itu, Evey mendapatkan secarik tisu yang secara tidak sengaja ia temukan di dalam kloset. Tulisan dari Valerie yang nantinya membuat Evey menjadi tangguh dan bengal.

Seharusnya yang patut mendapat pujian  di sini adalah Alan Moore karena ia yang membuat tulisan tersebut melalui Valerie sebagai medium penyampaian gagasannya, tapi sudahlah karena ini menyangkut cerita fiktif maka lebih baik saya bahas apa yang dituliskan oleh tokoh fiktif bernama Valerie itu.

Dalam tulisannya itu, Valerie bercerita tentang dirinya, kenapa ia bisa sampai berada di Larkhill dan yang terpenting bagi saya adalah substasi surat itu! Ingat pernyataan saya diatas? Saya masih belum mengeri arti dari substansi. Jadi langsung saja saya cantumkan sedikit dari isi surat tersebut

I don’t know who you are. Please believe. There is no way I can convince you that this is not one of their tricks. But I don’t care. I am me, and I don’t know who you are, but I love you.

I have a pencil. A little one they did not find. I am a women. I hid it inside me. Perhaps I won’t be able to write again, so this is a long letter about my life. It is the only autobiography I have ever written and oh God I’m writing it on toilet paper.

…..

…..

I shall die here. Every last inch of me shall perish. Except one.

An inch. It’s small and it’s fragile and it’s the only thing in the world worth having. We must never lose it, or sell it, or give it away. We must never let them take it from us.

I don’t know who you are. Or whether you’re a man or a woman. I may never see you or cry with you or get drunk with you. But I love you. I hope that you escape this place. I hope that the world turns and that things get better, and that one day people have roses again. I wish I could kiss you.

Valerie

Ada beberapa paragraf yang sengaja saya hilangkan karena akan terasa panjang setelah pada paragraf pertama kita dihapkan pada kata biografi (meskipun sebenarnya jauh lebih pendek dari biografi pada umumnya) dan saya menjamin bahwa sungguh tidak asik apabila saya ceritakan disini, lebih baik anda menonton filmnya atau bacalah bukunya.

Apa yang dituliskan Valerie ini benar-benar membuat saya percaya pada suatu faktor kemungkinan, kemungkinan dimana suatu hal akan ada manfaatnya pada sebuah masa yang entah kapan. Valerie yang secara gamblang menulis bahwa Ia tidak mengenal siapa pembacanya terbukti benar-benar membawa efek yang signifikan terhadap psikologis dan sikap seseorang.

Saya tidak menyamakan blog ini dengan apa yang dituliskan Valerie, singkatnya berguna bagi orang lain. Bagi saya menulis itu seperti apa yang ditulis oleh SGA tentang bayang-bayang angan atau bahkan diri sendiri, lagipula saya sendiri tidak yakin apakah tulisan ngawur saya ini berguna bagi orang yang membacanya.

Hanya satu hal yang saya coba yakini, yaitu saya menulis untuk kesenangan saya pribadi tanpa maksud merugikan terlebih membuat susah orang lain. Karena bagi saya menulis itu seperti proses bernafas, menghirup dan menghembuskan.

Kita menghirup apa yang (sekiranya) berguna bagi kita dan menghembuskan sesuatu yang (semoga) juga berguna, entah untuk apa dan siapa. Namun apakah seseorang pernah terbersit pamrih dalam menghembuskan nafas? Sepertinya setiap manusia normal akan selalu ikhlas dalam membuang nafas. Tapi apakah analogi ini bisa diaplikasikan pada bidang lainnya? Entahlah, yang pasti setiap orang memiliki hak untuk memilih dengan atau tanpa alasan.

 

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

15 Juli 2013

Advertisements
Be the first to start a conversation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: