zar_la_sa (yang terinspirasi dari Salazar)

11 copy

ilustrasi cerpen Salazar dalam buku Trilogi Insiden, halaman 103
Nb: Tulisan ‘Salazar’ saya tambahkan sendiri.

Tidak akan pernah ada bosannya ketika harus berkata bahwa saya mengidolakan Seno Gumira Ajidarma, salah satu diantara sosok yang saya idolakan sebenarnya. Tapi entah kenapa pertemuan saya dengan beliau atau lebih tepatnya pertemuan dengan karya beliau, seakan tidak pernah menjadi sesuatu yang percuma.

Dia memang tidak aktif bermusik, setidaknya itu yang saya tahu, namun untuk menulis dan fotografi beda ceritanya. Menulis dan fotografi merupakan kegemaran saya, jadi tidak ada alasan untuk tidak mengidolakan beliau atas dasar memiliki kegemaran yang sama.

Salah satu karyanya adalah cerpen berjudul ‘Salazar’. Saya pertama kali bertemu dengannya [Salazar -Red.] pada tahun 2010, tepatnya dalam buku ‘Trilogi Insiden’ (yang merupakan kumpulan dari tiga buah buku yang berjudul ‘Saksi Mata’, ‘Jazz, Parfum dan Insiden’ & ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’).  Salazar sendiri merupakan bagian dari buku ‘Saksi Mata’.

8

cerita dibalik cerita pendek ‘Salazar’

Sebenarnya memilih sebuah cerpen favorit karya Seno Gumira Ajidarma bukanlah perkara ringan, sangat berat malah. Dan saya juga tidak yakin bahwa ‘Salazar’ adalah favorit saya. Tapi saya sudah memutuskan untuk mengagumi Salazar jauh melebihi Sukab! Meskipun sepanjang pengetahuan saya, Salazar tidak pernah muncul lagi dalam cerita Seno Gumira Ajidarma, namun itulah yang membuatnya nampak istimewa dimata dan benak saya.

Biar saya bagikan disini cerpen itu, semoga saja bisa membantu. Kalau anda masih enggan membacanya, biar saya kutipkan gambar nomer 2 baris ke 25-28 yang membuat saya memutuskan bahwa Salazar jauh lebih istimewa ketimbang Sukab. Baris tersebut bertuliskan:

“Seorang lelaki yang melagukan apa yang dirasakannya, seorang pemuda yang menyatakan apa yang dipikirkannya, seorang manusia yang berkata dengan jelas dan jujur tentang sikap hidupnya.”

1

1

3

2

4

3

5

4

6

5

7

6

Pemilihan ini dimulai ketika saya mulai memikirkan urgensitas dari sebuah nama dan sosoknya. Bukannya tidak merasa bersyukur atas nama yang diberikan oleh orang tua apa lagi karena alasan malu menyandang nama pemberian tersebut, tapi saya punya pertimbangan sendiri.

Saya ingin mengarang sosok yang kerjanya hanya mengarang, meskipun sebenarnya ia hanya hasil karangan dari Agung Rahmadsyah. Dan sosok ini bukan alter ego dari Agung Rahmadsyah, karena kami sadar bahwa kami sama-sama punya kekurangan.

Dan alasan lainnya adalah saya tidak ingin mengulang ulah Seno Gumira Ajidarma yang harus mengucapkan “Si Seno itu …..” saat ia coba menjelaskan bagaimana karyanya tercipta saat ia tampil sebagai narasumber di sebuah sesi diskusi dalam lingkup kampus Universitas Indonesia pada tahun 2012. Seolah-olah bahwa yang berkata itu bukan Seno yang dimaksud oleh Seno, inilah momen dimana saya melihat idola saya terlihat kikuk.

“Memangnya masih jaman menggunakan nama pena?”

Saya sungguh tidak tahu masih jamannya atau tidak, karena saya bukan penulis. Selain (sekali lagi diperjelas kalau saya) bukan penulis, saya lebih suka menyebut profesi saya dengan tukang ngarang. Karena menurut saya penulis itu menimbulkan 2 kesan, pertama adalah menulis sebagai profesi si orang tersebut dan kedua adalah orang yang sedang melakukan sebuah aktivitas, dalam hal ini menulis.

Kesan pertama saya tampik karena saya tidak memiliki obsesi kalau urusan tulis menulis harus menjadi profesi saya kelak, mengingat kualitas tulisan dan daya imajinasi saya tidak mumpuni. Namun, kalau suatu saat nanti hal itu terjadi dalam hidup saya, leih baik saya menganggapnya hadiah saja. Memangnya ada ya, orang yang hidupnya terobsesi untuk mendapatkan hadiah?

Sedangkan untuk menampik kesan kedua saya cuma ingin bertanya, apa jadinya jika saya diperkenalkan sebagai penulis ketika saya sedang minum? Apakah itu serta merta langsung berubah jadi peminum? Asosiasinya kok terasa tidak mewakili apa yang sudah saya putuskan sejak awal 2012 lalu, berhenti mengonsumsi minuman yang mengandung alkohol. Kalau peminum itu diasosiasikan dengan kopi atau teh, masih bolehlah.

Perkara zar_la_sa adalah nama pena atau bukan, saya tidak mau berkata banyak. Dipergunakan hanya untuk menulis saja atau tidak, saya tidak berani memberikan jaminan. Karena sejauh yang saya ketahui, saya memang suka mengarang. Lagipula, berdasarkan ke-sok tahu-an saya, mengarang itu tidak terbatas pada ranah penulisan saja kan? Jadi  ‘zar_la_sa’ adalah sosok karangan dari individu yang mengarang.

Kalau dipersingkat akan jadi seperti ini, tidak dapat dipungkiri bahwa saya (Agung Rahmadsyah -Red.) yang berhadapan orang dan peristiwa di dunia nyata. Kemudian pada saatnya nanti, saya akan “berdialog” dengan zar_la_sa demi kepentingan aktivitas mengarang.

Dalam prosesnya pasti terjadi tawar menawar antara saya dengan zar_la_sa perihal pembingkaian, wacana, substansi, esensi dan lainnya. Apa yang dihasilkan kemudian adalah milik zar_la_sa, sebab saya hanya berperan melaporkan apa yang saya terima berdasarkan panca indra dan membaurkannya dengan persepsi kemudian berdialog dengan zar_la_sa.

Oya, zar_la_sa pernah meminta kepada saya untuk tidak usah menjelaskan perkara karakternya.  Sehingga saya bisa maklumi kenapa dia tidak eksis diantara kita. Kalaupun dia eksis, layaknya dia tidak hidup di tengah-tengah masyarakat kota.

“Sebuah masyarakat yang direka untuk hidup dalam keadaan serba menyenangkan, dimana definisi menyenangkan itu dibangun oleh media dan konsensus. Perbuatan manusiawi berlandaskan nurani, laksana mengharapkan sebuah wakil rakyat yang peduli terhadap permasalahan yang mendera pihak yang diwakilinya. Masih ada memang, tapi langka.” Ujar zar_la_sa suatu ketika.

Untuk perkara publikasi nanti apakah menggunakan zar_la_sa atau Agung Rahmadsyah, itu jelas kesepakatan kami berdua. Kalian tidak perlu repot memikirkan itu, lagipula saya dan zar_la_sa sudah sepakat untuk tidak meributkan masalah tersebut. Hendak dipublikasi dengan nama siapa pun, yang terpenting bagi kami berdua adalah ide dan maksudnya diluapkan agar tidak mengendap jadi lupa.

“Buat keren-kerenan?”

Mudah-mudahan saya tidak punya pikiran seperti itu. Sampai sekarang saja, saya tidak mengerti bagaimana caranya agar terlihat keren dihadapan orang lain. Saya sangat suka mengenakan celana pendek, kaos dan jaket. Sedangkan benda yang dijuluki sepatu saya tidak suka mengenakannya kecuali memang saya membutuhkan, seperti saat bermain futsal atau jogging contohnya.

Andaikata pada bulan Juni 2011, saya boleh berangkat wisuda dengan menggunakan kaos, celana pendek & sandal saya pasti akan berangkat dengan dandanan seperti itu. Apa pemikiran itu yang dinamakan keren?

Sedangkan untuk kasus menghadiri undangan, saya berikan sebuah pengecualian. Itu karena persoalan saya menghormati orang yang mengundang, maka dari itu saya harus tampil yang layak berdasarkan kesepakatan bersama. Itupun jauh dari pemikiran agar nampak keren, karena saya berangkat dari kata pantas.

Cuma ada dua alasan kalau saya tidak nampak dalam rombongan undangan, saya sudah membuat janji terlebih dahulu dengan pihak lain atau zar_la_sa telah sukses mengandaskan niat saya untuk (melulu) berbasa-basi yang (selalu) mengatasnamakan bersosialisasi.

Jadi tidak ada alasan saya tidak datang karena tidak menghormati orang lain, itu mungkin saja berlaku untuk orang lain tapi tidak bagi saya. Pertanyaannya adalah kenapa mendadak membahas undangan beserta situasi yang memungkinkan saya untuk abstain? Maafkan kesilapan saya ini.

“Relevansi zar_la_sa dan salazar?”

Sebenarnya itu cuma sebuah pola yang saya ciptakan, seperti Seno yang menulis ‘Dili’ dengan ‘Ningi’ atau ‘Polisi’ dengan ‘Hongibi’. Sebuah permainan bahasa yang dibalik-balik dari dasar aksara jawa, hanacaraka-datasawala-padajayanya-magabatanga. Kasusnya sama seperti ‘Dagadu’ yang merupakan bahasa walikan dari ‘Matamu’ atau ‘Dab’ yang memiliki arti ‘Mas’.

Nah, saya ingin coba mengarang pola yang serupa. Tapi saya pecah berdasarkan suku kata, dan dibalik urutannya dari belakang ke depan. Dalam dua cerpen saya sebelumnya, saya sudah coba menerapkan ini. Misalnya saya menyebut ‘Jakarta’ dengan ‘Ta_kar_ja’, ‘Papua’ dengan ‘A_pu_pa’ atau ‘Indonesia’ dengan ‘A_si_ne_do_in’.

Jadi sudah mengerti kan relevansi ‘zar_la_sa’ dengan ‘salazar’? Semoga saja sudah. Dan jika anda nanti menemukan akun zar_la_sa dalam situs micro blogging berlambang burung biru, maka sungguh tak salah terka kalau itu adalah ……

 

——-

Agung Rahmadsyah

Bekasi

19 Februari 2013

Advertisements
Be the first to start a conversation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: